
David memainkan pulpen yang ada di tangannya sejak tadi, entah sudah berapa puluh menit ia dalam posisi seperti ini tapi David tidak memiliki keinginan untuk merubah posisinya. pikirannya benar-benar berkecamuk dan membuat semuanya berantakan. semua rencana yang telah ia susun rapi harus ia rombak ulang tanpa sisa, benar-benar membuatnya pusing tanpa ampun.
Andre meletakkan kopi di atas meja, sejak tadi ia memperhatikan bosnya itu. kalau dalam posisi seperti ini, biasanya David sedang memikirkan sesuatu hal yang benar-benar rumit dan memerlukan pemikiran yang matang serta teliti. Ia membiarkan David tanpa bicara sepatah kata pun sejak tadi dan hanya mengawasi dari kejauhan, tapi kini Andre harus mengganggu bosnya itu meski harus kena semprot. lagian udah biasa kena semprot David, udah kayak garam dalam sayur dan jadi kegiatan rutin.
"Satu jam lagi ada pertemuan dengan beberapa klien." ujarnya dengan mengetuk meja sebelumnya untuk merebut perhatian David kalo gak kayak gitu udah pasti di kacangin dan berasa ngomong sama tembok. benar aja, David bereaksi dengan menarik nafas panjang dan merubah posisi duduknya sedikit.
"Kalau di batalkan?" tanyanya tanpa melihat ke arah Andre dan masih memainkan pulpen yang ada di tangannya.
"Kita bakal rugi banyak mengingat nilai yang cukup besar dan menguntungkan untuk perusahaan kita." jelas Andre.
Jadi bayangan David itu bikin Andre tau banget kalo bosnya itu gak bakal perduli tentang untung dan rugi saat suasana hatinya sedang buruk seperti saat ini.
"Gue lagi males, pikiran gue sumpek." katanya dengan menatap lurus.
Andre yang paham betul gimana David itu mengerutkan alisnya, baru kali ini David ngomong males soal kerjaan. walau pun hujan badai menghadang dan sakit tu orang tetap semangat. itu artinya emang sesuatu yang buruk telah terjadi dengan David saat ini walau tu orang gak ngomong.
"Baik, gue yang bakal wakili Lo entar. apa perlu gue pesankan sesuatu?" ujar Andre yang lebih memilih jalan aman, kalo gak dia yang turun tangan dan memaksa David untuk tetap menghadiri pertemuan maka dapat di pastikan semua itu akan berantakan. mengingat sifat keras kepala David yang berujung dengan emosi, kacau balau semuanya.
" Gue perlu keluar, handle semua rapat dan pertemuan hari ini seperti biasa." kata David lagi.
Andre mengangguk pelan, untung pengalaman yang ia miliki tidak main-main dan tau dengan pasti bagaimana perannya untuk menggantikan bosnya itu dalam saat-saat seperti ini. Andre memiliki kemampuan yang tidak dapat di remehkan dalam hal berbisnis dan menjadi kepercayaan David membuatnya harus menguasai berbagai macam hal. anggap aja Andre adalah duplikat David dalam hal urusan pekerjaan.
*****
Adel memandang minuman dingin yang ada di tangannya, cuaca yang cukup cerah itu emang paling pas kalo minum kayak ginian sambil duduk di bangku taman dan menikmati angin musim panas yang terasa sejuk di sore hari. jangan di tanya kalo pas siang hari, itu berasa banget gimana panasnya.
Pertemuan tak terduga yang ia alami dengan david tadi setelah pulang sekolah membuat Adel merasa sangat terkejut. Saking kagetnya, Adel gak bisa ngomong apa-apa dan cuma bengong doang.
Ternyata dunia begitu sempit...
Dari banyaknya orang kenapa ia harus mengenal David dan Azkha secara bersamaan dan dalam waktu yang tak tepat. kenapa juga mereka itu harus memiliki hubungan saudara?
Akh.....
Adel benar-benar pusing jadinya.
Adel merasa seperti di permainkan dengan keadaan, dimana ia harus berada di tengah-tengah keadaan yang membuatnya sulit mencerna dan bernafas.
"Sorry, gue lama. tadi banyak antrian." kata Azkha dengan nafas terengah-engah namun senyum manis itu membuat tetap terjaga kegantengannya. beberapa cewek yang lagi lewat, menoleh ke arah Azkha dan mengagumi betapa tampannya cowok tersebut.
Azkha memberikan makanan cepat saji yang ia beli kepada Adel dan duduk di samping cewek tersebut dengan mengabaikan panggilan-panggilan genit dari beberapa orang yang tak jauh darinya, udah kebal sama jenis ginian dan selalu mengaktifkan mode cuek dalam segala suasana dan waktu.
