Kontrak Cinta 100 Hari

Kontrak Cinta 100 Hari
Hotel


__ADS_3

Setelah berdebat cukup alot dan panjang akhirnya Adel mengalah untuk meninggalkan rumah sakit dan beristirahat. Berat banget rasanya meninggalkan nenek walau pun ada mama yang menggantikannya untuk berjaga, badan Adel yang udah capek dan lelah itu memerlukan waktu untuk beristirahat. Segala sesuatu yang di paksakan itu bukan lah hal yang baik, dan itu yang terjadi pada Adel. kalau pun di paksakan akan membawa dampak buruk bagi kesehatan Adel.


Sekilas mama melirik ke arah laki-laki yang sejak tadi menemani Adel, seperti seseorang yang tidak asing tapi mama belum menemukan siapa laki-laki tersebut. Untuk bertanya secara pribadi pun bukan dalam situasi yang tepat, melihat bagaimana cara laki-laki itu memperhatikan Adel dengan sangat baik mama yakin kalau mereka memiliki hubungan yang lebih dari hanya sekedar kenalan atau teman.


Tapi...


melihat dari sisi kematangan dan usia, laki-laki itu jauh lebih tua di bandingkan dengan putranya. memang usia bukanlah menjadi sebuah patokan, dari apa yang ia lihat bahwa dengan sangat jelas laki-laki tersebut bukan lah dari kalangan biasa. Mama tau pasti siapa putrinya, Adel bukanlah wanita yang mementingkan uang.


Pikiran-pikiran itu terus saja berkecamuk dan membuat pusing, tapi bagaimana pun ia harus mampu percaya dengan putrinya.


"Lebih baik kita menginap di hotel dekat rumah sakit sini." ujar David yang melihat wajah kusut Adel, terlihat jelas kalo tu anak udah ngantuk berat dan capek banget.


"iya, itu lebih baik." kata Adel yang mengakui bahwa itu adalah ide yang baik. dari rumah menuju ke rumah sakit memakan waktu yang cukup lama.


David tersenyum kecil, setidaknya ni anak gak membantah atau melawan seperti biasanya.


Adel menyesali keputusannya untuk mengakui bahwa ide yang David berikan adalah ide yang bagus. Gak tau kenapa kalo sama ni cowok bawaannya itu bikin kantongnya terkuras dan menangis. Bukannya banyak gitu hotel yang level kelas bawah, kenapa juga harus pakek hotel kelas bangsawan segala?


Kata pepatah, belajar dari pengalaman dan itu emang tepat. kasus rumah sakit kemaren seharusnya menjadi pengalaman buat Adel buat memberi keputusan dan kayaknya gak berlaku.


"Enak sih tapi...." kata Adel yang udah duduk di sofa super empuk itu, pernah liat di televisi doang kamar sultan kayak gini dan gak pernah bayangin bakal bisa nikmatin secara langsung. dulu aja pengen banget dan Sampek menghayal, tapi giliran udah jadi kenyataan dah jauh banget pengen pulang dan menyesal.


"Besok pagi gue jemput." kata David dengan mengambil minuman dingin dalam lemari es.


"Eh tapi om...."


"Kenapa?"


"Gak ada gitu hotel lainnya?" tanya Adel yang serasa mubazir banget, iya lah mubazir karena jawabannya pasti udah bisa di tebak.


"Ada." David mengerutkan keningnya, hotel yang ia pilih adalah salah satu hotel terbaik dan menjadi langganan David. bukan hanya layanan yang terbaik, tapi juga keamanan yang sangat baik. lagi pula letak yang strategis dan gak jauh dari rumah sakit membuat David menjatuhkan pilihan ke hotel tersebut.


"Kurang nyaman atau...."

__ADS_1


"Bukan gitu...." buru-buru Adel memotong.


"Lalu?"


"Ini terlalu mahal, lagian Adel gak punya cukup uang buat bayar. belum lagi Adel harus lunasin biaya rumah sakit nenek. itu pun Adel gak tau tabungan Adel cukup apa enggak." jawabnya polos.


