
Bisa keluar dari ruangan tersebut membuat David merasa bagaikan ia mendapatkan nyawanya lagi yang telah di pertaruhkan oleh kematian, udah berasa dapat udara segar di tengah kobaran api yang berasap.
Mau main kabur gitu aja gak enak dan gak baik tapi kalo kelamaan di sana bikin emosinya labil, satu-satunya alasan buatnya bertahan adalah profesional dalam pekerjaan. Sisanya keterpaksaan doang.
"Siapkan segala sesuatu mengenai kerjasama ini dan lakukan yang terbaik." kata David saat keluar dari ruang pertemuan.
"Baik tuan muda." jawab Husein dengan mengikuti langkah tuan mudanya itu yang tergesa-gesa. Walau tidak begitu tampak, tapi Husein tau bahwa tuannya itu merasa sangat gelisah dan tidak tertarik dengan pembicaraan yang ia lakukan bersama Mr Alex.
Bagaimana pun Husein dapat melihat dan membaca ekspresi wajah bosan dan terpaksa dari laki-laki itu meski tak ada satu patah kata pun keluar dari mulutnya sebagai penolakan. Singkat cerita, hatinya kemana tapi badannya di mana.
"Bagaimana dengan pertemuan yang Mr Alex ajukan? apakah saya harus meluangkan waktu anda untuk melakukan nya?" walau agak takut ngomong masalah ini, tapi Husein juga gak bisa melewatkannya karena menurutnya ini juga bisa di bilang cukup penting walau gak masuk dalam urusan kerjaaan.
David menghentikan langkahnya dan menghela nafas panjang, pilihan yang sulit walau hanya basa-basi. Tapi sebagai seorang laki-laki ia harus melakukannya karena ia telah berjanji, gak mungkin kan janji seorang laki-laki harus di ingkari.
"Lakukan, cari jadwal kosong." katanya dengan melanjutkan langkahnya lagi tanpa menoleh ke arah belakang.
"Baik tuan," Kata Husein tanpa memberikan sepatah kata pun setelahnya, gak pengen cari perkara dan menggali kuburan sendiri. udah keliatan banget kalo ekspresi wajah bosnya itu gak enak di liat, salah sedikit bakal panjang urusan.
"Del, Lo gak capek apa kerja sambil sekolah?" tanya Bara dengan memberikan jus yang telah ia pesan kepada Adel, gak enak kan kalo ngobrol santai tapi gak ada yang di cemil dan minum.
"Thank's." menerima minuman dari calon dokter yang gantengnya udah kayak model itu dengan tersenyum manis, walau gimana pun senyuman Adel emang manis kok. tanpa di buat-buat dan tanpa pemanis tambahan.
"Enggak, lagian gue kerja atas kemauan gue sendiri bukan paksaan."
"Tapi tetep aja kan Lo harus membagi waktu antara sekolah, kerjaan dan belajar Lo."
"Iya sih, tapi cafe tempat gue kerja tuh nyaman banget. semua baik sama gue, kalo gue ada jadwal ulangan gitu yang punya cafe ngasih ijin buat gak masuk kerja jadi gue bisa belajar." kata Adel yang gak nambahin dan ngurangin apa yang ia dapatkan, emang bener kan mereka semua baik banget termasuk burger alias Bu manager. Walau luarnya keliatan galaknya luar biasa tapi kalo masalah sekolah dan belajar beliau gak pernah protes apa lagi marah. Dengan mudahnya ngasih ijin buat gak masuk kerja.
"Syukur kalo gitu." kata Bara yang merasa kagum dengan Adel, umur segini biasanya cewek kayak Adel menghabiskan waktu buat ngurusin urusan mereka sendiri yang gak kelar-kelar. tapi beda banget sama Adel yang harus kerja dan yang luar biasanya adalah cewek manis itu masih bisa mempertahankan prestasi sebagai siswa terbaik.
"Habis ini elo mau nerusin kemana?"
Adel terdiam mendapat kan pertanyaan yang sama sekali belum pernah ia pikirkan sebelumnya, selama ini yang Adel lakukan hanya bekerja dan mempertahankan nilai di sekolah demi beasiswa untuk bertahan di sekolah elit tersebut dan sama sekali Adel gak pernah mikir apa yang bakal ia lakukan setelah ini.
