Kontrak Cinta 100 Hari

Kontrak Cinta 100 Hari
Tumbang


__ADS_3

Adel yang kesadarannya berasa di ujung tanduk itu mengumpulkan sisa-sisa kekuatannya layaknya Ultraman yang lampunya kelap-kelip merah pertanda bahwa kekuatannya akan segera redup. Mana David jalannya cepet banget lagi, tuh orang kalo marah emang gak ngomong apa-apa tapi ngerinya udah luar biasa. Atmosfer di sekitar tu cowok langsung berubah seketika.


"manja banget sih para cacing gue, gini aja masak udah mau tumbang..." Gumamnya menyemangati diri sendiri. Adel yang udah gak tahan lagi itu akhirnya terduduk lemas dengan menyandarkan badannya di tembok, perlahan ia menutup mata untuk menghemat tenaga yang tersisa karena hanya dengan cara ini ia mampu menjaga kesadarannya.


Emosi yang mengalahkan logika itu membuat David kembali menjadi dirinya yang biasanya, mengacuhkan sekitar dengan tatapan mata dingin seolah semua orang dan benda di sekitarnya tak berguna dan kasat mata. Jangankan semut, gajah pun bakal di acuhkan begitu saja. Cowok arogan itu membanting pintu kamar hotel dengan kesal dan melemparkan tatapan mata tajam ke arah pintu untuk siap meledak. Ledakan itu tertahan di sebabkan sasaran yang ia inginkan tidak di temukan di sana. Dengan cepat ia berjalan dan membuka pintu, tapi tetap sama. Adel tidak di temukan di depan pintu atau pun lobi tampak kosong tak berpenghuni.


Yang David pikirkan, Adel melaeikan diri untuk menghindari amarahnya saat ini dan dengan cepat ia kembali untuk menangkap Adel untuk memberi pelajaran yang setimpal atas apa yang telah ia lakukan. Dengan kakinya yang panjang, David berjalan dengan sangat cepat layaknya sedang mengejar bus. Saat ia berbelok, ia melihat sosok Adel yang terduduk dengan memeluk kedua kakinya di lantai lobi. David menghentikan langkahnya tepat di depan Adel dan menyilangkan keduanya tangannya dengan tatapan mata tajam menahan amarah.


"Lo kira bisa kabur gitu aja?" katanya dengan menahan emosi dan nada dingin yang mampu menusuk tajam.


Adel yang udah berasa lemas itu mendongakkan kepalanya mendengar suara yang sangat ia kenal tersebut, benar saja....


laki-laki yang kini menjadi suaminya Itu kini berdiri di depannya, meski Adel mendongakkan kepalanya tapi ia tidak melihat dengan jelas wajah David. Bagaimana ekspresi laki-laki tersebut saat ini dan yang terdengar hanya nada suaranya yang Adel yakini bahwa David saat ini menahan amarahnya.


Adel berdiri dengan berpegangan pada dinding dan terhuyung, tatapan matanya samar meski telinganya cukup baik untuk mendengar. Kali ini dua inderanya itu tak bekerjasama dengan baik seperti biasanya.

__ADS_1


"Ma_maaf..." Adel menopang badannya dengan bersandar dan berusaha untuk tersenyum. "marahnya tunda dulu." katanya sebelum terjatuh dan semuanya menjadi gelap.


David dengan cepat menyangga badan mungil Adel yang jatuh begitu saja tepat di dalam pelukannya, wajahnya sangat pucat hinga hampir tidak kelihatan adanya tanda kehidupan.


"Adel?" bisik David cemas, amarahnya seketika hilang saat melihat keadaan Adel yang jatuh lunglai tak berdaya tersebut. Dengan wajah seperti ini, tidak mungkin bagi Adel untuk berakting. Hanya dengan satu kali gerakan David memindahkan badan Adel dan menggendong di punggungnya. Dengan setengah berlari ia menuju kamar hotel secepat yang bisa ia lakukan, beruntung kali ini lobi dalam keadaan kosong sehingga David dapat berlari dengan leluasa tanpa mengganggu kenyamanan pengunjung lainnya. tidak ada pergerakan sedikit pun yang menandakan bahwa Adel dalam keadaan tidak sadarkan diri saat ini, bahkan beberapa kali David memanggil nama dan mengguncangkan tubuh Adel.


