Kontrak Cinta 100 Hari

Kontrak Cinta 100 Hari
Kabur


__ADS_3

Sepanjang perjalanan pulang, Adel menutup rapat mulutnya. Banyak hal yang ingin ia tanyakan kepada sosok laki-laki yang sedang duduk dengan tenang di sampingnya itu, tatapan matanya lurus ke depan memperhatikan jalan yang sekarang ini lalu lintas sangat padat. sesekali ia melirik tanpa berani bicara, mengingat tatapan mata tajam yang mengerikan itu langsung menciutkan nyali Adel dan mengurungkan niatnya sedalam mungkin.


Bukan hanya Adel, David pun ingin sekali menanyakan banyak hal tapi ia urungkan. bukan karena amarahnya yang belum reda tapi lebih memilih untuk waktu yang tepat karena bagaimanapun David tahu bahwa cewek yang ada di samping nya itu dalam keadaan emosi yang labil.


"Mau pulang kemana?" tanya David akhirnya karena gak tau mau ngantar kemana.


Tak ada jawaban dari yang berangkutan membuat David harus mengulangi pertanyaannya yang hanya di anggap sebagai angin lalu itu.


"Ehem?!" ujarnya sengaja merebut perhatian cewek yang penampilannya udah kayak ... (kalian bisa bayangkan sendiri gimana penampilan Adel sehabis duel maut).


Adel yang asik dengan isi kepala alias pikirannya sendiri itu menoleh, mendapati David tengah memperhatikannya dengan tatapan heran.


"ada apa?" tanya nya polos sambil benerin rambutnya yang entahlah sekarang mungkin kayak sarang burung di atas pohon.


"He he he he..."


cengengesan sendiri pas sadar kalo penampilan udah berasa .....


David mengalihkan pandangannya dan menggeleng pelan, liat muka polos Adel yang barusan pengen banget ketawa. berasa ngeliat anak panda yang habis kecebur got.


"Tadi ngomong apa?" tanya Adel serius, serius gak denger ngomong apaan.


"Mau pulang kemana?" tanya David yang berusaha tetap santai gak kemakan emosi, udah cukup marah-marahnya di kantor polisi.


"Pulang ke rumah." jawabnya cepat, emang ini udah waktunya pulang dan lagian besok Adel harus ulangan harian kimia. Besok ulangan harian tapi gak ada belajar sama sekali. udah lah pasrah aja sama hasilnya gimana.


"Yakin?" ngerasa ragu kalo ngantar Adel pulang dalam keadaan babak belur.


"iya yakin, kalo gak pulang ke rumah mau pulang kemana lagi?" kata Adel.


"Penampilan Lo udah kayak anak ayam kecebur got gitu mau pulang?" bertanya sekali lagi.


Baru nyadar kalo penampilan udah kayak gitu, perasaan cantik, rapi dan wangi. gak tau nya malah berbanding terbalik dari yang ada.


"Nanti orang rumah kira aku yang bikin kamu kayak gini." kata David yang bakalan di tuduh kalo ngantar anak orang dalam keadaan berantakan, habis mau nuduh siapa lagi karena dia yang ngantar pulang.


"iya juga sih..." gumamnya.


Baju yang udah compang-camping, beberapa kancing lepas tapi masih untung pakek baju dalaman t-shirt jadi gak malu-malu banget. bukan cuma Sampek di situ, belum lagi rambut Adel yang udah kayak sarang burung.


"Kita beresin dulu penampilan kamu yang berantakan." ujar David dengan mengubah jalur mobil dan memutar arah.


*******

__ADS_1


"Wow..."


Kesan pertama Adel yang baru aja masuk ke dalam sebuah salon itu berasa wow....


Biasanya cuma liat di tv tempat mewah kayak gini dan sekarang udah ada di dalam.


"Selamat malam Mr.David." kata seorang wanita berpenampilan sangat menawan dan cantik.


Saking cantiknya di mata Adel, tu cewek kagum. Kalah banget kalo di bandingkan dengan dirinya yang kecil, mungil dan dekil.


David menarik tangan Adel untuk mendekatkan ke arahnya.


"Benahi dan rubah penampilan wanita ini." katanya dengan mendorong bahu Adel.


Meski hanya sekilas tapi Adel bisa menangkap kesan terkejut yang wanita itu perlihatkan saat David menarik tangannya untuk mendekat.


"Baik Mr.David." katanya sopan dengan menundukkan separoh badannya.


