
Adel menatap laki-laki di sampingnya yang kini secara agama resmi menjadi suaminya tersebut dengan tatapan mata gak percaya.
Baru kemarin ngomongin masalah kesepakatan pernikahan mereka, hari ini malah udah jadi suami istri.
Emang beda ya level orang kaya, gak perlu banyak pikir dan seketika sudah siap. Cukup dengan nelpon satu orang dan semuanya beres.
"Gak usah terpana, gue tau kalo gue itu ganteng." kata David dengan melepas kancing kemejanya.
"Apaan sih?" ujar Adel sewot yang di tuduh kayak gitu. "Pede banget...."
"Kan gue ngomong sesuai keadaan, Lo liatin gue dari tadi tanpa berkedip."
"yey...." Adel mencibir, emang nih om-om genit pedenya di luar nalar. tapi mau debat pun percuma, lagian gak bakal dapat apa pun sebagai hadiah.
*****
"Adelia Putri."
Adel yang tengah asik menghitung itu terperanjat pas namanya di panggil dengan lantang oleh guru matematika saat jam pelajaran berlangsung. Bukan cuma Adel, tapi murid lainnya juga langsung menghentikan aktivitas mereka dan mengarahkan pandangan mata mereka ke arah Adel yang gak kalah kagetnya.
"Lo ngapain?" bisik Mona.
"Perasaan gue gak ngapa-ngapain sih, kan Lo liat sendiri kalo lagi ngerjain soal latihan." katanya balas berbisik.
Adel berdiri dengan perasaan was-was, takut ngelakuin kesalahan yang gak di lakuin.
"Iya Bu, ada apa?" katanya gugup.
"kesini."
Adel melemparkan pandangan matanya ke arah Mona untuk meminta jawaban, buat apa di suruh ke depan. tapi jawaban yang Mona kasih cuma gelengan kepala, setelahnya anggukan pelan yang mengisyaratkan bahwa apa pun itu adalah perintah yang harus Adel ikuti.
"Semangat..." bisik Mona.
Adel berjalan pelan di ikuti oleh tatapan mata dari beberapa murid yang ada. seperti yang ada di kepala Adel, mereka juga punya pemikiran dan pertanyaan yang sama.
Satpam menyerahkan selembar amplop sebelum berpamitan untuk keluar kelas.
Perasaan Adel semakin buruk, entah kenapa iya merasa bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi beberapa menit lagi.
"Ambil tas dan barang-barang kamu, kamu pulang terlebih dulu."
Bagai di sambar petir di siang bolong, Mona yang sama kagetnya dengan Adel itu kontak berdiri dan berlari menghampiri Adel.
"salah Adel apa Bu? Adel masih belajar kok di kelas ibu, lagian Adel selama ini mengerjakan semua tugas dan pekerjaan rumah. Adel juga gak pernah telat masuk kelas, Adel gak pernah bolos." kata Adel yang gak ngerasa salah apa pun.
"Ibu yang cantik dan terhormat, seharusnya ibu sebagai orang yang bijaksana mempertimbangkan banyak hal kalau Adel adalah murid yang pintar dan berprestasi di sekolah kita." timpal Mona yang udah berdiri di samping Adel, membela di garda terdepan sebagai seorang sahabat dan juga saudara.
"Bu, kalau Adel di keluarkan dari kelas ibu... bagaimana nasib Adel...." ujarnya lagi yang sadar banget bakal di cabut bea siswa dan itu emang awal mula kehancuran. mana udah mepet mau kenaikan kelas.
"Ibu...." Mona menangkupkan kedua tangannya untuk memohon. "Sebagai seorang guru yang juga orang tua kedua kami, masak ibu tega menghancurkan masa depan anak didik ibu sendiri yang bisa di katakan sebagai anak ibu." kata Mona memasang wajah mengiba untuk meyakinkan.
"Kalian ngomong apaan sih?" kata Bu Cantika yang bingung sama omongan dua muridnya tersebut, baru ngomong satu kalimat aja udah berasa jadi tersangka utama suatu kejahatan besar.
