Kontrak Cinta 100 Hari

Kontrak Cinta 100 Hari
Mimpi Buruk


__ADS_3

Satu permasalahan udah kelar David hadapi tapi masih ada satu permasalahan lagi yang belum kelar buat dihadapi dan masih harus di selesaikan. Gak mungkin kan cewek yang namanya Adel itu hidup secara individual alias sendiri, apa lagi menurut penyelidikan yang di lakukan bahwa Adel masih punya orang tua yang lengkap (walau udah cerai) dan sekarang tinggal dengan neneknya yang sejak kecil membesarkannya. walau gimana pun David memiliki tanggung jawab penuh atas apa yang terjadi dengan ni cewek, salah satunya adalah tanggung jawab memberitahu kan keadaan Adel saat ini kepada keluarganya. David mengambil HP yang tadi ia letakkan sembarangan setelah berbicara dengan Silvia, tau kayak gitu kenapa juga David harus panik dan sialnya lagi Silvia gak ngomong sejak awal tentang obat tidur yang ia berikan.


"Dre, Lo datang ke rumah Adel buat ngasih tau sama neneknya kalo cucunya malam ini gak bisa pulang." ujar David saat Andre mengangkat telpon yang ia lakukan.


"Alasannya?"


"Terserah Lo mau ngasih alasan apaan,"


Ini nih yang sulit, kalo udah terserah harus mikir keras.


"Yang jelas Lo gak boleh ngasih tau yang sebenarnya, kalo gak gue bakal di tuntut sama keluarga Adel. Lo mau ngurusin masalah gue?" ancam David, walau sebenarnya bukan ancaman yang ia katakan tapi kebenaran. kalo udah ada skandal, masalah atau apa pun itu yang paling pusing siapa lagi kalo bukan Andre.


"Boleh pakek nama sekolahan biar lebih meyakinkan?" cuma ini yang ada di dalam pikiran Andre saat ini buat cari aman, kalo gak kayak gitu bakal panjang banget pertanyaan yang ia dapatkan. biasanya, kalo udah menyangkut sekolahan para orang tua gak memperpanjang masalah. mereka lempeng-lempeng aja nanggepinnya dan mengiyakan tanpa perlawanan.


"Terserah Lo. satu lagi, ijin buat tempat kerja Adel sekalian."


Alamak....


satu aja belum kelar udah nambah satu lagi, inilah enaknya jadi bos. kalo udah mangap harus di turutin yang keluar dari mulutnya.


"Alasannya terserah Lo asal itu masuk akal."


"Siap tuan, malam ini juga di laksanakan." ujar Andre, lagian kalo masalah di tempat kerja itu masalah gampang. yang sulit itu kalo berkaitan dengan urusan rumah dan orang tua, untung aja sekolah tempat Adel sekarang masih ada kaitan dengan yayasan keluarga tuan mudanya tersebut. itu mempermudah semua urusan, cukup telpon yayasan dan kepala sekolah maka semua urusan bakal beres. sesimpel itu yang ada di kepala Andre, atau lebih tepatnya di buat simple dari pada pusing sendiri.

__ADS_1


David mematikan Hpnya dan meletakkan di atas meja, ia melihat Adel yang masih tidur dengan damai. baru kali ini David mengijinkan cewek selain Silvia untuk masuk ke dalam kamarnya dan bahkan tidur di atas tempat tidurnya. ia mendekati Adel, memperhatikan wajahnya yang tengah tidur pulas tersebut, buku matanya yang lentik itu membuat David terdiam. sejak awal yang David lihat dan perhatikan adalah bulu mata Adel yang lentik dan hitam, kulit wajahnya pun terlihat sangat halus dan bersih tanpa satu polesan pun. tanpa sadar David mengulurkan tangannya untuk menyentuh, kulit wajah Adel memang sangat lembut. Dengan cepat David menarik tangannya dan meninggalkan Adel yang masih terbuai dalam alam mimpi tersebut.


******


Semua anak datang di temani kedua orang tua mereka saat datang ke sekolah, dengan tawa yang bahagia tangan mereka di genggam ayah dan ibu. saat di depan gerbang, sebuah kecupan perpisahan dan lambaian tangan adalah rutinitas yang di lakukan. pemandangan yang setiap hari terlihat di gerbang sekolah yang membuat hati seorang anak menangis namun tak berdaya. di antar kedua orang tua hingga gerbang sekolah, mendapat ciuman kasih sayang dan melambaikan tangan saat masuk adalah impian terbesar gadis kecil yang hanya menjadi mimpi. mimpi itu tak akan pernah ia dapatkan dalam kenyataan karena sadar bahwa semua itu bukanlah kehidupan yang ia jalani, bagaimana pun ia menangis tak ada satu pun orang yang tau dan mengerti, tak ada yang peduli bagaimana rasanya menjadi sendiri, tak ada yang mengerti bagaimana rasanya menjadi penonton dan menjadikannya doa dalam air mata.


