
Adel menelan ludah saat mobil yang ia tumpangi memasuki rumah yang sangat elit. ini baru aja jalan masuk, lewat gerbang utama dan belum liat dalamnya gimana udah bikin Adel ngerasa kalo ternyata istana itu emang benar ada. Bukan cuma ada di film yang dia lihat melainkan emang ada di dunia nyata.
Baru gerbangnya aja udah megah banget, halaman yang tertata rapi dengan deretan tanaman hias juga pohon-pohon yang rindang membuat mata Adel sangat termanjakan. rasanya kayak masuk tempat yang berbeda, bukannya di tengah kota.
Setelah menyelesaikan administrasi pembayaran perawatan nenek, David mengajak Adel pergi ke suatu tempat tanpa mengatakan kemana mereka akan pergi. Bahkan Adel belum sempat mengganti pakaian kerja.
"Ini rumah orang tua gue." ujar David seolah tau apa yang ada di kepala Adel saat ini, dari tadi Adel hanya menatap keluar jendela mobil tanpa bicara.
"Hah?"
Syok lah Adel dengernya, tau gini kan Adel pakek baju yang pantas. bukan baju seragam cafe, mana baru pulang kerja lagi. ni orang suka banget bikin acara dadakan tanpa ngomong dulu.
"Kenapa gak ngomong?"
"Buat apa?"
"Kan bisa Adel ganti baju dulu, gak pakek baju kerja gini." sambil menarik bajunya yang udah setengah hari di pakek itu.
"Gak perlu, lagi pula buat apa?"
"Bukan apa-apa sih..."
"Orang tua gue itu cari mantu, bukan cari model atau artis jadi gak usah dandan dan cantik."
Emang bener apa yang di katakan David, tapi bagaimanapun penilaian pertama dari seseorang adalah penampilannya walau gak perlu cantik tapi kan setidaknya rapi dan bersih (walau seragam yang Adel pakai itu rapi dan bersih tetap aja Adel merasa kalo gak pantas nemuin calon mertua kayak gini).
"Ingat perjanjian kita, di depan orang tua gue berperilaku yang manis. jangan melakukan tindakan yang bikin Lo malu sendiri."
"Iya, itu gue tau semua." jawab Adel datar.
"Bersikap senatural mungkin."
__ADS_1
Adel mengangguk.
Bayangan seorang wanita cantik dan anggun itu kembali dalam ingatan Adel, sebelumnya Adel pernah bertemu dengan Mama David yang mereka panggil bunda. Wanita yang lemah lembut dan tentu saja baik, dan ada juga Kean...
Adik bungsu David yang super manis dan baik dan rame. terakhir kali mereka bertemu udah cukup lama, soalnya Kean dan Adel sama-sama sibuk dan hampir gak punya waktu luang untuk saling bertemu.
"Kean, sudah bunda bilang berapa kali kalo kamu itu anak perempuan. bukan anak laki-laki." Kata bunda yang udah pegel linu encok ngasih petuah buat anak ceweknya itu, kean lagi-lagi bikin ulah dengan memotong rambutnya pendek layaknya laki-laki dan tentu aja Bunda yang menginginkan seorang anak perempuan yang manis dan feminim langsung narik napas panjang.
"Aduh bunda, kirain Kean ada apaan...." jawabnya santai yang berbanding terbalik dengan sikap bunda.
"ada apaan?" menarik rambut Kean yang udah persis rambut David dan Andre.
"Kalau gini kelakuan kamu, gak bakalan ada laki-laki yang pengen jadi suami kamu."
"Jangan gitu bunda, omongan adalah doa. masak iya bunda ngatain anak sendiri gak laku? tapi gak pa_pa sih Bun," mendekap erat bunda dan memasang wajah manis plus senyum manis yang gak ketinggalan. "Kan bisa di sini sama bunda terus, jadi Kean gak perlu repot-repot buat masak."
Ningrum yang selalu luluh dengan sikap anak bungsunya itu emang gak pernah bisa marah, kalo udah marah ada aja kelakuannya yang bikin hati luluh.
"Bunda punya dua anak laki-laki dan dua anak perempuan, tapi bunda selalu punya 3 anak laki-laki gara-gara kamu."
"Pokoknya bunda gak mau tau, setelah kakakmu David menikah bunda bakal cari menantu laki-laki."
Wajah Kean yang tadi sok imut kini berubah kusut, "Jangan bunda, umur Kean masih di bawah umur. entar aja kalo udah cukup umur." tolaknya langsung, kalo kasus perjodohan ada di tangan bunda benar-benar kacau dunia persilatan.
"gak, keputusan bunda gak bakal bisa di ganggu gugat ."
"Kalo gitu semoga ka David gak nikah, aamiin...."
Bunda menjewer telinga Kean, emang anak yang satu ini....
"Aduh bunda...." meringis, memegangi telinga yang di jewer itu. "sakit Bun, nanti kalo putus gimana?" memegangi tangan bunda.
__ADS_1
"Bakal bunda ganti Sam kuping gajah yang lebar, biar denger kalo bunda lagi ngomong."
Di tengah kegaduhan yang terjadi itu David masuk melalui pintu utama, meski hanya memakai baju santai tapi tetep aja yang namanya orang ganteng itu tetep ganteng.
"Bun, kak David datang?!" teriak Kean senang, senang bakal terhindar dari amukan bunda. saat jeweran di telinganya melemah, tanpa buang waktu Kean mengambil kesempatan itu untuk melepaskan diri dari jeratan Bunda.
Bunda yang awalnya gak percaya itu (udah biasa Kean ngelakuin tipu muslihat) akhirnya kepancing juga buat noleh, tapi kali ini dia memang benar-benar melihat David datang. putra tertuanya itu benar-benar pulang, seperti yang ia janjikan.
"Ngapain kamu pulang?"
David menghentikan langkahnya mendengar ucapan bunda.
Kean yang berdiri di belakang bunda menggelengkan kepalanya, memberi isyarat kepada David untuk tidak melakukan perlawanan apa pun kalau hidupnya gak mau berakhir dengan rumit di rumah ini.
David yang paham dengan yang Kean lakukan itu hanya menatap tanpa bergerak.
"Kalian berdua ini sama aja bikin bunda pusing."
Baru aja Kean membalikkan badannya pengen kabur, keburu bunda melihat aksinya.
"Berani kabur bunda bakal menarik kartu kredit kamu."
Buru-buru Kena membatalkan niatnya dan menatap bunda dengan senyum paling manis dan mematikan.
"Gak usah ngerayu bunda,"
kenapa juga gue harus punya bunda yang super sensitif gini sih....
Adel menyusul David yang masuk terlebih dahulu ke dalam rumah, ia meminta waktu sebentar untuk memakai bedak tipis dan pelembab bibir. gak enak banget kalo datang ke rumah orang dalam keadaan berantakan. salah siapa juga gak ngasih tau bakal di bawa kemana jadi gak ada persiapan sama sekali.
Baru aja masuk udah kedengaran suara yang gaduh, awalnya Adel kira kalo orang tua David lagi marahin ART mereka.
__ADS_1
"Bukannya sudah Bunda bilang, jangan pulang kalo kamu gak bawain bunda calon menantu." baru bunda ngucapin kata terakhir, ia melihat seorang wanita berjalan perlahan di belakang David yang langsung menyita perhatian bunda. bukan hanya bunda, tapi juga Kean yang udah bersiap mau kabur untuk kedua kali mengurungkan niatnya.
Adel yang merasa kedatangannya gak tepat itu terdiam, semua mata tertuju padanya dan itu bikin Adel gak nyaman.