"Bukannya ibu ngusir Adel kan dari kelas ibu?" kata Mona.
"Baru aja ibu nyuruh Adel buat mengemasi barang-barang Adel." tambah Adel yang masih ingat apa yang gurunya tersebut katakan.
"Iya... ibu memang menyuruh Adel untuk mengemasi barang dan tas untuk pulang terlebih dulu."
Mona yang udah mikirnya terlampau jauh itu langsung memasang wajah sangat iba.
"ibu kok tega banget sih... kalau ibu mengusir Adel, saya sebagai teman yang baik dan benar bakalan ikut Adel." Mona berbalik dan menatap semua murid yang ada di kelas. "Adakah di antara kalian yang dengan suka rela mengikuti jejak aku?"
Semua saling menatap dalam keheningan, Adel adalah murid yang sangat baik dan ramah. meski Adel bukanlah murid populer di kelas, tapi Adel adalah murid yang baik dan menolong siapa pun. Secara perlahan, beberapa murid berdiri. menandakan bahwa mereka menyetujui dan mengikuti Mona.
Bu Cantika yang awalnya itu bingung langsung mengerti dan menggelengkan kepala melihat aksi muridnya tersebut.
"Adel pulang itu bukan karena ibu usir atau keluarkan dari kelas, tapi ada keluarga Adel yang menjemput untuk pergi."
"Apa??????"
Sontak kelas menjadi sangat riuh mendengar penjelasan guru matematika mereka tersebut.
"Tapi kalau kalian mau keluar dan pulang sekarang, ibu gak keberatan kok. pintu kelas terbuka lebar dan absen ibu juga kosong, ibu gak keberatan buat nulis nama kalian disini." katanya dengan tersenyum kecil, ada-ada saja kelakuan anak didiknya.
Mona yang menyadari kesalahannya itu langsung terdiam dan menggaruk tengkuknya, langsung balik badan dan ngacir ke tempat duduk.
Langsung diem lah, semua pada duduk di tempat mereka dan gak jadi protes.
"keluarga?" tanya Adel yang semakin bingung, masalahnya keluarga yang di maksud itu siapa?
selain Nenek dan mama, gak ada lagi keluarga yang ia miliki.
"Mereka menunggu di ruang kepala sekolah," Kata Bu Cantika dengan tersenyum lembut.
Adel mengangguk pelan, "Terimakasih."
Sepanjang perjalanan menuju kantor kepala sekolah, pikiran Adel sudah main tebak-tebakan. menebak keluarga yang di maksudkan itu siapa dan ada keperluan apa Sampek nyamperin ke sekolah dan menyuruhnya untuk pulang.
"Keluarga dari nenek?" semua keluarga dari nenek udah gak ada, walau pun ada adalah keluarga jauh dan gak bakal repot-repot buat ngelakuin hal ini.
"Masak iya mama? tapi ngapain mama ke sekolah?"
Mata Adel membulat, jangan-jangan terjadi sesuatu yang buruk terhadap nenek atau papa. dengan langkah kaki cepat, ia melangkah ke arah kantor kepala sekolah. Tanpa mengetuk pintu Adel langsung masuk karena emang pintu Sudah terbuka dan ia mendapati kepala sekolah sedang bicara dengan seseorang yang mengenakan setelan jas berwarna hitam membelakanginya.
Saat kepala sekolah melihat Adel, ia tersenyum dan mempersilahkan Adel untuk masuk.
Seorang laki-laki matang dengan kaca mata menatapnya dan tersenyum ramah, Adel membalas senyuman itu dan mendapati bahwa mereka tidak saling kenal.
"Kalau begitu saya pamit,"
"Terimakasih atas kunjungan anda, saya titip salam untuk ketua." kata kepala sekolah dengan menyambut uluran tangan dari tamu kehormatannya tersebut.
"Terimakasih kembali."
Adel masih mematung di depan pintu dengan seribu pertanyaan. Gak ada yang jelasin ada apa yang terjadi, malah Adel datang langsung bubar.
