Kontrak Cinta 100 Hari

Kontrak Cinta 100 Hari
1001 ekspresi tak terdeteksi


__ADS_3

David termenung, menatap Adel dengan tatapan mata tajam. meski matanya menatap mata Adel, tapi pikirannya terbang entah kemana. apa yang baru ia dengar adalah sesuatu yang jauh dari perkiraannya, jawaban yang Adel berikan membuat David menjadi bimbang. Merasa bersalah dan membuatnya berpikir bahwa ia manusia kejam yang akan memanfaatkan gadis polos di depannya itu, tapi hanya ini satu-satunya jalan yang dapat ia ambil untuk menyelesaikan permasalahannya. setidaknya Adel mendekati kata sempurna sebagai menantu idaman untuk kedua orang tuanya walau jauh dari kata sempurna dari kriteria istri idamannya. itu adalah dua hal yang berlawanan yang membuat David bingung mengambil sikap.


"Jadi?" Adel duduk di samping malaikat mautnya itu, "Kapan Lo bakal bawa gue?" ujarnya dengan wajah polos yang udah siap buat lepas landas ke alam baka.


David berdiri tanpa melihat ke arah Adel yang menatapnya dengan penuh harap tersebut, udah pasrah dan gak berharap lebih lagi. buat Adel udah dapet giliran buat pergi jadi buat apa lagi di tunda.


"Emang apa yang ada dalam pikiran Lo saat ini?"


"Ya apa lagi, elo bawa gue pergi karena umur gue udah habis." jawabnya dengan polos.


Tanpa menjawab pertanyaan itu David meninggalkan kamarnya untuk menuju ruang ganti pakaian yang ada tepat di samping kamarnya tersebut, gak enak juga pakek baju kayak gini. apa lagi ada orang lain di sana yang tambah bikin risih David.


"Yey.... di tanya malah pergi." kata Adel dengan mencibirkan bibirnya, matanya menyapu seisi ruangan yang baru pertama kali ia lihat. decak kagum langsung ia lontarkan melihat tatanan kamar yang ia tempati itu sangat luar biasa di mata Adel. Persis banget dengan kamar-kamar hotel bintang lima atau apa lah itu yang biasa ia lihat di tv, walau dalam mimpi gak bakalan nyangka bisa tidur di tempat kayak gini. kalo gak mimpi gak bakalan bisa, satu malam nginep di sini aja bisa-bisa ngabisin satu tahun gajih yang Adel dapatkan. atau mungkin Sampek dua tahun gajih yang ia dapatkan. mending nginep di pelataran mesjid aja lah di bandingkan nginep di hotel yang bikin kantong jebol dan jati menangis teriris.


David mengenakan setelan baju santai, celana pendek selutut dan kaos polos berwarna putih dengan tangan pendek pula yang membuatnya nyaman di bandingkan baju mandi yang ia kenakan tadi. bahaya kalo Sampek meluorot yang bikin mata termanjakan.


Adel berjalan perlahan mendekati jendela yang tertutup tirai tinggi menjulang, badannya masih terasa lemas dan sakit di sana-sini. gak tau tadi ngapain jadi kayak gitu yang jelas badannya udah remuk kayak habis di gebukin, walau lemas dan encok pegel linu tetep aja di paksa Adel buat liat di mana sekarang ia berada. rasa penasarannya lebih besar di bandingkan beban tubuh yang ia tanggung dan Adel memilih untuk melihat secara langsung.


Yang pertama cewek manis itu lihat adalah hamparan rumput hijau dengan beberapa pohon dan bunga di beberapa sudut dan tempat yang tertata rapi.


Wah....

__ADS_1


emang beda ya...


ini baru setengah surga, gimana kalo surga sendiri???


Benar-benar kagum Adel dengan pemandangan yang ia lihat, apa lagi di ujung taman itu terdapat pantai dengan pasir putih dan pohon kelapa yang udah menjadi ciri khas pantai.


