Kontrak Cinta 100 Hari

Kontrak Cinta 100 Hari
Saudara tak sedarah


__ADS_3

"Jadi? kita mau kemana tuan?" tanya Andre yang masih belum tau kemana tujuan mereka saat ini, tadi di telpon suruh jemput ke alamat yang di kirim tapi gak ada perintah buat pergi kemana. walau penasaran banget tapi Andre memilih untuk diam saat bosnya itu membawa seorang gadis dalam keadaan tak sadarkan diri dan itu untuk pertama kalinya selama ia bekerja. Cukup diam tanpa bertanya dengan menutup mata dan telinga adalah syarat utama bekerja dengan pengusaha muda tersebut. tidak mencampuri urusan pribadi adalah hal yang paling utama untuknya.


David gak mikir mau kemana mereka saat ini, yang ada dalam pikirannya bagaimana bisa menyelamatkan wanita yang ada di pangkuannya tersebut. gak ada satu luka atau lebam pun di tubuhnya yang terlihat tapi yang David takutkan adalah luka dalam, melihat bagaimana wajahnya yang seputih kertas itu membuat David takut kalau kehabisan darah dan semua orang menyalahkannya karena hanya dia yang ada di tempat kejadian.


"Tuan?" tanya Andre sekali lagi.


"Rumah." jawab David akhirnya, kalau Sampek muncul di tempat umum dalam keadaan kayak gini udah pasti jadi sasaran empuk para awak media dan pasti akan menjamur dalam sekejap yang pasti bikin heboh dan mempengaruhi perusahaan.


Tanpa banyak bicara Andre mengubah jalur mobil yang ia kemudi menuju rumah.


*******


"Apa yang Lo lakuin sama anak orang?" tanya Silvia dengan memasukkan peralatan medis yang ia bawa setelah selesai memeriksa keseluruhan dan gak ada satu pun luka atau pun lebam yang terdapat di tubuh wanita tersebut. Silvia yang berprofesi sebagai dokter itue dapat panggilan dadakan dari David, padahal baru aja pulang dari klinik dan langsung pergi ke rumah David yang kebetulan gak jauh dari rumahnya. udah jadi kebiasaan David kalo manggil tu gak kenal waktu dan tempat, kayak dunia milik dia sendiri.

__ADS_1


"Gue gak ngelakuin apa-apa." jawab David dengan duduk santai di kursi dengan memperhatikan apa yang Silvia lakukan sejak tadi tanpa mengganggunya.


"Kalo Lo gak ngelakuin apa-apa, kenapa ni cewek sampek pingsan gara-gara syok?" pertanyaan yang bukan asal nanya doang, kalo bukan David pelakunya gak bakalan mungkin ni cewek bertanggung jawab dan bawa pulang ni cewek ke rumah. bahkan bela-belain tidur di tempat tidurnya, setahu Silvia selama ini ia mengenal sosok David bukanlah orang yang memperbolehkan orang lain masuk ke ruang pribadinya. jangankan kamar, rumah aja cuma orang tertentu yang ia ijinkan masuk dan ini adalah sesuatu yang luar biasa.


David menggulung lengan bajunya hingga siku dan menyandarkan kepalanya, "Jangan tanya gue, tanya sama tu cewek yang tiba-tiba muncul di depan gue tanpa komando."


Silvia melihat cewek yang ia perkirakan masih sekolah itu, walau gak se pucat tadi tapi masih terlihat pucat. kalau di liat dari penampilannya, cewek ini bukan termasuk kriteria David. David hanya tertarik dengan wanita berkelas yang memiliki otak emas dan juga penampilan berkelas, bukan wanita imut dan lugu seperti gadis yang tengah tertidur tak sadarkan diri itu. tapi kalau mereka gak memiliki hubungan apa pun kenapa juga David membawanya pulang, bisa saja ia menyuruh orang lain untuk mengantarnya ke rumah sakit dan gak perlu repot-repot ngelakuin semua ini sendiri.