David terlihat sedikit lega, ia mengira kalau Adel merasa kurang nyaman.


"Gak usah di pikirkan masalah uang."


"Gak mikir gimana, emang mau di bayar pakek daun?"


"Istirahat, jangan mikir yang macam-macam." David meneguk minuman dinginnya. ia berjalan pelan ke arah sofa dimana Adel duduk.


"Bersihkan badan, makan dan tidur."


"Tapi...."


"Hah?"


"Gak usah bengong, sementara belum datang pakek aja baju yang di sediakan pihak hotel." David menunjuk sebuah lemari yang berisi handuk dan juga baju mandi.


"Iya." jawab Adel menurut, emang udah rasanya agak gimana dan pengen mandi buat ngilangin beban yang ada di kepalanya.


David mengiringi kepergian Adel dengan menahan nafas, entah kenapa ia bisa terlibat sangat jauh dengan cewek yang bisa di bilang ingusan itu. entah muncul dari mana perasaan ingin melindungi dan menemaninya.


Sementara David sibuk dengan pikirannya, seseorang mengetuk pintu hotel.


"Tuan, ini makanan dan pakaian yang Anda pesan." kata petugas hotel dengan membawakan pesanan dari tamunya.


"Terimakasih," kata David, ia mengambil dan menutup kembali pintu.


David meletakkan paper bag di atas tempat tidur yang berisi satu set pakaian lengkap dan berjalan menuju meja makan. walau pun ini hotel, fasilitas yang ada sangat lah lengkap. bahkan bisa di katakan sebagai apartemen mini.

__ADS_1


"Wanginya..." celetuk Adel yang baru keluar dari kamar mandi dan indera penciuman nya langsung termanjakan dengan aroma wangi makanan.


Mendengar seseorang bicara membuat David memalingkan wajahnya, tampak pemandangan yang membuat aliran waktu di sekitar David berhenti.


Entah bagaimana, David melihat Adel yang baru saja keluar dari kamar mandi itu lengkap dengan handuk yang melilit di kepala sangatlah menawan di bandingkan dengan model majalah dewasa mana pun.


"Hah? makanan?" kata Adel antusias yang gak sadar kalau dari tadi ada sepasang mata yang memperlihatkan tanpa berkedip.


Aslinya emang laper banget, terakhir makan itu tadi malam pulang kerja dan sekarang udah malam yang artinya udah 24 jam perutnya gak terisi.


Dengan polosnya Adel mendekati David atau lebih tepatnya mendekati makanan.


"Adel laper banget..." duduk manis di sofa layaknya anak kecil yang udah gak sabar mau makan ice cream.


"Oh!" David tersadar dengan lamunannya dan menutup matanya rapat-rapat.


Bagaimanapun gue cowok sejati, liat yang lebih parah di bandingkan ini udah biasa.


David berusaha menjaga kewarasannya, cuma gini doang udah bisa memalingkan pikirannya. Biasanya liat yang lebih dibandingkan ini aja gak Sampek bikin waktu berhenti berputar dan malah bisa di bilang acuh banget.


Jangan sampai jadi cowok gak bermoral, gue cowok normal dan bermartabat.


Adel yang tanpa permisi langsung makan aja itu baru nyadar kalo David melihatnya dengan tatapan sedikit berbeda di bandingkan dengan biasanya.


"Sorry, Adel laper banget jadi gak permisi. padahal kan ini om yang beli, malah Adel yang makan duluan." katanya gak enak, tapi makanannya itu enak banget .. bikin kata-kata gak enak itu berasa unfaedah banget.


"Om gak makan?"


"Liat kamu makan aja udah bikin kenyang." padahal David juga belum makan, tadinya emang laper tapi sekarang udah kenyang gitu aja.


"Kan dari tadi pagi nemenin Adel, jadi kenyang makan apa?"


"Makan kamu."

__ADS_1


__ADS_2