Andai aja gue bisa bawa nenek ke sini buat liburan, pasti nenek seneng banget.


Seingat Adel, mereka berdua hampir gak pernah liburan bareng. nenek yang selalu sibuk mencari pekerjaan dari satu pintu ke pintu dan di bandingkan uang buat liburan mendingan tu uang buat keperluan yang lebih penting lainnya. bagi Adel, nenek adalah orang yang paling berjasa dalam kehidupan Adel dan akan menjadi prioritas Adel. kalo ingat nenek jadi sedih, kalo Adel harus pergi terus siapa yang bakal nemenin nenek???


Selama ini hanya nenek yang Adel punya dsn begitu pula sebaliknya, ada rasa nyesel aja kalo ingat tadi sempat menolak tawaran malaikat maut. tapi itu juga bukan pilihan yang bagus buat Adel yang gak mungkin bisa menukar kehidupannya yang sekarang dengan kehidupan baru yang bagi Adel lebih berharga kehidupannya saat ini. Adel terduduk lemas di lantai dengan air mata yang tiba-tiba aja keluar, padahal gak ada komando buat keluar tu air mata tapi malah keluar sendiri. yang tadinya udah ikhlas buat lepas landas tapi kini malah gak ikhlas sama sekali, kayaknya masih banyak hal yang belum Adel lakukan. banyak hal yang belum bisa Adel perbuat selama ia hidup untuk membahagiakan dan membalas kebaikan-kebaikan orang-orang yang selama ini baik banget sama Adel.


"Hiks_Hiks_Hiks...." Adel menunduk, memandangi tangannya yang udah basah dengan air mata. untung aja gak banjir dan masih dalam level basah.


Adel yang mendengar suara menyapanya itu langsung memalingkan wajah dengan air mata yang mengalir deras, kalo tadi cuma gerimis tapi sekarang udah totalitas derasnya. tatapan mata sedih langsung terpancar dari mata Adel, ini sedih yang sebenarnya tanpa ada rekayasa dan tanpa ada unsur akting.


sejak kapan ganti kostum???


Liatin dari ujung kaki sampek ujung kepala, di bandingkan jadi malaikat maut lebih cocok jadi model.


Langsung aja Adel tersadar dengan apa yang ada dalam pikirannya, tadi mikir sedih banget tapi sekarang malah beda lagi.

__ADS_1


Wouy Del.....


sadar.....


sadar....


David yang langsung jleb di liatin kayak gitu refleks liatin dirinya sendiri, ngikutin Adel yang liatin dari ujung kaki Sampek ujung kepala. kali aja ada yang aneh sampek ni cewek segitunya ngeliatin.


Perasaan gak ada yang aneh, semuanya baik-baik aja dan buat David juga biasa-biasa aja.


Gue harus bisa bujuk buat gak bawa gue, gue gak boleh ninggalin nenek sendiri.


iya, gue harus tetap hidup dengan diri dan kehidupan gue yang sekarang.


lagian kan belum satu jam gue nolak tawarannya, jadi masih bisa kan buat di nego ulang?


Adel mengangguk mantap, merasa apa yang ia pikirkan adalah sesuatu yang akan ia lakukan. masalah berhasil apa enggak tu nego itu urusan belakang, yang penting sekarang itu langsung mengajukan proposal buat melanjutkan hidupnya demi nenek.


Tapi....


Adel bingung mau mulai dari mana???

__ADS_1


Frustasi sendiri bikin ni cewek menggaruk atau lebih tepatnya mengacak rambutnya sendiri.


Lagi-lagi David melihat sesuatu yang membuatnya pengen ketawa ngakak, gimana gak mau ketawa kalo ni cewek punya seribu satu ekspresi yang gak terdekteksi. awalnya liatin dia dengan tatapan mata sedih memilukan, berubah menjadi tatapan mata menyelidik dan kali ini malah ngacak rambutnya sendiri kayak orang linglung.


__ADS_2