
Cepat-cepat Bunda mengambil sweater dari dalam lemari dan langsung memakainya untuk melapisi piyama yang ia pakai, gak mikir lagi buat ganti baju pokoknya yang ada dalam pikiran bunda langsung on the way ke rumah anak tercintanya yang kehilangan jejak sejak tadi malam dan bikin bunda gak bisa tidur karenanya. namanya aja anak laki satu-satunya jadi wajar aja lah kalo bunda khawatir, tapi bukan sama David doang sih bunda kayak gini.... dua anak ceweknya juga bunda perlakukan sama. gak ada beda belas kasih untuk semua anaknya, tapi mengingat bagaimana posisi David sebagai ahli waris dan penerus keluarga itu semakin bikin Bunda takut sesuatu yang buruk menimpa putra kesayangannya. Di luar sana banyak orang yang ingin mencelakakan David terkait urusan bisnis dan beberapa hal lainnya, Bunda dan ayah sudah menyarankan untuk memperkerjakan beberapa bodyguard tapi David selalu menolaknya dengan alasan kenyamanan dan privasi. Gak enak aja kan kalo kemana-mana di ikutin sama sekelompok orang yang malah mengundang perhatian, beras risih.
"Ayo yah...." kata bunda yang udah siap dengan menenteng tas dan tak lupa Hp, alat komunikasi yang paling penting di muka bumi untuk saat ini buat melakukan panggilan darurat ke polisi, ambulance atau siapa pun kalau sesuatu yang buruk terjadi. Tapi langkah bunda tiba-tiba terhenti pas liat ayah yang malah asik melingkar dan mendengkur di atas tempat tidur, padahal baru aja dan gak nyampek sepuluh menit dari terakhir mereka berinteraksi tapi sekarang ayah udah jatuh dan terbang ke alam mimpi dengan dengkuran halus yang menandakan kalau ayah lagi tidur dengan sangat nyenyak dan damai. Liat suaminya yang enak-enak kan tidur itu bikin bunda sebel, gimana gak sebel kalo hati udah gak tau gimana rasanya ni malah suaminya santai banget kayak gak terjadi apa-apa. Bukan cuma santai tapi malah kelewat santai yang langsung bikin mood jadi jelek, dari bunda yang pasang tampang khawatir berubah jadi tampang jengkel setengah marah liat kelakuan suaminya tersebut.
"Ayah...!!!!"
Teriakan bunda mengawali aktifitas pagi hari di rumah tersebut yang langsung membangunkan seluruh penghuni rumah, bukan cuma ayah yang di tarik dan bangun dengan terpaksa dari alam mimpi yang damai dan indah tersebut tapi juga penghuni lainnya yang ikutan kaget luar biasa berasa ada pesawat jatuh menimpa atap rumah dan bangun dengan menyisakan trauma. (Bayangin aja kalian pas lagi enak-enak tidur tiba-tiba aja denger sesuatu yang dahsyat bikin kuping wow... Gimana coba rasanya??? Kalo author sih langsung melek tuh mata, kaget banget dan kepala terasa pusing tapi di jamin gak bakalan bisa tidur lagi. itu pengalaman author yang lagi enak-enakan tidur si gangguin sama anak😓 Di kira ada sesuatu yang mendesak gak taunya malah cuma mau bukain bungkus permen atau minta ambilkan minum😠nyesek cuy nyesek rasanya..... Sorry sedikit curhat dan berbagi pengalaman hidup yang begitu nikmatnya punya anak dan gak ada satu pun yang jual 🤣 emak-emak pasti tau lah situasi kek gini)
"Kenapa? ada apa? siapa?" kata ayah tergagap yang siap dengan kuda-kuda di depan istri tercintanya tersebut dalam posisi melindungi, langsung melek ayah saking kagetnya.
"Siapa yang berani ganggu istri tercinta ayah?" Celingukan mencari sumber yang bikin istrinya histeris sampek mengeluarkan suara dengan nada suara paling tinggi dan memekakkan telinga.
"Gak tau apa mereka siapa Raditya ini hah?!" Kata ayah petentang-petenteng dengan gayanya bak super Hero yang lagi nolong bidadari yang baru aja turun dari khayangan, Jaka Tarub edisi ngelindur.