"Mari nona,"
Adel menengok ke belakang, kali aja ada orang lain di sana selain dirinya yang laki-laki itu panggil nona. namun nihil, yang berdiri di sini cuma Adel dan itu artinya bahwa nona yang laki-laki itu maksud adalah dirinya.
nona dari Hongkong???
Adel memanjangkan lehernya dan mengedarkan pandangan, menyapu seluruh ruangan untuk mencari orang lain selain laki-laki yang tidak ia kenal tersebut.
"Perkenalkan, nama saya Andre " kata andre memperkenalkan diri dengan ramah, "mari kita pergi, tuan telah menunggu anda." katanya lagi tanpa memberi waktu untuk Adel mengajukan pertanyaan yang menurut Andre itu akan membuang-buang waktu. Andre mengambil langkah terlebih dahulu.
Dengan perasaan bingung, Adel mengikuti laki-laki bernama Andrea tersebut dan masih dengan seribu pertanyaan dalam benaknya.
"Maaf, apa kita saling kenal?" kata Adel yang bingung. tiba-tiba aja nih orang muncul dengan menyebut nya nona.
"Di lihat dari penampilan, anda bukan orang biasa dan...."
"Tuan akan menjelaskan dalam perjalan, perkejaan saya hanya menjemput anda dari sekolah dan saat ini tuan menunggu ada di dalam mobil." kata Andre tanpa menghentikan langkahnya.
Adel yang awalnya bingung dan penasaran kini berubah menjadi waspada. marak banget kan kasus penculikan remaja untuk di perdagangan keluar negeri. refleks Adel menghentikan langkahnya dan nyalinya menciut, bagaimana jika di adalah salah satu target penculikan dan akan di bawa keluar negeri? membayangkan aja bikin Adel ngeri sendiri, bayangan-bayangan gadis di bawah umur yang telah di selamatkan dan ia lihat di televisi itu terlihat jelas. Adel gak mau menjadi salah satu di antara mereka.
__ADS_1
Ia memutar otak untuk melarikan diri sebelum terlambat
Andre yang sejak tadi memperhatikan Adel secara diam-diam itu melihat gelagat mencurigakan, gadis itu seketika berubah ekspresi wajahnya dan insting nya mengatakan bahwa akan ada sedikit masalah.
"Nona, percuma saja anda kabur karena hanya ada satu gerbang di sekolah ini. lagi pula saya telah mendapat ijin langsung dari kepala sekolah, bukan dari wali kelas atau pun satpam sekolah anda. sekolah ini adalah sekolah yang memiliki jaminan keamanan bagi murid mereka, tidak sembarang orang bisa mendapatkan ijin jika itu bukan acara atau pun keadaan mendesak." jelas Andre dengan terpaksa menghentikan langkahnya.
Apa yang di katakan laki-laki bernama Andre tersebut adalah kebenaran, tidak mungkin sembarang orang dapat masuk dan mengantongi ijin dari kepala sekolah.
"Saya menjamin dengan hidup saya bahwa nona akan selamat."
"Jaminan macam apa itu? lagi pula kita tidak saling kenal."
Andre membalikkan badannya dan menghadap kearah wanita yang akan menjadi istri dari bosnya tersebut.
"Laki-laki selalu menepati janji yang mereka katakan."
"semua laki-laki akan mengatakan hal yang sama, tapi faktanya itu beda." kata Adel dengan menatap tajam. "Tuan? tuan yang anda maksud?"
"nona hanya perlu mengikuti saya." katanya lagi dengan melangkah dan tidak ingin berdebat.
Tidak ada pilihan lain buat Adel selain mengikuti Andre dengan kewaspadaan yang belum kendor.
Gue bakal ngikutin Lo Sampek liat siapa tuan Lo.
Tak jauh dari gerbang sekolah, Adel melihat sebuah mobil mewah terparkir. Biasanya hanya mobil pengajar dan juga tamu yang diperbolehkan untuk memasuki kawasan sekolah, semua murid yang bersekolah di larang membawa mobil ke sekolah. mobil pengantar dan penjemput hanya di depan gerbang sekolah.