Dengan pelan Adel menggeleng, "gak tau." cuma itu yang keluar dari mulut Adel, emang gak tau beneran mau ngapain setelah ini atau lebih tepatnya belum mikir mau ngapain.
"Gak tau?" biasanya Bara bakal denger serentetan berita acara yang disusun dengan sangat rapi, rata-rata sih catatan masa depan yang bakal di lakuin. Tapi ni cewek malah gak punya catatan masa depan sama sekali dan pas di tanya mukanya malah keliatan bingung.
__ADS_1
"Iya gak tau, habisnya gak mikir sampek sana lagi gue."
"Otak Lo isi nya apaan coba selama ini?"
"Gak ada, cuma kerja sama sekolah doang." jawab Adel dengan wajah polos yang gak di buat-buat.
"Gak ada gitu Lo pengen jadi apa, kerja di mana, nerusin pendidikan Lo setelah ini atau Lo mau dapetin calon suami yang gimana gitu?" pertanyaan Bara udah berasa interograsi aja.
"Kalo semua itu gue ngikut aja kayak air yang mengalir, kemana takdir membawa gue aja deh."
"Jawaban pasrah macam apa itu?"
"Bukan pasrah, tapi gak punya pilihan. Ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha...."
Bara menggelengkan kepalanya, susah ngomong sama cewek yang kayak gini. giliran serius aja di bawa becanda, giliran becanda malah di anggap serius.
"Ya udah kalo Lo gak punya pilihan gue aja yang bakal milihin masa depan elo." katanya dengan menyeruput minumannya hingga tinggal sepertiga.
"Apaan coba?"
"Itu jadi rahasia gue sama Tuhan." jawab Bara sok misterius, bukan sok misterius sih cuma mau ngerjain balik Adel yang udah curi star duluan ngerjain dia dari tadi.
"Kenapa?"
"Gak beres sih kayaknya kalo Lo turun tangan."
"Maksud Lo?"
"Mana ada masa depan orang lain Lo yang milihin dan nentuin?"
"Adalah..."
"Ngarang!"
"Enggak."
"Gak percaya."
__ADS_1
"Emang muka gue ada gitu muka tukang tipu?" sambil memasang wajah sok imut dan sok ganteng, padahal udah dari sononya ganteng jadi gak usah di sok ganteng kan lagi sih....
"Iya, sehari aja mau dapet cewek seratus juga bisa kok."
"Buat apaan?"
"Bikin gorengan."
Bara menelan ludah nya, walau tau cuma becanda doang tapi ada aura mengerikan dari kata-kata yang Adel ucapkan.
"Jadi kalo Lo punya cowok mau Lo apain? gak usah banyak-banyak cukup lima aja." pancing Bara yang mulai penasaran, sebenarnya ini pertanyaan yang gak penting banget si malah sama sekali gak penting.
"Wah cuma lima ya?"
"Cuma? emang Lo mau berapa?"
"Kali aja ratusan... he he he he he..."
"Ternyata, gue kira Lo itu kura-kura. gak taunya emaknya buaya betina."
"Lo muji gue apa menghina sih?"
"tergantung Lo tanggapannya apa...,"
"Menurut gue sih pujian." kata Adel sok pede, ketularan pedenya tu cowok.
"udah jawab aja pertanyaan gue."
"Kalo gue punya lima cowok bakal gue pakek buat cuci piring, bersihin rumah, masak, jadi tulang ojek yang antar jemput gue dan satunya bakal gue taruh di lampu merah."
"Ngapain di lampu merah?"
"Menghasilkan uang."
Sumpah, beneran serem ni cewek. mana pas ngomong dengan wajahnya polos itu bikin Bara tambah merasa horor.
*****
__ADS_1
Hi semuanya...
Sorry ya karena author loading banget buat up beberapa Minggu ini, soalnya author sibuk luar biasa alias banyak kerjaan. jadi hampir gak ada waktu buat nulis, walau pun ada author bakal gunain buat tidur.