Kontrak Cinta 100 Hari

Kontrak Cinta 100 Hari
Kabur


__ADS_3

Mona yang dapat bocoran dari teman kerjanya di cafe langsung aja meluncur buat jenguk Adel yang katanya tadi pingsan di tempat kerja. dari cerita yang di dengar sih bikini hati Mona gak karuan, takut terjadi hal-hal yang gak diinginkan. bukan tanpa sebab sih, habisnya si ikhsan ceritanya di lebay-lebaykan.


"Halo?" kata Mona di via telpon, langsung ngacir gitu aja tadi gak sempat nanya di mana Adel di rawat saking gugup dan kagetnya.


"Iya."


Mona mengerjakan matanya, sejak kapan suara Adel berubah jadi suara cowok kayak gini. masih gak percaya dengan apa yang ia dengar ni anak langsung liatin layar HP-nya buat mastiin apa benar yang di telpon emang Adel, kali aja kan niatnya nelpon Adel tapi mencetnya nomor orang lain.


Terpampang nyata di layar HP-nya kalo nama Adel ada di sana, "Tapi kok bisa ya?" gumamnya.


"Ini HP-nya Adel kan?" katanya langsung ke inti.


"benar."


"tapi kok suaranya cowok sih..." masih bingung, gak mungkin juga kan kalo suara Adel berubah dalam waktu singkat.


"Kebetulan hp Adel ada di tempat saya."


Sebenarnya masih banyak hal yang pengen mona tanya, tapi entar aja lah itu hal belakangan aja yang penting tau dimana Adel berada sekarang.


"Adel nya di mana? trus keadaannya gimana sekarang? gak Sampek operasi atau amputasi kan? Adel masih bernafas kan???"


nih anak nyerocos kayak rem blong aja, gak ngasih jeda buat orang yang di seberang sana jawab pertanyaan demi pertanyaan yang ia ajukan.


David melihat layar hp yang di sana tertulis sweetie, awalnya David ragu buat ngangkat telpon yang masuk. liat nama yang ada di layar jiwa kepo nya mulai bangkit, bukan cuma kepo doang tapi lebih ke bingung. dari data lapangan yang ia kumpulkan nie cewek gak punya gebetan atau pacar, tapi tiba-tiba aja ada telpon masuk dengan nama yang mencurigakan.


"Saya akan mengirimkan titik lokasi Adel sekarang." jawab David dengan mengernyitkan alisnya, ternyata jauh dari apa yang ia bayangkan. bayangan David yang bakalan ia dengar adalah suara cowok, gak taunya malah suara cewek.


jangan-jangan Adel itu sebenarnya...


buru-buru David menghapus semua pemikiran itu dari isi otaknya dengan menggelengkan kepala, gak mungkin banget kan kalo Adel kayak gitu???


"iya."


Mona segera melihat titik koordinat dimana Adel berada dan langsung menuju ke tempat kejadian perkara secepatnya.


******


"Lo yakin Del?" tanya Siska sekali lagi, masalahnya mau dilihat dari sudut pandang mana pun rencana ni anak gak beres sebelum di realisasikan.


"Iya yakin lah.... Lo ragu?" tanya Adel balik.

__ADS_1


"Jujur gue emang ragu." ujar Siska mengakuinya, gimana gak ragu kalo rencana Adel ini kurang meyakinkan.


"Gak ada pilihan lain Tante, mau gimana lagi? masak iya gue jual ginjal buat bayar rumah sakit? itu pun kalo ada yang beli. atau gue jual diri???"


"Lo ngomong makin lama makin ngelantur, lagian kalo jual diri laku berapa?"


Adel tertawa ciut, emang siapa jua yang mau beli cewek punya badan gak ada seksi-seksi nya kayak dia.


"Ikutin aja deh apa yang gue katain." bisik Adel meyakinkan.


Adel mengedipkan matanya, menandakan kalo permainan segera di mulai.


"Duh Sis, bantuin gue ke toilet. perut gue mules nih...." kata Adel dengan nada tinggi dan gak lupa pakek acara meringis kesakitan biar semakin meyakinkan.


"Lo kenapa Del?" ucap Siska sok panik.


Radinta segera meletakkan majalah yang ia baca dan bergegas mendekati pasien VIP yang ia jaga, bagaimana pun itu semua adalah tanggung jawabnya untuk memenuhi semua yang di perlukan selama masih menjadi pasien rumah sakit ini.


"saya panggilkan dokter."


"Enggak usah, cuma mules mau ke toilet aja kok. gak perlu dokter." jawab Adel secepat kilat, gak lucu aja kan pas dokter datang dan semua bakal ketahuan cuma akal-akalan dia doang.


"Bantuin gue sis" kata Adel lagi buat meyakinkan.


Siska berdiri untuk memapah Adel yang sekarang itu cerita nya lagi sakit dan perlu bantuan buat ke toilet, aslinya itu anak sehat banget. jangan kan ke toilet doang, lari keliling lapangan pun bakalan sanggup.


