Kontrak Cinta 100 Hari

Kontrak Cinta 100 Hari
Bocil


__ADS_3

Adel memejamkan matanya, bayangan tatapan mata mengerikan serta senyuman sedingin es itu membuatnya bergidik, baru liat gitu aja nyalinya udah langsung ciut dan kempes. semangat empat lima yang tadi udah membara langsung padam seketika dan kalo di bayangin lagi berasa horor luar biasa.


"Kenapa Lo gak bilang kalo ada..." bisik Adel ke arah Siska yang juga kelihatan panik banget, iya lah panik... orang ketangkap basah gitu alias gak bakal selamat.


David mengeluarkan perawat yang terkurung atau lebih tepatnya di kurung tersebut dengan tangannya sendiri akibat ulah dua orang cewek tersebut.


Radinta lega bercampur kaget, lega karena terbebas dari toilet tapi kaget setelah melihat siapa yang mengeluarkan nya dari sana. entah lah, ini sebuah keberuntungan atau malah buntung.


"Maaf tuan, ini semua kesalahan saya." ucapnya cepat dengan menundukkan badannya sedalam mungkin, mau gimana pun ini adalah kecerobohan nya yang dengan mudahnya percaya dan di kelabuhi. lebih baik mengakui kesalahan di bandingkan berkelak yang gak bakal selamat juga.


David menatap sekilas perawat tersebut dan kini beralih dengan dua orang cewek yang ada di belakangnya.


"Penjelasan apa yang kalian miliki." katanya dengan nada datar, bukan cuma nada suara yang datar tapi raut wajahnya juga datar. udah saingan sama tembok ekspresi tu cowok.


Adel mengerjakan matanya, entah kenapa ni otak yang tadinya beterbangan ide-ide cemerlang langsung gelap gulita gak ada pencerahan sama sekali. kalah telak sama aura cowok yang ada di depannya itu.


"Apa yang kalian lakukan itu adalah tindakan kriminal, mengurung seorang perawat di dalam toilet." ujar David dengan melonggarkan dasi serta membuka kancing paling atas kemejanya, ia kira menangkap kelinci kecil tapi ternyata ia menangkap kancil kecil yang cukup menyusahkan. untung aja suasana hatinya dalam keadaan baik, kalo gak bakal kena dampak semprotan dua orang cewek tersebut.


"itu...."


cuma itu doang yang keluar dari mulut Adel.


Barusan David menyingkirkan parasit dan sekarang ia harus menyelesaikan amoeba yang nyusahin.


David membuka lemari pendingin dan mengambil air mineral dingin, pengen banget marah sama dua cewek di depannya itu. bukan karena mereka pengen kabur tapi karena tindakan mereka itu bisa membahayakan nyawa mereka sendiri. gimana gak bahaya kalau Adel yang masih belum pulih itu meninggalkan rumah sakit dengan keadaan seperti ini. hanya dengan satu kali tegukan ia menghabiskan hampir separuh isi botol dan dengan kasar melemparkan ke arah tempat sampah di dekat pintu masuk.


Adel kaget setengah mati mendengar suara nyaring botol yang masih berisi itu menghantam dinding rumah sakit, rupanya tujuan David bukanlah tempat sampah tapi jelas-jelas dinding tersebut untuk merebut perhatian mereka berdua tertuju padanya.


"Tolong ambilkan jarum dan selang infus baru sekarang," ujar David kepada perawat yang hanya bisa berdiri membisu menyaksikan apa yang ia lakukan, David tahu dengan pasti bahwa perawat tersebut tidak memiliki kesalahan apa pun dalam hal ini dan dia juga bukan orang yang menjadikan orang lain sebagai kambing hitam.


"ba-baik tuan." ucapnya gugup dan segera keluar.


Kini pandangan mata David tepat ke arah Adel, cewek keras kepala yang membahayakan nyawa nya sendiri.

__ADS_1


Adel yang sadar lagi di kuliti hanya dengan tatapan mata langsung menundukkan wajahnya dan memainkan jari-jarinya karena takut. gak bakal nyangka kalo ni orang bakalan semenakut kan ini pas marah.


"Adelia Putri, seharusnya ada alasan logis yang akan anda berikan bukan?"


