Kontrak Cinta 100 Hari

Kontrak Cinta 100 Hari
Kekhawatiran Bunda


__ADS_3

Ningrum (Bunda David) terlihat sangat gelisah sejak dini hari, gak tau kenapa tapi pikiran nya langsung tertuju ke pada anak lelaki satu-satunya. apa lagi pas di telpon HP David non aktif yang langsung bikin naluri sebagai seorang ibu bergejolak, gak biasanya David menon-aktifkan HPnya meski sesibuk apa pun atau dalam keadaan apa pun. bukan cuma Hp, telon rumah pun gak di angkat, ni lagi di Andre ikut-ikutan Hpnya gak aktif yang makin menambah daftar kekhawatiran Ningrum sebagai seorang ibu. Rasa itu ada bukan tanpa alasan dan berlebihan, mengingat status David dan posisinya saat ini yang bisa saja dalam keadaan berbahaya setiap saat tanpa ada yang mengetahuinya.


"Bunda, ngapain kayak ayam mau bertelor?" Tanya ayah yang baru aja keluar dari kamar kecil, ayah kebangun karena panggilan alam yang mengganggunya tidur.


"Perasaan bunda gak enak nih yah..." ujarnya dengan wajah cemas yang keliatan banget, saking bangetnya Sampek gak bisa di sembunyikan dan di bohongi wajah cemas bunda.


"Gak enak gimana?" Tanya ayah bingung, padahal semalam sebelum tidur keadaan bunda baik-baik dan dalam mood yang sangat baik pula. ni bangun-bangun udah kayak ayam mau bertelor yang hilir mudik gak beraturan.


"Bunda sakit perut? mules? diare? atau maag nya kumat? Tuh kan ayah bilang apa coba..., jangan terlalu banyak makan yang asem sama telat makannya, bunda sih gak dengerin ayah." Cerocos ayah yang gak ngasih waktu buat bunda memberikan pembelaan dan membahasnya, udah kayak jalan tol bebas hambatan aja ayah ngomongnya.


loooooooossssss.....


"Ih ayah apaan sih?" melemparkan bantal ke arah suaminya yang seenaknya memvonis tanpa memberikan waktu untuk pembelaan.


"He he he he he he.... Gak kena...." Kata ayah dengan bangga dapat menghindari lemparan bantal bunda yang langsung mendarat dengan mulus di atas lantai yang berlapis karpet lembut dengan kualitas terbaik tersebut.


"Ayah?!" teriak bunda kesal banget, kebiasaan ayah yang paling jelek itu mau gimana pun serius ngomong pasti di bawa becanda.


"Ok..." Duduk di samping istrinya dan merangkul pundak wanita yang telah menemaninya selama empat puluh tahun tersebut sekaligus menenangkannya, kalo gak kayak gini dan gak pas udah dapat di pastikan ngambeknya Sampek berhari-hari yang langsung bikin semua orang kena imbasnya.


"Bunda maunya gimana?" Itu lah kata ajaib yang paling mujarab di dunia tapi juga kata yang bikin hati berdebar-debar, soalnya gak tau apa yang bakal bunda katakan atau yang bakal bunda pinta. konsekuensinya adalah apa pun itu harus di laksanakan bagaikan titah ibu suri yang gak bisa di tawar.


"Gak tau kenapa perasaan bunda gak enak, bunda ingat David."


Ayah dapat bernafas lega, setidaknya bukan kesalahan yang telah ayah lakukan atau sesuatu yang memiliki sangkut paut dengan ayah.

__ADS_1


"Terus?"


"Bunda mau ayah antar kan bunda ke rumah David."


"Sekarang Bun?" sambil ngelirik jam digital yang ada di meja kecil di samping tempat tidur, waktu menunjukkan pukul tiga dinihari. jam segini minta antar ke rumah anaknya, "Gini aja Bun, telpon dulu David. kali aja kan David gak ada di rumah. lagi keluar kota atau tidur di kantor jadi sia-sia kita ke rumahnya." kata ayah memberikan solusi, aslinya menawar permintaan bunda secara halus biar bunda gak langsung meletus kayak gunung berapi.


"Udah ayah.... tadi bunda udah telpon ke Hp David tapi gak aktif, ke rumah juga gak di angkat, ke kantor iya sama aja apa lagi Andre ikut-ikutan mati Hpnya." jelas bunda yang lupa kalo tadi belum nelpon ke kantor tapi juga masuk dalam list yang gak bisa di hubungi.


Ayah mengerutkan keningnya, tumben-tumbenan mereka semua pada kompakan gak aktif. ayah mengambil Hp yang ia letakkan di samping bantal, mengaktifkan mode tidur yang selalu ayah lakukan saat malam karena ayah gak pengen istirahatnya yang berkualitas terganggu dengan telpon-telpon yang gak penting. udah ada David yang menggantikannya buat menjawab telpon yang hampir 24 jam itu.