Itu adalah salah satu keuntungan yang berpihak kepada Adel, jika sesuatu yang buruk terjadi maka ia dapat berteriak sekencang mungkin dan akan ada orang yang mendengar karena mereka berada dalam lingkungan sekolah. Parkiran itu pun tidak jauh dari kantor dewan guru.
Andre menghentikan langkahnya dan membuka pintu mobil bagian belakang, Adel yang berada tepat di belakangnya itu menoleh ke arah dalam mobil.
"Nona, masuklah. kita tidak memiliki banyak waktu." kata Andre mempersilahkan dengan hormat untuk masuk.
Adel yang masih gak percaya itu tentu saja gak langsung mengambil keputusan untuk masuk. itu sama aja dengan menggali lubang kubur sendiri jika Adel melakukannya. Gak bakalan tau apa dan siapa yang ada di dalam sana. Adel yang penasaran dan waspada itu memiringkan kepalanya untuk melihat siapa yang ada di dalam mobil mewah tersebut tapi ni cewek gak nemuin apa-apa disana.
David yang tadi keluar untuk bertemu seseorang itu melihat Adel yang tengah melakukan tindakan yang bikin David menaikkan sebelah alisnya. Bukan cuma kali ini aja Adel ngelakuin hal-hal aneh, tapi udah berkali-kali dan David sudah terbiasa. Bukannya menegur tapi David memilih untuk melihat apa yang bakal Adel lakukan setelahnya.
"Benerkan?" gumamnya, yakin banget kalo ini jebakan. mana ada orang yang gak dikenal datang dan manggil dengan sebutan nona, mikirin aja udah gak nyampek logikanya kemana-mana.
"Bener apanya?" bisik David yang sengaja mendekatkan ke telinga Adel, udah jadi kegiatan dan hiburan tersendiri godain anak orang yang satu ini.
"Kalo mobil ini gak beres." balasnya yang masih gak sadar ada orang lain di belakangnya.
"Pasti, di dalam sana ada penculik yang menunggu dengan obat bius." bisik David lagi dengan menahan senyum.
"Hah?" Adel terlonjak, pengennya balik badan mau lari tapi malah ketabrak sama sesuatu yang kokoh pas baru membalikkan badannya. Badan Adel yang mungil itu kalah telak dan tentu aja oleng, untung aja seseorang menangkapnya dengan sigap sebelum ia jatuh ke tanah.
"Elo itu kebiasaan," kata David yang menahan badan Adel dengan kedua tangannya. "punya mata tapi gak di pakek." lanjutnya dengan menatap tajam mata Adel.
Kagetnya luar biasa Sampek bikin Adel hampir berhenti bernafas, bukan kaget karena apa yang dipikirkan itu Benar tapi lebih ke kaget kalo nabrak sesuatu dan takutnya hidung Adel yang dari Sononya gak mancung bakal rata.
"Gak usah pakek bengong karena kagum sama ketampanan gue, badan Lo lumayan berat."
Adel yang sadar langsung mendorong badan David dengan kedua tangannya, cewek itu membenarkan seragamnya dan berdiri. "Ngapain disini?"
Tanpa menjawab, David masuk ke dalam mobil dan melewati Adel begitu saja.
"Heh?" baru nyadar setelah beberapa menit kalau ternyata itu adalah mobil David.
"Udah selesai bengong nya?" David menepuk kursi kosong di sampingnya, mengisyaratkan Adel untuk duduk di sana.
Sebenarnya banyak yang pengen di tanyakan, tapi Adel lebih memilih untuk patuh. toh masih ada waktu di perjalananan untuk menanyakan ada apa dan mengapa dengan semua ini.
Setelah Adel masuk, mobil berjalan melewati gerbang sekolah menuju jalan yang biasa Adel lalui setiap hari.
Kawasan perumahan elit yang asri itu membuat Adel merasa nyaman saat mengayuh sepedanya saat menuju mau pun pulang dari sekolah.
"Semua sudah siap."
...Mereka ngomong apaan sih?...
"sebenarnya kita mau kemana?" tanya Adel yang udah menahan pertanyaan itu dari tadi.