"Gimana gue mau tanya kalo dia nya aja betah tidur." Silvia mengambil air minum dingin di dalam kulkas, bagi Silvia yang udah kenal David sejak kecil itu menganggap rumah David seperti rumahnya sendiri. persahabatan yang mereka bangun itu bertahan hingga saat ini dan layaknya seperti saudara, walau Silvia telah memiliki tunangan dan akan menikah sebentar lagi tapi semua itu tidak mempengaruhi nilai persahabatan mereka sedikit pun. Bisa di bilang satu-satunya wanita dalam hidup David selain keluarganya adalah Silvia.


"Baik, kemarin dia nelpon dan bilang kalo besok mau pulang." duduk di depan David yang telah melepas dua kancing bajunya itu, kalo di depan Silvia kadang David lupa mereka beda gender. kebiasaan ngumpul dari kecil ya kayak gini.


"Lo yakin mau nikah sama cowok itu?"

__ADS_1


"Iya yakin lah, gue udah tunangan dan artinya gue udah yakin sama keputusan gue. emang kenapa?" menatap David dengan tatapan mata menggoda, hanya David yang perduli dan tulus padanya selama ini. bagi Silvia, Davis bukan hanya teman tapi juga saudara yang tidak memiliki hubungan darah. sejak kecil, David selalu berdiri di depannya dan membelanya hingga saat ini sedikitpun David tidak berubah.


"Lo gak ikhlas? tenang aja, cinta dan sayang gue gak bakal berkurang walau gue udah punya suami. sampai kapan pun Lo tetap sahabat dan saudara terbaik yang gue miliki." kata-kata itu yang selalu Silvia katakan saat David menanyakan hubungannya dengan Rafael. "Gue yakin Rafael cowok yang baik karena gue udah kenal lama sama dia. walau lebih lama kenal sama Lo sih...." jawab Silvia yang kenal Rafael, tunangannya itu sejak mereka berusia 15 tahun tapi kalau sama David sejak usia mereka 5 tahun.


David menarik nafas panjang mendengar Silvia mengatakan semua itu dengan sangat yakin, "Kalau itu yang Lo mau dan bikin Lo bahagia gue gak keberatan."


Silvia beranjak dari tempat duduknya dan berganti duduk di samping David, bagaimana pun hanya David yang dapat ia andalkan dan Silvia tau bahwa semua itu demi kebaikannya.


"Udah lah, percaya sama gue.... lagian gue harap semua kekhawatiran Lo itu gak bener. gue tau kalo Lo care dan sayang sama gue tapi kali ini gue yakin dengan apa yang gue pilih." katanya meyakinkan David, "Lo kan udah sering banget ketemu Rafael jadi Lo bisa nilai sendiri gimana Rafael.... kan???" menyentuh bahu David untuk lebih meyakinkan lagi. "Ok baby???"


"ok, kalo itu keputusan Lo. gue cuma bisa mendoakan kebahagiaan Lo, kalo dia ngelakuin hal yang buruk Lo gak usah sungkan buat ngomong sama gue. gue gak bakal sungkan bikin perhitungan sama tu cowok."


"Ok...." dengan tertawa kecil, "Gue juga gak bakal sungkan buat ngadu sama Lo kalo rafael bikin ulah sama gue biar Lo yang beresin."

__ADS_1


David tertawa masam mendengar jawaban Silvia yang selalu sama setiap kali ia bertanya, entah kenapa rasanya David sedikit khawatir dan gak yakin kalau Rafael adalah cowok setia. pikiran itu ada karena mereka menjalin hubungan jarak jauh, di mana silvia dan Rafael berada di negara yang berbeda. Sebenarnya semua itu bukan alasan yang kuat untuk memiliki pemikiran tersebut, ada satu hal yang gak bisa David jelaskan tentang pendapatnya itu. instingnya sebagai laki-laki yang membuatnya memiliki pemikiran seperti itu dan lagi-lagi gak ada bukti buat David tentang apa yang ia rasakan.


__ADS_2