Kontrak Cinta 100 Hari

Kontrak Cinta 100 Hari
Identitas Malaikat Maut


__ADS_3

Punya orang tua se_level Bunda itu emang susah banget, mau nge_les gak bakalan bisa apa lagi sampek bohong. Kayak gini aja berasa lebih berat di bandingkan interogasi sama polisi, mungkin dulunya Nenek pas hamil Bunda suka banget nonton film jenis detektif atau mafia yang akhirnya berpengaruh sama anak yang di lahir kan. Tapi apa pun itu pokoknya gak ada yang bisa ngalahin Bunda, Bunda tetep jadi Hero yang paling luar biasa di alam semesta yang sangat sulit untuk di taklukkan.


"AKH....!!!!"


David dan Bunda yang masih dalam atmosfer penuh ketegangan itu kontan langsung mengarahkan pandangan mata mereka ke atas, dari suara teriakan berasal. Ibu dan anak itu saling menatap sebelum berdiri dan mendekati arah suara yang berasal dari kamar David yang tak lain adalah Adel. Dengan langkah cepat David berlari mendahului Bunda, takut anak orang kenapa-kenapa dan itu menjadi tanggung jawab David sepenuhnya apa lagi ada di rumahnya.


Adel yang merasa kepalanya sedikit pusing itu memijitnya dengan perlahan untuk mengurangi rasa sakit yang ia rasakan, menggerakkan kepalanya secara perlahan untuk membuatnya sedikit nyaman mencari posisi yang pas dan setelah itu ia membuka matanya. Hal pertama yang Adel liat adalah dinding kamar yang berbeda dari kamarnya, Adel ingat dengan pasti suasana dan nuansa tempat ternyaman di seluruh dunia itu dan langsung menyadari kalau saat ini ia berada di tempat lain.


Dengan gerakan cepat dan tiba-tiba, Adel duduk. Melihat ke sekeliling dengan penuh was pada dan emang bener kalo sekarang dia gak lagi ada di kamar atau tempat yang ia kenal selama ini, tempat yang asing banget dalam ingatan. Bukan cuma asing tapi baru pertama kali liatnya, mewah banget kalo di bandingkan dengan kamar miliknya. Bahkan kalo di bandingkan dengan kamar Mona pun ini jauh lebih mewah dan besar.


"Ini di mana?" mengedarkan pandangannya, menyisir setiap sudut ruangan dan mengamati dengan teliti setiap benda yang ada di sana dan gak ada satu pun yang Adel kenal. Semuanya terasa asing dan baru pertama kali Adel melihatnya, gimanapun Adel mencoba tapi gak ada satu pun barang-barang itu yang bisa menjadi petunjuk dimana dirinya berada.


"Apa gue masih ada di bumi?" Kali aja kan di culik makhluk luar angkasa gitu kayak di film-film dan pas bangun udah berada di planet antah berantah yang gak tau di mana peredaran nya (ini salah satu korban kebanyakan nonton film jadi halu nya gak nanggung-nanggung).


Adel menyingkap selimut yang menutupi separuh badannya, mengulurkan kaki dan ia menyentuh lantai yang sangat lembut dengan berlapis karpet yang gak tau terbuat apaan pokonya lembut banget ngalahin lembutnya selimut yang ada di rumah. Yakin banget kalo ini bukan kamarnya atau tempat yang pernah ia datangi, bahkan aroma selimut itu aroma yang sangat lembut dan asing di hidung Adel.


"Tunggu dulu," mengurungkan niat nya buat bangun dan menarik kembali kakinya yang udah satu terulur, "Bukanya gue....???"


Cepat-cepat Adel menutup mulutnya ketika ingatan dengan cepat pulih dan ia dapat mengingat potongan-potongan kejadian yang terekam oleh otaknya, kejadian tentang malaikat maut yang datang untuk menjemputnya saat itu dan dimana Adel gak sempat mengajukan permintaan buat menunda kematiannya kepada sang malaikat maut dan malah ketiduran.


