Kontrak Cinta 100 Hari

Kontrak Cinta 100 Hari
Mama


__ADS_3

Adel merasa seluruh badannya menjadi lemas saat mendengar penjelasan dari dokter tentang penyakit yang nenek derita. Selama ini nenek tidak pernah sekalipun mengeluh tentang kesehatannya, atau Adel yang tidak peka tentang kesehatan nenek. waktu Adel lebih banyak di habiskan di luar rumah di bandingkan bersama nenek. bukan karena keinginan dan kesengajaan Adel, keadaan yang menuntut Adel menjalani kehidupan seperti ini.


Tidak ada kata yang bisa Adel untuk ungkapkan tentang bagaimana perasaan nya saat ini, duduk di lantai rumah sakit dengan memeluk kedua kakinya adalah cara terbaik yang bisa Adel lakukan saat ini untuk menata hatinya yang hancur berantakan dan menenangkan pikirannya.


David membiarkan Adel sendiri, menenangkan pikirannya tanpa ingin mengganggu. ia tahu bahwa saat ini Adel masih syok, itu memerlukan waktu untuk membuatnya kembali.


Saat dokter berusaha mendekati Adel, David memberikan kode untuk menjauh. Setidaknya hanya ini yang bisa David lakukanlah untuk melindungi Adel saat ini agar tidak terluka lebih dalam lagi.


"Saya yang akan bertanggung jawab penuh mengenai biaya rumah sakit." kata David yang seakan tahu apa yang akan dokter katakan walaupun belum mengatakan sepatah kata pun.


"Tuan, pasien memerlukan tindakan secepatnya." kata dokter lagi, selain mengenai biaya ada hal lain yang lebih penting di lakukan saat ini.


David melihat sejenak ke arah Adel, mungkin David mampu membayar semua biaya rumah sakit dan pengobatan tapi dia tidak memiliki wewenang penuh untuk mengambil keputusan.


Bagaimanapun Adel adalah keluarga dari pasien satu-satunya yang ada disini dan saat ini, sedangkan David bukan lah keluarga dari pasien.


"Beri saya waktu sepuluh menit untuk bicara dengan keluarga pasien." kata David meminta waktu, bicara secara perlahan


Berat rasanya bagi David membangunkan Adel dari kesendirian nya dalam menata hati, bukan perkara yang mudah menerima pukulan sedemikian rupa. Tidak ada seorang pun yang mendampingi dan dapat di hubungi sebagai keluarga, David mampu merasakan apa yang saat ini Adel sedang alami.


"Adel..." kata David lirih dengan menyentuh pundak Adel perlahan, terasa berat membangunkan cewek itu untuk menghadapi kenyataan yang ada di depan mata.

__ADS_1


Adel mengangkat wajahnya yang sembab, pikirannya benar-benar kacau saat ini.


"Dokter perlu keputusan tentang nenek secepatnya." katanya hati-hati dan lembut.


Adel mengusap wajahnya kasar dan menarik nafas panjang, bukan saatnya untuk bersedih atau pun bersikap seolah dunia akan hancur hari ini. Ada nenek yang saat ini membutuhkan dorongan semangat.


"Apa pun yang menurut dokter baik, Adel bakal ikut." itu adalah keputusan yang terbaik yang bisa Adel lakukan, setidaknya dokter lebih tau apa yang perlu di lakukan di bandingkan dirinya.


David mengangkat sebelah tangannya dan mengusap rambut Adel lembut, bagaimanapun saat ini adalah situasi yang berat tapi Adel berusaha untuk tidak larut dalam emosi terlalu dalam dan mencoba untuk tegar.


"Dan untuk biaya, tolong om bayar dulu. nanti bakal Adel ganti kalau sudah ketemu mama." Tidak ada jalan lain kecuali mengandalkan laki-laki yang kini ada di depannya tersebut tapi bukan berarti Adel memanfaatkan nya dan ingin mengambil keuntungan dari semua kejadian ini. Bagaimanapun yang namanya hutang itu harus tetap di bayar apa pun alasan dan keadaan nya.


