Kontrak Cinta 100 Hari

Kontrak Cinta 100 Hari
Bensin VS Api


__ADS_3

Plak?!


Satu tamparan mendarat di wajah Adel dengan sangat mulus bagaikan jalan tol bebas hambatan.


Adel memegang pipinya yang terasa sakit itu.


"Dasar cewek ja*Lang?!" kata Lara dengan penuh amarah menatap cewek yang udah berani menggoda lelaki yang ia cintai sekaligus membuat benda kesayangan yang cukup bernilai itu kayak sampah.


Adel menatap balik tajam tanpa ampun seolah ingin menguliti cewek itu, bukan tamparan yang membuat Adel marah tapi kata-kata yang ia ucapkan. Bagaimana mungkin cewek itu bisa mengatakan dengan sangat mudah di depan orang banyak bahkan untuk orang yang belum pernah melakukan ciuman pertama dan juga berpacaran.


Lo harus membayar apa yang Lo lakuin barusan sama gue.


Adel berjalan mendekat ke arah Radit yang berdiri dengan santainya, gak ngerasa kalo cewek nya lagi ngamuk. mungkin cowok sa*leng itu lagi melihat tontonan gratis yang menyenangkan di bandingkan dengan melihat pertengkaran, buktinya aja keliatan adem ayem dan anteng-anteng saja.


Agak kaget Radit melihat reaksi yang di tunjukkan oleh Adel, tadi ngira bakal balas nampar atau ngapain tapi gak taunya malah berjalan mendekatinya. Radit masih bertanya-tanya apa yang akan Adel lakukan.


"Lo mau ngapain?" tanya Radit yang gak beranjak sedikit pun dari tempatnya.


Adel hanya tersenyum menanggapinya, gak harus menjawab pertanyaan yang menurutnya sia-sia itu. lagian gak penting banget kan?


Lara yang melihat aksi itu langsung menyadari bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi, instingnya sebagai wanita langsung bangkit dan itu refleks membuatnya menjadi siaga.


"Stop?!"


Terlambat, Adel gak bakalan mau dengerin tu cewek walau teriak sampek suaranya habis sekali pun. dengan sigap Adel mencengkram keras baju Radit yang membuat cowok itu kaget luar biasa. saking kaget nya bikin Radit melepaskan Hp dari tangannya tanpa sengaja.


Adel tersenyum sangat manis ke arah Radit dengan menggodanya, sengaja Adel melakukannya agar cowok itu tau siapa Adel sekarang yang gak bakal bisa di remehkan dengan mudah.


Adel menarik kerah baju Radit agar cowok tersebut menunduk dan wajah mereka sejajar, karena tinggi badan Adit yang cukup jauh berbeda itu agak susah Adel mensejajarkan wajah mereka. Saat wajah mereka benar-benar sangat dekat Adel menatap lekat mata cowok yang dari dulu selalu mem-bully nya tersebut, tatapan mata nakal nan menggoda yang Adel lakukan itu rupanya mampu membuat Radit ter pedaya. buktinya cowok itu hanya diam pasrah tanpa melakukan apa pun dan membalas tatapan Adel dengan lembut dan senyum manis.


"Lo pikir gue mau gitu sama Lo hah?" kata Adel sangat lembut, bahkan lebih lembut di bandingkan dengan permen kapas.


Radit hanya tersenyum menanggapinya, baru kali ini ia melihat kalau Adel begitu luar biasa. Gak nyangka kalo cewek yang selalu ia katakan itik buruk rupa itu memiliki sesuatu yang sangat berbeda dan menarik, sesuatu yang sangat luar biasa. Caranya menggoda itu sangat berbeda dengan wanita mana pun, membuat Radit gak pernah nyangka akan dalam posisi sekarang dimana ia harus mengakui dan menjilat ludahnya sendiri.


"Lalu yang Lo lakuin sekarang apa?" melirik ke arah tangan Adel yang menarik kerah bajunya hingga wajah mereka sangat dekat.


"Gak ada cuma mau bikin cewek Lo tau kalau cewek ja*ang kayak gue bisa juga bikin cowok bermartabat kayak Lo tertarik." katanya dengan nada mengejek sangat kental.


