
"Gimana kabar mama?" tanya Adel saat mama duduk di sampingnya sehabis dari musholla untuk sholat.
"Baik sayang, maaf ya mama selama ini jahat banget sama Adel." katanya dengan mata berkaca-kaca, merasa sangat berdosa meninggalkan putrinya untuk di besarkan nenek. padahal membesarkan Adel adalah tanggung jawab nya sebagai seorang ibu, bukan tanggung jawab nenek.
"Adel ngerti kok ma, lagi pula semua yang mama lakuin pasti ada alasannya dan itu yang terbaik untuk kita semua. jadi mama jangan merasa bersalah terus." kata Adel yang mengerti bagaimana keadaan mama. Bukan sepenuhnya mama meninggalkan Adel, tapi Adel yang lebih memilih untuk tinggal bersama dengan nenek. Ayah sambungnya sangat baik, beberapa kali menjemput Adel untuk tinggal bersama. Bukan hanya Adel, tapi juga nenek.
tapi mereka lah yang menolak karena nenek tidak ingin meninggalkan rumah yang memiliki banyak kenangan dalam hidupnya, begitu juga Adel yang tidak tega melihat nenek hidup sendiri.
"Tetep aja mama merasa bersalah, bagaimana pun mama menelantarkan kalian." bulir-bulir bening tampak menetes dari mata yang terlihat lelah tersebut. Rasa bersalah dan berdosa itu selalu ia rasakan setiap saat, hati seorang ibu tidak akan mampu meninggalkan anak mereka.
"Ma, Mama gak boleh ngomong gitu. udah pilihan Adel untuk tinggal bareng nenek. Adel gak pengen nenek hidup sendiri, dan Adel tau gimana Papa yang selama ini sangat baik sama Adel. Bukannya Adel udah ngomong sama mama tentang semua ini, mama gak boleh merasa bersalah. Mama adalah mama terbaik yang Adel punya dan satu-satunya mama yang Adel miliki."
"Terimakasih sayang, udah mau mengerti keadaan mama." mama mencium tangan Adel dengan lembut, anak yang ia tinggalkan tidak pernah meninggalkan dendam sama sekali bahkan mengerti keadaan yang mama sendiri terkadang tidak mengerti.
"Papa? bagaimana dengan papa?"
Sejak kemarin Adel lupa menanyakan keadaan papa, mama pun sama sekali tidak mendapatkan telpon atau menelpon papa. padahal Papa adalah orang yang memiliki simpati serta hati yang lembut, setiap kali mama mengunjungi Adel selalu menelpon untuk bicara dengan Adel atau pun nenek meski beliau sangat sibuk.
Mama menatap wajah Adel dengan bingung, bagaimana harus menjelaskan semua ini pada putrinya.
"Papa baik-baik aja kan Ma?" tanya Adel seolah mencium gelagat lain, ada sesuatu yang mama sembunyikan darinya.
Mama mengangguk pelan dan berusaha tersenyum meski itu sangat terlihat bahwa senyum yang di paksakan.
"Ada apa ma?" firasat buruk langsung masuk ke dalam perasaan Adel, kata baik-baik saja itu seolah-olah isyarat bahwa ada sesuatu yang tidak baik-baik saja.
Mama mulai menangis, bagaimanapun menyembunyikan semua itu tetap saja itu sulit.
"Mama...."
__ADS_1
********
Adel terduduk lemas, menutup mulutnya dengan kedua tangan agar tidak ada seorang pun yang mendengar nya menangis. memilih musholla untuk tempatnya mencurahkan segala perasaan adalah tempat terbaik yang ia pikirkan.
Bagaimana mungkin semua ini terjadi secara bersamaan?
Sosok laki-laki yang menikahi mama adalah sosok papa yang sangat sempurna bagi Adel, meski bukan papa kandung tapi beliau sangat menyayangi Adel layaknya anak sendiri. bahkan tanpa sungkan dan malu, beliau menggandeng dan mengenalkan Adel sebagai putrinya di depan orang banyak dengan senyum bahagia seorang papa yang bangga akan anak mereka.
