
"Brak!!!"
Abimanyu menggebrak meja dengan full tenaga alias pakek kekuatan penuh dengan diiringi tatapan tajam penuh amarah ke semua staff dan dokter yang ada di depannya, kali ini laporan sangat tidak memuaskan sehingga banyak sekali komplain dari pasien dan keluarga atas ketidaknyamanan layanan yang rumah sakit ini berikan.
"Kalian tahu kalau kita sebagai rumah sakit terbaik seharusnya memberikan pelayanan terbaik bagi pasien."
Dokter Haris memutar jengah bola matanya, sambil ngedumel dalam hati.
"Ni aki kalo ngomong pinter banget, amnesianya kambuh jadi ngomong udah kayak pidato upacara hari Senin."
Mungkin bukan cuma dokter Haris doang yang ngedumel dan nyumpah serapah dalam hati, tapi semua yang hadir dalam ruangan rapat ikutan nyumpah. Gimana enggak, kalo mereka tau dengan pasti yang sekarang di depan lagi berkoar-koar itu bisa nya cuma ngomong doang sama main perintah. mentang-mentang orang kepercayaan presiden direktur rumah sakit ini jadi semena-mena buat jajah bawahan yang gak punya hak apa pun itu.
"Kalian disini di gajih besar bukan cuma buat duduk manis sambil ngobrol, tapi harus melayani pasien dengan benar. ngerti gak sih?!"
Dokter Renata yang bisa di bilang sudah senior itu udah gak tahan dengan situasi sepihak yang bikin kuping meradang, gimana gak meradang kalo apa yang di omongin gak sesuai banget sama keadaan yang ada di lapangan. mana ada istilah duduk manis dan ngobrol malah yang ada kerjaan bejibun, gak ada waktu istirahat sama sekali karena kekurangan tenaga.
"Maaf sebelumnya pak Abimanyu, saya sangat keberatan dengan apa yang anda katakan. apa yang anda katakan tidak sesuai dengan apa yang sebenarnya terjadi. kami para dokter dan juga tenaga perawat dan lainnya bekerja sekuat tenaga dan sepenuh hati dalam pelayanan, jadi bagaimana bisa anda mengatakan hal tersebut?"
semua mata langsung tertuju kearah dokter wanita yang udah cukup berumur tersebut, emang kata-kata tersebut mewakili apa yang mereka alami.
"Bapak sendiri yang duduk manis dan mengobrol dan melemparkan kesalahan pada kami, apa bapak tidak bisa melihat rumah sakit sebesar ini hanya memiliki beberapa dokter dan tenaga pembantu? padahal kita seharusnya menambah tenaga lagi untuk memaksimalkan layanan."
Semua orang yang ada di dalam ruang rapat tersebut mengangguk untuk membenarkan apa yang dokter Renata katakan, gak terimalah kalo di salahin gitu aja. walau pun beliau bisa di bilang orang nomor dua di rumah sakit ini tapi gak seenaknya gitu juga kalo ngomong dan mengkambing hitamkan masalah ini (kasian kambing yang selalu di bawa-bawa kalo udah masuk masalah pelik).
"jadi maksud kamu saya asal ngomong?"
"benar." katanya dengan tegas yang langsung bikin semua orang menarik nafas panjang tersebut, bakal terjadi perang dunia kelima ini kalo enggak di pisahin kedua belah pihak yang sama-sama keras dan gak mau ngalah.
"Dokter Renata...." Dengan wajah penuh amarah dan gigi gemerutuk saking geram dan menahan emosi yang udah di atas ubun-ubun itu, dokter Abimanyu merasa bahwa harga dirinya telah di injak-injak oleh seorang wanita. selama ini tidak ada satu pun yang berani membantah apa lagi menyela pembicaraan, kalau ia biarkan maka selanjutnya akan bermunculan dokter-dokter lain yang berani membantah dan membangkang seperti yang di lakukan oleh dokter wanita tersebut. Sesegera mungkin ia harus membereskan hama yang menjadi pemicu tersebut.
"Kalau anda tidak suka dengan aturan di rumah sakit ini dan merasa keberatan mengabdikan diri anda maka anda boleh meninggalkan rumah sakit ini."
__ADS_1
Ini nih...
jurus andalan dan pamungkas yang mampu membungkam mulut setiap orang yang ingin menyerahnya, Giman gak langsung bungkam kalo konsekuensi nya adalah mengundurkan diri. semua orang tahu bahwa rumah sakit ini adalah salah satu rumah sakit terbaik dengan fasilitas yang sangat lengkap dan juga di lengkapi dengan peralatan canggih terbaru. Bukan hanya sampai di situ, bahkan semua staff, dokter mendapatkan gajih cukup tinggi setiap bulannya dengan fasilitas yang telah di sediakan pula. Gak bakal ada kata dua kali dapat kerjaan sebaik ini dengan pengamanan yang luar biasa dan orang-orang luar biasa pula, itu lah kenapa semua orang memilih diam dan tidak melakukan perlawanan.
"Baik, dengan senang hati saya akan mengajukan permohonan pengunduran diri. di bandingkan saya bekerja dengan tekanan dan anda selalu menyalahkan kami dan menganggap kami tidak becus." tidak ada rasa takut sama sekali di wajah dokter Renata saat mengatakan semua itu yang membuat semua orang menahan nafas saking tegangnya.