Ayo Del....


mikir....


hidup lo dipertaruhkan ini...


Adel meneguk ludah, kenapa lidah yang gak ada tulangnya itu tiba-tiba kaku dan gak bisa bergerak. bukan cuma lidahnya tapi semua anggota tubuhnya ikutan kaku, ini nih udah kayak gejala stroke.


"Itu...."


kok bisa-bisanya cuma ini doang yang keluar dari mulut gue sih?


Tidak mendapatkan jawaban yang ia inginkan, David beralih ke teman Adel yang keliatan banget kalo gugup dan takut tingkat tinggi.


"Jawab pertanyaan saya atau kalian akan saya laporkan ke pihak berwajib atas tindakan yang telah kalian berdua lakukan kali ini?" kata David tegas.


wuih, serem banget...


David mengerjakan matanya, orang semuda dan seganteng dia di panggil om???


emang keliatan udah kayak om-om gitu di mata bocil macam mereka?


"kami pengen kabur karena kami gak sanggup buat bayar tagihan rumah sakit." cerocos siska. jujur banget.


"Gak ada pilihan lain buat kami selain kabur, jangankan jual diri, jual organ pun gak bakalan cukup buat bayar."


David yang denger alasan itu hanya bisa menahan napas, alasan macam apa lagi ini?


bawa-bawa jual diri sama jual organ segala.

__ADS_1


"Kalo om sih enak, di lihat dari penampilan om sekarang om itu punya duit. kalo kami? dari mana kami dapat duit sebanyak itu?"


Adel hanya mengangguk pelan membenarkan apa yang Siska katakan, lagian mau bikin alasan apa pun gak bakalan bisa saat ini kecuali ngomong yang sejujurnya.


"Om juga gak mikir dulu atau setidaknya diskusi dulu bawa Adel kesini. rakyat jelata macam kami mana sanggup om buat ngeluarin uang sebanyak itu."


"Bener yang Siska bilang, seharusnya om kan minta persetujuan dulu sama aku sebelum ngambil tindakan." timpal Adel yang lidahnya udah mulai lentur.


Dua orang bocil bersatu untuk menyerang David, tanggapan David hanya bisa diam. lagian ngeladenin mereka gak bakal ada untungnya.


"Jadi dalam hal ini kami gak salah, om yang salah."


Nah Lo, udah di tolongin malah nyalahin pula.


"Jadi saya harus minta persetujuan dari orang yang tidak sadar dan hampir pergi ke alam baka?"


Adel memiringkan kepalanya, mencerna apa yang ia dengar.


"Lebih mudah bernegosiasi dengan malaikat maut saat itu." ucapnya dengan menekankan setiap kata yang keluar dari mulutnya.


Adel kehabisan kata-kata untuk melawan om-om yang satu ini.


tatapan mata David tertuju di lengan Adel yang kini meneteskan darah, kayak nya yang punya gak sadar dengan apa yang terjadi. David mengambil tissue yang tak jauh dari jangkauannya dan berjalan mendekati Adel. keliatan banget kalo wajah Adel pucat pasi, gitu aja masih ngeyel mau pakek acara kabur segala.


Adel mundur beberapa langkah, refleks aja ngelakuin itu.


"Lihat, ini perbuatan heroik sok benar yang kamu rencanakan?" katanya dengan berlutut dan mengambil tangan Adel yang berlumuran darah.


Adel kaget setengah mati mendapat perlakuan tersebut, di luar dugaan bahwa cowok serem itu ternyata memiliki sisi lembut di balik sisi seramnya.


Dengan hati-hati David menghapus darah yang mengalir dan menekannya dengan lembut untuk menghentikan pendarahan.


Seketika Adel terkesima dengan apa yang ia dapatkan, bagaimana mungkin orang asing bisa memperlakukannya seperti ini. bahkan dari tempat ia berdiri Adel dapat melihat dengan jelas apa yang laki-laki ini lakukan. ia melakukan dengan perlahan agar tidak menyakitinya, wajahnya yang tadi terlihat menakutkan kini terlihat jelas gurat-gurat kekhawatiran.

__ADS_1


Entah lah, wajah Adel memerah mendapatkan semua perhatian yang tidak pernah ia dapatkan sebelumnya.


******


__ADS_2