Lagi-lagi David mengacuhkan Adel, malah asik dengan Hpnya tanpa menjawab. jangan kan untuk menjawab, nengok pun kagak....
Adel yang kesal melotot ke arah David dengan wajah yang masam, dan berhasil. setelah beberapa menit akhirnya David meletakkan hpnya.
"Ke suatu tempat."
Udah gitu doang jawabannya, bukannya menghapus rasa penasaran tapi malah bikin tambah penasaran.
"Iya, tapi tempat apaan?"
"cukup duduk manis entar juga Lo tau."
Hai bung...
jawaban Lo itu benar-benar bikin gue pengen nelen tiang listrik.
Gak tau sejak kapan, tapi yang jelas Adel ketiduran dalam perjalanan. semalaman suntuk Adel menghabiskan waktu di rumah sakit untuk menemani nenek dan itu alasan utama kenapa sepagi ini Adel udah ngantuk banget dan tidur pulas.
David yang melihat kepala Adel terantuk kesana-kemari itu meraihnya dengan pelan dan menyandarkan pada bahunya agar merasa nyaman.
Sekilas, Andre memperhatikan apa yang di lakukan oleh bosnya itu dan tersenyum kecil. ia kira kalau gak bakal liat hal kayak gini selama sisa hidupnya mengingat bagaimana seorang David yang sangat menyukai pekerjaan melebihi apa pun tersebut.
"Ngapain Lo senyum-senyum?" kata David yang menyadari kelakuan Andre.
"Gak perlu sewot. anggap aja dunia cuma ada kalian." jawabnya lagi.
Setelah beberapa saat, mobil berwarna hitam itu berhenti di depan sebuah butik mewah. Beberapa orang penjaga butik tergesa-gesa datang untuk menyambut tamu agung mereka yang sudah terjadwal dan mereka tunggu sejak tadi dengan berdiri sopan.
Andre turun terlebih dahulu dan membukakan pintu belakang dimana David berada.
"Tahan kepalanya sebentar," ujar David.
Andre melakukannya, David keluar dari mobil dan menuju sisi lainnya.
Kini Andre tahu kenapa David bisa menyukai gadis itu, gadis yang dilihat sekilas adalah gadis biasa tanpa kelebihan apa pun namun saat sedekat ini ia terlihat seperti seorang malaikat. Wajahnya yang cantik alami tanpa make up itu membuat Andre tersihir seketika, benar-benar kecantikan alami yang sangat jarang ia temui pada wanita saat ini.
"Lo liatin apa?" kata David.
"Calon kakak ipar." jawab Andre tanpa merasa bersalah kepergok David sedang melihat ke arah Adel.
"Sekarang gue tau kenapa Lo mencintai gadis ini," ujarnya dengan tersenyum. "Gue dengan tulus memberikan selamat, dan semoga pernikahan palsu ini akan menjadi pernikahan sesungguhnya suatu hari nanti."
Tidak ada amarah sedikit pun di hati David saat ia memergoki Andre melihat Adel dengan tatapan mata penuh kekaguman. lagi pula Andre bukanlah orang yang harus ia curigai, karena Andre telah memberikan waktu dan hidupnya selama ini.
"Terimakasih, gue doakan semoga Lo cepet menemukan dan nyusul."
David mengulurkan kedua tangannya untuk meraih badan mungil Adel, menggendongnya secara perlahan dalam dekapan. Bisa saja David membangunkan Adel saat mereka sampai, tapi itu tidak ia lakukan melihat bagaimana nyenyak dan tenangnya Adel tertidur. ia lebih memilih untuk menggendong Adel untuk masuk ke dalam butik tanpa harus membangunkannya.
Pemandangan itu tentu saja menyita perhatian pegawai butik yang sedang menunggu, semua mata tertuju pada sepasang kekasih yang terlihat sangat sempurna itu. Semua orang merasa iri dengan sosok wanita yang ada dalam dekapan laki-laki tampan itu. Perlakuan sederhana namun sangat manis itu adalah impian semua wanita di dunia ini.