Bunda cuma melongo liat kelakuan ayah yang di mata bunda berasa kelewat anehnya, antara mau ketawa tapi juga jengkel jadi bunda cuma bisa melotot ke arah ayah yang menjadikan dirinya sebagai tameng untuk wanita yang ia cintai tersebut. Kok bisa langsung pasang kuda-kuda kayak pendekar jaman Majapahit gitu, dapat ilmu dari mana coba? masih kebawa mimpi mungkin jadi ayah kek gitu.
Perasaan ayah sih udah bener ngelakuin hal tersebut, tapi gak taunya ....
"Ayah ngapain sok kayak Angling Dharma gitu hah?" Tanya bunda dengan menyilang kan kedua tangannya di depan dan memperhatikan ayah dari ujung kepala hingga ujung kaki, masih lengkap dengan piyama dan juga kaki yang nyeker tapi lagaknya udah kayak pakek baju besi kualitas nomor wahid dengan gaya yang gak kalah nomor wahid pula. Kalo ada orang lain yang liat bakalan ketawa sampek ngompol, ayah sangat menjiwai perannya itu bahkan mimik wajahnya juga sangat serasi dengan gayanya.
"Tenang Bunda, ayah akan melindungi bunda dengan segenap jiwa dan raga bahkan nyawa sebagai taruhannya." katanya mantap tanpa ada ragu di dalamnya, motto lelaki sejati yang selalu ayah pegang dalam hidupnya yaitu melindungi orang-orang yang ia cintai dengan segenap jiwa, raga dan nyawa.
Bunda memutar bola matanya jengah, bosan dengerin gombalan ayah yang makin tua makin parah tapi gak berbobot.
"Jadi, kenapa tadi bunda teriak udah kayak Tarzan Sampek ayah kaget setengah mati dan untung aja ayah gak mati. kalo ayah mati kan kasian bunda jadi janda."
"Bunda teriak kayak tar...." belum nyelesai kan kalimatnya bunda nyadar kalo ternyata ayah membandingkan dengan tokoh legenda dunia yang animasinya wira-wiri di layar kaca.
"Maksud ayah apaan coba ngomong kayak gitu hah?!" Yang awalnya udah emosi jadinya malah tambah emosi kalo kayak gini, di katain kayak Tarzan segala lagi.
*E*mang tadi ayah ngomong apaan Yach???
"Udah lah bunda lagi males ngeladenin ayah yang gak jelas, sekarang anterin bunda ke rumah David." Ujar bunda yang kalo ngeladenin ayah gak bakalan beranjak kemana-mana, yang ada malah tambah emosi dan berdebat.
"Sekarang Bun?" Tanya ayah yang beneran masih gak jelas itu, habisnya lagi enak-enakan tidur langsung di bangunin sama bunda dengan suaranya yang sungguh sangat cetar membahana tersebut. Nyawa yang lagi berterbangan kesana-kemari langsung aja mereka kabur satu persatu dan gak balik lagi yang bikin ayah jadi bingung kayak gini.
"Iya sekarang, masak mau tahun depan?"
"Tapi kan sayang ini masih pagi banget, ayam aja belum berkokok." Kilah ayah yang sebenernya agak males buat ninggalin kamar dan tempat tidur yang nyaman tersebut, masih pengen tidur.
"Gak usah ngurusin ayam kalo gak mau burung ayah besok Bunda potong."
"Bunda kenapa jam segini teriak-teriak?" ujar Kean saat membuka pintu kamar kedua orang tuanya, denger teriakan bunda yang super dahsyat pagi buta kayak gini bikin semua orang langsung on di kala off termasuk Kean yang lagi enak-enakan tidur. Tanpa pikir panjang, gadis manis itu keluar dan datang ke arah sumber kegaduhan. Dimana lagi kalo bukan kamar kedua orang tuanya tempat bunda berada, yang Kean temui adalah bunda yang dengan setelan piyama lengkap tapi menenteng tas dan Hp di tangan dan juga ayah yang lagaknya udah bikin mata melongo saking kaget dan herannya.
