Kontrak Cinta 100 Hari

Kontrak Cinta 100 Hari
Perjanjian 2


__ADS_3

Emang sih semua isi perjanjian itu menguntungkan buat Adel, lagi pula tunangan yang di inginkan hanya terjadi dalam 100 hari dan setelah itu Adel bebas tugas dan kembali ke kehidupannya seperti biasa. lagian itu cuma pura-pura, bukan tunangan yang sesungguhnya.


Tapi mau di pikirin gimana pun masih terasa janggal, bukannya pertunangan itu adalah sebuah ikatan yang penting sebelum menuju pernikahan??? Lah ini malah di bikin main-main yang rasanya itu kayak gak bisa aja nerima ginian.


Sekali lagi Adel melihat isi perjanjian yang David sodorkan, membaca sekali lagi dan kali aja tadi ada yang kelewat atau Adel salah baca.


"Gue bikin bukan sembarang bikin dan gak ada istilah keuntungan mutlak di tangan gue. gue juga pertimbangan kan keuntungan buat elo." kata David yang sebelumnya telah memikirkan dengan matang apa yang ia lakukan saat ini.


"Tapi...."


"Kenapa?"


"Pacaran aja Adel belum pernah," kata nya polos.


David sejurus terdiam mendengar pengakuan cewek manis di depannya itu, emang sih sebelumnya David menyuruh orang lain mencari informasi tentang Adel yang hasilnya sangat memuaskan. Cewek itu emang belum pernah pacaran sama cowok mana pun walau ada beberapa orang yang dekat tapi kedekatan mereka hanya sekedar teman sekolah dan teman di kerjaan. walau udah tau, dengar secara langsung itu sensasinya beda bagi David. apa lagi keluar dari mulut Adel sendiri.


"Bacain om, kali aja mata Adel yang salah liat poin demi poin yang om tulis di sini." kata Adel.


David mengambil kertas yang tadi di tangan Adel dan kini berpindah kepadanya.


"Semua?"


"Terserah lah."


"Intinya, dalam waktu seratus hari sejak hari pertunangan kita maka gue akan memberikan biaya hidup selama kita menjalin kerjasama, fasilitas rumah dan alat transportasi itu tanggung jawab gue, biaya sekolah atau biaya lainnya itu juga tanggung jawab gue, dan kedepannya biaya kuliah sampai selesai tanggung jawab gue" kata David yang langsung ke inti di bandingkan baca satu persatu. "Selama elo berprilaku sebagai tunangan yang manis dan patuh, gak ada gosip atau skandal apa pun selama 100 hari maka semua itu bakal jadi milik elo. tapi, kalo Lo bikin ulah maka perjanjian batal seketika."


"Maksudnya skandal itu apa?" tanya Adel yang emang gak ngerti, sering dengar kata-kata itu tapi gak meresapi dan nyimak.


"Skandal yang di maksud adalah elo pacaran sama cowok lain, tentu aja itu merusak citra gue dan secara otomatis merugikan gue."


"Kalo om yang pacaran sama cewek lain gimana?" tanya Adel polos membalikkan pertanyaan.

__ADS_1


"gak bakalan,"


"bisa yakin gitu?"


"Gue janji. hidup gue itu rumit, posisi gue yang bikin gue gak bisa sembarang dekat sama cewek walau itu hanya sekedar teman."


Adel langsung duduk tegak, kalo gak bisa sembarang dekat yang sekarang mereka lakuin ini apa?


"Om, kita lagi duduk dekat nih. entar kalo jadi skandal gak emang gak pa-pa?" tanya Adel yang langsung liat sekeliling kali aja ada yang lagi ngikutin mereka.


"kali ini beda cerita, kan elo calon tunangan gue."


"idih pede, emang Adel mau gitu?" kata Adel lagi. habisnya nih orang sok yakin.