"Gue beneran udah mati???" Memegangi badan dan tangannya yang masih lengkap dan tak ada yang kurang satu pun dengan perasaan campur aduk, Adel berharap kalau semua itu hanya mimpi dan saat bangun ia berada di kamarnya tapi nyatanya pas bangun masih di tempat semula. Dengan perasaan takut, Adel melihat sekeliling. Mencari sosok malaikat maut yang ingin membawanya tersebut tapi semua ruangan kosong dan tidak menemukan nya di mana pun.


"AKH....!!!!"


Adel memegang erat rambut nya dan berteriak histeris saat menyadari semua itu kalo udah gak ada kesempatan lagi buat mengajukan permintaan nya.


"Gue beneran udah mati...." melepaskan dan melihat kedua telapak tangan nya dengan pandangan nanar, menyesali kenapa gak dari tadi ngajak nego tuh malaikat sebelum membawanya. Bakal gak bisa ketemu Nenek, Mona dan teman-teman lainnya. Bayangin itu bikin Adel frustasi, kenapa juga harus mati sekarang di usia yang masih muda dan banyak hal yang belum Adel lakukan.


"Lo kenapa?" tanya David saat melihat Adel dengan keadaan kacau balau, gimana gak kacau kalau rambut acak-acakan dengan tatapan mata kosong ke arah telapak tangannya. David melangkah mendekati Adel untuk memastikan kalau tu cewek baik-baik saja, tapi belum sempat untuk mendekatinya sebuah teriakan kembali terdengar.


"Stop?!"


Kontan David menghentikan langkahnya untuk membuat jarak di antara mereka berdua.


"Kasih waktu gue sebelum Lo bawa gue." katanya lagi masih bersikap keras kepala buat nego dan mengulur-ulur waktu.


Emang gue mau bawa ke mana???


David terdiam dan membiarkan Adel yang terlihat sangat kacau itu untuk menenangkan dirinya dulu, gak ada gunanya ngomong sama orang yang dalam keadaan kayak gitu sebelum tenang.


"Kenapa?" tanya Bunda yang baru nyampek di depan pintu kamar, kalah cepat sama langkah kaki David.


David menggeleng pelan dan memberikan kode untuk tetap tenang dengan isyarat tatapan mata kepada Bunda.


Mendengar ada suara lain di dalam ruangan itu membuat Adel merasa lega, setidaknya ada orang lain selain dirinya yang juga udah mati. Buru-buru Adel berdiri dan meloncat dari tempat tidur menghampiri seorang ibu-ibu yang sangat cantik, bahkan Adel gak bisa menebak umur ibu yang menurut Adel lebih tua di bandingkan dengan penampilannya walau hanya mengenakan piyama.


"Tante?" memegang tangan wanita yang ia panggil Tante itu dengan tatapan mata penuh tanda tanya dan frustasi.


"iya sayang?" membalas pegangan tangan cewek manis yang entah tadi siapa namanya, Bunda lupa waktu David menyebutkannya.


"Apa Tante udah siap buat pergi?" tanya nya dengan tatapan mata serius, "Apa Tante udah siap ninggalin semua orang yang Tante sayang dan pergi sekarang?" Lanjutnya, karena Adel menyadari kalau ia gak siap buat ninggalin orang-orang yang ia cintai di dunia ini dengan alasan apa pun. "Apa Tante gak bakalan nyesel ninggalin mereka semua?"


Bunda bingung mendengar pertanyaan yang sama sekali gak Bunda pahami, "Siap buat apa? Pergi kemana?"


Adel melepaskan tangan lembut itu dan terduduk lemas di atas lantai yang di lapisi dengan karpet berbahan bulu lembut yang gak pernah Adel rasakan sebelumnya.


"Tapi Tante, Adel belum siap buat pergi dan ninggalin orang-orang yang Adel sayangi, bahkan Adel belum pernah membahagiakan Nenek yang sejak kecil sudah merawat Adel dan juga belum bisa membalas kebaikan-kebaikan teman-teman Adel lainnya terutama Mona...."


