Kontrak Cinta 100 Hari

Kontrak Cinta 100 Hari
Rencana


__ADS_3

Sebenarnya banyak pertanyaan yang ada di dalam kepala Haris yang ingin sekali ia tanyakan pada David, bagaimana bisa David datang dan menerobos meeting tadi dengan sikap acuhnya yang udah permanen dari Sononya.


"Siapa yang Lo bawa?" tanya Haris akhirnya, dari semua pertanyaan yang ada di dalam kepalanya, pertanyaan ini adalah hal pertama yang sangat ingin ia ketahui. Haris tau dengan pasti jadwal padat David setiap harinya dan sekarang orang super sibuk itu ada di rumah sakit pada jam-jam seperti ini adalah sesuatu yang bisa di bilang mustahil.


Tanpa menjawab David meneruskan langkah nya yang setengah berlari tersebut, di dalam hati dia sebel banget dengan pelayanan rumah sakit yang sangat tidak memuaskan ini. bagaimana bisa meninggalkan UGD hanya untuk rapat gak penting kayak tadi.


Haris memilih diam karena diamnya David adalah pemicu malapetaka kalo dia masih bersikeras memberikan pertanyaan yang sama.


"Bagaimana keadaan pasien Radinta?" tanya Haris setibanya di UGD dengan cepat ia mengambil alih.


"Pasien mengalami demam tinggi dan juga kekurangan cairan dok." katanya lagi dengan menepi dan memberikan ruang untuk dokter Haris yang datang dengan tergopoh-gopoh.


Radinta sesekali mencuri pandang ke arah laki-laki tampan yang penuh kharisma tersebut, dia merasa bingung sekaligus kagum bagaimana mungkin bisa membawa dokter Haris yang seharusnya masih ada di ruang rapat saat ini.


"Siapkan ruang rawat inap VIP sekarang dan jadwal dokter Wahyu untuk sesegera mungkin menangani."


Haris mendekati David yang masih berdiri dengan menyandarkan badannya di dinding rumah sakit itu.


"Demamnya tinggi banget jadi gue rasa kita harus rawat inap."


David mengangguk pelan untuk mengiyakan.


"Gue mau perawat itu yang menjaga Adel selama ada di rumah sakit, gue bakal bayar jasanya."


Haris yang tadinya mau membalikkan badan langsung membatalkan niat nya mendengar apa yang David katakan.


"Radinta maksud Elo?"


"Iya."


"Dia hanya perawat magang dan baru satu Minggu."


"Gak masalah, gue sudah liat bagaimana dia bekerja dan gue mau dia yang menjaga Adel selama di rawat."


Haris memiringkan kepalanya dan berdiri tepat di depan David, dengan senyum geli ia menatap mata David.


"Lo kenapa?" ucapnya risih di liatin kayak gitu.


"Gak, gue seneng aja akhirnya gak bakal lama lagi gue bakal dapat undangan dari Lo."


****

__ADS_1


Yang pertama Adel rasakan adalah kepalanya yang berat dan juga kedua kelopak matanya yang sudah banget buat di buka, udah berusaha berapa kali pun tu mata kayak berasa ada tongkat dan lemnya. biasanya kalo mau melek tinggal melek doang, tapi ini harus pakek perjuangan segala cuma buat melek doang.


Gue ada dimana?


Saat mata Adel terbuka yang ia lihat adalah dinding berwarna biru laut dan jendela dengan kaca lebar dan tinggi yang tentu aja itu adalah bukan kamarnya atau tempat yang pernah ia kunjungi.


Ia memalingkan kepala untuk melihat sekeliling nya, memastikan dimana ia berada saat ini dan lagi-lagi Adel sama sekali tidak mengenali tempatnya sekarang.


"apa gue udah mati ya?" bisiknya pelan.


"Enak aja Lo mau mati semudah itu."


langsung aja Adel noleh pas denger ada yang jawab, kirain tadi gak ada orang tapi tahunya ada yang jawab di sampingnya.


"kok elo disini?" tanya nya kaget pas liat Siska yang duduk manis di sampingnya sambil ngeliatin Adel dengan tatapan mata tajam.


"nungguin putri tidur yang gak bangun-bangun." katanya.


Pas mau bediri kepala Adel berasa puyeng dan sakit yang akhirnya tuh niat gak di lakuin.


"Udah Del gak usah bangun, rebahan aja dulu. lagian Lo baru sadar kayak gini mau ngapain?"


"Gue kenapa?" dalam keadaan mata merem.


