
"Mari kita menikah."
Kalimat itu sepontan terucap dari mulut David dengan tatapan mata penuh keyakinan.
Entah kenapa David mengatakan hal demikian tanpa memikirkan lebih dulu, hanya saja ia ingin melindungi wanita itu sepenuhnya yang membuat David membuat keputusan seperti ini.
Adel yang tadinya nangis tak terkendali itu menengadahkan kepalanya dan menatap mata David seolah tak percaya dengan apa yang ia dengar.
Gimana mau percaya, lamaran yang kondisinya gak sesuai banget kayak gini. siapa pun gak bakal percaya dengan apa yang mereka dengar.
"Iya, mari kita menikah. dengan begitu semua hal yang kamu anggap gak berguna akan berguna."
Adel yang kesulitan mencerna tentang apa yang ia dengar itu hanya mengedipkan matanya yang masih basah, bahkan beberapa air mata jatuh dari sudut matanya.
*******
apa sih yang gue lakuin?!
David mengutuk dirinya sendiri yang bertindak ceroboh tanpa berpikir panjang hingga akhirnya berakhir di koridor hotel, beberapa orang yang lewat melihatnya dengan tatapan mata penuh tanda tanya dengan tersenyum.
Posisinya dan kondisi David saat ini itu cukuplah di kategori kan lumayan kasihan. dengan baju yang cukup berantakan dan tanpa alas kaki berdiri di depan kamar hotel yang tertutup rapat.
Siapa pun bakal mikir kalo tuh cowok lagi berantem sama pasangannya dan sekarang dalam posisi di usir.
Yup!
emang gak salah, soalnya David lagi menjiwai peran di usir sama Adel atas tindakan spontan dan nekatnya tersebut.
akhirnya, sekelas David ngerasa di tolak plus di usir pula.
Flashback _
"Om apa-apaan sih?" kata Adel mendorong dengan keras tubuh David yang ada di depannya untuk membuat jarak, "ngomong ngaco banget." menatap dengan tatapan heran ke arah laki-laki yang baru aja melamarnya tersebut.
"Gue serius." kata David yang emang serius, lagian apa pun alasannya perasaan ingin melindungi Adel itu sangat kuat.
"Adel gak bakal nanggepin omongan orang kayak om, gak bakal mau nikah sama orang macam om."
"emang salah gue apaan?" kata David emang gak pernah ngerasa salah.
ini pun baru pertama kali David melamar seorang wanita secara langsung dan spontan plus di tolak pula. seandainya David melakukannya dengan wanita lain bakal jingkrak-jingkrak kegirangan mereka.
"Iya kalo menurut om gak salah, tapi Adel gak mau menikah hanya karena rasa kasihan dari seseorang. lagi pula, masak iya mau nikah sama anak sekolah yang tamat aja belom." kata Adel bicara fakta kalo dia masih pelajar dengan seragam putih abu-abu.
"Itu masih bisa kita bicarakan," kata David lagi yang ngerasa gak masalah dengan status Adel, lagi pula David memilih Adel bukan karena fisik atau pun umur tapi dari berbagai macam karakter yang cewek itu miliki dan banyak hal yang ia lihat selama mereka bersama membuat David merasa meski itu hanya spontan tapi itu keputusan yang tepat untuk menikahi Adel.
"kasih Adel 3 alasan yang masuk akal kenapa Adel harus nerima lamaran om." masih bingung dan gak percaya, siapa pun kalo dalam posisi Adel juga bakalan bingung tiba-tiba di lamar sama cowok dewasa yang selisih umurnya cukup jauh.
__ADS_1
David terdiam.
"Tuh kan gak bisa ngasih alasan."
Adel berdiri dan mendorong tubuh David keluar kamar hotel, membiarkan cowok itu tetap bersamanya malah bikin runyam.
_
"Jadi gue di tolak mentah-mentah?"
gumam David dengan wajah gak percaya.
udah dalam keadaan kayak gini, barang-barangnya juga masih ada di dalam sana.
David tersenyum gambar dengan memandangi pintu yang tertutup sempurna di depannya.
*****
Adel membenamkan wajahnya pada bantal, semua rasa sedih itu seakan hilang begitu saja saat ini di gantikan dengan rasa heran dan penasaran yang cukup tinggi.
Air matanya yang deres kayak air terjun itu kini hilang dan kering dengan sendirinya,
"Mari kita menikah."
kata-kata itu terngiang-ngiang di telinganya.
Adel terkejut saat terdengar suara hp, ia mengedarkan pandangannya untuk mencari sumber suara tersebut dan menemukan nya tepat tak jauh dari jangkauannya.
Entah apa yang di pikiran Adel, yang jelas tu cewek ngangkat panggilan telpon itu gitu aja. Otaknya lagi gak konsen.
"Halo?"
seorang wanita di seberang sana terdiam mendengarnya, sekali lagi melihat ke layar hp untuk memastikan apakah ia melakukan panggilan yang tepat atau salah.
"Halo?"
"Suara cewek," bisiknya dengan menjauhkan hp biar gak kedengaran sama yang di telpon.
"sini biar papa yang ngomong." mengambil alih hp itu.
"selamat sore, apa benar saya bicara dengan David?"
Adel yang dari gak sadar kalo itu hp punya orang lain masih aja gak sadar.
"David?"
Sepasang suami istri itu saling berpandangan dengan tatapan mata heran, kalo di lihat dari nomornya sih emang bener itu nomor anak mereka tapi kok yang Nerima malah cewek.
__ADS_1
"iya David, sekarang kalian ada dimana?"
"ini lagi ada di hotel."
"Hotel pa...." Sambil menutup mulut dan membelalakkan mata.
Adel yang masih gak sadar bakal terjadi kekacauan itu menjawab dengan sangat jujur.
David......
Sambil memutar otak dan akhirnya, dengan menggigit bibir bawahnya Adel menyadari apa yang telah ia lakukan. dengan cepat ia turun dari tempat tidur dan berlari menuju pintu dimana ia yakin kalo cowok yang namanya David itu ada di balik pintu. itu pun kalo tu cowok belum pergi.
Adel membuka pintu dan mendapati tu cowok emang masih di sana.
Adel memberikan hp tersebut tanpa banyak bicara dan menarik untuk masuk kembali ke dalam kamar.
David yang masih bingung dan sekarang di tambah bingung lagi.
"apa?" katanya setelah menerima HP dari tangan Adel.
"David?"
merasa seseorang memanggil namanya akhirnya David meletakkan hp itu di telinga.
"iya ma,"
"Kamu ngapain di kamar hotel berduaan sama cewek?" David memejamkan matanya, sudah terbayang apa yang akan ia hadapi dan terjadi beberapa saat lagi.
"Nanti David jelaskan."
"pokoknya mama dan papa gak mau tau!"
Tut.....
Tut....
Tut.....
David memijit kepalanya.
Adel yang hanya diam dengan patuh di samping David itu melihat dengan tatapan mata harap-harap cemas.
"Kita benar-benar akan menikah secepatnya." kata David dengan wajah serius.
"Hah?????"
"tadi tanya alasan paling masuk akal kenapa harus Nerima lamaran gue kan?" tanya David.
__ADS_1
"Karena orang tua gue tau kita di hotel sama-sama dan itu juga bukan mutlak kesalahan gue 100%. kalo Lo gak angkat telpon dari mereka gak bakalan serumit ini."