Walau dalam keadaan bingung sama yang di omongin tu anak, Bunda tetap berusaha memposisikan diri sebagai seorang ibu. Bunda duduk dan memegang tangannya, mengangkat wajah serta mengusap air mata yang menetes tersebut dengan tersenyum lembut yang sangat menenangkan.


"Tante gak ngerti apa yang kamu katakan sayang tapi Tante yakin kamu anak yang baik, bahkan dalam keadaan seperti ini kamu masih memikirkan orang lain di bandingkan dengan dirimu sendiri." ujar Bunda menghibur.


"Benar Tante Adel anak yang baik?" tanya Adel balik.


"Tentu saja? Siapa pun orang tua kamu pasti bangga punya anak secantik dan sebaik kamu, bahkan Tante gak bakal keberatan punya anak seperti kamu." katanya meyakinkan walau gak tau duduk masalah sebenarnya.


Adel menunduk sedih mendengarnya, kata-kata itu hanyalah sebuah kata-kata penyemangat yang Adel tau bahwa hanya ilusi karena kenyataan tak semanis mimpi dan harapan.


"Semoga Tante, semoga apa yang Tante katakan itu benar..."


Bunda merasa sedih mendengarnya, walau gak tau apa yang terjadi dan apa yang telah di lalui oleh gadis manis itu tapi Bunda merasa kepedihan yang sangat luar biasa. Bunda mengulurkan tangan dan merengkuhnya dan perasaan suka cita dan penuh kasih sayang.


Hanya sebuah pelukan yang Bunda berikan, pelukan dari seorang ibu untuk anak mereka.


********


"Hah???"


Mata Adel membulat sempurna setelah mendengar penjelasan tentang apa yang sebenarnya terjadi selama ini, belum bisa menguasai keadaan dan hatinya membuat Adel berada dalam posisi yang sama beberapa waktu.


Syok, itu kata yang paling tepat untuk menggambarkan apa yang Adel rasakan saat ini.


"Jadi...." menunjuk cowok yang duduk di depannya yang ia kira adalah malaikat maut selama ini.


"Gue manusia." kata David melanjutkan.


Flash Back


"Ok, sekarang gue siap buat pergi." kata Adel dengan yakin dan sebelum keyakinannya itu berubah kembali.


"Emang Lo mau pergi kemana?" Tanya David yang sebenarnya pengen banget ketawa, tapi di tahan. Ni cewek kelewat polos dan bikin gemes liatnya, rasanya pengen banget buat di kerjain tapi kasian liat wajah polosnya itu apa lagi ada Bunda yang bakalan belain habis-habisan.


"Bukannya Lo mau bawa gue ke akhirat, gue sekarang sudah siap." ujarnya mantap.

__ADS_1


Bunda yang sejak tadi gak ngerti apa yang sedang terjadi itu menatap David dan anak perempuan yang ada di depannya secara bergantian.


"Ada apa sih ini?" tanya Bunda bingung karena gak ada jawaban yang ia dapatkan selain kata-kata yang membingungkan, kayaknya cuma Bunda yang gak tau apa yang terjadi disini sebenarnya.


"Mana David tau, tanya aja sama tuh," menunjuk Adel dengan dagunya, males ngejelasin karena yang bikin drama tu cewek jadi tu cewek juga yang harus beresin. Malam ini kebanyakan drama, dari drama malaikat mau sampek drama ayah segala di perankan oleh Adel dan menyerat paksa David yang sebenarnya gak mau terlibat dalam peran tersebut.


Ternyata selain gue, Tante cantik ini juga gak nyadar kalo udah ninggal. Gimana gue harus jelasinnya Yach???


Adel tersenyum kecil, mengumpulkan kata demi kata untuk merangkainya menjadi sebuah kalimat penjelasan yang akan ia berikan biar Tante cantik dan baik hati itu mengerti tentang apa yang terjadi saat ini. Kayak Adel sendiri yang awalnya gak nyadar kalo udah ninggal, Tante itu juga sama. itu yang ada dalam pikiran Adel saat ini, pemikiran yang cuma di lihat dan di mengerti dari sudut pandang dia sendiri.