Adel mengetuk meja dengan ujung jarinya, memikirkan bagaimana caranya menolak kesempatan yang menggiurkan. gimana gak menggiurkan kalo semua bakal di tanggung dan fasilitasi sama om yang satu ini, tapi hati kecil Adel menolak karena rasanya janggal.


"Maaf om, kayak nya Adel gak bisa." kata Adel akhirnya.


"Makasih om udah nawarin Adel semu ini, om baik banget sama Adel tapi bagi Adel tunangan itu suatu hubungan yang gak bisa buat permainan. itu hal yang penting, lagi pula Adel pengen tunangan sama cowok yang benar-benar suka dan sayang sama Adel. bukan tunangan kerjasama kayak gini." kata Adel yang menyadari semua kesalahan tersebut.


"Iya."


"Gue bakal ngasih 50jt setiap bulannya selama 100 hari tersebut."


ya Tuhan...


50 Jeti Del....


kapan lagi Lo punya uang sebanyak gitu.


kerja Sampek mampus aja Lo gak bakalan bisa buat ngumpulin uang sebanyak gitu.

__ADS_1


"Biaya penuh selama Lo kuliah juga gue yang nanggung."


Gue gak perlu capek-capek kerja buat biaya kuliah gue...


hiks_hiks....


kenapa pilihan ini begitu sulit Tuhan....


Adel terdiam beberapa saat, "Enggak om, lagi pula Adel masih mampu kok kerja, cukup buat biaya hidup sehari-hari dan Adel percaya buat urusan kuliah Tuhan bakalan ngasih rejeki buat Adel om selama Adel masih sehat dan bisa kerja." katanya mantap.


David terkesima dengan jawaban dari Adel, terlihat sangat yakin dengan apa yang ia katakan tanpa ada terlihat keraguan di kedua matanya. Bukan pilihan yang salah bagi David untuk memilih Adel kali ini, hanya saja membujuknya itu yang akan memakan waktu. Coba aja kalo cewek lain gak bakal mikir dua kali apa lagi nolak di kasih kesempatan yang menggiurkan ini.


"Lo yakin? gue bakal kasih rumah buat elo."


Adel tersenyum lebar dan menggeleng pelan, "Om, seberapa pun uang yang om kasih itu bukan patokan buat Adel. lagi pula ini hidup Adel, jadi om gak perlu pusing-pusing buat nanggung hidup Adel. Adel masih sanggup kok om, Adel masih punya kaki dan tangan yang di pakek buat kerja."


"ok, kalo itu keputusan elo."


******


Mobil mewah berwarna merah metalik itu kini terparkir di depan sebuah rumah yang sangat sederhana yang hanya di terangi lampu redup ala kadarnya. Kawasan yang cukup sepi itu menandakan bahwa penghuni rumah telah larut dalam mimpi-mimpi mereka.


Adel mengambil tas dan bersiap untuk keluar, "Makasih om atas waktunya, udah di traktir makan dan kapan-kapan kalo uang Adel udah cukup bakal Adel ganti biaya rumah sakit yang om keluarin. maaf udah ngerepotin om yang tadi." kata Adel sopan, inget gimana kejadian demi kejadian yang bikin malu.


"kapan lo mau bayar tagihannya?" tanya David dengan wajah cueknya, mode cuek udah balik lagi gak ke pakek mode perhatian dan manis yang tadi ia perlihatkan.


"gak pasti sih, kalo udah cukup uang yang Adel kumpulin. tapi tenang aja om, Adel pasti balikin kok uang om dan baju ini."


"Ambil aja bajunya, gak usah di bayar."


"makasih, jadi berapa kira-kira yang harus Adel kirim?"

__ADS_1


sebenarnya dalam hati David merasa dongkol, ni cewek gak mau banget makek uangnya. udah berapa kali di bilangin kalo masalah biaya rumah sakit gak usah di pikir dan David rela, tapi tetep aja ngeyel mau ganti rugi.


******


__ADS_2