
Kean adalah orang pertama yang menyadari kedatangan Adel langsung berlari ke arah wanita itu, gak bakal lupa lah sama sosok Adel yang di mata Kean sangat imut dan manis. udah kayak permen kapas, pengen banget di plastikin dan di simpan.
"Adel ...." menghambur ke arah Adel dan melewati Bunda yang masih berdiri tanpa bergerak sedikitpun.
"Apa kabar Del?" menangkap kedua tangan Adel dan menggenggamnya, "Udah lama kita gak ketemu, kamu makin cantik aja." kata Kean seneng minta ampun. bagi Kean secara pribadi, sosok Adel lah yang ia rasa cocok untuk menjadi kakak iparnya di bandingkan wanita lain di luar sana yang bikin Kean langsung alergi.
Adel yang mendapat sambutan heboh dan pujian itu hanya tersenyum malu. Gak ada yang berubah dari Kean, masih tetap sangat baik dan ramah padanya meski mereka adalah dua orang yang berbeda secara finansial.
"Kemana aja selama ini?" katanya sangat berantusias, "Lo tau gak, gue tuh pengen banget nyamperin Lo buat jalan bareng tapi gak punya no hp, gak tau Lo sekolah di mana, gak tau rumah Lo di mana."
Udah lah, sesi pertama buat ketemu di babat habis sama Kean yang bikin Bunda gak kebagian sama sekali.
Sebegitu sukanya Kean dengan Adel, cewek yang pernah ia temui dan akhirnya menjadi sedikit kecewa saat mengetahui bahwa abang satu-satunya itu gak punya hubungan apa-apa sama ni cewek.
David yang udah biasa sama kepribadian Kean itu hanya menghembuskan napas panjang, gak bakal berhenti ni anak kalo gak di stop secara paksa.
"Dia datang kesini bukan sebagai tamu buat Lo," celetuk David, menyela omongan Kean yang gak bakal berhenti.
Kean terdiam, lupa kalau ada orang lain selain dirinya dan Adel.
"Sirik aja bang David, Kean tuh..."
Belum kelar ngomongnya udah di potong sama David, "Lo mau saingan sama gue soal rambut?" mengacak rambut Kean yang udah kembaran pendeknya. "Jangan bikin ulah yang buat Bunda marah. gak capek apa di marahin Bunda terus?" melirik Bunda yang David yakin lagi senam emosi tersebut.
"Udah kebal," jawabnya sambil memeluk abangnya, emang dari dulu Kean paling manja sama David dan semua yang Kean inginkan akan David berikan.
"Semoga selamat dari amukan Bunda." bisik nya lagi.
******
Kayak ada kayu di badan Adel yang bikin semuanya terasa kaku, gimana gak kaki kalo duduk di hadapan orang yang di panggil Bunda itu dan Adel yakin banget kalo kekuatan tertinggi di rumah ini di miliki oleh beliau.
Tak ada sepatah katapun yang keluar, baik dari David, Bunda atau pun Adel sendiri. pada sibuk dengan isi kepala dan pemikiran mereka masing-masing.
"Jadi, siapa ini David?" akhirnya bunda buka suara, kaget plus senang pas anaknya pulang bawa orang lain yang berjenis kelamin wanita.
"Seperti yang David janjikan, David bakal pulang bawa menantu buat Bunda." katanya langsung ke inti masalah tanpa berbelit-belit.
Bunda senengnya minta ampun denger pengakuan dari putra semata wayangnya tersebut, tapi juga gak bisa langsung percaya gitu aja. Gimana mungkin kalo dalam waktu dua hari bawain menantu.
"Kamu nyulik anak orang dimana?"
"Bunda, maksudnya?
"Bunda ini udah kenyang liat kelakuan kamu sama si Kean, emang kamu bisa ngakalin bunda?"
"Ya ampun Bunda, ini wanita beneran... bukan jadi-jadian." jawab David yang bikin Adel melotot kearahnya secara spontan. gimana gak melotot di bilangin wanita bukan jadi-jadian.