"Gini Tante, awalnya Adel juga gak nyadar dan paham masalah ini dan gak bisa nerima tapi sekarang hati dan pikiran Adel udah terbuka jadi bisa nerima yang sedang terjadi."


David duduk di pinggiran tempat tidur dengan menyilang kan kaki dan tangannya, pengen tau apa yang bakal ni cewek omongin. Bakal semenarik yang sudah-sudah atau mungkin lebih menarik lagi di bandingkan yang tadi dengan sangat antusias, dari awal pertemuan mereka David sudah mengalami banyak hal yang mengejutkan dan menarik. Dari setiap kejadian itu sama sekali David tidak pernah dapat menduga apa yang akan terjadi dan di lakukan ni cewek.


Bunda yang udah bingung tambah bingung jadinya, tapi dengerin aja mau ngomong apa.


"Jadi Adel harap Tante berbesar hati dan bisa menerimanya juga kalau kita sebenarnya..." Adel mengambil jeda sebelum melanjutkan ucapannya, menatap dalam-dalam mata teduh itu dan rasanya gak tega banget buat ngomong kelanjutannya.


Kalo Adel pengen ngomong kalo kita udah ninggal, beda lagi sama pemikiran Bunda.


Bunda mikir kalo mereka udah ngelakuin hal-hal yang di luar batas, kata orang gak ada asap kalo gak ada api. Nah itu juga yang Bunda alami, langsung memergoki anaknya sendiri jadi wajar aja kalo Bunda pikirannya negatif. Bagi Bunda gak mungkin yang namanya maling bakal ngaku dengan mudah, yang salah gak langsung mengakui kesalahannya kalo gak ngasih pembelaan dan ngeles dulu sebelum mengakui dosa yang di lakuin. Nah itu juga yang Bunda pikirkan saat ini, walau David adalah putra kandungnya tapi Bunda gak langsung percaya dengan apa yang putranya katakan.


Bunda yang tegang nunggu kelanjutannya, Adel yang juga bingung mau ngomong apaan dan David yang udah gak sabar pengen liat ulah apa lagi yang Adel lakuin. Mereka bertiga udah pada pemikiran masing-masing dan satu pun gak ada yang sama.


"Ngomong aja sayang, Tante gak bakal marah sama kamu. Tante tau kok gimana perasaan kamu karena Tante juga perempuan dan Tante janji gak bakal memihak siapa pun." Bunda melirik ke arah David sebagai sinyal tanda bahaya, apa pun yang keluar dari mulut Adel adalah keputusan akhir atas nasib David di kemudian hari.


David yang mendapatkan tatapan tajam itu paham dengan betul apa yang ada dalam pikiran Bunda, kalo gak paham bukan anak Bunda namanya. Tapi biarin aja Bunda mau mikir apa yang penting David gak ngelakuin hal yang gak benar, David percaya dengan adanya keadilan dari Tuhan.


"Tante bakal bersikap adil, gak akan membela siapa pun yang salah walau pun itu anak Tante sendiri."


Lanjutkan Bunda.....


Adel menggigit bibir bawahnya karena gugup dan juga bingung, kayaknya susah banget buat ngomong hal simpel itu. Cuma ngomong kalo kita udah ninggal aja kayak mau ngomong minjam uang satu triliun, tu lidah berasa punya tulang yang bikin kaku dan tenggorokannya kayak di ganjel apaan gitu berasa gak bisa ngeluarin suara.


"Gini Tante, kalo kita sebenarnya udah...."


Aduh Del.... susah banget sih buat ngomong😭


Keliatan banget muka Bunda yang super tegang, malah sampek bernafas aja di tahan dulu.


