
sejak kejadian di rumah sakit itu, sosok David hampir tidak pernah muncul di depan Adel. Semua kehidupan Adel kembali seperti semula, dimana Adel harus sekolah dan bekerja dalam waktu yang bersamaan. tidak ada yang spesial dalam hidupnya untuk beberapa hari ini, semua berjalan seperti semula tanpa adanya tanda-tanda kehidupan dari David.
Flash Back
"Berhentilah berulah, jangan pikirkan dengan semua biaya rumah sakit atau apa pun yang ada dalam pikiranmu." ucap David dengan membersihkan darah yang terus mengalir dari tangan Adel. Entah lah apa yang ada di pikiran David saat ini, rasa marah itu seketika padam dan memilih untuk diam. Wanita mungil di depan nya itu seolah memiliki sesuatu yang mampu meredamkan amarahnya seketika.
"Pulihkan dulu kesehatanmu."
"Tapi, bukankah di dunia ini tidak ada yang gratis?" jawab Adel polos tentang ilmu memberi dan menerima.
"Jadi?" David mendongakkan kepalanya, mata mereka tepat bertemu.
"Itu bukan uang yang sedikit."
"Kita akan membicarakan ini setelah saya pulang dari luar negeri untuk urusan pekerjaan."
"Hah?"
"enam bulan lagi, jadi bersiaplah untuk dua bulan ke depan tentang bagaimana aku mendapatkan balasan atas semua ini. jadi selama dua bulan ini saya tidak akan muncul di depanmu." ujar David yang telah menetapkan
Adel menarik nafas panjang, laki-laki itu benar-benar hilang bak di telan bumi dari hidupnya. tidak ada kabar sama sekali, bahkan hanya sebuah pesan pun Adel gak ada nerima.
saking konyolnya Adel setiap hari menatap layar hp buat ngecek kali aja ada kabar, tapi nihil.
"Hai?!"
Adel yang lagi ngelamun itu di kagetkan dengan suara seseorang, "Akh! kak Azkha?"
Masih seperti yang dulu, Azkha dengan pesona idol yang tak terbantahkan dari berbagai macam sisi itu bersinar bak matahari di musim panas. leleh cuy....
"Kenapa?" tanya azkha yang duduk di samping Adel tanpa meminta persetujuan sang empu.
Adel menggeleng pelan dan tersenyum, "enggak kok kak, kakak lagi ngapain?"
Rasanya gak selalu dulu pas baru kenal sama Azkha, cowok yang satu ini bawaannya hangat dan ceria dan dengan mudah beradaptasi.
"Gak ada, lagi istirahat aja. kebetulan lewat dan liat Lo disini." jawab Azkha ngeles, aslinya tadi cari kesana kemari dan malah nemu di halaman belakang lagi menyendiri.
Adel mengedarkan pandangan matanya, kebetulan macam apa buat orang yang lewat di tempat kayak gini???
tapi udahlah, gak usah di perpanjang urusan unfaedah macam gini.
"Lagi mikirin apa?" tanya Azkha yang sensor sensitif nya bekerja dengan sangat akurat.
"Enggak kok kak, lagi mikir bentar lagi ulangan semester aja sih."
"gak usah dipikirin, lagian kan masih 30 harian. masih lama." hanya sama ni cewek Azkha berubah jadi banyak omong dan terkesan bawel, kalo sama yang lain jangan harap deh....
__ADS_1
"kakak enak sekolah nya gak gratisan kayak aku."
"kata siapa?"
Azkha menyandarkan bahunya, "kita sama kok berdiri di atas beasiswa."
"masa kak?" rasa gak percaya aja Adel dengarnya, mau gimana pun terlihat jelas kalo Azkha bukan seperti dirinya (maksudnya dari segi materi).
"iya, gue masuk sini juga beasiswa."
Mata Adel berbinar-binar mendengar nya, akhirnya ia menemukan sosok yang sama berjuang untuk bertahan di sekolah ini.
"Ke kantin yuk, disini gak ada jualan minum. haus" ajak azkha.
"kakak aja deh."
"gak usah nolak." ujarnya dengan menarik tangan Adel paksa.
yang namanya di paksa ya kan...
jadinya terpaksa deh...