Lah???
Ayah ngapain???
Kayak pendekar siap tempur aja???
"Kalian berdua ngapain?" kata Kean dengan menunjuk kedua orang tuanya bergantian, emang sih punya orang tua yang asik dan humoris tapi gak lucu juga becanda jam segini.
"Bunda mau kemana sepagi ini?" mengarahkan pandangan matanya ke arah bunda yang dalam keadaan siap berangkat tapi pakek piyama, sama kayak ayah yang masih pakek piyama juga.
"Lah ayah ngapain juga kayak gitu?" Mengalihkan pandangan ke arah ayah yang sudah berasa jadi suami siaga tingkat dewa, "Ayah mau nangkap maling ayam apa dengan gaya kayak gitu?"
Gimana gak ngomong gitu, habisnya ayah merentangkan tangannya yang udah siap nangkap ayam yang mau kabur dengan posisi membelakangi Bunda.
Bunda melihat Kean, di bandingkan mengajak ayah yang nyawanya belum terkumpul dengan sempurna itu lebih baik mengajak Kean untuk pergi ke rumah David. Di bandingkan ayah, Kean lebih jago dalam mengemudi. Saat ini bunda gak masalah dengan siapa berangkat, yang jelas pengen cepat berangkat dan sampai ke rumah David untuk melihat dengan mata dan kepala sendiri tentang kondisi David saat ini dan semoga apa yang di khawatir kan Bunda cuma ada dalam pikirannya.
Kata Andre, David saat ini ada di rumah. Tapi bisa aja kan mereka berdua bersekongkol untuk mengelabuhi Bunda, Bunda tau banget gimana Andre yang dengan setia dan bisa ngelakuin apa pun yang David katakan. Bukan cuma sekali atau dua kali mereka kayak gitu, tapi udah ratusan kali yang sampek Bunda tuh hapal dengan kelakuan mereka berdua.
"Udah tinggal Ayah kamu yang mau nangkap maling ayam, ikut Bunda." menarik tangan Kean tanpa memberikan waktu untuk Kean menolak.
"Kemana Bunda?" tanya Kean heran, sepagi ini udah mau minta anterin pergi. Padahal semua orang tau kalo Bunda paling anti ikut mobil yang Kean setir dengan alasan putri bungsunya itu kalo udah di balik setiran berubah drastis dari Kean yang kalem kalo ngomong menjadi ugal-ugalan di jalan raya. Terakhir bunda ikut dan di setirin Kean, Bunda sampek mual dan muntah-muntah. Belum lagi bonus tambahan senam jantung dan juga memacu adrenalin langsung di bayar di depan gak pakek nanti.
__ADS_1
"Ini masih pagi banget Bun, Bunda mau kemana sih?"
"Ke rumah Abang kamu."
"Bang David? ngapain sepagi ini?" katanya heran, masak iya Bunda mau kesana sepagi ini.
"Itu lah Bunda kamu, gak ada angin dan gak ada hujan minta anterin ke rumah Abang kamu." kata Ayah yang udah duduk di pinggiran tempat tidur dengan memperhatikan dua wanita berbeda usia tersebut tapi di mata Ayah mereka sama-sama masih cantik dan gak ada yang bisa mengalahkan.
"Nanti Bunda ceritain."
******
Adel yang merasa kepalanya sedikit pusing dan juga lehernya lalu itu memaksa untuk membuka matanya yang terasa sangat-sangat lengket tersebut, udah kayak di lem permanen aja tu mata jadi susah banget buat di buka. Biasanya mereka gak selengket ini kalo udah waktunya bangun, gimana pun keadaan dan cuaca Adel terbiasa bangun pagi untuk membantu Nenek memasak dan membersihkan rumah. Jadi pas Adel berangkat sekolah semua perkejaan rumah sudah beres dan Nenek dapat pergi dengan tenang.
Bukan cuma leher Adel yang rasanya pegal linu encok tapi juga udah menjalar ke bagian perut dan dada yang terasa berat dan juga sesak. Susah banget buat gerakin badan walau cuma memutar sedikit saja, udah berasa ketimpa batu atau gajah mungkin lebih jelasnya.