"Ya Tuhan, romantis banget kayak di film-film." ujar seorang pegawai berbisik dengan teman di sampingnya.
"Gue iri beneran sama tu cewek."
Ucapan demi ucapan mengiringi setiap langkah David, bukannya gak sadar sedang menjadi pusat perhatian. David memilih untuk acuh dan melangkah masuk.
__ADS_1
"Selam.."
David memberikan isyarat untuk tetap diam saat manager butik itu akan menyapanya dengan gelengan kepala.
"Dimana tempat untuk merias?" kata Andre mewakili.
"Disana tuan."
Andre dan david menuju tempat yang di tunjuk.
Dengan pelan-pelan, David meletakkan Adel di kursi. membenarkan kepala Adel sebelum ia pergi, perlakuan manis itu tidak luput semua orang berdecak kagum sekaligus iri.
"Lakukan dengan perlahan tanpa membangunkannya." katanya sebelum pergi di ikuti oleh Andre.
Semua orang merasa iri, bukan hanya tampan dan kaya tapi juga sangat lembut dan romantis. kriteria laki-laki idaman semua wanita ada pada diri David.
Setelah dua laki-laki keren itu keluar, dengan sigap setiap orang melakukan tugas mereka. rasa iri mereka terbantahkan ketika melihat betapa cantiknya calon pengantin yang akan mereka rias meski masih menggunakan seragam sekolah lengkap.
Adel yang dari tadi menikmati kenyamanan dalam dunia mimpi itu sama masih tetap berpetualang di dunia mimpi tanpa sadar apa yang sedang terjadi di dunia nyata. polesan demi polesan menghiasi kulit wajahnya.
"Apa yang bakal Lo lakuin setelah semua ini?" kata Andre.
David memandang keluar, "Entahlah, gue juga gak tau."
"Anak itu gak tau kan rencana Lo?"
"tentu saja, Adel hanya tau bahwa kami menikah sesuai perjanjian. dan setelah waktu yang di tentukan berakhir maka pernikahan ini akan berakhir. selama waktu itu gue akan berusaha merubah semua ini."
"Kenapa Lo gak ngomong langsung aja?"
"Gak mungkin."
"Kenapa enggak, tinggal ngomong dan meminta Adel menjadi istri sesungguhnya."
"Itu gak semudah yang Lo bayangkan, gue gak mau pernikahan sesungguhnya yang akan gue jalani adalah sebuah paksaan."
"Ini aja Lo udah maksa." ujar Andre mengingatkan.
"Gue tau, makanya gue gak langsung nikah secara resmi walau pernikahan ini emang sah secara agama. lagi pula umur Adel yang baru segitu mana bisa nikah secara negara?"
Andre membenarkan apa yang David katakan dengan anggukan kepala pelan, "Lagi pula siapa suruh Lo milih anak di bawah umur?" gumamnya lagi, walau cuma bergumam ternyata David mendengar dan mendelikkan matanya ke arah Andre.
"Gue cuma ngomong secara fakta, walau cinta kata orang tidak memandang usia tapi setidaknya omongan orang memandang segalanya." tambahnya dengan mengeluarkan setelan jas yang telah ia ambil terlebih dahulu sebelum datang menjemput Adel di sekolah. Setelan jas berwarna putih itu senada dengan gaun yang bakal Adel kenakan nanti dalam acara pernikahan.
"Saat pernikahan kalian bocor ke publik, bakal banyak omongan-omongan yang gak enak. Gue yakin kalo elo bakal bisa pura-pura gak denger semua itu karena sudah terbiasa, lalu bagaimana dengan Adel?"
Secara tidak langsung David membenarkan apa yang Andre katakan, David sudah terbiasa menghadapi tantangan dan berbagai macam berita yang ia rasa gak penting. Dunia bisnis itu kejam, banyak lawan yang menghalalkan berbagai macam cara untuk menjatuhkan orang yang mereka anggap membahayakan bagi kepentingan mereka.
