
Setelah acara hari biru yang sempat di hiasi dengan air mata bahagia itu berakhir, kini hanya tinggal Adel dan laki-laki dengan status suaminya berada dalam kamar hotel. Mereka berdua terlihat sedikit canggung antara satu dengan yang lain. Rasanya hampir gak percaya, nikah secara simsalabim dan singkat banget dari persiapan sampai acara puncak. tadi pagi pas bangun tidur masih berstatus pelajar SMA tapi kini udah ganti status jadi bini orang.
"Lo mau Sampek kapan disitu?" tanya David yang mulai melepas jas luar, gerah.
"Gak tau."
"malam ini kita menginap di sini, lagi pula apartemen gue lumayan jauh dari sini." katanya lagi dengan melepaskan kancing baju dan berjalan mendekati lemari. David berencana mandi sebelum ia mengajak Adel untuk makan malam, sejak tadi siang mereka gak ada makan apa pun dan David yakin banget kalo tu cewek malah mulai tadi pagi gak makan.
"Hah????" mata Adel membulat sempurna dengan raut wajah kaget luar biasa. otaknya udah traveling ke mana-mana dan sumpah itu bukan pikiran yang baik.
"kenapa?"
"Gak mau!"
David menaikkan sebelah alis matanya melihat reaksi Adel yang sangat berlebihan, cuma nginep doang tapi redaksinya udah kayak di suruh masuk ke dalam kandang singa.
Tatapan mata David yang tajam itu bikin Adel kesulitan mencari kata-kata yang pas buat mengungkapkan isi kepalanya, lagi pula kalau David sampai tahu apa yang ia pikirkan itu bakal jadi bumerang.
"itu....."
"Gue gak bakal nyentuh Lo, kita emang suami istri tapi gue masih tau batas. selama Lo gak mengijinkan maka gue gak bakal ngelakuinnya, kecuali udah dapat ijin dari elo bakal beda lagi." kata David memalingkan wajahnya dengan santai karena udah bisa nebak isi kepala tu cewek.
Adel mendelik, kata-kata yang sangat-sangat bikin kupingnya panas dan gak terima. secara gak langsung David ngomong kalo yang minat banget itu Adel.
Gak pengen berdebat dan udah liat reaksi Adel yang bakal bikin argumen penyanggah itu membuat David memilih untuk membersihkan badannya di bandingkan melayani tu cewek yang David yakin banget bakal berkoar-koar kalo gak di tinggalin. Beberapa waktu kenal, David dapat mengenali karakter Adel dengan baik.
Adel menatap kesal David yang lebih memilih untuk masuk kamar mandi, padahal belum selesai ngomongnya. kamar tampak sangat sepi, hanya terdengar suara gemericik air dari kamar mandi dan Adel menatapnya dengan tatapan mata sedih.
Semua wanita akan merasa bahagia dengan pernikahan yang mereka lakukan. pernikahan sekali seumur hidup yang selalu menjadi dambaan semua wanita itu kini menjadi pernikahan yang sangat memilukan.
Gaun pernikahan yang sangat indah, mertua yang baik dan penyayang, saudara ipar yang baik dan care, suami yang tampan dan juga mapan. semua sangatlah sempurna tanpa ada cacat sedikitpun terlihat dari luar, tentu saja jika semua ini adalah nyata. tapi pernikahan yang Adel jalankan adalah sebuah pernikahan bayaran dengan kesepakan waktu yang telah di atur di atas hitam dan putih, dimana bila saatnya tiba maka semua itu hanya sebagai mimpi yang nyata.
Adel merenungi tentang nasib yang ia jalani, keputusan-keputusan yang ia ambil dan tentu saja semua resiko harus ia terima dan jalani. meski mereka hanya suami istri yang palsu, tapi Adel tetap akan menjalankan hal-hal sebagai seorang istri terkecuali kontak fisik. Bagaimanapun David telah berbaik hati, bahkan sangat baik untuknya. uang yang ia minta bukanlah jumlah yang sedikit, tapi David tidak pernah menawar atau pun memberikan syarat yang sulit untuknya.
Mempersiapkan segala keperluan, mengurus rumah dan juga melayani David adalah satu-satunya cara untuk Adel membalas semua kebaikan yang cowok itu lakukan.
David yang sudah merasa segar itu keluar hanya melilitkan handuk pada pinggangnya, rambutnya yang setengah basah itu ia biarkan begitu saja dengan tidak beraturan. Lagi pula, wanita yang ada di dalam sana adalah istrinya jadi untuk apa bersikap formal. Tentu saja, ini kali pertama David seperti ini dan hanya Adel satu-satunya wanita yang ia perlakuan seperti ini.