Adel mengerakkan badannya sedikit, menggeliat dengan lembut untuk melemaskan urat serta otot-ototnya.
Badan gue kenapa kok kaku banget kayak gini? mana berat banget lagi kayak ada yang nindih....
Pengen banget Adel membuka matanya dan melihat apa yang sebenarnya terjadi, tapi tu mata masih betah berlama-lama lengketnya di bandingkan meleknya. Kalo mata gak bisa di ajak negosiasi buat liat apa yang sebenarnya terjadi yang bikin bagian dada dan perutnya sesak plus berat, kali ini Adel memilih untuk bekerja sama dengan tangannya. Adel menggerakkan tangannya secara perlahan untuk menyusuri daerah perut, memeriksa apa yang sebenarnya terjadi.
Apaan nih???
Tangan Adel mendapati sesuatu yang terasa gak asing tapi gak tau itu apaan, kayaknya bukan pertama kalinya Adel menyentuh benda yang seperti itu tapi otak Adel yang masih terpengaruh obat tidur itu belum bisa berpikir secara sempurna dan kembali seperti sedia kala. Lalu ia menaikkan tangannya kebagian atas dan lagi-lagi menyentuh sesuatu yang terasa familiar tapi gak tau itu apaan, kalo misalnya mau ngomong tu yach udah di ujung lidah tapi lupa mau nyebutnya. Bikin jengkel gak sih kalo kayak gitu?
Rasa penasaran Adel yang besar itu terkalahkan dengan rasa mengantuk yang lebih besar lagi, alih-alih membuka mata dan mencari tau tentang apa yang membuat dadanya terasa sesak dan perutnya berat itu Adel lebih memilih untuk memejamkan mata dan melanjutkan hibernasi yang ke sekian kalinya yang Adel lakuin.
Bunda yang udah gak sabar itu langsung membuka pintu mobil dan turun saat mobil yang membawanya berhenti tepat di halaman rumah putra kesayangannya tersebut. Kali ini gak ada acara mual atau bahkan muntah kayak biasanya pas bunda di setirin sama Kean yang skillnya udah berasa jadi pembalap tingkat internasional tersebut. Selip sana dan selip sini bikin perut berasa di kocok dan jantung berdetak lebih cepat di bandingkan biasanya, untung aja kan jantungnya gak ikutan lari.
"Brak!!!"
Kean cuma memandangi pintu mobil yang di banting dengan sangat-sangat sempurna sama Bunda yang langsung turun gitu aja.
tumben-tumbenan kayak gini???
Habisnya baru kali ini bunda memperlihatkan kelakuan yang bikin Kean benar-benar bingung, kalo biasanya mana mau Bunda naik mobil yang di setir sama Kean. Baru denger berangkat sama Kean aja udah langsung mengatakan tidak, apa lagi di jalan Bunda jadi anak manis yang duduk anteng walau Kean nyetirnya pakek emosi bukan pakek perasaan dan yang paling dari semua itu adalah Bunda sendiri yang minta buat di tambahin kecepatannya dengan alasan biar cepet sampek ke rumah abangnya.
"Ada apa sih sama bang David???" Kean membuka pintu mobil dan mengikuti bunda, "Jangan-jangan bang David...." terlintas pikiran yang enggak-enggak dalam otak Kean, bukan hal yang positif melainkan negatif. langsung aja cewek tomboy itu berlari secepat kilat menyusul bunda yang udah selangkah di depannya, bahkan Bunda udah ada di teras.
"Bunda, dobrak aja pintunya kalo gak bisa di buka." ujar Kean setengah berteriak.
Bunda hanya mengangguk menyetujui apa yang di katakan sang putri bungsunya itu, kalo biasanya bunda gak pernah mau berkompromi dengan pendapat dan apa yang di lakukan Kean tapi kali ini posisi Kean sangatlah di perlukan dengan ide-ide yang bunda sendiri setuju bahkan setuju banget.
Jangankan kompromi apa lagi setuju, malah dapat serentetan ceramah yang bikin ngantuk.