"kalau itu keputusan anda, saya kan dengan senang hati menunggu surat cinta dari anda dan saya akan pastikan bahwa tidak ada satu rumah sakit pun yang akan menerima anda bekerja." ancam Abimanyu, dengan mudah ia dapat melakukannya dengan ijin dan kuasa presiden direktur yang telah memberikan kuasa penuh dalam urusan rumah sakit.
"Dokter Abimanyu," dengan sigap dokter Tala berdiri dan mendekati dokter Abimanyu yang lagi naik darah tersebut, kalo dokter Renata mengundurkan diri itu adalah satu kesalahan fatal yang akan terjadi dan menjadi penyesalan di karenakan dokter Renata adalah salah satu dokter bedah terbaik di negara ini.
"Kita bisa bicarakan semua lagi dengan baik-baik dan lagi pula saya yakin dokter Renata tidak serius mengatakan semua itu, betul kan dokter Renata?" mengarahkan tatapan matanya ke arah dokter Renata yang berdiri kokoh layaknya batu karang.
"Saya tidak pernah bercanda dan main-main dengan apa yang saya katakan."
Ya salam....
ini yang namanya menyiram bensin ke api....
"Brak!"
Semua mata langsung berpindah haluan ke pintu yang terbuka dengan bantingan dan langsung menyita perhatian.
David mengedarkan pandangan matanya mencari sosok Haris yang ia yakini ada di dalam ruangan ini, tentu saja tak berapa lama ia menemukan sosok yang ia cari dengan tatapan kaget luar biasa kearahnya. tanpa banyak bicara seperti biasanya David langsung menghampiri di mana Harus duduk dan melewati semua orang dengan sikap angkuh dan acuhnya yang udah menjadi ciri khas.
"Lo ngapain disini?" tanya Haris yang bingung tiba-tiba aja temannya itu muncul layaknya jailangkung yang sosok nya datang gak di jemput dan pulang gak di antar.
"Harusnya gue yang nanya, Lo ngapain di sini? bukannya Lo lagi piket jaga UGD bukan?"
"Gue lagi meeting." sambil mencuri-curi pandang, masalah satu aja belum kelar ini malah nambah masalah datang.
"Lo lebih memilih meeting gak penting ini di bandingkan pasien? kemana sumpah yang elo lakuin hah?!" ujarnya dengan nada yang meninggi.
__ADS_1
Semua orang tampak bingung, bingung dengan sosok yang tiba-tiba datang tanpa permisi dan langsung memotong acara mereka. kalo semua orang pada bingung beda lagi dengan dokter Abimanyu yang tadi udah ngerasa harga dirinya di injak-injak dan sekarang tambah satu lagi orang yang menginjaknya. datang langsung nyelonong dan menganggapnya gak ada.
"Bukan gitu juga,"
"Lalu apa?"
kata-kata itu langsung membungkam mulut Haris, gak ada satu pun alasan pembenaran yang dapat ia berikan.
David membalikkan badannya dan memperhatikan satu persatu orang di dalam ruangan tersebut, dengan cepat ia dapat mengenali semua orang dan matanya tertuju dengan sosok kepercayaan sang kakek. Tanti saja David mengetahui yang sebenarnya dengan sangat jelas, bagaimana orang kepercayaan kakeknya itu telah melakukan banyak kesalahan dan keuntungan pribadi demi memuaskan harga diri dan ego. David tidak ingin ikut campur dalam urusan rumah sakit karena itu bukan bidang yang ia minati sama sekali.
"anak muda sekarang tidak tahu sopan santun dan etika." ujar dokter Abimanyu sengaja mengatakannya untuk menyinggung sosok anak muda yang datang tanpa Krama.
David hanya diam menanggapinya, kali ini ia tidak ingin berurusan dengan siapa pun kecuali dengan Haris. Adel membutuhkan pertolongan nya secepatnya.
"Ikut gue ke UGD." perintah David di bandingkan ajakan.
Haris yang emang udah dari tadi bosen dan pengen keluar itu tanpa di suruh dua kali langsung berdiri dan mengikuti David.
"Apa-apaan ini?!"
David menghentikan langkahnya saat teriakan itu memang sengaja di tujukan padanya.
"Anak berandalan mana yang berani masuk tanpa ijin dan mengacaukan rapat penting kami?!" Abimanyu yang udah kalap itu langsung melampiaskan emosinya ke mangsa empuk yang menyerahkan dirinya.
"Rapat penting yang menelantarkan pasien di ruang UGD hanya untuk memenangkan ego anda? apa kah itu lebih penting di bandingkan dengan nyawa pasien?" kata-kata yang David katakan itu begitu menohok.
"Anda juga seorang dokter dan seharunya tau dengan pasti apa tugas utama anda. saya rasa saya yang berandalan ini tidak harus membacakan untuk anda bukan?"
Saking geramnya dokter Abimanyu sampai mengepalkan dan menggertak kan giginya.
David melanjutkan langkah kakinya meninggalkan ruangan yang atmosfer nya udah penuh polusi dan racun tersebut di iringi oleh cacian yang tidak ia dengarkan, saat ini David mengacuhkannya tapi setelah semua beres maka ia akan membereskan semua kekacauan ini dan tentu saja akan ada konsekuensi yang beberapa orang dapatkan atas tindakan mereka.
__ADS_1