Adel melepaskan tangannya dan mendorong tubuh Radit hingga membuat jarak di antara mereka, udah dari tadi gatel-gatel badannya karena berdekatan dengan tu cowok.


Bukan hanya sekali, tapi dua kali Radit mendapat penolakan mentah-mentah dari ni cewek dalam waktu gak kurang satu jam. Radit tertawa kecil, menertawakan dirinya sendiri yang benar-benar telah masuk ke dalam perangkap.


Lara dengan sigap menarik tangan cewek yang dengan sengaja menggoda cowoknya itu, bagi Lara gak ada satu pun orang yang bisa memiliki Radit selama ia masih hidup. siapa pun lawannya bakal Lara hadapi tanpa gentar, dan itu telah ia lakukan berulang kali dan membuatnya hanya satu-satunya orang yang ada d hidup Radit.


"Lihatakan apa yang gue bilang tentang Lo, bahkan Lo berani ngelakuin di depan semua orang. kalau wanita baik-baik gak bakal Lo ngelakuin hal rendah kayak gitu."


"Hal rendah apa? emang gue ngapain?" kata Adel dengan wajah sangat tenang tapi siapa, menghadapi orang yang seperti ini harus dengan sikap yang sebaliknya untuk membuatnya kalah telak. Bukan emosi yang menjadi patokan dalam permainan, tapi otak dan akal yang bekerja.


"Lo liat sendiri kan? baru gue deketin kayak gitu cowok Lo udah pasrah aja. padahal gue gak ngapa-ngapain, gue gak ngelakuin apa-apa tapi bisa-bisa nya di depan elo dia kayak gitu." lagi-lagi senyum manis yang sangat menyebalkan itu Adel perlihatkan. sengaja biar buat suasana tambah panas.

__ADS_1


Lara tak bisa menampik apa yang ia dengar, memang Radit terlihat sangat menikmati apa yang cewek itu lakukan. bukan hanya menikmati tapi malah menunggu kelanjutan tanpa ada penolakan sama sekali.


"Jadi sekarang Lo liat siapa yang cewek ja*ang atau cowok ja*ang." melepas pegangan tangan yang kuat itu dengan satu sentakan.


"Gue yang cewek penggoda atau cowok Lo yang emang dari sononya udah gatel dan otaknya ngeres." mendekatkan mulutnya s


tepat di samping kuping ni cewek biar bisa denger dengan sangat-sangat jelas.


"Sama cewek kayak gue aja kepancing, padahal kan gue cuma pelayan cafe yang gak ada apa-apanya di bandingkan nona dari keluarga terpandang dan kaya kayak elo." kata Adel sengaja menyiramkan bensin pada api, biar tambah gede tu api dan bikin kebakaran.


"Atau jangan-jangan elo cuma cewek yang ngaku-ngaku jadi pacarnya Radit? soalnya dari tadi yang berkoar-koar cuma Lo doang. Radit nya anteng-anteng aja tuh." melempar tatapan mata ke arah Radit yang emang gak bereaksi apa pun itu.


Lara yang udah mendidih dan berapi-api itu langsung aja kebakaran dengernya.


"Beb???" katanya dengan manja, pengen dapat dukungan penuh dan menunjukkan kalau apa yang di katakan itu adalah bohong besar.


Radit hanya mengendikkan bahunya dengan sangat-sangat santai dan memberikan ciuman jarak jauh kepada Lara yang udah kayak emaknya naga.


Mendapatkan dukungan penuh dari sang pujaan hati bikin Lara tambah yakin dan berani, dengan senyum mengejek yang menjadi ciri khasnya itu Lara langsung mendekati cewek gak tau diri itu dengan mengambil syal miliknya yang jatuh dan kotor itu.


"Lo tau gak, syal ini gue beli di Paris dengan harga yang kalau gue sebutin bikin Lo jantungan." melemparnya tepat di depan kakinya, Lara menginjaknya seperti yang cewek itu lakukan.


"Tapi sekarang nilai dan kualitas ni syal gak ada apa-apanya di bandingkan sama serbet." menendangnya asal.


