
"Maaf pak ada yang bisa saya bantu?" tanya Radinta yang kebetulan lagi kena piket siang, sebenarnya Radinta gak sendiri buat piket jaga di UGD tapi berhubung tiga temannya lagi keluar buat cari makan jadi tinggallah dirinya seorang diri. tadi Radinta udah duluan keluar buat makan sama satu temannya yang kebetulan udah pulang duluan karena ganti piket, maka x dia sendirian buat jaga UGD.
Mahasiswa keperawatan yang lagi magang itu merasa terkesima dan takjub melihat sosok tampan nan menawan di depannya, tapi emang udah dari Sononya menjiwai bidang yang sedang ia geluti itu membuatnya selalu mengatakan hal yang sama setiap ada pasien masuk tanpa komando alias refleks gitu aja ngomong.
"Ya Tuhan...." bisiknya tanpa sadar, berasa liat idol yang cuma muncul di televisi tapi ini versi nyata dan lebih berkilau di bandingkan mereka semua. dari ujung kaki Sampek ujung kepala tu cowok emang bener-bener sempurna tanpa cacat, baru kali ini juga ia liat yang tipe kayak gini, kalo tipe yang kayak gitu dan ginu udah biasa dan bertebaran di luar sana.
Gue kira yang jenis kayak ginian cuma ada di dunia sono, gak taunya emang beneran ada..
Batinnya yang mengagumi sosok luar biasa di depannya tersebut tanpa berkedip.
ini yang namanya karya Tuhan paling sempurna....
keren banget nih cewek...
Bisa di gendong sama cowok cakep kayak gini,kalo gue Sampek masuk liang lahat cuma bisa mimpi doang...
Hiks_hiks_hiks...
__ADS_1
nasib jomblo....
Jiwa ceweknya berontak pas liat cowok ganteng itu datang dengan keadaan ngos-ngosan dan bajunya basah karena keringat. kalo Radinta gak salah tebak pasti ni cewek datang kesini pakek acara lari, paling enggak jalan cepat (kalo di liat kondisinya pas datang dalam keadaan awut-awutan) tapi mau gimana pun hukum alam mengatakan cowok ganteng mah tetap ganteng walau kayak gini. mau kayak gimana pun tetap ganteng dari Sononya.... biar pun tu muka Cemong kena lumpur tetap ganteng.
"Dokter siapa yang jaga hari ini?" tanya David langsung (soalnya gak ada liat tanda-tanda kehidupan ada dokter yang jaga saat ini) dan meletakkan tubuh Adel di atas brankar dorong (yang lebih kita sebagai ranjang pasien di rumah sakit) dengan perlahan dan lembut. David membuka jaket yang sejak tadi menutupi wajah dan separuh badan Adel, merapikan rambut Adel yang berantakan dan menutupi wajahnya tersebut.
"Dokter Haris, tapi...." Radinta berhenti sejenak tidak meneruskan, terkesima dengan perlakuan lembut yang cowok itu lakukan terhadap pasangannya. Radinta tentu aja langsung memvonis mereka adalah pasangan, kalo enggak mana mungkin ada cowok semanis itu memberikan perhatian dan perlakuan terhadap lawan jenisnya.
"Panggil sekarang juga." ujar David dengan aura tajam, memerintah tanpa ingin di bantah. keluar dah jiwa pemimpin nya kalo dalam keadaan kayak gini, walau gak di buat-buat alias real tetap aja aura yang David punya itu sangat kuat dan bikin siapa aja bakal mematuhi perintahnya.
"Maaf pak, Dokter Haris masih ada rapat dengan Dokter lainnya sekitar satu jam lagi dan sementara itu saya yang bertugas dan bertanggung jawab untuk mengurus di sini." kata Radinta menjelaskan keadaan sekarang, bukan mengada-ada tapi emang kenyataan kalo sekarang semua dokter sedang rapat dengan pemegang saham. rapat tahunan yang sangat penting dan gak bisa di tinggalkan.
Radinta merasa salah tingkah dan segera melakukan tugasnya untuk memeriksa keadaan pasien yang sudah menjadi tugasnya tersebut. lagian kalo kelamaan di lihat kayak gitu bakalan mati berdiri. cewek berkulit sawo matang itu meletakkan telapak tangannya dan saat kulitnya menyentuh kulit pasien itu ia merasakan panas yang tidak wajar, dengan cekatan ia mengambil alat untuk memeriksa suhu badan dan juga infus serta perlengkapan lainnya.
David masih saja mengawasi tindakan yang di lakukan oleh perawat tersebut tanpa melepaskan ekor matanya, mengamati dengan sangat teliti dan memberikan penilaian tersebut untuknya. Tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulutnya dan ia memutuskan untuk menghubungi seseorang.
Haris memutar pulpen nya dengan rasa bosan yang sangat tinggi, gimana gak bosan kalo udah rapat selama tiga jam tapi gak ada juga titik temu. entah mereka yang terlalu banyak menuntut atau para pemegang saham yang ribetnya gak ketulungan, pokoknya males banget udah disini tapi gak ada pilihan lainnya selain duduk manis dengan mulut bungkam. salah ngomong aja udah berasa menggali kubur sendiri, jadi untuk sekarang itu diam adalah emas adalah istilah yang benar.
__ADS_1
Drrrrttt...
tiba-tiba Hpnya bergetar dan dengan sigap ia mengambil, tadi Harus sudah memberitahukan kalau saat ini gak bisa di ganggu gugat karena ada big bos super galak yang lagi berkoar-koar di depan. salah dikit aja langsung kena imbas yang bikin karir nya binasa dalam seketika.
Siapa yang nelpon gue sekarang?
Gak tau apa kalo gue sekarang sedang berhadapan dengan malaikat kematian??
Haris memiringkan kepalanya saat melihat nomor tanpa nama yang tertera di layar Hpnya, tanpa mikir dua kali langsung aja ia menekan tombol "tolak" dan memasukkan kembali hp tersebut kedalam kantong celananya. sebelumnya ia mematikan biar lebih aman dan gak ada gangguan dari luar.
David memandang kesal dengan apa yang Haris lakukan, saking kesalnya ia hampir menghancurkan Hp yang gak bersalah itu dengan menggenggamnya sangat kuat.
"Maaf pak, untuk saat ini saya belum bisa memasukkan cairan infus karena pasien mengalami dehidrasi cukup parah sehingga..." belum selesai Radinta ngomong ia melihat wajah sangat menakutkan yang langsung bikin nyalinya ciut dan memilih bungkam sambil berdoa di dalam hati di beri keselamatan.
Untuk beberapa kasus orang seperti dirinya memang sering mendapat perlakuan buruk dari keluarga korban yang gak terima dengan tindakan yang mereka lakukan meski sudah sesuai prosedur, cacian dan makian itu udah kayak masuk telinga kanan dan langsung keluar lewat telinga kanan pula. tapi kali ini beda, auranya sangat-sangat kelam dan menakutkan. benar-benar perubahan yang sangat drastis dari sosok berkharisma nan menawan menjadi sosok mengerikan yang sangat kelam.
"Kamu tetap disini sampai saya kembali kalo kamu gak mau berurusan dengan saya." ujar David dengan wajah marah.
__ADS_1
"Ba baik pak..." apa lagi yang bisa Radinta katakan dalam keadaan seperti saat ini, gak ada pilihan lain selain menuruti. lagian mau kemana juga dia, ada satu pasien yang harus sesegera mungkin ia berikan pertolongan karena pasien itu dalam keadaan kritis dengan suhu badan sangat tinggi mencapai 43'