
Adel melihat kearah sekeliling, tempat yang asing dan tentu aja itu mahal. gak terjangkau buat kantongnya, mimpi pun gak bakalan bisa buat bayar makanan di tempat kayak gini.
"Kenapa?" David yang memperhatikan tingkah Adel yang menurutnya dalam keadaan siaga satu, bertanya dengan menaikkan alisnya sebelah dan melihat ke sekeliling tempat untuk memastikan ni cewek sebenarnya ngapain.
"Kita cari tempat makan lain aja" bisik Adel dengan mencondongkan badannya ke arah David yang duduk di depannya dengan perasaan gak enak.
"Ada yang salah?"
Biasanya, cewek bakal seneng dan gak bakal nolak buat di ajak makan di tempat kayak gini.
"Berani taruhan, pasti porsinya sedikit." jawabnya jujur. dari pengalama yang Adel punya, semakin mahal harga suatu hidangan maka semakin sedikit porsinya kalo di bandingkan dengan pedagang kaki lima.
David menatap Adel, memperhatikan dengan detail dari ujung kaki hingga ujung kepala. Yang David lihat, badan Adel kecil dan ramping. masak iya tipe gini mau makan porsi kuli?
"Kalo gak cukup satu porsi, pesen aja buat satu desa." jawabnya asal. sejak kenal Adel, hidup David berubah sedikit demi sedikit. termasuk cara bicara yang kini cenderung asal di bandingkan dulu yang terkesan formal.
"Gak mau, pasti mahal."
"Gue juga yang bayar."
"Iya tau, tapi sayang uangnya. udah capek kerja malah buang-buang buat makan doang."
"Duit gue dan gue yang kerja."
"Iya tau." kata Adel mulai jengkel.
"Udah lah, Lo mau makan dimana gue ikut kata Lo." katanya nyerah, gak bakal menang ngelawan cewek yang satu ini dan David merasa tenaganya gak cukup penuh untuk melakukan hal tersebut saat ini.
David yang terbiasa makan di tempat terbaik dengan bahan makanan terbaik serta koki terbaik itu mengerjapkan matanya dan mengedarkan pandangan matanya dengan teliti. tempat yang Adel maksud adalah tempat yang biasa ia lihat di pinggir jalan dengan suasana hiruk pikuk suara khas jalanan yang padat dan ramai. bahkan hanya untuk duduk pun hampir tidak ada tempat, beberapa orang duduk di trotoar dan batang kayu yang tak jauh dari sana. Bukan hanya itu, ada yang makan sambil berdirinya. benar-benar pemandangan yang asing dan gak bakal nyangka punya kesempatan buat nyobain.
"Mau makan apa?" kata Adel dengan wajah berbinar, udah lama pengen makan di tempat ini tapi selalu aja telat. Pasti udah tutup karena habis setiap kali Adel mampir, dan beruntung banget kali ini masih buka dengan menu lengkap.
"Apa yang bisa di makan?" tanya David yang gak tau mau makan apaan, gak ada daftar menu buat di liat dan bingung.
"Banyak lah," menunjuk ke arah meja yang penuh dengan menu Bakaran dan gorengan. apa lagi kalo bukan menu angkringan kesukaan Adel.
"Kalo gak salah mungkin ada 40-50 menu gitu di sini."
"Lo yakin ini higienis??" tanya David yang gak yakin dengan keadaan sekitarnya.
"Di jamin, ini tuh penuh dengan kuman." ujarnya dengan yakin.
"Pulang."
"Eits..." Adel menarik tangan David dan memasang wajah memelas. "gak ada satu pun yang mati kok makan di sini." sambil mengerjakan mata dan tersenyum super manis buat ngebujuk nih orang, "Setidaknya sampai detik ini kayak gitu." katanya lagi yang gak yakin.
"Gue bisa nyuruh koki buat masak Persis dengan apa yang mereka jual di sini."
"udah lah jangan bawel," mendorong badan David hingga di bawah pohon, "duduk aja di sini bentar ya." menunjuk batang kayu yang udah keliatan lapuk untuk duduk. dengerin ocehan ni orang bakalan panjang dan Adel udah laper banget.