"Sama kayak Lo, gue kira Lo cewek baik-baik tapi gak ubahnya kayak Pela*ur setelah apa yang Lo lakuin barusan. Lo tau gak pribahasa buah jatuh gak jauh dari pohonnya?" Lara mendekat, "Gue rasa nyokap Lo juga sama dengan Lo yang seorang ja*ang."


"Ada apa ini?" tanya David yang menemukan sumber keributan itu di dekat mobilnya. Tampak Adel yang berdiri dengan wajah merah padam siap tempur itu mampu menarik perhatian David dan rasa penasaran nya itu menjadi semakin besar.


David berjalan dengan cepat ke arah Adel, melihat wajah Adel yang sudah merah padam itu ia tidak dapat membayangkan apa yang akan cewek itu lakukan dan untuk mencegah semua kemungkinan buruk yang akan terjadi maka David harus menghentikannya.


Lara, orang pertama yang menyadari saat seseorang berjalan dengan cepat ke arah nya. Seorang cowok yang sangat-sangat rupawan, dari cara jalan aja udah terpancar kharisma yang sangat luar biasa. Bahkan Lara sempat memperhatikan dari ujung kaki hingga kepala cowok itu memakai pakaian branded dengan edisi khusus yang tentu saja langsung memperlihatkan jati dirinya kalau bukan orang sembarang. Orang ekonomi kelas bawah gak bakalan mampu buat beli barang-barang seperti itu. Bukan hanya itu yang membuat Lara tercengang, selama ini ia hanya melihat bahwa Radit adalah cowok paling ganteng yang pernah ia temui. Tapi kali ini semua langsung terbantahkan dengan kehadiran cowok tersebut, cowok itu jauh lebih ganteng dan gagah di bandingkan degan Radit dan itu yang membuat seolah-olah dunia berhenti berputar di sekitarnya.


"Ada apa ini?" kata David.


Di kuasai amarah yang siap meledak Adel tidak menjawab pertanyaan itu dan masih menatap tajam cewek di depannya.


"Wanita ini menggoda laki-laki yang telah memiliki pasangan di depan umum." kata Lara yang tentu saja ingin mengambil kesempatan dalam hal ini, mencari simpati sebagai korban.


David melihat cewek yang barusan menjawab pertanyaan, seorang cewek yang full make up dan juga glamor. Di liat sekilas David tau kalau cewek yang punya selera tinggi ini adalah lawan dari Adel.


"Wanita ini?" menunjuk ke arah Adel, yang tentu aja David gak bakalan percaya.


"Iya, dia menggoda kekasih saya tuan." menunjuk Radit yang berada tak jauh dengannya.


David memindai cowok yang katanya di goda sama Adel, bukannya David merasa besar kepala atau apa lah namanya tapi menurut nya cowok yang di maksudkan itu bukan tandingannya. Jadi, kalau dia aja gak mempan buat Adel pastinya cowok itu juga gak ada apa-apanya. Hanya senyum yang David perlihatkan sekilas, dari apa yang di katakan dan keadaan Adel yang ia lihat saat ini kalau semua itu adalah bohong.


"Bagaimana caranya?" tanya David yang merasa sangat penasaran, rasa itu muncul karena David telah menggoda Adel sangat intens beberapa waktu yang lalu tapi tu cewek gak merespon sama sekali. Jadi wajar aja kalau David merasa sangat-sangat penasaran.


Ini adalah hal yang tak terduga oleh Lara juga kesempatan emas yang gak bakal datang dua kali, siapa sih yang gak tergoda dengan cowok sempurna seperti di depannya. cowok yang gak bakalan ada yang nolak bahkan cewek bakal dengan suka rela menjatuhkan diri dalam pelukannya. Walau Lara bisa di bilang bucin dan cinta mati sama Radit, tapi kalo ada cowok yang lebih hot kayak gini siapa sih yang bisa nolak. lagi pula Lara udah lumayan bosan di selingkuhi Radit dengan banyak cewek yang gak bisa lagi di itung sama jari saking banyaknya.