Gadis kecil itu adalah Adelia, seorang gadis kecil yang kehidupan bahagianya di renggut dengan paksa oleh perceraian orang tuanya yang sama sekali tak ia pahami dan yang ia tau adalah kini ia sendiri dan hanya bisa melihat kebahagiaan yang menjadi miliknya.


Adel mengingat dengan pasti saat di mana kedua orang tuanya bertengkar hebat saat ia pulang bermain, mama yang menangis dan berteriak histeris dengan memukul ayahnya dan sang ayah tak kalah diam dengan memaki mama dengan kata-kata yang tak dapat di mengerti oleh anak kecil. saat itu Adel hanya bersembunyi di balik pintu dengan tangan dan kaki gemetar, tak ada yang bisa ia lakukan dan hanya menangis tanpa suara di balik persembunyian. melihat semua kejadian itu dengan perasaan takut luar biasa tanpa tau apa yang sebenarnya terjadi, hanya nenek yang memeluknya dan membawa Adel untuk masuk ke dalam kamar.


"Nenek...."


Nenek menghapus air mata yang mengalir di pipi cucu kesayangannya itu, tak ada yang dapat ia katakan karena untuk anak sekecil ini tak dapat mengerti apa yang telah terjadi.


"Mama???"


Rasa penasaran yang cukup besar membuat Adel memberontak dan melepaskan pelukannya dari sang Nenek yang hanya bisa menangis.


"Ayah... Jangan....!!!" teriak Adel saat melihat ayah nya melayangkan tangannya ke arah mama yang berdiri tepat di depan dengan wajah penuh air mata dan menatap tajam tapa berkedip.


Seketika ayah berhenti dan melihat putri kecilnya, ada rasa bersalah yang ia rasakan tapi perasaan itu langsung sirna tertutupi ego yang telah menguasainya.


"Adel?" ujar mama melihat putri semata wayangnya datang dan memeluk kakinya.

__ADS_1


"Jangan pukul mama." merentangkan tangan untuk melindungi orang yang selama ini sangat ia sayangi itu, Adel ingat dengan betul bahwa setiap hari mama menyuapinya, memandikan, memakaikan baju, menemaninya tidur dan bermain.


"Ayah jahat!!!"


Tak ada air mata lagi yang keluar, hanya tatapan penuh amarah yang Adel berikan untuk ayahnya yang ia tau akan menyakiti orang yang ia sayangi dan itu membuat Adel marah.


"Lihat...." menunjuk anaknya dengan tersenyum mengejek, "Lihat kelakuan anak yang kamu didik?!"


Mama duduk, merangkul dan mencium Adel.


"Sayang, masuk sana sama nenek. mama mau bicara dulu sama ayah..." mengusap lembut rambut Adel dan tersenyum.


"Tapi mama, Adel takut ayah..."


"Enggak kok sayang, liat mama gak kenapa-kenapa kan???" katanya meyakinkan Adel.


Adel mengangguk dan melihat ayahnya dengan tatapan mata tajam, ia tak dapat memahami dengan jelas Apa yang terjadi tapi Adel tau bahwa ada yang tidak beres dan itu membahayakan mamanya.


"Lihat, kamu mendidiknya dengan sangat baik dan sekecil itu sudah berani melihat ayahnya kayak penjahat. jangan-jangan anak itu hasil selingkuhan kamu dengan pria di luar sana."


"Ayah, cukup?!" menarik kembali Adel dan menggendongnya, "Jangan membalikkan fakta tentang siapa yang berselingkuh, kamu tau dengan jelas itu semua." mencium Adel dan memeluk erat. "Mulai detik ini Adel adalah anakku, aku gak akan menyerahkan Adel dan mengijinkan mu bertemu dengannya. ayah macam apa yang meragukan darah dagingnya sendiri dan mengatakan anak orang lain?!"


"Perse*an dengan anak haram itu?!"

__ADS_1


"Anak haram????" berkata dengan nada mengejek yang sangat kental, "Anak haram yang wanita itu kandung bukan?!"


*********


__ADS_2