David melihat ke arah batang pohon itu, terlihat tidak meyakinkan untuk di jadikan tempat duduk. melihat wajah Adel yang bahagia, membuat David sedikit merasa lega. hal sederhana seperti ini mampu membuat wanita tersebut tersenyum bahagia. David sibuk memainkan Hpnya saat menunggu Adel, tiba-tiba seseorang datang dan duduk di sampingnya tanpa bertanya sebelumnya. Seorang wanita dengan pakaian yang cukup memperlihatkan lekuk tubuh dan kurang bahan di sana-sini tersenyum ke arahnya. Senyum genit yang sudah biasa David lihat. Ia mengabaikan dan memainkan Hpnya lagi, seakan-akan gak ada orang lain selain dirinya.
"Kayaknya mas bukan orang sini ya?" katanya dengan memperhatikan cowok ganteng yang sejak tadi cuek.
"Kenalkan, nama gue Vivi." mengulurkan tangan untuk memperkenalkan diri, beberapa detik ukuran tangan itu mengambang di udara tanpa ada yang menyambutnya.
Sumpah, ni cowok sombong banget. gak bakalan ada yang bisa nolak gue.... Batinnya yang mulai jengkel, pantang buat nyerah apa lagi buat cowok tipe kayak gini.
David yang gak ada urusan dan gak pengen berurusan sama to cewek mengacuhkan, masih asik sama hpnya.
Vivi menyibakkan rambut panjangnya hingga memperlihatkan lehernya yang mulus, perlahan duduk mendekat.
David yang udah mulai gerah itu menutup matanya dan berusaha menahan emosinya. ini lah alasan kenapa ia paling males buat jalan di tempat umum seperti ini, ada aja makhluk-makhluk yang gangguin.
"Jangan ganggu gue." katanya lirih.
"Hah?"
"Gue gak minat buat ladenin Lo." katanya dingin tanpa melihat.
Sombong banget nih cowok.....
"Gue bisa bayarin biaya hidup elo kalo Lo mau jalan sama gue."
David melihat sekilas, full make up dan pakaian yang kurang bahan. tentu aja bukan kriteria David.
__ADS_1
"Berapa yang bisa Lo bayar?"
"Gue bakal kasih Lo 10juta."
David tersenyum kecil, "Cuma 10juta?"
Vivi terkejut mendengarnya, bukan cuma ganteng tapi tu cowok cukup arogan.
"Emang Lo mau berapa? itu tawaran tertinggi yang gue kasih. cowok lain gak Sampek segitu."
"Kasian."
"Apa?"
"Kasian cowok yang jalan sama elo," katanya dengan wajah datar. "tapi lebih kasian sama elo."
Vivi mengepalkan tangannya, kesel setengah mati dengan penghinaan kayak gini. selama ini gak ada satu pun cowok yang berani nolak. cowok mana pun yang menjadi incarannya selalu menuruti apa pun yang ia inginkan. cowok mana yang gak mau di kasih uang, tempat tinggal dan fasilitas lainnya secara cuma-cuma dan hidup berdua layaknya suami istri bersamanya tanpa ikatan pernikahan.
Adel yang datang dengan membawa pesanan makanan itu memiringkan kepalanya sedikit saat melihat seseorang duduk di samping David sambil menerka-nerka siapa cewek tersebut.
Vivi yang siap menyalurkan rasa kesalnya itu terkejut saat seseorang datang dengan dua piring besar dan penuh. senyumnya terkembang saat melihat sosok yang kini berdiri di depannya, ia mengenali dan bahkan sangat kenal.
"Lama gak ketemu." katanya dengan wajah manis.
"Vivi?" kata Adel yang juga kaget melihat teman masa kecil sekaligus tetangganya dulu.
Kok bisa duduk bareng David? Batinnya heran.
"Apa kabar? lama gak ketemu?" ujar Adel mengulurkan tangan setelah meletakkan piring di atas meja kayu yang tak jauh dari tempatnya berdiri.
Vivi memandang remeh Adel dan mengabaikan ukuran tangannya tanpa menjawab.