David yang liat situasi gak mendukung itu rasanya udah alergi alias gatel-gatel pengen banget ngomong, liat muka Bunda yang kayak gitu bentuknya bikin David yakin kalo pikiran Bunda udah pasti 100% menjatuhkan vonis bersalah kepadanya walau kasus belum terselesaikan dengan sempurna. Lah ini si Adel paling bisa menggantungkan keadaan biar tambah tegang, tinggal ngomong doang pakek acara muter sana-sini bikin pikiran yang udah liat tambah berlarian kemana-mana.


"Kalo mau ngomong tinggal ngomong gak usah muter-muter gak jelas kayak gitu." kata David yang udah gak sabaran.


Untung aja Lo ganteng, coba kalo enggak...


Adel hanya melirik sekilas saat mendengar kata-kata yang gak ada manis dan lembutnya, udah pantes banget jadi malaikat maut dengan wajah dan mulut kayak gitu.


"Kalo kita udah meninggal." Akhirnya kata-kata yang berasa berat dan tabu buat itu keluar juga dari mulut Adel yang dari tadi kayak terkunci dan lidahnya kayak ada tulangnya.


"Hua ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha..."


Kontan aja ketawa David yang nyaring itu langsung menyita perhatian dua wanita yang lagi sama-sama tegang, kalo David ketawa sampai perutnya sakit beda sama Bunda yang bingung dan Adel juga bingung.


"Bun, sekarang Bunda denger sendiri kan?"


Bunda mencengkram tangan Adel dan menatapnya dengan tajam, "Maksud kamu apa sayang? Tante gak ngerti."


"Iya Tante, kita udah meninggal dan sekarang dia," menunjuk ke arah David yang lagi ngakak ketawa gak bisa berhenti, padahal dalam hati Adel dongkol kok bisa malaikat maut kelakuannya kayak gitu. "Dia malaikat maut yang menjemput kita buat pergi ke akhirat." katanya dengan wajah polos tak terbantahkan.


Bunda yang tambah bingung itu mengerjapkan matanya buat mencerna, tapi gak bisa di cerna juga omongan ni anak. Malaikat maut apaan coba? yang di tunjuk itu David, putranya dan Akhirat??? Tambah Bunda bingung jadinya.


"Kamu baik-baik aja?" menyentuh kening Adel untuk memastikan kalo ni anak gak dalam keadaan demam saat ini yang bikin ngomong ngelantur, tapi suhunya normal aja.


Jangan-jangan geger otak gara-gara di tabrak David???


Langsung Bunda nemgeliatin David yang masih ketawa ngakak itu, "David, pasti ini gara-gara kamu kan?"


Langsung diem David dengernya, dari tadi di salahin terus sama Bunda. Gak ada yang bener di mata Bunda, "Apa salah David Bun..."


Adel yang mendengar percakapan itu mencoba memahami situasi yang ada, David??? Bun???


"Dasar anak nakal, udah salah gak mau ngaku lagi?"


Anak nakal???


"Ya ampun Bunda.... Dari awal David udah jujur sama Bunda, Bunda aja yang gak mau denger dan percaya sama anak sendiri."


What???


Bunda???


Anak sendiri???


Potongan puzzle yang tadi berantakan akhirnya kini bisa di susun satu persatu yang membentuk suatu kenyataan bahwa malaikat maut yang selama ini Adel sangka adalah anak dari Tante cantik dan baik hati ini.


"Gimana Bunda mau percaya kalo kamu gak pernah mau dengar omongan Bunda dan selalu cari gara-gara."


Sampai sini Adel udah paham dengan sejelas-jelasnya tentang kekacauan yang ada, "Tunggu dulu Tante...." menata hati dan pikiran biar sejalan, gak kayak tadi yang jalannya berlawanan.


"Jadi dia..." lagi-lagi menunjuk David yang duduk "Anak Tante?"


Bunda mengangguk, "Iya, anak nakal itu putra Tante."

__ADS_1


"Hah???" Kontan Adel menatap David dengan tatapan mata heran, selama ini dia ngira kalo itu malaikat maut. "Jadi???"