Radinta segera berdiri di sisi berlawanan untung mengambil selang infus, "Sama saya aja mbak, ini sudah tanggung jawab saya."


Siska mundur dan membiarkan perawat itu mengambil alih tugas palsunya, sambil dalam hati ngomong kek gini.


"sorry banget ya, padahal kita gak punya dendam apa-apa tapi harus ngelakuin ini."


Adel mengulurkan kakinya dengan perlahan dan gak lupa megangi perutnya yang katanya sakit itu, turun dari tempat tidur aja udah ngalahin kura-kura yang super lambat. Siska yang ngeliat semua itu cuma bisa menghela nafas panjang, seharusnya temennya itu jadi aktris dan bermain drama. aktingnya itu yang meyakinkan banget dan sekarang lagi bermain drama kaleng rengginang.


"Hati-hati mbak." ujar Radinta perlahan dengan membantu pasiennya itu turun dari tempat tidur, wajahnya masih terlihat sangat pucat dan mungkin kekuatannya belum pulih sepenuhnya.


Dengan bantuan perawat itu akhirnya Adel masuk ke dalam toilet, "Biar aku aja yang bawa infusnya." ucap Adel.


"Gak pa-pa, saya sudah terbiasa. lagi pula kita sama-sama wanita."


Bukan itu maksudnya...

__ADS_1


kalo infus masih di pegang gimana mau kabur?!


Adel tersenyum tipis sambil muter otak buat cari jalan keluar, "Aduh gimana ya, aku gak terbiasa dan rasanya risih. bukan risih sih cuma malu...."


"Tolong ambilin handuk kecil itu." perintahnya dengan menunjuk handuk kecil yang ada di sudut lain, pas banget tuh sudut agak jauh dari pintu penyelamat yang bakalan ia gunakan buat kabur.


Radinta yang gak tau dengan rencana pasien nya itu hanya menuruti, wajar aja minta handuk buat pakek cuci muka atau apaan gitu.


Saat perawat itu berbalik dan mengambilkan handuk yang ia inginkan, Adel segera berlari ke arah pintu dan menguncinya dengan cepat.


Radinta yang kaget dengan tindakan itu segera mengurungkan niatnya, padahal tangannya udah megang tu handuk tapi cepat-cepat ia lepaskan.


Dok dok dok


Gedoran itu membuat Adel dan Siska melihat ke arah pintu dimana mereka mengurung perawat tersebut.


"Maaf mbak, cuma bentar aja kok. entar kalo ada yang datang bakal di bukain pintunya, tapi sebelum itu terjadi kita-kita mau keluar dulu. maaf banget ya...." kata Adel dengan menempelkan mulutnya di pintu.


"Bukain pintunya....!!!" Radinta menggedor pintu dengan sangat keras dan berusaha menarik pegangan pintu tapi gagal.


"Tuh kan Sis, gampang banget. Lo aja yang ketakutan." jawab Adel dengan bangga, bangga lah rencana dan aksinya berjalan dengan lancar tanpa hambatan layaknya jalan tol.


Siska meringis menanggapinya sambil menggigit bibir bawahnya dan menunjuk ke arah lain dengan raut wajah penuh petunjuk yang rumit.


"Lo kenapa sih?" tanya Adel bingung.


"Kayak liat hantu aja, mana ada hantu di siang bolong kayak gini?" katanya lagi yang masih gak paham kode-kodean yang Siska kasih. lagian perduli amat dengan kode itu, yang penting urusannya buat menyingkirkan perawat itu sementara waktu udah tercapai dan sisanya cuma ngurus buat kabur.


"Udah lah, ambil tas Lo. kita kabur dari rumah sakit ini sebelum ketahuan." ujarnya dengan melepas paksa jarum infus yang masih setia ada di tangannya, ada rasa sakit dan perih saat Adel melakukan nya yang membuat beberapa tetes darah keluar. dengan cepat Adel menempelkan plester perban yang telah ia siapkan, biar tu darah gak tambah banyak keluar.


Sementara Adel sibuk dengan acaranya sendiri, seseorang datang mendekat ke arahnya. kebetulan banget tempat Adel berdiri terhalang oleh dinding penyekat toilet yang gak bakalan kelihatan.


Dengan senyum dingin melebihi dinginnya es di kutub, David juga menambahkan tatapan tajam ke arah cewek bandel yang ternyata berencana kabur tersebut. David memasukkan sebelah tangannya ke dalam saku celana dan satu tangannya ia letakkan di dinding.


Adel yang sudah selesai dengan kerjaannya itu langsung berbalik dan saat itu juga ia melihat tatapan mata dingin menusuk tepat di depannya, rasanya waktu berhenti berputar dan bukan cuma waktu doang yang berhenti berputar tapi aliran darahnya juga ikutan berhenti mengalir saat melihat sosok itu. sosok laki-laki yang tentu saja kalo di bandingkan Adel gak bakalan ada apa-apanya.


"Hai"


Sapanya kaku dan beku.


*****

__ADS_1


__ADS_2