"Lo pingsan di cafe, badan Lo demam tinggi banget. saking tingginya gue rasa jidad Lo di tempelin wajan buat goreng telor pun bisa." jawab Siska yang tadi sempat takut banget kalo kenapa-kenapa sama Adel, habisnya tinggi banget demamnya Sampek bibir Adel pecah.


"Agus yang nemuin Lo di musholla."


Adel mengangguk pelan yang kayak gak keliatan kalo lagi ngangguk soalnya pelan banget, Adel baru ingat tadi kalo badannya kurang enak dan akhirnya memilih istirahat di musholla. rencananya sih rebahan bentar di sana gak taunya pakek acara pingsan segala.


"Jadi kemana Agus nya?" tanya Adel yang cuma nemuin sosok Siska sendirian.


"Ke kampus, hari ini dia final tes jadi gak bisa di tinggalin gitu aja." jawab Siska jujur, walau awalnya Agus ngotot pengen ngantar dan jagain Adel di rumah sakit tapi dengan paksaan akhirnya Agus memilih mengalah dan pergi ke kampus.


"Kalo sakit ngomong, Lo bikin kita semua takut setengah mati tau gak." kata Siska lagi, gimana gak takut liat keadaan Adel tadi yang udah parah banget.


"emang siapa yang tau mau sakit."


"masih aja ngeyel kan?"


Adel mengedarkan pandangan matanya, kalau sekarang lagi di rumah sakit itu artinya ruangan Segede dan sebagus ini juga bakal ngeluarin duit yang gede dan bagus pula. dari mana coba Adel punya duit sebanyak itu buat bayar tagihan rumah sakit. dengan sigap Adel duduk walau harus terhuyung-huyung.

__ADS_1


"Eh, Lo mau kemana?" tanya Siska yang kaget liat aksi Adel yang langsung duduk manis itu padahal masih keliyengan.


"Pulang."


"Heh???"


"Yang mau bayarin siapa?"


"Tapi Del, Lo belum sehat dan masih demam. muka Lo aja masih merah kayak tomat gitu masak Lo mau pulang?"


"di bandingkan gue mati perlahan di sini, mana ada duit gue buat bayar tagihan rumah sakit. masak iya gue jual ginjal?" nyadar diri lah Adel, lagian kok bisa masuk tempat kayak gini segala sih tadi tuh? mau nanya sama Siska juga gak enak, udah mendingan di tolongin dan di Atar ke sini masak iya pakek acara protes segala.


"hush! sembarangan aja Lo ngomong." Siska mengibaskan tangannya dengan cepat, lagian Adel ngomongnya sembarangan banget.


"Gak usah mikir yang aneh-aneh Lo, yang penting sehat dulu." emang sih mulut Siska ngomongnya kayak gitu, padahal di dalam hati getar-getir. cowok keren nan tampan yang tadi bawa Adel ke rumah sakit itu pun gak keliatan batang hidungnya sejak tadi, parah banget kan kalo cuma nganter doang dan bayarnya gimana???


mana pesan kamar VIP pula yang semua orang tau bayarnya bikin dompet bakalan kejang-kejang.


"Gimana gue mau sehat kalo gue dapat penyakit lainnya gini? emang Lo mau bayarin gue apa hah?"


Siska terdiam, ia juga yang Adel bilang.


diamnya Siska adalah jawaban kalo ni anak juga lagi bingung, bingung gak bisa bayar pastinya.


"Udah kalo gitu kita lari aja,"


Siska terperanjat mendengar ide gila yang Adel katakan, "Lo mau apa jadi buronan rumah sakit yang foto Lo sama gue terpampang di mana-mana?" bayangin aja bikin Siska tergidik apa lagi Sampek beneran kejadian. udah jadi buronan, bakal gak di akui sebagai anak pula sama kedua orang tuanya. horor gak tuh???


"Lah habis mau gimana lagi? gue gak punya duit buat bayar, Lo kira cukup apa seratus atau dua ratus buat bayar?"


kalo di pikir-pikir sih emang bener apa yang Adel omongin, ruangan kayak gini gak main ratus tapi juta cuma buat satu malam doang. belum lagi di tambah sama biaya pengobatan dan lainnya, itu cuma satu hari doang.


"Gak usah banyak mikir Lo, kelamaan malah nambah tuh anggaran." ucap Adel yang udah mantep buat jadi buronan rumah sakit.


"Tapi Del... ide Lo horor banget tau gak. masak iya sih buronan rumah sakit? kerenan dikit Napa?"


"emang Lo mau jadi buronan apaan coba?"


"Buronan cowok ganteng." jawabnya sambil cengar-cengir,


"itu sih maunya elo aja..."

__ADS_1


__ADS_2