"Gak usah drama sok nyesel, lagi pula kita udah nikah." katanya sengaja godain Adel yang ngelamun sejak tadi, David memperhatikan Adel yang duduk melamun dengan pandangan mata sedih dalam posisi yang tidak berubah sejak ia tinggalkan.
"harusnya elo berterimakasih dan bersyukur punya suami kayak gue."
Refleks Adel memalingkan wajahnya melihat penampilan David yang baru keluar dari kamar mandi, refleks wajahnya memerah dan ia memejamkan matanya rapat-rapat.
__ADS_1
Ni orang mau ngapain juga....
ya Tuhan...
Kenapa ni om-om keliatan keren banget pas kayak gini???
Adel masih menutup rapat matanya, seolah gak pengen tu mata bintitan.
Dengan acuhnya udah kayak gak ngelakuin apa-apa dan kayak gak ada siapa pun di dalam kamar, David berjalan santai mengambil pakaian ganti yang telah Andre persiapkan. Bukan hanya pakaian milik David, tapi juga pakaian untuk Adel telah Andre persiapkan di dalam lemari. David mengambil satu gaun polos selutut berwarna putih untuk Adel pakai.
Mungkin Andre memiliki bakat terpendam sebagai seorang desainer atau semacam itu, melihat pakaian yang Andre pilihkan dan juga ukurannya sangat pas.
David berjalan mendekati Adel dan mendapati wajahnya yang merah dengan mata tertutup rapat. Pemandangan yang bikin David merasa yakin kalo ni cewek gak pernah ngelakuin hal-hal yang gak bener sama cowok sebelumnya. senyum tipis menghiasi wajahnya dan akhirnya duduk di depan Adel dengan menatap lembut anak kemaren sore yang kini telah menjadi istrinya tersebut.
"Elo harus terbiasa dengan pemandangan seperti ini mulai saat ini." katanya dengan menahan tawa melihat Adel yang semakin merapatkan matanya.
"lagi pula sekarang kita adalah suami istri, halal buat gue nyentuh elo." katanya sengaja menggoda.
"Tapi...."
"Tapi sekarang kita suami istri dan gue itu suami elo." katanya tak terbantahkan dan berkali-kali mengulangi kata-kata tersebut.
"gue tau, gak usah di ulang juga." wajah Adel semakin memerah, baru kali ini liat cowok tepat di depan mata dan hidungnya dengan kain minim.
"Gue gak tau Lo pakai brand make up apa, tapi di atas meja udah ada. kalo gak cocok Lo bisa beli sendiri nanti sekalian kita makan malam." katanya dengan berpindah tempat untuk mengganti pakaian dan bersiap. lagi pula kalo nungguin ni cewek terus bisa-bisa David hilang kendali atas kewarasan nya.
"Gue tunggu elo di ruang ganti pakaian." ujarnya sebelum pergi dan membiarkan Adel.
Adel membuka mata sebelah dengan perlahan, memastikan kalo David udah gak ada.
"Huff...." Adel bernafas lega mendapati ruangan yang kosong. kini di pangkuannya terdapat sebuah gaun berwarna putih. Adel tampak terpana, gaun yang tak kalah cantik dengan apa yang ia kenakan. seulas senyum menghiasi wajah cantiknya tapi senyum itu segera memudar saat menyadari bahwa gaun yang ia pakai bakal susah di lepas kalo gak di bantu sama orang lain.
"Kenapa nasib gue gini banget sih..." gumamnya dengan wajah menyedihkan.
Adel berusaha melepaskan kancing belakangnya yang banyak banget, berderet dari leher ke pinggang dan itu susahnya pakek banget, asli bikin nangis tapi gak keluar air mata. gak tau kenapa bikin gaun aja model kayak gini, gak bikin yang praktis gitu (pengalaman pribadi author yang lepas kancing belakang kebaya itu penuh dengan perjuangan).
Setelah berjuang hampir setengah jam dengan di iringi derai air mata dan berbagai macam gaya udah persis orang aerobik, tu kancing gak sepenuhnya kebuka dan menyisakan beberapa di tempat yang gak terjangkau oleh tangan dan itu nyesek banget.
Sebenarnya David udah liat dari tadi, tapi di biarin gitu aja. liat aneka macam gaya dari Adel bikin David sekuat tenaga nahan tawa, gak asik kan kalo Sampek ketawa dan ketahuan dari tempat persembunyiannya?