"Mari nona?" katanya ramah setelah menguasai keadaan.


"gak perlu om, lagian kayaknya disini mahal. mana mungkin Adel bisa bayar tagihannya." katanya lirih sambil berusaha menyamakan tinggi badan mereka dengan berjinjit, tentu aja itu usaha yang sia-sia.


David menekuk lututnya sedikit dan mendekat kan mulutnya ke telinga Adel.


"Hah?!"


"Mari nona, anda ikut saya?" kata Miranda lagi setelah ajakan pertama nya mengalami penolakan.


Adel hanya pasrah pas tangannya di gandeng secara paksa.


David memutuskan untuk menunggu di sofa yang terletak di dekat jendela, ia mengambil Hp dan memeriksa beberapa email yang bersangkutan dengan pekerjaan. Waktu luang yang ia miliki sangat berharga kalau tidak melakukan apa pun, gak ada istilah buang-buang waktu.


"mbak, mau ngapain kita?" tanya Adel polos yang emang gak tau mau di apain.


"jangan khawatir nona, kita hanya melakukan perawatan sederhana." katanya dengan tersenyum ramah.


"Nona mau mandi sendiri atau saya bantu?"


buru-buru Adel menolak dengan menggerakkan kedua tangannya cepat di depan badannya.


"Makasih mbak, mandi sendiri aja." jawabnya cepat gak pakek nego.


Miranda tertawa kecil melihat tingkah lucu wanita itu, selama ia bekerja di sini belum pernah mendapati pelanggan yang sepolos ini.

__ADS_1


"Saya menunggu anda disini, anda bisa membersihkan badan dengan santai. kami sudah menyiapkan air hangat untuk anda berendam dan seseorang akan membantu anda di dalam." katanya menjelaskan.


Adel hanya mengangguk pelan, gak ngerti maksudnya apaan. Pas udah masuk kedalam ruangan baru Adel ngerti maksudnya, ternyata udah ada dua orang yang menunggu. Langsung merah wajah Adel, masak iya mandi di temenin segala? mana gak ada yang kenal sama sekali, malunya itu yang gak bisa di bayangkan.


"Mari nona, kami akan membantu anda untuk lulur dan pijat."


Kayak gini rasanya jadi orang kaya???


Adel mengganti bajunya dengan handuk sesuai instruksi dan dua orang wanita yang lebih tua di bandingkan Adel itu langsung melakukan tugasnya. pijatan-pijatan lembut itu membuat Adel merasa sangat nyaman, udah lama juga gak pijat jadi pas banget kan?


badan pegel linu dan encok itu langsung rasanya enak.


Gak tau berapa lama Adel melakukan semua itu dan malah ketiduran, baru nyadar pas di bangunin.


"Maaf ya mbak ketiduran." katanya nahan rasa malu, malu kalo pas tidur pas ngiler.


"Enggak kok nona, kami yang seharusnya minta maaf sudah mengganggu istirahat Anda."


Adel ngerasa gak enak banget di perlakukan kayak gini, kalo di liat umur mereka lebih tua tapi sikap mereka itu yang bikin Adel merasa bersalah.


Rasanya badan Adel enteng banget, dakinya udah pada kabur dan otot-otot yang tegang udah pada rileks. serasa hidup kembali setelah lama terkurung dalam ketegangan, di tambah kejadian tadi yang bikin beberapa urat putus.


"itu apa?" tanya Adel saat seseorang membawa mangkok dengan cairan kental yang ia aduk, firasat Adel gak enak kalo liat.


"ini bahan untuk waxing." menjelaskan cairan kental yang di persiapkan.


"Hah? waxing?" langsung Adel ngerasa sakit semua badannya.


"Iya nona."


Gue harus kabur ini, kalo gak bakalan....


Adel melihat pintu yang tadi ia masuki dan tanpa pikir panjang ambil langkah seribu alias kabur.


"Nona?!"


"Tunggu nona?!"


Gak perduli dengan teriakan-teriakan yang di tujukan untuknya itu, yang jelas Adel pergi dari tempat tersebut demi menyelamatkan bulu-bulu kakinya.


David yang tengah asik mengecek beberapa email itu langsung punya firasat kegaduhan yang terjadi ada sangkut pautnya dengan Adel, dan benar banget gak berapa lama keluarlah orang yang ada dalam pikiran David dengan keadaan yang bikin semua orang melotot.


*****

__ADS_1


__ADS_2