"Gue manusia."


Dua kata itu mampu membuat Adel syok, yang tadinya udah pasrah dan ngira kalo ninggal tapi ternyata itu cuma bayangan dan pikirannya sendiri.


"Gue masih hidup?"


David yang greget liat cewek yang dari tadi tidur sambil jalan itu turun dan mencubit tangannya dengan keras biar langsung bangun dan nyadar kalo selama ini cuma menghayal dan hanyalah nya itu hampir mencelakai dan merugikan orang lain.


"AWWWWW..!!!!!!" teriak Adel yang tangannya sakit banget pas di cubit, gak nanggung-nanggung nyubitnya itu pakek tenaga dan gak pakek perasaan.


"David?!" memukul tangan David yang menyakiti anak orang, orang tuanya aja belum tentu ngelakuin hal kayak gitu malah orang lain yang ngelakuin.


"Biar bangun Bun dari mimpinya, lagian dari tadi David di kira malaikat maut, ngoceh yang enggak-enggak lagi. Sekarang Lo tau kan kalo Lo masih hidup dan gak usah ngomong yang gak penting lagi."


Mendengar semua itu membuat wajah Adel yang awalnya kusut berubah menjadi cerah, yang tadinya masam kini akhirnya tersenyum sumringah dan perlahan-lahan senyum itu mengembang menjadi senyuman yang sangat manis membuat David yang awalnya gak fokus langsung terdiam dan memperhatikannya secara tidak sadar.


Lagi-lagi senyum manis itu yang David lihat dan mampu membuatnya melupakan hal-hal di sekelilingnya.


Bunda yang udah kenyang makan asam, asin, manis dan pedasnya kehidupan itu menyunggingkan bibirnya melihat pemandangan indah di depan matanya. kayaknya impian buat dapat mantu bakal terlaksana dengan sangat baik, gak perduli lah siapa mantunya yang jelas sinyal-sinyal itu udah keliatan di depan mata.


"Hiya....!!!" Adel yang seneng banget itu berdiri dan melompat kegirangan karena mendapati kenyataan kalo dia masih hidup, masih bisa ketemu Nenek, Mona, teman-teman di cafe dan orang-orang yang ia sayangi. Tanpa sadar Adel menarik tangan cowok yang di kira selama ini malaikat maut tapi ternyata manusia itu dan menari-nari di ujung genggaman tangannya dengan suka cita, merayakan kegembiraan kalo itu cuma pikirannya doang


Wuih, asli kaget banget David yang tangannya langsung di samber itu dan yang bikin kaget lagi kalo ternyata ni cewek ngelakuin hal kekanak-kanakan banget.


"Gue masih hidup..." Berloncat-loncat kegirangan, "Gue gak jadi mati...."


David cuma diem ngikutin gerakan tu cewek yang narik tangannya kesana-kemari gak jelas, lah mau ngapain juga kalo gak diem? masak iya mau ngikutin loncat-loncat dan gerak kesana-kemari gak jelas juga?


Kean yang nunggu di mobil dengan seribu satu pertanyaan di dalam kepalanya tentang apa yang terjadi di dalam rumah itu akhirnya memilih untuk masuk dan melihat secara langsung detik demi detik kejadian di sana di bandingkan cuma nunggu dengan perasaan yang penasaran setengah mati. Baru aja mau keluar udah kedengaran suara perempuan menjerit dengan sangat nyaring, buru-buru Kean keluar. saking buru-burunya sampek lupa nutup pintu mobil dan langsung lari buat liat ada apa gerangan di dalam sana. Yang ada dalam pikiran Kean kali ini adalah Bunda yang menjerit histeris mendengar hal-hal yang enggak-enggak, soalnya gak ada yang bandingin teriakan Bunda selama ini. Takutnya Bunda gak bisa Nerima kenyataan karena bagi Bunda sang Abang adalah satu-satunya harapan dalam keluarga karena kedua anak lainnya menolak untuk meneruskan bisnis keluarga serta kedua kandidat lain tak sekuat dan secakap Abangnya, kalo Bunda sampek syok dan pingsan itu yang bikin Kean takut. Tadi pas masuk pakek cara maju terus pantang mundur dan menerjang semua penghalang di depan mata, nah itu juga yang Kean lakukan sekarang yaitu menerjang semua penghalang. Pot bunga, semak-semak di lompatin kayak gak ada apa-apanya.