Bunda mengulurkan memasukkan tanggal lahir, bulan serta tahun kelahirannya yang David gunakan sebagai kata sandi pintu rumahnya. Hal sederhana tapi bikin bunda merasa sangat-sangat di hargai oleh putranya tersebut.
Saat pintu terbuka buru-buru Kean masuk terlebih dahulu untuk memastikan bahwa Abang satu-satunya yang ia miliki itu dalam keadaan baik-baik saja dan bukan seperti yang ia bayangkan. Kean membayangkan bahwa sesuatu buruk terjadi kepada abangnya di mana ia menemukan sang kakak tergeletak tak berdaya dengan bersimbah darah seperti yang sering ia lihat di film-film action. Tempat pertama yang ia datangi adalah kamar di mana sang pelaku selalu melakukan aksinya di tempat tersebut atau kalau enggak di dalam kamar mandi. Bak Hero yang siap menolong, Kean berlari sangat kencang dan melompati semua barang yang menghalangi langkahnya.
Bunda aja sampek bengong dan geleng-geleng kepala, punya anak cewek kayak gini tuh ngidam apa coba dulu pas hamilnya???
Perasaan Bunda gak ada ngidam apa pun, kecilnya juga Kean jadi anak cewek yang manis dan imut tapi kok udah besarnya malah berubah kayak gitu yang bikin Bunda sampek ngelus dada sendiri liat kelakuan anak cewek yang udah kayak anak cowok.
Kean membuka pinta tanpa paksa alias gak perlu di dobrak karena tu pintu kamar udah terbuka sendiri pas Kean datang. Gak perlu buang-buang tenaga.
Mata Kean terbelalak melihat pemandangan yang ada di depannya, ini jauh di luar ekspektasi yang ada sebelum dan sesudah melihat tempat kejadian perkara. Cewek cantik itu menutup mulutnya buat menghindari teriakan yang bakal bikin gempar dan mundur beberapa langkah.
"Kean, apa yang kamu liat?" tanya Bunda yang mulai menaiki anak tangga.
Buru-buru Kean menutup pintu dengan gerakan halus dan pelan biar gak ada kedengaran suara sedikit pun dan langsung berbalik membelakangi pintu seolah melindungi orang yang ada di balik pintu tersebut dengan wajah bingung, bingung buat cari cara dan akal biar Bunda gak masuk ke dalam sana dan melihat apa yang sebenarnya terjadi.
"Kamu ngapain di sana?" tanya Bunda heran liat Kean yang malah celingak-celinguk gak karuan di depan pintu dengan tangan terbentang seolah-olah secara gak sadar melindungi, tapi gayanya udah kayak Ayah yang lagi mau nangkap ayam.
"Kean?!"
__ADS_1
Bukan penasaran lagi tapi Bunda curiga melihat tindak-tanduk dan kelakuan Kean yang emang mengundang curiga tersebut.
"Anu Bun....." Gak bisa ngomong dan bingung mau jawab apaan.
Gue harus gimana nih....
Mikir Kean....
Ayo mikir..
"Kean kamu kenapa sih?" tanya Bunda yang makin curiga.
"Stop Bun?!"
Bunda refleks menghentikan langkah kakinya yang menaiki anak tangga karena kaget Kean ngomong setengah teriak
"Bang David gak ada di dalam kamar, mungkin ada di dapur." kata Kean yang gugup, Kean paling gak bisa yang namanya bohong walau sebadung apa pun dan se gokil apa pun kelakuannya tapi kalo masalah bohong apa lagi di depan Bunda gak bakalan bisa. Kayak gini jadinya, kaku dan gelisah.
"Bener Bun, bang David ada di dapur." katanya dengan menunjuk dapur yang ada di lantai bawah tapi tangannya malah nunjuk ke sisi lain yang merupakan teras rumah.
Bunda melihat kemana arah telunjuk Kean, yang merancang, beli isi rumah tu Bunda sendiri jadi Bunda tau dengan pasti posisi dan barang-barang yang ada di dalam rumah ini.
"Kean, itu teras bukan dapur yang kamu tunjuk."
Kean yang nyadar salah itu langsung menunjuk arah sebaliknya dimana dapur berada.