"Menurut gue, rahasiakan pernikahan kalian. Ini semua demi kebaikan Adel, Adel wanita polos dan belum mengenal bagaimana dunia kita." ujar Andre yakin.
"Gue cuma gak mau kerjaan gue nambah gara-gara ngurus sekandal Lo, bikin pusinambahg beban hidup gue numpuk."
*******
"Gimana ini?" tanya asisten make up artis yang saat ini sedang berjuang membentuk rambut Klien. Nih klien kalo normal sih enak aja, tapi dalam posisi tidur nyenyak.
"Kita bangunin?" kata Wanda.
Ami menggelengkan kepala, "Gue gak berani, bukannya tadi udah di bilangin jangan Sampek bangun."
Kedua orang itu hanya saling menatap dengan tatapan mata pasrah sambil mikir "Kok bisa nih orang nyenyak banget tidurnya dalam keadaan kayak gini?"
Adel yang merasa punggungnya terasa sakit itu menggeliat kan badannya sedikit untuk mengurangi rasa sakit dan membuka perlahan matanya saat merasakan aroma lembut yang menenangkan. Pertama kali di tangkap oleh indera penglihatannya adalah sebuah ruangan bernuansa putih dengan aksen gold, tempat asing yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Sontak Adel membuka matanya secara penuh dan mengedarkan pandangan matanya menyapu seluruh tempat dan mata Adel terhenti pada dua orang yang tepat berada di sampingnya sedang memperhatikannya.
"Maaf Nona kalau suara kami membangunkan Anda." ujar Ami merasa menyesal dan meminta maaf dengan menundukkan setengah badannya ke arah nona muda yang menjadi tamu VIP mereka hari ini.
Adel yang baru bangun dan masih dalam keadaan kaget itu bingung di perlakukan seperti ini. Beberapa detik kemudian ia tertawa kecil.
"Kok bisa gue mimpi jadi tuan putri kayak gini." ujarnya dengan menutup mata dan kembali meletakkan kepalanya di kursi yang tadi tempatnya tidur.
Wanda dan Ami saling menukar pandangan mata mata mereka mendengarnya.
"Maaf Nona," kata Wanda yang berusaha memberanikan diri untuk menyela, "Waktu kita sudah tidak banyak dan anda harus mengganti pakaian serta kami harus merapikan rambut nona sekarang."
Adel yang sudah mendapatkan posisi nyaman dengan mata tertutup itu langsung membuka matanya dan menatap satu persatu, "Apa?"
"Iya, kita harus mengganti pakaian anda dan merapikan rambut anda." kata Ami mengulangi perkataan temennya tersebut dengan mengambil resiko.
Adel yang tadinya santai banget langsung duduk dengan tegang, "tunggu dulu. emang ini di mana?" ujarnya yang benar-benar bingung karena mengira semua ini hanyalah mimpi, mengedarkan pandangan matanya sekali lagi untuk menyapu setiap sudut. tepat di depannya sebuah meja rias besar dengan lampu yang cukup terang dan juga peralatan make up beserta berbagai macam jenis make up dari brand ternama di atas meja rias tersebut. Yang gak kalah kaget, Adel mendapati pantulan orang lain di depan cermin. ia menatap tanpa berkedip dan memegangi wajahnya. pantulan itu mengikuti gerak yang ia lakukan, Adel menelan ludah perlahan. mengerjakan mata yang awalnya pelan hingga akhirnya cepat dan tentu saja pantulan itu mengikuti apa yang ia lakukan, mengusap lembut pipi sebelah kanannya untuk memastikan apakah wajah yang ada di cermin itu adalah dirinya atau bukan.
"Kata orang kalau mimpi itu gak bakal sakit." katanya yakin, tanpa ragu Adel mencubit pipinya dengan keras.
"Aaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!!!"
Andre yang membantu David memakaikan setelan jas pengantin itu kaget setengah mati mendengar teriakan yang cukup nyaring dari dalam ruangan yang terdapat Adel di sana. saking kagetnya tanpa sengaja ia menarik dasi yang ia pasang dengan sangat keras hingga mencekik leher sang empu.
