Kontrak Cinta 100 Hari

Kontrak Cinta 100 Hari
Orang Aneh


__ADS_3

Pernikahan sekali dalam seumur hidup.


Kata-kata itu yang selalu terngiang dalam ingatan David, bagaimana pun ia sama sekali gak berniat menikahi wanita mana pun dalam waktu dekat atas nama cinta dan perasaan. Tuntutan yang keluarganya berikan membuat dada David terasa sesak, sesak buat bisa ngulur-ngulur waktu yang telah di tetapkan. "Kenapa juga Bunda punya sikap gitu?" Gumamnya yang emang jengkel banget sama kelakuan Bunda yang gak pernah bisa bikin David tenang, apa lagi kalau bukan masalah pernikahan yang gak bakal habis untuk sekali di bahas setiap kali ia menampakkan batang hidungnya. Berhadapan sama Bunda itu layaknya harimau kehilangan taring, bahkan Ayah sampek gak berkutik dan gak bisa ngelakuin apa pun kalau Bunda udah ngambil keputusan.


Laki-laki mapan dan tampan itu masih menyimpan foto dan juga data seorang wanita yang menjadi kandidat utama untuk menyelesaikan masalahnya ini, namun sebelum ia mengambil keputusan mengenai hal ini David harus memastikan apa kah ia memang memenuhi syarat atau tidak. Bukan hak mudah membuat kedua orang tuanya menyukai seseorang, bahkan dulu David pernah membawa cinta monyetnya untuk ia perkenalkan kepada kedua orang tuanya dan dengan tegas mereka menolak pada pertemuan pertama tanpa David tau alasan yang sebenarnya.


"Tuan, kita akan mengadakan rapat sebentar lagi." Kata Andre yang menjadi sekertaris serta merangkap asisten tersebut, mengingatkan jadwal selanjutnya.


David menghembuskan nafas panjang, mengetuk meja beberapa kali dengan ujung jarinya dengan intonasi yang stabil. Kali ini pikirannya jenuh, di jejali dengan syarat yang kedua orang tuanya berikan dan membuatnya gak bisa berpikir dengan jernih. "Batalkan." Katanya setelah memutuskan beberapa saat, dalam suasana seperti ini mungkin ia tak dapat melakukan rapat dengan baik dan kemungkinan terbesar bahwa David akan meluapkan emosinya di sana. Mendingan buat batalin aja di bandingkan harus menghadapi rapat dengan pikiran kemana-mana yang gak bakal bisa menjalankan rapat dengan baik.


"Tapi tuan, rapat kali ini dengan klien akan membahas proyek penting kita yang omsetnya sangat luar biasa." Jelas Andre mengingat kerugian yang akan mereka tanggung kalau sampai membatalkannya.


"Huh...," Lagi-lagi David harus berdamai dengan keadaan walau gak sejalan dengan keinginannya.


"Tuan, kalau saat ini dalam suasana hati yang tidak baik lebih baik kita mengundur nya di bandingkan harus membatalkan." Andre memberi solusi lainnya untuk masalah yang di hadapi saat ini, mungkin Andre adalah orang yang paling mengerti sosok bosnya tersebut dan bagaimana cara menyikapinya.


"Terserah kamu, atur mana yang lebih baik. Yang jelas kosongkan jadwal apa pun untuk hari ini." Melipat tangannya di depan dada dengan menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi kerjanya. Hari ini ia akan melakukan satu kegiatan yang menurutnya lebih penting di bandingkan jadwal-jadwal yang telah tersusun dengan baik dan selalu sama setiap harinya.


******

__ADS_1


"Del?"


Mona memberikan selembar tissue basah ke arah Adel yang sedang duduk di sebelahnya dengan ngantuk-ngantuk ayam, padahal masih pagi dan hari ini adalah jam kosong yang di gunakan oleh semua siswa melakukan kegiatan yang berhubungan dengan olah raga untuk menyambut pekan olahraga antar sekolah yang sebentar lagi akan berlangsung.