Mampus gue....
Di saat genting pakek salah alamat lagi.
"Sayang, Bunda itu yang mengandung kamu selama sembilan bulan sembilan hari. Yang ngelahirin kamu dan gantiin popok serta ngurus kamu. Sampek sekarang Bunda masih nyiapin kamu makan jadi Bunda tau banget anak Bunda bohong apa enggak." kata Bunda mengingatkan kalau apa yang di lakukan putri bungsunya tersebut Bunda tau sebuah kebohongan.
"Maaf Bunda," kata Kean lirih dengan menundukkan kepalanya, emang kalo mau bohong di depan Bunda itu gak bakalan bisa dan langsung ketahuan sama Bunda.
"Tapi beneran kok Bunda kalo di dalam kamar gak ada bang David, jadi mendingan kita pulang aja sekarang." Berjalan mendekati Bunda dan menggandeng tangan Bunda buat turun dan meninggalkan rumah ini, bukan rumahnya sih tapi kamar.
Bunda melepaskan tangan Kean dan tersenyum lembut ke arah putri bungsun nya, mengelus lembut dan menepuknya pelan.
"Bunda gak tau apa yang kamu lihat dan coba kamu lindungi di dalam sana tapi Bunda yakin itu sesuatu yang harus Bunda liat."
Sorry bang David...
Bukannya Kean gak mau bantuin Abang, tapi kali ini lawan Kean lebih kuat di bandingkan monster yang ingin menghancurkan bumi.
Fighting bang, semoga Abang selamat dan masih bisa bernafas sampai fajar menjelang nanti.
Kean menatap pintu yang tertutup itu dengan tatapan mata penuh belas kasihan, membayangkan apa yang bakal terjadi kalo Bunda masuk dan melihatnya. Bayangin aja udah bikin Kean berasa melayang-layang di udara bak astronot yang gak punya gaya gravitasi.
Bunda membuka pintu dengan antusias, gimana gak antusias kalo Kean mati-matian melindungi tu pintu dan menghalanginya buat masuk sampek bela-belain bohong segala. Itu udah pertanda paling akurat kalo ada sesuatu yang gak beres atau yang meresahkan.
Rasa khawatir yang Bunda rasain makin lama makin besar, apa liat tingkah Kean yang mengundang curiga tingkat dewa itu gak bisa d pungkiri kalau sesuatu yang buruk terjadi di balik pintu yang dari tadi di bela-belain. Udah awalnya gak enak hati di tambah kayak gini malah double lah gak enaknya, takut sesuatu burik terjadi pada putra satu-satunya itu. Apa lagi David yang gak biasa menon_aktifkan Hpnya itu dari malam gak bisa di hubungi, ibu mana yang gak khawatir kalo di hadwpkan dengan situasi seperti ini.
Kean membelakangi pintu dengan menutup kedua telinganya pakek kedua telapak tangannya sambil berjalan menuruni tangga, yakin banget kalo gak Sampek dalam hitungan satu menit bakal keluaran kecoak, tikus, jangkrik dan pada jatuh cicak yang nempel di dinding denger teriakan super dahsyat dari Bunda. di bandingkan entar malah kena imbasnya mendingan Kean melarikan diri dan bakal balik kalo situasi udah mereda, gak bakal ada yang bisa ngalahin Bunda di rumah. Semuanya bakal takluk tak berkutik.
satu, dua....
Kean mempercepat langkahnya buat menuruni anak tangga, baru kali ia merasa kalo anak tangga di rumah abangnya itu lumayan banyak dan bikin ribet. Coba aja gak ada anak tangga udah dari tadi melompat keluar pintu.
Tiga!
"DAVID....!!!!!!!!!!!"
Bergetarlah alam semesta beserta isinya mendengar teriakan Bunda, untungnya rumah David berada cukup jauh dengan tetangga kalo enggak bakalan polisi, pemadam kebakaran dan mungkin juga bisa-bisa ambulance bakal parkir di pekarangan gara-gara tetangga ngira sesuatu yang besar, berbahaya dan mengkhawatirkan terjadi di dalam rumah tersebut.
*******
__ADS_1