__ADS_1
"Lo kenapa?" melihat wajah Adel gak seperti biasa, keliatan banget kalo ada yang di pikirkan. beda kayak biasa yang cerah dan bersemangat.
"Gak pa-pa." jawab Adel dengan tersenyum kecil.
"Menurut kakak, apa kita bisa merubah nasib dan takdir kita?"
Azkha yang baru saja mau minum langsung menghentikannya saat mendengar pertanyaan dari Adel, entah kenapa sejak tadi Adel terlihat tidak seperti biasanya. lebih pendiam dan juga irit ngomong. jangan di tanya biasanya gimana... bakal rame banget deh.
"Iya kak, takdir dengan siapa kita bersama, takdir dengan siapa kita menikah dan takdir tentang bagaimana kita hidup." kata Adel datar tanpa ekspresi, tiba-tiba aja kata-kata itu keluar dari mulutnya sendiri.
"Entah lah," Azkha menegakkan punggungnya dan menatap lurus ke arah taman di mana beberapa anak sedang bermain di sana.
"Bagi gue, sebelum menjadi takdir Tuhan memberikan pilihan terlebih dahulu. memberikan kesempatan untuk kita, bagaimana kita sendiri, menetapkan pilihan yang tepat dan mengambil kesempatan itu atau mengabaikannya." jawab Azkha dengan menatap Adel lekat, hanya dengan Adel ia dapat duduk dengan nyaman seperti ini dan menjadi diri sendiri.
Adel mengangguk pelan, berusaha meresapi apa yang Azkha katakan.
"Banyak hal yang perlu kita pikirkan sebelum mengambil pilihan yang Tuhan berikan, bukan hanya tentang kita. tapi juga tentang orang-orang di sekitar kita. apa kah itu baik hanya untuk kita sendiri atau baik untuk mereka juga."
Udah lama banget kayaknya Azkha gak ngomong sebijak ini, gak ada kesempatan buat ngomong kek gini atau lebih tepatnya gak ada yang ngajak ngomong dengan topik ginian.
"Lo tau Del, banyak pilihan yang ada di depan gue. semisalnya orang tua gue, mereka memberi pilihan untuk gue sekolah keluar negeri tapi gue menolak dengan alasan yang cukup banyak." katanya dengan melirik Adel, salah satu alasan Azkha adalah Adel. ia tidak ingin meninggalkan Adel dan memberikan kesempatan kepada orang lain memilikinya. entah kenapa Azkha merasa sangat yakin tentang memilih Adel sebagai istri masa depannya.
"Gue gak mau kehilangan orang-orang yang berarti dalam hidup gue. bukan berarti gue gak bisa dapetin ganti mereka, tapi gue lebih nyaman dengan apa yang gue miliki dan yakini saat ini." Hingga saatnya tiba, Azkha akan melamar Adel secara resmi, bukan saat ini. itu memerlukan waktu di mana ia harus mengantongi restu kedua orangtuanya dan juga kedua orang tua Adel. membangun kepercayaan sebagai seorang teman yang kini Azkha lakukan, mengenal pribadi masing-masing tanpa ada embel-embel pacaran yang ia pilih. Azkha tidak ingin menghabiskan waktu dengan menjalin hubungan yang gak jelas, baginya saat memilih seseorang maka ia akan memperjuangkan dan mempertahankan hingga ia dapat memiliki untuk selamanya.
"Gitu ya..." katanya menerawang " orang yang penting dan berarti buat Adel."
"Dan gue serius, serius dengan pilihan gue tentang elo." gumam Azkha pelan, bahkan sangat pelan hingga Adel sendiri tidak mendengarnya.
******
ini bukan pertama kalinya Adel berada di apartemen milik David, beberapa waktu yang lalu ia kesini dan bahkan menginap meski itu bukan keinginannya sendiri (kejadian dimana Adel pingsan hampir ketabrak motor david dan di bawa pulang sama David buat di obati).
Ada beberapa perabotan yang telah di ganti dan letak yang telah berubah, emang beda ya orang kaya sama orang biasa. mau merubah apartemen sama perabotannya yang harganya gak murah gampang banget. lah kita-kita kalangan ekonomi menengah kebawah harus mikir ratusan atau bahkan jutaan kali buat beli perabotan baru kalo yang ada masih layak pakai.
David meminta Adel untuk menunggunya sebentar di sini, karena David harus keluar untuk melakukan sesuatu yang Adel sendiri tidak tahu. David tidak menjelaskan dan hanya memintanya untuk menunggu dan Adel memenuhi keinginan David tersebut.