Kontak nama pertama yang ayang cari adalah nama putranya, siapa lagi kalo bukan David.


"Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau di luar jangkauan, silahkan tinggalkan pesan setelah nada berikut."


Ayah menelpon kantor dan dalam status yang berbeda, kali ini telpon yang terhubung langsung ke ruang kerja putranya tersambung tapi gak ada yang ngangkat dan lagi-lagi bunda juga benar. Perasaan was-was dan cemas yang istrinya rasakan itu tiba-tiba menular kepadanya. emang gak biasa David menon-aktifkan HPnya, orang terakhir yang akan ayah hubungi adalah Andre. asisten sekaligus sekertaris pribadi putranya yang juga sudah ia anggap sebagai anaknya, mengingat totalitas yang Andre lakukan untuk putra serta bisnisnya itu membuat ayah merasa sangat terharu dan juga bangga memiliki Andre menjadi salah satu orang yang sangat ia percaya. bahkan Andre merawat David layaknya seorang saudara dan tidak ada satu kata pun keluhan yang keluar dari mulutnya, walau kadang David ngelakuin hal-hal yang merepotkan.


"Iya tuan besar?" kata Andre di seberang sana saat menerima panggilan dari tuan besar, Andre bahkan kaget karena gak pernah sekalipun tuan besar menelponnya sepagi ini.


"Tuan besar apanya? panggil ayah kalo kamu enggak mau besok pagi saya pecat." kata ayah yang ngerasa terbebani dengan kata tuan besar yang Andre ucapkan, kalo orang lain yang ngomong ayah terima aja dan gak protes. tapi kalo Andre yang ngomong rasanya ayah kagok.


"Baik tuan, eh maksud saya ayah." kata Andre yang berasa lidahnya bertulang, cangung banget di suruh manggil dengan sebutan ayah padahal posisinya sebagai bawahan. sejak dulu tuannya itu selalu menyuruhnya memanggil dengan sebutan ayah, tapi Andre merasa sangat canggung dan gak pantas memanggil seperti itu kepada laki-laki yang seluruh kantor menghormatinya.


"Bagus, itu baru anak ayah yang baik."


Bunda mengambil paksa Hp yang ada di tangan ayah, rasanya gak sabar dengerin ayah yang kelamaan basa-basinya Sampek kelewat basi malah jadi busuk. ini nih kebiasaan ayah yang kalo udah ngobrol kadang lupa kepentingan dan topik pembicaraan utama, malah ngalor ngidul gak karuan. Tapi untungnya kalo masalah bisnis ayah berubah total, cuma dengan orang terdekat ayah seperti ini.

__ADS_1


"Andre, anak bunda kemana?"


Andre menjauh kan Hp dari telinganya, kalo yang tadi ayah David dan sekarang malah Bunda yang mengambil alih. dalam pikiran Andre langsung tersirat kalo David bikin ulah lagi yang ujung-ujungnya dia juga yang pusing buat menyelesaikan.


"Bukannya di rumah Nyonya?" kata Andre polos, emang terakhir mereka berkomunikasi David di rumah.


"Terakhir kali kami bicara tuan muda di rumah."


"Kamu ya? mau Bunda coret dari daftar pegawai besok pagi?"


Pening dah kepala Andre, dini hari kayak gini udah dapat dua ancaman pemecatan. dosa apa coba yang di lakuin?


"Maaf nyonya, salah saya apa?" katanya bingung, soalnya gak ada kesalahan yang sepengetahuannya Andre lakukan.


"Panggil saya bunda, bukan nyonya besar apa lagi anak bunda yang bandel itu dengan sebutan tuan muda."


Akhirnya Andre menggaruk kepalanya yang gak gatal, tapi bingung. kalo tadi tuan besar yang marah-marah lah ini malah ibu suri ikutan marah.


"Kamu sudah kami anggap sebagai anak sendiri dan jangan sesekali memanggil kami dengan sebutan yang bikin bunda mau muntah dengarnya." malah ikutan skenario ayah yang juga lupa buat nanyain anaknya.


"Baik bunda...." Mewek lagi lah Andre dengarnya, walau dengan terpaksa tapi mau gimana lagi kalo ancamannya di pecat itu hal yang paling ia hindari. cari kerjaan susah dan yang jelas dapat bos yang sangat-sangat baik itu lebih susah lagi, bos yang tidak menganggapnya sebagai bawahan bahkan menganggapnya sebagai keluarga sendiri.


"Udah tahan dulu acara terharunya," kata bunda yang tau kalo Andre pagi menikmati masa pancaroba, suaranya bergetar dan berubah. "Bunda cuma mau tau di mana anak bunda yang bandel itu sekarang?"


*******

__ADS_1


__ADS_2