"Bunda juga tau kalo itu wanita beneran, tapi yang Bunda pertanyakan disini adalah dia itu terpaksa atau di paksa buat datang kesini?"
Baik David dan Adel langsung Mak jleb denger omongan bunda yang satu ini, emang bener istilah tentang perasaan seorang ibu itu sangat sensitif mengenai anak-anak mereka.
"Bunda, masak Bunda lupa sih... ini bukan pertama kalinya kita ketemu sama Adel Bun...." kata Kean yang muncul dari belakang, dari tadi dia nguping omongan mereka dan gak tahan buat gak ikut campur karena gemes. gemes pengen cepet-cepet Adel jadi kakak iparnya dan tentu aja jadikan Adel sebagai temennya.
"Itu loh Bun, kita pernah ketemu di apartemen. cewek yang gak sadar kan diri itu...." kata Kean yang mengingatkan bunda momen-momen bertemu mereka untuk yang pertama kali.
Bunda baru nyadar, atau lebih tepatnya baru ingat.
"jadi kamu... kenapa kok Bunda bisa Sampek lupa ya?" Bunda langsung berdiri dan menggeser David yang tadi duduk di samping cewek manis itu dan menggantikan posisi David.
Kean yang melihat itu hanya tertawa kecil, apa lagi ekspresi wajah abangnya yang sedikit kesal itu rasanya pengen banget ketawa ngakak.
__ADS_1
"Maaf kan kelakuan anak Bunda waktu itu." sambil menggenggam tangan cewek manis yang akan menjadi menantunya.
"Gak pa-pa kok Tante, lagi pula itu kecelakaan." kata Adel yang gak enak karena waktu kejadian Adel tidak mengatakan apa pun selain tidak mengingat dengan pasti. Tentu aja itu memberatkan sang tersangka.
"jangan panggil Tante, panggil Bunda. karena sebentar lagi kami akan menjadi anak Bunda."
Adel mengerti apa yang di katakan dan hanya memilih menanggapi dengan senyuman kecil. harus fokus untuk memerankan calon menantu yang baik dan manis. meski aslinya itu cuma kepaksa doang, tapi kepaksa yang Adel inginkan.
"Nama kamu siapa?"
"Adel Tan, eh Bunda..." hampir aja keceplosan.
"Bunda boleh kan nanya beberapa hal sama Adel?"
Sikap lemah lembut yang di perlihatkan itu bikin Adel semakin merasa bersalah, bersalah karena ia membohongi orang yang begitu baik. Apa pun nama dan alasan Serta pembelaan yang Adel miliki tapi tetap aja semua itu adalah kebohongan.
Maaf Tante, Adel harus bohong sama Tante.
Tante orang yang sangat baik, Kean juga....
tapi Adel terpaksa dan Adel selalu berharap semoga Tante mendapatkan menantu yang bukan hanya cantik secara fisik tapi juga secara hati.
"silahkan, Bunda boleh nanya apa pun."
"Maaf ya sebelumnya, David gak pernah menceritakan tentang wanita mana pun yang dekat dengannya dan Bunda yang khawatir tentang usia anak Bunda yang gak muda lagi pengen banget cepat-cepat punya menantu dan menimang cucu."
Adel menatap wajah cantik yang tak termakan oleh usia tersebut dengan tatapan penuh perhatian.
"Kalau boleh Bunda tau, nak Adel bisa ceritakan tentang keluarga nak Adel sama bunda?"
Tentu saja, semua orang tua ingin tau latar belakang kehidupan orang yang akan menikah dengan anak mereka dan semua itu adalah hal yang wajar. wajar mereka mengetahui dan wajar jika pada kenyataannya tidak seperti yang di harapkan hingga menyebabkan hubungan yang tidak direstui kemudian hari di sebabkan kriteria orang tua dan anak mereka yang berseberangan.
Adel bingung memulai dari mana, ia melirik ke arah David yang duduk di depannya. meminta bantuan untuk apa yang harus ia katakan.
"Nama lengkap Adel, Adelia Putri. saat ini Adel masih duduk di kelas 2 SMA dan bekerja paruh waktu di sebuah kafe."