*****
"Ada hubungan apa Lo sama yayang gue?" kata Intan di sela-sela jam pulang sekolah, tadi dia mergoki azkha jalan bareng ni cewek pakek acara pegangan tangan lagi. yang bikin dongkol, senyum azkha yang lebar itu gak pernah cowok itu perlihatkan saat mereka bersama.
"Maksudnya Kak Azkha. lemot banget sih Lo jadi cewek." ujar Vina yang gak sabar pengen ngelabrak, ikut emosi.
"gak ada hubungan apa-apa."
"ngeles lagi, gue liat Lo tadi pegangan tangan pas istirahat. mau ngeles apa lagi coba?"
"kronologi nya bukan gitu kak, kita gak pegangan tangan kok." jawab Adel jujur.
Intan mengernyitkan keningnya, jelas-jelas tadi liat pakek mata dan kepalanya sendiri bukan kata orang lain. "maksud Lo???"
"kalo pegangan tangan itu kan sama-sama ngelakuin tapi tadi enggak gitu kejadiannya." terang Adel. "Kak Azkha yang narik dan megang tangan aku."
Intan Sampek melongo denger jawaban ni anak, sumpah bikin mual-mual. gak ada gitu tampang takut atau bersalah pas ngomong kayak gitu, malah pakek acara nganggukin kepala buat meyakinkan kalo apa yang ia katakan adalah kebenaran.
antara mau ketawa sama mau marah Vina dengarnya, ni adik kelas polosnya kebangetan. niatnya mau marah sama ngelabrak langsung di urungkan, gak tega liat muka imut dan polosnya.
"yang kalian lakuin apaan?"
"cuma minum di kantin."
udahlah Tan, ni anak bukan siangan Lo....
__ADS_1
ujar intan dalam hati.
"jadi kakak pacarnya kak Azkha ya?" tanya Adel balik.
"ehem, bisa di bilang gitu... karena orang tua kita jodohin kita dari kecil." ujarnya lagi dengan penuh rasa percaya diri, intan ngomong gitu juga bukan tanpa alasan. kedua orang tua mereka memang sudah mengatur perjodohannya dengan azkha, walau pun respon yang azkha berikan gak bagus.
"aku dukung sepenuhnya kok kak, beruntung banget kak Azkha punya jodoh kayak kakak. kalian serasi banget, yang satunya ganteng dan yang satunya cantik." kata Adel.
"dari ujung kaki Sampek ujung kepala kakak terlihat bersinar layaknya berlian." mengacungkan dua jempol ke arah kakak kelasnya tersebut.
langsung gede lah kepala sama leher bajunya intan dengernya, langsung luluh pula amarahnya.
"jadi kakak mau ngapain?" tanya Adel yang disamperin sama dua kakak kelasnya tersebut.
"enggak kok, cuma mau ngajakin nongkrong." jawab Intan.
Vina sampai membelalakkan mata pas denger saking gak percaya nya, rencana awal mereka mau bikin perhitungan sama ni anak tapi kok bisa berubah dalam sekejap? tadi aja Intan marah-marah gak jelas, kok sekarang malah kayak gini...
"Tan?" bisik Vina bingung.
"maaf ya kak, aku harus kerja pulang sekolah. padahal pengen deh, tapi mau gimana lagi..." tolak Adel halus.
"Lo kerja?"
"iya, aku kerja setiap habis pulang sekolah."
ya ampun....
ni cewek gemesin banget....
manis kayak gulali, pantes aja azkha kayak gitu sama ni cewek.
beda sama gue yang....
masak iya gue harus jadi manis dan imut juga?
"kalo gitu lain kali aja kita nongkrong nya."
"ok siap kak... gak enak deh harus nolak ajakan kakak. padahal kakak udah baik banget sama aku, tapi akunya...." kata Adel dengan wajah bersalah.
"iya gak papa, gue balik dulu ya." ujarnya dengan menepuk bahu Adel.
"hati-hati kak..." melambangkan tangan dengan wajah sumringah.
Adel tersenyum geli dengan kejadian barusan, bertingkah sok manis dan imut di depan kakak kelas yang jelas-jelas tadi pengen ngelabrak nya. ia Melakukan semua itu hanya karena tidak ingin membuat keributan
"emang enak di kibulin...." ujarnya dengan mencibir dan berlalu menuju kafe.
__ADS_1
****"***