Menunggu memang hal yang membosankan dan itu yang Adel alami saat ini, emang sih tadi David udah bilang kalau bebas menggunakan TV, laptop atau pun kulkas. tetap aja gak enak karena bukan milik sendiri dan yang punya juga gak ada di tempat walau pun udah ada ijin dari sang empu.
Adel berjalan pelan ke arah balkon dan betapa terkejutnya saat ia melihat pemandangan kota saat malam hari yang sangat cantik. lampu-lampu kota itu menghiasi malam dan memberikan sensasi yang berbeda. Adel merasa sangat damai, seolah beban yang ia miliki sedikit berkurang hanya dengan melihat pemandangan seperti ini.
Tidak banyak yang Adel lakukan selama menunggu David, ia hanya duduk di kursi santai di balkon dan menikmati angin malam yang semilir hingga akhirnya tanpa sadar ia terhanyut dalam buaian mimpi.
__ADS_1
Tidak menemukan sosok Adel dimana pun akhirnya membuat David sedikit khawatir. David khawatir kalau Adel pulang sendiri saat malam, apa lagi jarak apartemen dengan rumah dan juga rumah sakit cukup jauh. ada beberapa hal yang harus ia selesaikan tanpa bisa menunda lagi yang membuat David meninggalkan Adel. bukan hal yang benar kalau ia mengajak Adel, bukan waktunya dan bukan tempat yang cocok untuk Adel mengetahui segalanya saat ini.
Mata indah itu menatap gorden yang tertiup angin, ia melangkah dan ingin memastikan bahwa Adel berada di sana. benar saja, ia mendapati Adel tengah tertidur di atas kursi santai menghadap ke luar. David mengitari dan berjongkok di samping Adel, memperhatikan wajah polos nan cantik itu tengah tertidur pulas dengan tarikan nafas teratur.
"Apa yang harus gue lakuin buat elo?" gumamnya. "Sebelumnya hidup gue gak serumit ini sebelum elo datang dan mengacaukan segalanya."
perang batin yang David alami telah menguras energi dan emosinya, keputusan yang sangat berat yang harus ia ambil dan itu membuatnya merasa cukup lelah.
****
Adel yang ngerasa badannya pegel banget itu menggeliat pelan, pengennya mau betulin tuh badan biar gak pegel banget. tapi tiba-tiba tangannya menyentuh sesuatu yang membuatnya tersadar kalo lagi enggak ada di kamarnya sendiri.
ia membuka mata dan mendapati bahwa tangannya itu mendarat dengan sangat sempura di wajah seseorang yang sangat ia kenal. Adel menelan ludah dan memejamkan matanya, mengambil posisi tidur seperti tadi dan saat membuka mata ia berharap kalau semua itu hanyalah sebuah mimpi. perlahan tapi pasti Adel membuka mata dan mengintip dari balik kelopak mata.
Mimpi gue kok jelek banget gini sih.??
Adel mengangkat tangannya dan mengarahkan telunjuk tangan kanannya ke arah hidung mancung tersebut. wajahnya yang tertidur lelap bagaikan wajah malaikat yang sangat tampan dan tenang tanpa Adel sadari bahwa itu hanya tipuan.
Sebelum menyentuhnya, tiba-tiba mata itu terbuka dan menatap Adel dengan tatapan tajam. secepat kilat tangan Adel di sambar dan di tarik hingga ia terangkat dan terbanting di atas tempat tidur tanpa sempat melawan. jangan kan melakukan perlawanan, teriak aja gak sempat saking cepat dan gesit gerakannya.
"Hik-hik-hiks...." meringis dan terkapar dengan mata tertutup, menikmati proses mendarat yang lumayan keras. untung aja kasurnya empuk, jadi gak begitu sakit. kalo sakitnya mungkin masih bisa Adel tahan, tapi detak jantungnya yang udah mau copot saking kagetnya itu bikin keringat dingin bercucuran.
"Pinggang gue yang limited edition...." ujarnya sambil memegangi pinggangnya yang berasa remuk, untuknya ini Made in Tuhan jadi cuma berasa remuk dan gak remuk beneran.
David yang melakukan gerakan refleks itu tersadar dan langsung terbangun, ia melihat tubuh mungil yang baru saja ia banting. raut menyesal terlihat jelas di wajahnya tentang apa yang baru ia lakukan.
"Lo ngapain sih tadi?" katanya berusaha mengalihkan rasa bersalahnya.
"Lagi tiduran."
jawab Adel polos, sepersekian detik ia sadar.
"Eeeehhhhhh???!!!" Adel membelalakkan matanya.
What????
tiduran???
gue tiduran dimana????
bareng siapa????
__ADS_1
Mengerjakan matanya cepat dan menahan nafas. perlahan Adel menoleh dan melihat David berdiri di samping tempat tidur dengan menatapnya.