Lama-lama kasian juga, pasalnya dari sekian lama cuma berhasil beberapa aja dan sisanya bikin ni cewek meringis. keliatan banget dari wajahnya yang putih asa dan hampir nangis.
Ada sih orang lain, tapi gak banget buat minta bantuan. apa lagi Adel cuma pakek baju tali spaghetti sebagai baju lapisan bagian dalam dan itu berarti bahwa kalah sampai minta bantuan ke David...
__ADS_1
Adel menggelengkan kepalanya cepat dan menghapus semua pikiran itu, pokonya enggak banget.
"Satu kancing, satu juta rupiah." ujar David dengan santai, tu cowok udah rapi dengan celana berwarna navy dan t-shirt berwarna putih. rambutnya yang tadi berantakan kini ia rapikan sedikit dan ia biarkan berantakan di beberapa sisi yang membuat siapa pun bakalan klepek-klepek liatnya. Ini semua ide Andre, Andre yang dari dulu selalu liat David berpakaian formal dalam kehidupan sehari-hari dan gak pernah ganti gaya menyarankan atau lebih tepatnya memaksa david mengubah penampilannya.
Wajah Adel yang udah kesal dan pengen nangis itu langsung berubah salah tingkah dan keliatan banget kalo gak nyaman.
"Gue kira Lo udah selesai mandi, gak taunya malah jadi kuda lumping."
pengen banget Adel lempar apa pun yang di dekatnya ke arah cowok nyebelin itu, dari wajahnya yang keliatan flat dan ngerasa gak ada salah.
"Anda punya andil besar dalam hal ini, tapi ngomongnya kayak gak bersalah sama sekali."
"Andil dalam hal apa nona?" tantangnya dengan wajah arogan, wajah yang selalu ia perlihatkan setiap hari.
"Udah lah males berdebat,"
David menatap Adel dengan pandangan mata menantang, "perlu bantuan?"
"Enggak!" katanya tegas.
David memakai arlojinya dan mengangguk pelan, "Gue tunggu di bawah. gue lapar dan bakal kelaparan nungguin Lo." katanya ringan tanpa beban yang bertolak belakang dengan Adel penuh dengan beban.
Kok bisa gue kejepit kayak gini....
perang batin yang Adel alami emang bener-bener bikin pusing, saking pusingnya Adel ngerasa pengen nangis aja. emang dari tadi udah pengen nangis, cuma di tahan.
Liat mata Adel yang berkaca-kaca akhirnya David gak tega, ia berjalan mendekati cewek itu dan mengulurkan tangannya. uluran tangan itu di tepis oleh Adel dengan air mata yang mau tumpah.
"sesekali bersikap rapuh itu gak pa-pa, Lo itu hidup bukan sendiri dan tentu aja perlu bantuan dari orang lain. lagi pula sekarang kita suami istri, gue gak bakal ngelakuin hal yang gak Lo ijinin." kata David yang tau kalau Adel menolaknya, bahkan hanya untuk melepaskan kancing baju.
"Adelia, apa pun pandangan Lo tentang gue tapi kita telah resmi menikah. selama Lo jadi istri gue maka selama itu gue akan jagain Lo. gue janji..."
Adel tertegun mendengar David menyebut namanya dengan sangat lembut, kata-kata yang keluar dari mulut laki-laki itu terdengar sangat hangat dan menenangkan. Perlahan Adel memutar badannya dan membiarkan David membantunya untuk melepaskan kancing baju yang tertinggal.
"Maaf," ucapnya lirih di barengi dengan air mata yang menetes perlahan.
David sejenak terdiam, mendengar suara Adel yang bergetar.
"Maaf untuk segalanya." katanya lagi di iringi dengan Isak tangis, Adel merasa sangat jahat dan juga bersalah. bagaimana bisa orang percaya dengannya, seorang wanita miskin yang berani meminta uang dengan nominal yang besar sebagai syarat pernikahan mereka. tentu saja, itu bisa di katakan sebagai pemerasan.
David melakukan tugasnya dengan sangat cepat dan bahkan ia tidak melihat ke arah ujung tangannya. setelah selesai David membalikkan badan Adel dan benar saja, wanita itu menahan tangisnya.
perlahan David mengulurkan tangannya dan merengkuh Adel dalam pelukannya, setiap kali melihat Adel seperti ini hati David terasa sakit. selamanya, ia ingin melindungi dan menjadi satu-satunya orang yang mampu memeluk Adel seperti ini.
__ADS_1