*****


Malam pertama yang cukup tragis, kebanyakan pasangan menghabiskan malam pertama mereka dengan romantis dan penuh cinta tapi berbeda dengan yang David alami. Menghabiskan malam pertama menunggu wanita yang telah ia nikahi itu untuk sadarkan diri.


Asam lambung yang akut dan juga kurangnya asupan gizi membuat Adel kehilangan kesadaran. Cukup miris mendengar semua itu, mengingat bahwa ia sebagai suami membuat istri nya kelaparan hingga tidak sadarkan diri seperti ini, suami yang mampu membeli apa pun di dunia ini tapi yang paling mengenaskan adalah fakta bahwa istrinya pingsan karena kelaparan.


"Maaf..." ucapnya lirih, hanya itu yang bisa Adel katakan. Permintaan maaf yang tertunda yang entah kenapa Adel katakan meski ia tahu bahwa ini semua bukan keinginan dan salahnya.


David terjaga dari lamunannya dan mendapati Adel menatapnya dengan tatapan mata lemah tak berdaya, wajahnya masih sepucat tadi meski kini mata itu terbuka.

__ADS_1


"maaf," ulang Adel lagi karena tidak mendapatkan jawaban dari David, laki-laki itu hanya menatapnya tanpa ekspresi yang dapat Adel tangkap dengan jelas. Adel tidak dapat membaca apa yang David rasakan saat ini.


David merasa semakin bersalah mendengar apa yang Adel ucapkan ketika ia membuka mata pertama kali. Tanpa bicara, ia mengambil secangkir air yang telah ia persiapkan. Bibir Adel tampak kering, ia menderita dehidrasi dan itu semua alasan yang cukup untuk menyiksa dan menyalahkan diri sendiri.


"Minumlah." Katanya dengan mengambil sedotan dan mengarahkan ke bibir Adel secara perlahan, meski David menyalahkan diri sendiri tapi wajah dan suaranya masih tetap seperti biasa.


Adel menurut, ia tidak ingin berdebat dalam keadaan seperti ini karena gak mungkin bakal menang dan gak ada keuntungan apa pun yang ia dapat.


"Masih sakit?" kata David dengan menyentuh perut Adel yang di lapisi dengan selimut lembut dan hangat.


Adel menggeleng pelan, meski masih terasa sakit tapi Adel tidak ingin menjadi wanita manja yang meminta perhatian atau pun belas kasihan dari orang lain karena sakit.


"Aku akan memanaskan bubur." Katanya berdiri, bagaimanapun Adel harus makan secepatnya untuk memulihkan dan mendapatkan tenaganya lagi.


Adel memegang tangan David saat ia berdiri untuk mencegahnya pergi.

__ADS_1


"Jangan marah, Adel benar-benar minta maaf." katanya lagi karena reaksi David yang acuh tak acuh terhadapnya, kini Adel tau bagaimana karakter David yang mengintimidasi hanya dengan tatapan mata dan suaranya tanpa melakukan apa pun. itu cukup mengerikan untuk Adel.


David memejamkan matanya, sudah cukup semua penyesalan dan semalaman ia menyalahkan diri sendiri. Bahkan Adel selalu meminta maaf untuk sesuatu yang tidak ia lakukan. Tapi apa mau di kata, David bukanlah orang yang bisa mengeluarkan kata-kata manis atau pun berbasa-basi. Meski di dalam hatinya ia ingin sekali melakukan, entah kenapa mulutnya seperti terkunci dengan rapat. Hanya anggukan pelan yang ia lakukan sebelum pergi untuk memanaskan bubur untuk Adel tanpa bisa mengeluarkan apa yang ada di pikirannya saat ini.


__ADS_2