
Tidak ada pilihan lain yang Adel miliki dan semoga ini adalah pilihan yang tepat yang ia lakukan tanpa harus ada embel-embel penyesalan di kemudian hari.
Sekali Adel membaca kata demi kata yang tertulis di dalam selembar kertas, memang tidak ada yang merugikannya sama sekali secara pribadi buat Adel. Tapi tetap saja itu terasa janggal baginya, bukan hanya janggal tapi hampir gak masuk akal kalo semua yang ada menguntungkan untuk sebelah pihak.
Keadaan Adel yang menuntutnya melakukan semua ini, bukan keinginan Adel sendiri tapi emang gak punya pilihan lain.
"Maaf, udah lama nunggu?"
Adel mengalihkan pandangan matanya dari selembar kertas yang ada di tangannya sejak tadi ke arah suara berat yang menyapanya. tampak sosok dengan setelan jas lengkap yang menampakkan karismatik luar biasa di sana, tepat berdiri di depannya.
"Enggak, baru aja." kata Adel bohong, padahal udah nunggu hampir satu jam. yang perlu kan dia, jadi gak papa lah nunggu.
David mengernyitkan alisnya, seolah dapat membaca kebohongan yang Adel lakukan. seolah tak ingin membuat keributan, David memilih diam dan mengacuhkannya.
Adel menyodorkan selembar kertas yang sejak tadi ia pegang dan baca ke arah David.
Hanya dengan satu kali lirikan, David dapat mengetahui apa isi kertas tersebut.
"Mari kita menikah." ujar Adel.
David memasang wajah datar, secara tidak langsung ia dapat membaca pikiran Adel mengenai situasi saat ini. kemarin saat ia melamar cewek itu, Adel menolaknya telak tapi kini ia sendiri datang dan mengajak menikah dengan membawa kertas berisi kontrak yang ia berikan beberapa waktu lalu.
Beberapa hari yang lalu David melamarnya sebagai istri sesungguhnya tapi kini Adel datang untuk memintanya menikah sebagai istri kontrak. ingin sekali David meluapkan perasaannya tapi ia urungkan mengingat dimana mereka berada. gak mungkin berdebat dan akhirnya bertengkar di tempat umum kayak gini.
"Baik." ucapnya datar tanpa ekspresi, berusaha menyembunyikan kekecewaannya yang sangat dalam dan gak habis pikir sama cewek yang satu ini.
"Adel hanya ingin uang sebanyak 5 milyar untuk semua ini. gak perlu yang lain yang tertulis di sini. anggap aja itu bayaran yang Adel minta dari 3 bulan pernikahan kita."
__ADS_1
"Baik."
Adel mengerutkan alisnya, laki-laki di depannya hanya mengiyakan apa yang ia inginkan tanpa bertanya apa pun mengenai uang sebanyak itu. Sampek tua pun Adel kerja di tempatnya sekarang gak bakal bisa ngumpulin uang sebanyak itu.
"Dengan syarat,"
"Syarat?"
********
David membanting hpnya, meluapkan semua emosi yang sejak tadi ia tahan. hanya karena uang 5 milyar Adel menolaknya menjadi istri sah dan nyonya David yang jauh akan mendapatkan lebih banyak dari 5 milyar yang ia sebutkan. Meski David sangat tau alasan Adel meminta uang dan setuju menikah dengannya, tetap saja David tidak bisa terima dengan keputusan Adel yang lebih memilih menjadi istri kontrak di bandingkan istri sah.
3 bulan waktu yang cukup bagi David untuk bisa merebut hati Adel dan mengubah Adel menjadi miliknya sepenuhnya. David telah menetapkan Adel yang menjadi istri, seorang wanita yang akan mendampingi dan melahirkan anak-anaknya kelak. bukan seorang istri kontrak yang hanya ada di atas kertas.
******
"Adel, mama gak bisa Nerima uang ini." mengembalikan buku tabungan yang Adel berikan.
"Enggak ma, mama pakai uang ini untuk pengobatan Papa. uang di dalam ini adalah uang yang Adel kumpulkan selama ini, uang yang mama kirim setiap bulan buat Adel." kata Adel berbohong, gak mungkin Adel mengatakan dengan jujur dari mana yang ia berikan.
Mama menatap ragu, "tidak, uang yang mama kirim gak sebanyak ini dan lagi pula ini sudah menjadi milik Adel. lagi pula nenek...."
"ma, Adel mohon.... hanya ini yang bisa Adel lakukan buat papa. papa yang selalu baik sama Adel, papa yang gak pernah lupa hari ulang tahun Adel dan hanya papa yang dengan bangga menggandeng Adel sebagai putrinya di hadapan orang banyak. Adel mohon, berikan Adel kesempatan untuk bisa membalas semua yang papa berikan sebagai seorang putri." pinta Adel dengan menggenggam tangan mama.
Adel memberikan 1 milyar uang untuk mamanya, setidaknya itu cukup untuk membantu pengobatan Papa. karena Adel juga memerlukan untuk biaya nenek, biaya yang tidak sedikit dan Adel harus berhenti bekerja agar bisa merawat nenek secara maksimal sehingga Adel memerlukan uang untuk biaya hidup juga sekolahnya.
*******
__ADS_1
Mona yang mendengar kabar bahwa nenek sahabatnya itu sakit dan di rawat langsung menjenguk saat mendengar kabar tersebut. ia menganggap nenek sebagai neneknya sendiri karena Adel sudah ia anggap bagian dari keluarganya.
"Kenapa Lo gak ngasih tau gue kalo nenek sakit?"
"Sorry Mon, semua mendesak dan gue juga bingung harus ngurus ini dan itu."
"Adel, kan ada gue...." meraih tangan Adel dan menggenggam nya, "Elo gak sendiri Del, gue bukan orang lain dan orang tua gue juga bukan orang lain buat elo." berusaha menguatkan Adel.
"Makasih Mon, makasih karena kalian selalu baik sama gue."
"Kita teman dan keluarga, elo gak boleh lupa." katanya dengan tersenyum manis. "Bagaimana dengan kesehatan nenek?"
"Alhamdulillah udah mendingan, tinggal nunggu jadwal operasi."
Mona mengambil sesuatu dari dalam tasnya.
"Ini tabungan gue, pakai semua buat pengobatan nenek."
Adel tertegun.
"Del, bukannya gue ngerendahin atau menghina elo. gue tau nenek perlu biaya yang gak sedikit, setidaknya ini bisa bantu buat nambahin." kata Mona lagi takut Adel tersinggung dengan niat baiknya untuk membantu. Mona sangat tahu bagaimana sifat Adel yang gak bakal meminta bantuan untuk urusan seperti ini, Mona tau dengan pasti bagaimana sahabat nya itu.
"Lagian ini murni duit yang gue kumpulin dari uang saku, jadi elo gak perlu segan sama gue. kalo Lo gak mau gue kasih, bayar aja suatu hari tapi gue lebih senang Lo gak menganggap nya hutang karena nenek Lo juga nenek gue."
Mata Adel berkaca-kaca, bukan hanya baik tapi Mona sangat tulus terhadapnya. hanya Mona yang mau menjadi sahabatnya, Mona yang tidak pernah perduli dengan perbedaan status sosial di antara mereka dan Mona yang selalu membelanya.
"Terimakasih, Sampek kapan pun gue gak pernah bisa membalas semua kebaikan elo dan orang tua Lo." katanya dengan memeluk Mona.
__ADS_1
"Sampai kapan pun gue juga gak bisa nemuin sahabat kayak Lo Del, bagi gue elo bukan cuma sahabat tapi juga saudara bagi gue."