"Hoam...," Adel menguap kecil, menutup mulutnya itu dengan sebelah tangannya dan mengambil tissue basah yang Mona berikan dengan gerakan lambat layaknya kukang.


"Ih Adel, mana ada cewek kayak lo gini?" Emang dari dulu Adel selalu melakukan hal-hal yang menurut Mona keren banget, Adel selalu melakukan apa pun yang inginkan tanpa memikirkan dampak yang akan membuat nama baiknya jelek di mata orang lain dan itu sangat-sangat membuat Mona merasa iri.


"Ada, ni buktinya gue." Tissu yang ia ambil dari tangan Mona ia gunakan untuk membersihkan tangannya yang kotor habis mengangkat beberapa barang dari gudang. "Tadi mala gue tidurnya udah ldwat tengah malam dan bangunnya lagi banget makanya gue masih ngantuk."


"Lo itu Del, jaim dikit napa? Kalo ada yang liat lo kayak gitu mana ada cowok yang deketin lo?" Kata Mona dengan wajah sedikit mengejek melihat Adel yang cuek soal penampilan itu.


"Lo itu kalo di bilangin, entar gue suruh lo kursus etika."


"Kalo lo sampek ngelakuin hal itu sama aja dengan lo nyuruh gue masuk ke dalam kandang singa." Adel merentangkan tangannya, menggeliat pelan untuk meluruskan otot-ototnya yang terasa kaku.


"Adel...," Memukul pelan tangan Adel yang udah kayak sayap pesawat itu dan hampir aja nyulek matanya.


"Sorry my queen..." Menangkupkan kedua tangannya di depan wajah untuk meminta maaf, "Apa perlu hamba sedikit membuat pertunjukkan untuk menebus kesalahan yang telah saya lakukan?" Mengintip dari balik tangannya dan tersenyum ke arah Mona.

__ADS_1


"Boleh, em gue beri hukuman apa ya?" Sambil memegang ujung dagunya dan melihat ke atas, seolah-olah berpikir keras akan memberikan hukuman yang setimpal.


"My queen, maafkan hambamu ini..." Menunduk dalam ke arah mona, "Apa sudah meyakinkan?"


"Ha ha ha ha ha ha...," Mona tertawa melihatnya, Adel selalu bisa membuatnya tertawa dengan lepas. "Bagaimana pun lo itu terlihat sangat aneh dan kurang meyakinkan."


"Hei nona, gue emang aneh dan kurang meyakinkan. Ada masalah dengan semua itu?"


"Oy, merusak pemandangan mata gue." Kata Mona demgan mencibir, "Tapi seberapa pun anehnya lo gue bakal terima dengan lapang dada. Karena orang aneh temennya ya orang aneh juga."


"Terimakasih nona, selamat datang di perkumpulan orang aneh..." Teriak Adel tanpa sadar yang langsung mengundang tatapan-tatapan dari orang sekitarnya, sadar jadi pusat perhatian langsung aja Adel diam.


"Tuh kan, lo ini main teriak gitu aja." Bisik Mona dengan tertawa kecil, "Ha ha ha ha ha...," Kayak artis aja kita yang langsung dapat perhatian dari orang-orang." Ujar Mona yang ngerasa aneh sambil nyengir.


"Nikmatin aja selama itu gak merugikan orang lain." Sambil menyikut lengan Mona yang ada di sampingnya dan mereka pun tertawa bersama, menawakan kebo*ohan yag mereka buat sendiri.


"Hai, kamu yang namanya Adel kan??"


Kontan tawa mereka langsung berhenti saat seseorang datang menghampiri, yang Adel dan Mona lihat pertama kali adalah bagian bawah alias sepatunya. Sepatu berjenis olah raga yang cukup besar ukurannya untuk seorang wanita, memang benar yang menghampiri mereka bukanlah wanita melainkan seorang pria yang kini tepat berdiri di depan dua cewek aneh.

__ADS_1


__ADS_2