Bunda mengerjakan matanya pelan mencerna apa yang baru saja ia dengar, bagaimana mungkin putra nya itu membawa anak yang masuk duduk di bangku sekolah untuk ia nikahi.
"Jadi, kamu masih sekolah?"
Adel mengangguk pelan, gak mungkin kan menutupi statusnya yang masih pelajar. kalau suatu saat mereka ketemu di luar dan Adel masih mengenakan seragam sekolah itu akan menjadi masalah suatu hari nanti.
Bunda menatap tajam David yang duduk di depannya.
"Bunda gak pernah memberikan batasan umur untuk di jadikan menantu bukan?" jawabnya santai melihat ekspresi keterkejutan bunda.
"Iya, memang bunda dan Ayah gak pernah memberikan batasan umur tapi kenapa harus Adel yang masih sekolah?"
"masalah perasaan itu gak bisa kompromi, maunya David juga punya pasangan yang gak jauh beda. tapi kenyataannya David jatuh cinta pada pandangan pertama dengan anak di bawah umur, jadi mau gimana lagi Bunda?"
Adel hanya tertawa di dalam hati mendengar istilah jatuh cinta pada pandangan pertama, ngomongnya santai banget lagi.
"Tapi bagaimana dengan sekolah Adel?"
"Gampang kok Bunda, kita tunda aja pernikahan ini sampai Adel lulus sekolah."
"Itu artinya dua tahun lagi."
David mengangguk, membenarkan apa yang Bunda katakan.
"Enak aja, kamu mau mengukur waktu dan kabur lagi kan?" udah bisa kebaca apa yang David rencanakan.
__ADS_1
"Bunda kan cuma pengen David pulang dan membawa calon menantu, ini sudah David bawakan calon menantu yang bunda inginkan."
"Bukan hanya calon menantu, tapi menantu. Usia kamu gak muda lagi, kamu mau sampai kapan jadi perjaka tua?"
Istilah yang Bunda katakan itu kayaknya berlebihan banget, anaknya yang tampan itu gak tua-tua banget tapi udah di bilang perjaka tua.
"Kalau bukan Adel jangan harap David akan menikah dengan wanita lain." ancamnya.
David sangat mengenal orang tuanya yang menomor satukan pendidikan di atas segala-gala nya, dan ini adalah poin penting dalam memilih Adel sebagai calon yang paling ideal. Adel yang masih berstatus sebagai pelajar itu menjadi jalan yang paling mulus menunda pernikahan mereka. Gak mungkin juga Bunda mengorbankan pendidikan seseorang untuk menikahkan dengan anak mereka. seandainya David membawa wanita yang cukup umur dan matang, tidak di ragukan lagi kalau Bunda langsung menikahkan mereka saat ini juga.
Startegi nya melawan Bunda berjalan dengan baik dan secara tidak langsung menolak dengan sangat mulus.
Merasa kalau David hanya mencari alasan untuk menunda waktu membuat Bunda harus memikirkan cara lain.
Adel yang melihat perdebatan ibu dan anak itu, tersenyum kecil. lucu aja kan melihat tingkah David yang di luar rumah sangat dingin dan hemat banget sama omongan itu berbanding terbalik dengan apa yang Adel lihat saat bersama keluarganya.
Merasa terpojok dan gak punya pilihan lain, akhirnya Bunda mengalah sambil memikirkan cara bagaimana bisa memiliki menantu secepat mungkin. Kalo nurutin kemauan anaknya itu, bakal nunggu hampir dua tahun. waktu yang cukup buat David melarikan diri dan membatalkan pernikahan dengan berbagai alasan.
Abaikan negosiasi dengan David yang gak bakal punya titik temu, setidaknya sudah ada calon menantu yang kini ia bawa pulang. Tinggal cari strategi buat bikin mereka menikah secepat mungkin.
Bunda menatap calon menantunya dengan senyum manis, "Bunda pengen denger tentang kamu lagi."
"Adel tinggal bersama nenek dari mama Adel selama ini."
"Orang tua kamu?"