"Bunda gak pa-pa kan?!" kata Kean panik, saking paniknya sekali libas dua sampek tiga anak tangga langsung ia lewati.


Bunda menoleh ke arah datangnya suara dan mendapati putri bungsunya yang terengah-engah sambil pegangan di pintu kamar, udah kayak orang di kejar apaan gitu saking cepetnya lari.


"Hah???" Keliatan banget muka Kean yang heran liat pemandangan di depan matanya itu, gimana gak heran ..... Selama puluhan tahun jadi adiknya David, sekalipun Kean gak pernah liat abangnya bersentuhan sama cewek kecuali keluarga dan Silvia yang udah di anggap keluarga juga. Tapi sekarang bukannya bersentuhan malah nari-nari kayak film-film India yang bikin mulut Kean terbuka lebar, saking lebarnya mungkin sampek jatuh ke lantai. Kalo tadi liat tidur sama cewek dan sekarang malah liat joget-joget gak jelas yang itu bukan gaya Abangnya banget.


"Bun...???" Berbisik ke arah Bunda tapi mata tetap fokus ke pemandangan langka di depannya.


"Bang David waras gak sih?" katanya lagi dengan mencondongkan badan ke arah abangnya yang tak lupa beserta tatapan mata super aneh.


Dua kejadian yang mau di masukin akal tapi tetep aja gak bisa masuk itu bikin Kean lebih memilih Masa bo*oh di bandingkan pusing mikirin nya.


Bunda hanya menggeleng pelan dengan sikap yang sama anehnya dengan sang Abang, bukannya marah kayak biasa yang langsung pasang aksi bak singa betina tak tertandingi tapi Bunda malah diem dan senyum-senyum liatnya.


*******


Hi semua....


Salam kenal, salam hangat dan bahagia buat kalian semua di mana pun (Dari Sabang sampai Merauke berjajar pulau-pulau...) Soalnya author yakin banget kalo kalian semua itu berasal dari daerah yang berbeda karena Indonesia kaya akan budaya.


Kita kenalan dulu Yach mumpung author punya waktu luang.


Sorry banget author baru bisa silaturahmi sekarang ma kalian karena author punya kesibukan sendiri selain di sini yang gak bisa setiap saat buat menyapa kalian semua yang udah ngeluangin waktu buat mampir di sini (Kok kayaknya author nya egois gitu Yach gak pernah nyapa balik??) Aslinya pengen banget buat kita lebih dekat tapi mau gimana lagi yang keadaan gak kemungkinan buat author stay terus di sini, sekali lagi author minta maaf.....


Buat kalian yang udah pernah baca novel author lainnya pasti udah kenal kan sama author, walau author bukan penulis terkenal dan pro tapi setidaknya author punya beberapa novel selain "Kontrak Cinta 100 hari" ini yang udah jalan duluan dan bahkan udah tamat.


Nama Author yang sebenarnya itu Nora, author udah kepala tiga atau malah lebih tahun ini. Aslinya author bertempat tinggal di Banjarmasin Kalimantan Selatan, author juga lahir dan besar di Banjarmasin walau author punya darah keturunan Jawa dari Mama author.


Menulis adalah hobby author dari SMA, kalo dulu ya gak ada yang kayak gini jadi author nulis di Mading atau majalah-majalah remaja yang beken pada jamannya. Nulisnya tuh pakek komputer, di print dan di kirim lewat pos. belum kenal sama yang namanya email atau sejenisnya jaman itu, pokoknya manual banget deh author nulis. Yang hidup di masa 2010-2015 pasti tau lah majalah beken dan hits apaan pas waktu itu. Karena sekarang udah ada aplikasi yang sangat memudahkan dan juga canggih makanya author menuangkan hobby author di sini dan syukur banget mendapat tanggapan yang baik dari kalian semua (Gak perlu ngetik dan print pakek kertas atau ngirim ke pos lagi kayak dulu).