"itu..."


****


Operasi berjalan dengan lancar seperti yang di harapkan meski itu memakan waktu yang cukup lama dan membuat dua orang yang sedang menunggu merasa gelisah.


usah kayak setrikaan yang mondar-mandir, yang kayak gitu si Adel doang. kalo David duduk anteng sambil liatin Adel yang maju mundur gak karuan itu dan sesekali melihat ke arah pintu ruang operasi dengan harap-harap cemas.


Dokter bilang kalau nenek mengidap kanker otak stadium 3 yang membuat Adel merasa lemas, semalam ini Adel tidak pernah melihat nenek menunjukkan gejala apa pun atau nenek tidak pernah terlihat sakit. tapi dari sekian alasan yang ada, Adel merasa sangat bersalah karena menjadi cucu yang tidak peka dan tidak tahu bagaimana keadaan nenek selama ini meski mereka tinggal dalam satu atap dan bertemu setiap hari.

__ADS_1


perasaan bersalah itu tidak dapat Adel ungkapkan dengan kata-kata dan hanya penyesalan yang sangat dalam yang kini Adel rasakan.


"Adel?"


Seorang wanita separuh baya namun terlihat masih sangat cantik dan anggun itu datang dengan setengah berlari ke arah Adel dengan wajah sangat cemas.


suara langkah kakinya memecah keheningan koridor rumah sakit.


"Bagaimana keadaan nenek?"


"mama?" tiba-tiba mata Adel berkaca-kaca saat melihat mama datang dan memegang tangannya. air mata yang sejak tadi ingin sekali tumpah dan tertahan itu kini akhirnya tak dapat lagi Adel bendung, "Ma, Adel takut ma...." katanya dengan memeluk erat wanita yang sangat ia rindukan tersebut.


Wanita itu adalah mama Adel, sejak mendapat pesan teks dari putrinya tersebut ia segera pergi untuk menemui. menuju alamat yang Adel berikan meski berapa kali mencoba menghubungi selalu gagal.


"Maafkan mama Adel .. mama benar-benar gak tau, bukan maksud mama...." kedua wanita itu pecah dalam tangis yang pilu memecah keheningan koridor rumah sakit. untung aja d ruang operasi lagi sepi, kalo enggak bakal mengganggu pasien lainnya.


Tak ada yang bisa di lakukan kecuali hanya menangis dan meratapi semuanya. Bukan pilihan yang mudah untuk meninggal ibu yang telah membesarkan dan menyanyi serta putrinya, keadaan menuntut seperti ini. faktor ekonomi dan kelangsungan hidup lah yang membuatnya menjadi anak sekaligus ibu yang terlihat meninggalkan orang tua satu-satunya serta putri tertuanya. Bagaimana pun membujuk, Adel tidak pernah bergeming untuk ikut bersama dan bersikeras tetap tinggal bersama dengan nenek.


Memang pilihan yang sulit, namun tak mungkin memilih tinggal bersama saat sang suami bertugas di kota yang berbeda. lagi pula, putri tertuanya memerlukan biaya untuk sekolah dan hidup. Sangat beruntung, menemukan seorang laki-laki yang mampu menerima dan memberikan nafkah serta biaya penuh untuk hidup dan pendidikan putrinya meskipun yang yang setiap bulan ia kirimkan hampir tak pernah di sentuh dengan alasan bahwa Adel masih bisa mencari uang sendiri dan itu akan ia gunakan suatu saat nanti untuk biaya kuliah.


"Gak pa-pa, mama sudah ada di sini. gak usah takut, mama ada kok. yakin kalau semua akan baik-baik saja." memeluk erat dan mengelus lembut rambut Adel, meskipun kata-kata yang keluar dari mulut sangat berbeda dengan apa yang ada di dalam hati.

__ADS_1


Adel membenamkan dirinya dalam pelukan hangat itu, bagaimanapun pelukan ini yang paling nyaman dan hangat yang sangat ia rindukan.


__ADS_2