"Orang tua Adel bercerai saat Adel masih kecil Bunda, kemudian mama menikah lagi." Sebenarnya Adel bisa saja mengarang keluarga bahagia untuk menutupi dan menciptakan gambaran tentang dirinya yang terlahir dari keluarga baik dan bahagia. tapi Adel memilih untuk mengatakan yang sejujurnya, ia tidak ingin berbohong lagi.
"Jadi mama kamu...."
"Gak kok Bunda," seolah tau apa yang Bunda bayangkan tentang sosok mama yang meninggal Adel demi laki-laki yang ia nikahi.
"Ayah sambung Adel sangat baik, beliau selalu mengajak Adel untuk tinggal bersama mereka tapi Adel menolak karena nenek. Nenek lebih memilih untuk tinggal di rumah tua yang memiliki kenangan bersama almarhum kakek, nenek menolak untuk tinggal bersama mama. Adel merasa kasihan kalau nenek harus sendirian jadi Adel memutuskan untuk tinggal bersama nenek."
Bunda mengangguk kan kepalanya pelan, mengerti dan setuju dengan apa yang Adel lakukan.
"lalu ayah kandung kamu?"
"Ayah meninggalkan kami sejak Adel masih kecil, ayah menikah lagi dan sampai saat ini Adel...." rasanya Adel tidak sanggup meneruskan kata-katanya, bagaimanapun itu adalah masa-masa yang menyakitkan dan buruk.
Bunda yang merasa bersalah atas pertanyaan itu merengkuh dan memeluk Adel dengan sangat hangat.
"Maafkan Bunda, seharusnya Bunda gak nanya masalah ini."
"Gak kok Bunda."
Adel menghapus air matanya dan tersenyum kecil, "Bagaimanapun Adel gak bisa menyembunyikan kalau Adel tumbuh dari keluarga yang broken home. orang tua Adel bercerai karena ayah memilih wanita lain karena masalah ekonomi kami saat itu."
Bunda semakin merasa bersalah.
"Tidak apa-apa, itu bukan kesalahan kamu. kita semua memiliki masa lalu dan masalah yang berbeda-beda. terimakasih sudah jujur dan menceritakan semua itu sama Bunda, tidak semua orang mampu mengakui dan memperlihatkan yang mereka anggap aib. Bunda kagum dengan kejujuran dan keberanian kamu." kata Bunda yang merasa terharu.
"Terimakasih Bunda."
"Mulai saat ini, kamu juga adalah putri Bunda. terlepas nanti kalian menikah atau tidak, Bunda tetap akan menganggap Adel sebagai putri Bunda. tapi besar keinginan Bunda kalau kamu benar-benar bisa menjadi anggota keluarga kami, Bunda selalu berharap suatu saat nanti David memiliki seorang istri yang baik dan jujur. Bunda mendapatkan semua itu dari kamu dan Bunda tidak akan memaksa kamu untuk hubungan ini tapi Bunda akan berusaha agar kalian berhasil dan berakhir dalam sebuah pernikahan."
Adel semakin merasa bersalah, orang tua dan juga keluarga David adalah orang-orang yang sangat baik. mereka bahkan mampu menerima kekurangan Adel tanpa syarat. mereka mengulurkan tangan mereka dengan hangat tanpa mencela meski Adel sangat tahu bahwa status ekonomi mereka sangat lah jauh di atas Adel.
"Apa Bunda tidak merasa malu memiliki menantu seperti Adel?"
"Malu? kenapa harus malu?"
__ADS_1
"Adel hanya orang biasa, bahkan Adel dari keluarga broken home, hanya seorang siswa dan juga Adel bekerja di cafe."
"Sayang, Semua manusia di hadapan Tuhan itu sama dan yang membedakan mereka adalah akhlak. Bunda tidak pernah menekankan kepada anak-anak Bunda untuk memiliki pasangan yang seperti kami katakan." Bunda menarik napas pendek dan menatap Adel hangat, "Bahkan bunda bangga, bangga karena kamu masih sempat bekerja paruh waktu di sela sekolah kamu. tidak semua orang bisa melakukannya jadi buang semua pikiran itu karena Bunda akan marah."