Kontrak Cinta 100 Hari

Kontrak Cinta 100 Hari
Istri masa depan


__ADS_3

"Del, kok ngelamun?" Mona yang sejak tadi memperhatikan Adel agak heran, dari tadi pagi Adel bawaannya ngelamun dan gak fokus di ajak ngomong. Bahkan pertanyaan dari guru yang biasanya di jawab dengan tepat itu bisa melenceng dan salah. Bukan seperti Adel yang biasanya, hari ini benar-benar beda banget. Berasa duduk sebelahan sama patung.


"Apa nenek baik-baik saja?" hanya itu alasan yang terlintas di pikiran Mona, apa lagi kalo bukan masalah nenek yang bisa bikin Adel kayak gini. Terkahir kali Mona datang berkunjung, keadaan nenek masih sama dan belum ada peningkatan yang lebih baik.


Bagaimana pun kerasnya Mona membujuk Adel, Adel tetap menolak bantuan keuangan yang Mona berikan. entah uang dari mana tapi sekarang nenek pindah ke rumah sakit yang lebih baik dan mendapatkan perawatan yang intensif. Bukannya Mona tidak senang, tapi hanya khawatir, karena Mona sangat tau keadaan Adel.


"Enggak kok, gue sedikit ngantuk sama capek aja." katanya dengan senyum yang di paksakan, kalo ni badan setelan pabrik mungkin udah pada rontok dari kemaren-kemaren dan untung Made in Tuhan yang gak bakalan rontok gitu aja.


"Gak usah maksain diri secara berlebihan, lagi pula Lo itu kurang istirahat. udah sekolah, bolak balik rumah sakit, masih sempet aja kerja. kalo Lo sakit nanti gimana? gue kan sedih...." kata Mona dengan memeluk sahabatnya itu.


"Sedih gak ada yang gue ajak makan di kantin." sambungnya dengan menyikut tangan Adel dan tertawa kecil, begitu pun dengan Adel yang ikut tertawa melihat Mona.


Tiba-tiba aja suasana kelas yang tadinya tenang, berubah menjadi sedikit heboh. Adel dan Mona yang asik sendiri dengan obrolan mereka tidak memperhatikan apa yang sebenarnya terjadi hingga akhirnya seseorang datang dan menghampiri mereka.


"Hai"


Hanya dengan satu kata sapaan mampu membuat dua sahabat itu mengangkat wajah mereka dan mendapati sesosok pangeran tampan tepat di hadapan mereka dengan berdiri gagah. untung aja kan tu pangeran gak bawa kuda putih ke dalam kelas, pasti bakalan lebih heboh lagi.


"Hi kak Azkha." kata Mona yang refleks nya lebih bagus di bandingkan dengan Adel, Adel cuma diam sambil ngeliatin tu cowok yang keliatan salah tingkah di liatin Adel kayak gitu.


Sumpah, Mona gemes banget liat mereka berdua yang pengen Mona karungin.


"Gue mau gabung gak bakalan ganggu kan?" ini bukan sebuah pertanyaan tapi pemaksaan. tanpa menunggu jawaban Azkha menarik kursi kosong yang ada dan duduk di samping Mona.


"Lo mau kemana?" kata Adel liat mona udah siap-siap angkat kaki.


"Gue mau keluar, disini gerah dan mana sempit pula."

__ADS_1


Belum sempat Adel ngomong, Mona udah main kabur aja dengan membawa tasnya.


"Sorry Del, gue pulang duluan ya... Good luck?!" katanya di balik pintu sebelum menghilang.


"Lo sakit?" Azkha mengulurkan tangganya untuk memeriksa Adel dan suhu tubuh tu cewek normal-normal aja.


Adel merasa salah tingkah dan risih saat tatapan mata yang menghujam itu mengarah ke tempat mereka berdua. udah kayak seleb yang ketangkap kamera gitu. Beda dengan Azkha yang biasa banget, raut wajahnya gak berubah dan seakan-akan gak terjadi apa pun saat ini. atau mungkin nih cowok ngerasa lagi ada di hutan tanpa penghuni.