David mendorong badan Andre hingga ia mundur beberapa langkah dan setengah berlari menuju ruangan di mana asal suara teriakan tersebut dengan melonggarkan dasinya yang hampir membuatnya berhenti bernafas.
"Kalian siapa?!" kata Adel dengan menjaga jarak, ternyata semua yang ia alami bukanlah sebuah mimpi karena cubitan itu begitu nyata sakitnya.
"Nona..."
"Jangan mendekat," ujarnya dengan meraih apa pun yang ada di dekatnya dan bersiap melempar.
"Lo kenapa?" kata David yang takut terjadi sesuatu buruk, gimana gak mikir gitu kalo suara teriakannya aja ngalahin speaker parade.
"Kenapa Lo disini?" melihat David muncul, Adel sedikit merasa tenang meski masih tetap waspada.
"Ini ada apa?" katanya lagi.
David mendekat dan memberi isyarat kepada dua orang itu untuk pergi. dengan lembut ia meraih lipstik yang ada di tangan Adel dan meletakkan sembarangan.
"Baru bangun?" katanya pelan, seperti bicara dengan gadis kecil yang baru bangun dari mimpi indahnya.
Adel mengangguk pelan, tatapan mata David berbeda di bandingkan dengan biasanya. lebih lembut dan juga ramah.
"Mereka berdua adalah asisten MUA bukan orang jahat yang akan nyakitin." katanya pelan dan berhati-hati.
"Tapi buat apa?"
"Hari ini adalah hari pernikahan kita, jadi kita di sini untuk...." belum selesai ngomong udah di potong sama Adel.
"Apa?????!!!!!"
Refleks David menutup kedua kupingnya biar gak tuli karena teriakan Adel yang membahana.
********
Begitulah, persiapan pernikahan yang super singkat dan mengejutkan itu bikin Adel gak bisa ngomong apa-apa. Sebelumya gak ada pemberitahuan atau pun kode-kode dulu. langsung aja di jemput paksa dari sekolah, gak tau mau di bawa kemana dan pas udah bangun dari mimpi kejadian kayak gini.
Acara itu berjalan dengan sangat sakral, tidak banyak yang hadir dalam pernikahan ini. hanya keluarga inti dari David dan Adel..... tidak ada seorang pun yang hadir untuk menemaninya.
Adel sangat cantik dengan gaun berwarna putih dengan taburan kristal Swarovski dan make up natural. wajah Adel yang memang dari Sononya udah cantik plus manis itu semakin cantik dengan polesan make up yang tidak pernah ia pakai sebelumnya, bahkan David hampir tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Beberapa kali David harus membuang wajah untuk tetap bisa berpikir waras dan logikanya berfungsi dengan baik dan benar saat melihat betapa cantiknya Adel dan memilih untuk tidak mengatakan sepatah katapun dalam perjalanan menuju sebuah tempat dimana mereka akan mengikat sebuah janji sebagai pasangan suami istri.
Adel masih gak percaya kalau hari ini ia akan menjadi pengantin dan istri dari laki-laki yang kini duduk disampingnya. laki-laki yang sama sekali tidak pernah ia bayangkan bakal hadir dalam kehidupan dan pernikahan ini hanyalah sebuah pernikahan hitam di atas putih. bukan pernikahan sesungguhnya yang ia impikan selama ini.
Kalau dulu Adel selalu bermimpi menikah dengan seorang laki-laki yang mencintai dan menginginkannya untuk berbagi kehidupan selamanya hingga menua dan akhir hayat, kini ia menghadapi kenyataan bahwa pernikahan ini hanya sebuah perjanjian di mana akan berakhir hingga waktu yang telah mereka sepakati.
__ADS_1
Rasanya ada sesak di dalam hati saat mengingat itu semua, pernikahan yang ia inginkan satu kali dalam seumur hidup namun terjadi hanya sebuah permainan. Bagaimanapun ini adalah keputusan terbaik yang Adel miliki, keputusan untuk menyelamatkan orang-orang yang sangat penting dalam hidup Adel, lebih penting di bandingkan dengan memikirkan perasaan dan impiannya.