Ada beberapa novel yang author tulis dan kalian bisa liat di profil author kalo mau di kepo_in gitu....


Berharap kalian kepo sih sebenarnya ☺️✌️


kepo yang baik itu gak papa asal jangan kepo_in tetangga πŸ˜… itu bahaya.


Buat group juga author jarang banget nongol karena posisi author sebagai ibu rumah tangga plus punya anak dan juga punya kerjaan lain jadi gak sempat buat mampir dan menyapa kalian di sana, bukan cuma di group tapi juga di komentar yang kalian bikin author minta maaf banget kalo gak sempat balas satu-satu. Bukan berarti author gak baca Yach.... Author baca kok setiap komentar kalian yang cuma bisa author kasih like buat komentar kalian semua dan Author ucapkan terimakasih banyak atas partisipasi kalian semua yang udah meluangkan waktu buat baca, Ni nggalin like, kasih komentar dan kasih hadiah buat author.


Terharu author tau gak.....


😚😚😚😚


Itu tuh sangatlah berharga buat author karena tanpa kalian karya author gak ada apa-apanya dan gak berarti apa-apa loh...


Bayangin aja bikin karya tapi gak ada yang baca berasa sayur tanpa garam 😌


Buat jadwal Update per bab author gak bisa menentukan dan menjanjika itu tiap hari, dua hari sekali atau beberapa hari sekali. soalnya di mana author punya waktu luang buat nulis dan juga mood nya lagi on bakal author lanjut kok, kadang harus bentrok sama jadwal dan author juga nyolong waktu yang sempit buat nulis. Kadang juga author punya waktunya cuma malam pas semua kerjaan ibu rumah tangga udah kelar, anak udah bobo manis dan emak akhirnya beraksi πŸ˜… kalo enggak udah capek siangnya malamnya bablas ikut ngorok pas bangun-bangun udah pagi.


Jadi harap maklum ya kalo jadwal update nya agak kacau plus berantakan, tapi yang jelas author bakal usahain buat update sesering mungkin walau gak terjadwal dengan pasti kapan updatenya.


Buat Bab yang isinya agak banyak di bandingkan biasanya itu merupakan rencana perubahan yang author bikin, kalo biasanya dalam satu bab author cuma nulis 1000 kata atau lebih sedikit tapi sekarang author ubah jadi 2000 kata dan itu pun minimal sampai 3000 kata per bab atau bisa lebih tergantung mood author yang lagi on buat nulis dan idenya juga lancar jaya dan bikin kalian puas bacanya walau update nya gak tiap hari tapi sekali update Lumayan banyak (Sampek keriting jempol author buat nulis sebanyak itu, untung aja otak author udah keriting duluan jadi gak susah-susah buat di lurusinπŸ˜‚).


Oh ya untuk masalah kepo-kepoan nih, kalo kalian mau kepo sama author silahkan tinggalkan pertanyaan yang insyaallah bakal author jawab kalo itu author bisa jawab, klo enggak entar author minta bantuan sama Mbah Google πŸ‘


embah Google tetap terbaik dan tak terkalahkan dalam segala kondisi dan suasana.


Terimakasih atas dukungan, partisipasi kalian melalui Like, Komentar, dan hadiah. Itu adalah dukungan yang sangat berarti untuk author dan berharga yang hanya bisa author ucapkan terimakasih banyak.


Tanpa kalian semua, author bukan apa-apa dan gak bakal bisa sampai ke tahap ini yang sumpah bikin terharu dan terhura.


Jangan lupa buat yang kepo tadi buat ngasih pertanyaan yang pengen kalian tau dari author Yach....

__ADS_1


Love u....πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜


__ADS_2