"Tuh kan, beruntung banget jadi Adel " bisik seorang siswi yang kebetulan tadi lewat muka kelas dan liat Azkha masuk.


"Nasib orang udah ada yang ngatur," balas temennya.


"Gue aja yang udah jatuh cinta pada pandangan pertama gak pernah di ajak ngomong, jangankan di ajak ngomong... di lirik aja kagak...." katanya yang gak tau kenapa Pangeran macam Azkha lebih memilih cewek di bawah rata-rata di bandingkan degan dirinya, ngerasa jauh lebih baik dari segala sisi di bandingkan dengan Adel.


"Masalahnya, yang jatuh cinta itu elo dan bukan kak Azkha. itu masalah utamanya."


Bukannya gak dengar omongan kakak kelas barusan, Adel denger dari awal Sampek akhir tapi lebih memilih diam. ya mau ngomong apaan, hak mereka ngomong kek gitu dan hak Adel juga buat diam.


"Lo kerja habis dari sini?" tanya Azkha yang udah biasa dengan jadwal harian Adel. pulang sekolah bakalan ke cafe buat kerja Sampek malam.


"Enggak Kak, hari ini Adel libur." katanya lagi, Adel emang sengaja buat ngambil cuti beberapa hari. Biar gak ribet bolak-balik rumah sakit dan mengejar beberapa pelajaran yang tertinggal karena Adel sibuk mengurus nenek.


Sejak tau keadaan papa sambung yang sebenarnya, Adel meminta dan setengah memaksa mama untuk meninggalkan rumah sakit. Nenek memang memerlukan mama tapi papa juga memerlukan mama saat ini. Nenek masih memiliki Adel, Adel masih bisa menjenguk dan menemani nenek setiap hari sedangkan papa.... entah kapan Adel memiliki waktu untuk menjenguk papa karena keadaan Adel yang hampir tidak memiliki waktu luang tersebut.


Azkha tersenyum mendengar jawaban yang seperti ia harapkan itu.


"Adel harus ke rumah sakit."

__ADS_1


Senyum itu memudar dan tergantikan dengan tau wajah khawatir.


"Lo sakit apa? pantas aja muka Lo pucat dan...."


"Enggak kok," Adel memotong ucapan Azkha, "Terimakasih udah perhatian tapi yang sakit bukan Adel."


Azkha mengembuskan nafas lega mendengar jawaban tersebut. Azkha penasaran karena beberapa hari ini Adel termasuk salah satu orang yang sangat sulit di temukan, bahkan Azkha gak liat batang hidung Adel di manapun di lingkungan sekolah ini.


"Kalo gitu Adel pulang duluan kak." pamit Adel sambil mengambil tas, langkah kakinya terhenti saat Azkha memegang tangannya.


"Gue antar."


"Gak usah kak, lagian kan Adel....."


Tak ingin di bantah, Azkha menggenggam tangan Adel dan berjalan terlebih dulu. menunjukkan sikap bahwa Adel tidak memiliki pilihan lain selain menuruti apa yang Azkha inginkan.


"Kak, lepasin...."


walau lingkungan sekolah udah mulai sepi, tapi masih ada beberapa Siswa dan siswi yang ada. mata mereka langsung tertuju pada sepasang makhluk beda jenis kelamin yang lagi gandengan tangan. Di mata mereka ya gandengan tangan, walau faktanya itu Azkha yang gandeng tangan Adel.


"Kenapa?" kata Azkha yang gak perduli dengan usaha Adel melepaskan tangannya dan semakin memperkuat genggaman tangannya tersebut.


"Gak enak di liatin orang."


"gak usah di perhatikan, gue udah mutusin kalo elo adalah istri masa depan gue."


Adel langsung menghentikan langkah kakinya yang membuatnya otomatis ketarik paksa dan hampir aja jatuh kalo enggak seseorang menangkapnya dengan sigap.

__ADS_1


__ADS_2