Adel menarik uluran tangannya dan berusaha membuang pikiran negatif.
"Sejak kapan ko jadi pelayan di sini?"
"pelayan?" kata Adel heran, namun dengan cepat Ia dapat menguasai diri. "Baru aja kok." jawabnya dengan tersenyum ramah seperti biasa saat menyambut pelanggan.
David mendelik melihat semua ini namun Adel menggeleng pelan.
"Emang bener, buah itu jatuh gak jauh dari tempatnya." ujarnya dengan tersenyum sinis. "Nenek Lo jadi babu dan elo juga jadi babu."
"Iya, rakyat jelata kayak kalian emang cocok."
Adel susah terbiasa dengan omongan Vivi yang cendrung pedas dan menyakitkan tersebut.
"Makanya, kalo lahir itu jangan jadi orang miskin."
"gak pa-pa, masih syukur gue bisa lahir dan hidup." jawab Adel santai. "Kalian...." katanya dengan menunjuk ke arah Vivi dan David secara bergantian.
"Oh ya, kenalkan. ini cowok gue."
"Hah?" kaget lah Adel di kenalin sama cowok yang berstatus sebagai suaminya dengan sebutan kayak gitu.
Dengan penuh percaya diri Vivi ngomong kayak gitu.
"Cowok elo?"
"Kenapa? sirik? ngomong aja." jawabnya ketus.
"Enggak sih.... cuma..." katanya sambil salah tingkah.
"Lo naksir sama cowok gue?"
"Aduh Vi... Lo ngomong apaan sih .. baru aja ketemu kita udah kayak gini." kata Adel yang jujur geli banget. emang dari dulu ni orang pedenya gak bakal ada yang ngalahin.
"Emang dari dulu kan Lo sirik sama gue."
"ih, sejak kapan?" kata Adel yang mulai terpancing, habis ni anak ngeselin nya gak berubah.
David yang udah diem dari tadi itu kupingnya lama-lama gatel juga. dua cewek itu ngomongnya gak ada yang bener.
"Oh... ternyata Lo di sini...."
Semua mata teralihkan saat seseorang datang, seorang cowok setengah baya dengan setelan jas lengkap menghampiri mereka. dari raut wajahnya keliatan kalo lagi marah.
__ADS_1
"Ngapain ke sini?" kata Vivi dengan santai.
"Gue udah curiga sama gelagat Lo beberapa bulan ini, pas gue hubungi Lo gak pernah ada dan menghindar. ternyata....."
"Emang urusan Lo apa?"
"urusan gue apa?"
Adel yang ngerasa aroma-aroma gak enak itu bergerak perlahan ke arah David.
"Semua udah gue kasih sama Lo, berapa pun Lo minta dan apa pun. ternyata Lo selingkuh di belakang gue."
"Selingkuh? kalo ngomong itu ngaca dulu. sejak kapan kita punya hubungan?" tantang Vivi dengan berani.
"Berapa, berapa Lo bayar cowok breng*ek ini hah?!" menunjuk ke arah cowok yang ada di samping kekasihnya tersebut dengan marah.
David yang sejak tadi diam itu kini udah gak tahan, "Tolong bapak kalau ngomong itu mikir dulu."
"Anak bau kencur, gak usah ikut campur."
Vivi yang udah bosen dengan hubungan kucing-kucingan itu menggandeng tangan cowok yang entah siapa nama dan asalnya tersebut.
"Bukan urusan Lo gue bayar berapa. harusnya Lo sadar diri dong...."
"Vivi?! Lo gak sadar?!"
"Gue sadar, Lo udah tua dan kita gak pernah ada hubungan apa pun. dan asal Lo tau, dia lebih muda, tampan di bandingkan dengan Lo?!"
David menyentak tangannya, pengen banget ngasih pelajaran ni cewek yang bener-bener gak tau diri.
"Jangan libatkan gue dalam urusan kalian. lagi pula kita gak saling kenal." katanya dengan menatap tajam cewek si*lan yang berani-beraninya menyentuh tanpa ijin tersebut.
David mengambil tangan Adel dan menggenggamnya. tatapan matanya yang tadi dingin kini berubah hangat saat menatap Adel.