__ADS_1


Lara berjalan mendekat, mencengkram kerah baju cowok ganteng itu seperti apa yang ia lihat. ternyata cowok ini lebih tinggi di bandingkan dengan Radit, walau Lara memiliki tinggi badan yang lumayan jika di bandingkan dengan cewek lainnya ia harus berusaha sedikit lebih keras untuk membuat mereka sejajar.


G*la, ni cowok ganteng banget di liat dari dekat. Mana harum banget lagi, pokoknya luar biasa sempurna di liat dari mana aja. Gue gak bakal nyesel ninggalin Radit buat cowok kayak gini.


David sebenarnya gak suka dengan perlakuan yang ia dapatkan, apa lagi ini tempat umum dan banyak orang yang melihat. Bagaimana mungkin ia bermesraan dengan cewek tipe kayak gini? cewek yang ngelakuin hal memalukan di depan pasangannya. Tapi ini juga kesempatan buat David menarik perhatian Adel, apa kah reaksi yang ia perlihatkan jika ini semua terjadi.


Adel yang udah marah itu langsung membuang muka dan berjalan cepat meninggalkan David, bukan marah karena cemburu tapi lebih gak pengen liat adegan berbahaya buat anak di bawah umur yang cuma ngotorin matanya doang.


Dengan gerakan tiba-tiba David menyentak tangan yang memegangi leher bajunya dan meninggalkan cewek asing yang sedang merayunya itu, cara klasik yang David udah enek liatnya. Bukan kali ini doang David dapat perlakuan kayak gini, bahkan David pernah menghadapi yang lebih ekstrim dari cewek setengah g*la yang mengejarnya hingga ke kamar hotel dan itu semua bagi David tidak menarik sama sekali apa lagi cuma kayak gini yang gak ada apa-apanya.


"Lepas?!" kata Adel dengan kasar saat sebuah tangan menarik tangannya, ia melihat David berdiri di belakangnya.


"Lo mau kemana?"


"pulang, lanjutin aja tu adegan kalian berdua." katanya dengan berusaha melepaskan pegangan tangan David yang semakin lama semakin kencang mencengkram bahkan David tak berniat melepaskannya.


"Lo pikir gue berminat sama cewek kayak gitu?" kata David sengaja menaikkan nada bicaranya biar cewek yang di maksud mendengarnya dan seperti nya berhasil. Sekilas David melihat perubahan mimik wajah.


"Maksud elo apaan?"


Dengan sekali sentakan, tubuh mungil Adel langsung jatuh ke dalam pelukannya. David memegangi pinggang kecil itu agar tetap di dekatnya, kucing kecil ini sangat lihai untuk melarikan diri dan bersikap tidak terjadi apa pun.


"Apa bener yang dia katakan?" kata David menatap lekat wajah Adel.


"apa?" tanya Adel bingung.


"Lo goda cowok orang,"


"Hah?" Adel mengerjapkan matanya.


David melepaskan tangannya dari pinggang Adel dan menggenggam tangannya dengan erat, berjalan ke arah cewek yang tadi berusaha merayunya dengan trik murahan.


"Dia bilang Lo godain cowoknya, apa itu cowoknya?" melemparkan tatapan mata tak suka ke arah cowok yang di maksud.


Adel menatap tajam wajah Radit dan ceweknya secara bergantian.


"Selera Lo buruk banget, cowok kayak gitu Lo doyan?" kata David meremehkan.


Radit yang merasa terhina itu langsung berjalan mendekati cowok yang gak tau dari mana timbanya dan tiba-tiba datang merusak kesenangannya.


"Apa maksud Lo?"


"Gue bicara sama cewek gue, bukan sama Lo." kata David dengan menaikkan nada suaranya.


"Adel adalah cewek yang udah lama gue incar sebagai calon istri gue."


Wajah Lara menjadi pias saat mendengarnya, itu bagaikan laut di tengah Padang pasir. mana mungkin cowok sekeren itu bisa menginginkan cewek yang cuma kayak gini jadi calon istri nya.


"Gue gak percaya dengan omongan cewek yang ngatain cewek gue godain cowoknya, bahkan sekali liat aja Lo itu bukan tandingan bagi gue."

__ADS_1


******


__ADS_2