Berbanding terbalik dengan ayah kandung yang telah membuangnya, ayah yang tidak mengakuinya sebagai seorang anak dan ayah yang tidak pernah menjenguknya sama sekali setelah pergi meninggalkan mereka.
"Kenapa orang baik selalu seperti ini?" katanya lirih dengan air mata yang terus saja berjatuhan tanpa bisa di bendung.
hati Adel sangat sakit, setelah nenek terbaring lemah kini ia mendapatkan berita kalau papa juga dalam keadaan yang sama.
sudah dua Minggu Papa koma, seseorang memukul kepala Papa saat bertugas hingga papa tidak sadarkan diri dan koma. Mama menyembunyikan semua itu karena tidak ingin membuat Adel dan nenek khawatir.
pantas selama ini mama sulit untuk di hubungi, selama ini mama selalu mengelak saat Adel menanyakan segala sesuatu tentang papa dan mama selalu berusaha seolah-olah semua baik-baik saja.
Entah sejak kapan Adel tertidur dengan mukena lengkap, rupanya setelah puas menangis Adel tertidur karena lelah. suara riyuh anak kecil membangunkan Adel.
Uang tabungan yang selama ini mama kirimkan gak bakalan cukup untuk biaya nenek, kemana lagi Adel harus mencari uang untuk biaya pengobatan nenek?
Minta bantuan mama pun rasanya sangat mustahil, walau mama tidak mengatakan sepatah kata pun tentang biaya pengobatan Papa tapi Adel itu bukan angka yang kecil. Kemungkinan mama juga mengalami kesulitan ekonomi karena bulan lalu mama tidak mengirimkan uang bulanan yang seperti mama lakukan selama ini.
"Ya Allah....." bisiknya dengan mengusap wajah.
"Apa yang harus Adel lakukan?"
******
__ADS_1
"Bunda gak pernah mengajarkan anak mama seperti ini, bagaimana mungkin kamu bisa menginap di hotel sama perempuan yang bukan istri kamu?" kata Bunda prihatin,
"David, Bunda kecewa sama kamu."
David hanya diam, percuma membela diri atau mengatakan apa pun saat mama marah. karena itu gak bakalan mempan dan malah memperkeruh keadaan.
"Bukannya Bunda sudah nyuruh kamu buat nikah, Bunda ngomong gitu bukan tanpa alasan. ini salah satunya, menghindari tindakan yang kamu lakukan."
Ayah berusaha menenangkan emosi istrinya, "Bunda, dengerin dulu penjelasan David."
"Apa lagi yang harus di jelasin Yah, sudah ketangkap basah gitu mau ada penjelasan apa lagi?"
David menundukkan wajahnya, menerima semua tuduhan yang mama berikan tanpa bantahan.
"Kamu selalu mengulur waktu saat Bunda memintamu menikah, dan sekarang?"
"Bunda, kasih waktu buat David ngomong. lagi pula apa yang kita lihat dan dengar itu belum tentu semuanya benar. jangan main ambil kesimpulan sendiri." ujar Ayah berusaha menengahi Bunda yang udah meluap-luap.
"Semua laki-laki sama saja, Ayah selalu belain David begini. kapan dia mau dewasa kalo ayah selalu mendukung."
"bukan gitu Bun..."
"anak dan Ayah sama saja."
"Kok malah ayah di bawa-bawa sih ma? emang salah ayah apa?"
"Tentu ayah salah, karena ayah itu papanya dan kalian berdua sama-sama laki-laki."
beginilah kalo kaum hawa udah emosi, merembet kemana-mana dan gak bakalan kelar dengan mudah.
__ADS_1
David yang udah mulai pusing denger mereka berdua itu pengen banget ngomong, tapi gak bakalan mempan kalo yang di lawan Bunda.
"Tiga hari, tolong beri waktu David tiga hari untuk membawa calon menantu ke rumah ini." kata David akhirnya.