"Sayang, kenapa kamu bisa punya temen kayak gini?"
Vivi melongo melihat pemandangan tersebut. cowok yang berwajah datar dan dingin itu seketika menjadi hangat saat bicara dengan Adel.
"Itu...." jawab Adel canggung.
"Sebagai suami, aku melarang berteman dengan wanita seperti ini." katanya tajam.
"Suami?" mata Vivi membulat, melupakan cowok yang lagi naik pitam di dekatnya.
Adel bingung mau ngomong apaan, cuma bisa senyum-senyum gak jelas.
Sebuah kecupan hangat mendarat di pipi Adel yang membuatnya membeku.
"Tuan, pikirkan apa yang anda ucapkan. saya laki-laki terhormat, saya memiliki istri yang jauh lebih cantik di bandingkan dengan pasangan anda. jauh lebih sopan dan elegan, jadi untuk apa mencari wanita lain?" kata David yang kini kembali ke mode datar dan dingin.
"Kalau saya boleh memberikan saran, sebaiknya tuan kembali ke keluarga tuan. untuk apa membuang-buang waktu tuan hanya untuk wanita seperti ini."
******
Adel memasang wajah bersalah, sejak tadi David diam seribu bahasa tanpa sepatah kata pun. bahkan mereka berdua pulang dengan perut kosong dan lapar. acara makan malam yang bahagia berubah menjadi makan malam yang ngeselin banget.
"Maaf...." entah ini sudah yang keberapa puluh kali Adel mengucapkannya dan tidak ada tanggapan apa pun dari David.
Saking kesalnya, David lebih memilih diam di bandingkan meluapkan emosinya.
"Adel gak bakal tau kalo kejadiannya kayak gini." katanya pelan dan takut-takut, liat muka David yang marah itu sangat-sangat menakutkan.
David hanya diam dan berkonsentrasi untuk mengemudi tanpa memperdulikan Adel.
"Ngomong apa kek...."
Satu tarikan nafas panjang mampu mewakilkan keadaan emosi David saat ini.
Sepanjang perjalanan gak ada satu patah pun kata yang keluar, Adel merasa bersalah dan gak enak tapi juga horor. asli ngeri banget pas ni cowok marah, cuma diem gitu aja udah horor, gimana kalo ngomong dan di padukan dengan tatapan mata tajam.
Kini mereka ada di lobi hotel, perut Adel yang lapar itu kayaknya udah gak kompromi lagi. tapi bingung dan takut mau ngomong apaan.
David turun dari mobil terlebih dahulu dan mengacuhkan Adel yang berjalan di belakangnya. ia memilih metode ini untuk menunjukkan rasa tidak suka David atas apa yang adel lakukan.
Perut Adel yang melilit sakit karena lapar itu membuatnya memperlambat langkah, saking sakitnya hingga Adel berjongkok dan memegangi perutnya. ini adalah hari yang lelah dan panjang, mengeluarkan banyak tenaga ekstra tapi penyokong tenaga tersebut belum di isi.
__ADS_1
David yang benar-benar marah itu berjalan dengan cepat tanpa memperdulikan sekitarnya hingga tidak menyadari bahwa ia meninggalkan Adel cukup jauh di belakangnya.
Apa yang Adel lakukan malam ini cukup membuatnya kesal, bagaimana ia diperlakukan dengan sangat buruk oleh orang lain dan hinaan yang hanya ia terima dengan sebuah senyuman. rendah hati memanglah baik, tapi ini rendahnya kebangetan dan malah di injak-injak oleh orang lain semau mereka. semua ini yang membuat David merasa sangat marah. Rasanya ingin sekali ia membuat semua orang tahu bahwa Adel adalah istrinya, istri seorang pengusaha sukses. hanya dengan mendengar namanya saja maka orang-orang akan berpikir seribu kali untuk memandang rendah dan melakukan hal-hal yang Adel alami barusan. Tapi, semua itu hanya angan dan keinginan David semata. tidak bisa David lakukan karena perjanjian yang telah mereka lakukan, mengingat semua itu demi kebaikan Adel kedepannya.