Kontrak Cinta 100 Hari

Kontrak Cinta 100 Hari
Sapu lidi


__ADS_3

Adel yang udah kalut itu dalam benaknya cuma mau bawa nenek ke rumah sakit sebelum sesuatu yang buruk terjadi. Satu-satunya orang yang ada dalam benaknya adalah mama, tapi kali ini mama gak bisa di hubungi. Adel sudah berusaha berapa kali, tapi tetap aja gak berhasil. Usaha yang satu gagal, Adel mencoba usaha lainnya, menghubungi ayah sambungnya. Selama ini ayah sambung Adel memperlakukan Adel seperti putrinya sendiri dan itu lah kenapa Adel berani untuk meminta tolong.


Sama aja, gak ada balasan dari beliau yang membuat Adel semakin bingung. dalam posisi sendiri dan gak ada siapapun itu membuat Adel merasa seperti seseorang yang gak berguna.


Di jalanan yang cukup lenggang, David mengemudi mobilnya itu kayak orang kesurupan. untung aja kan punya nyawa cadangan, jadi gak terlalu dramatis nge_prank Malaikat maut (Kalian bayangin aja sendiri ya gimana si David itu itu nge_prank malaikat mautnya waktu di jalan).


"Nenek, tunggu bentar. Adel mau panggil taksi dulu, nenek jangan kemana-mana." ngomong kayak gitu padahal Adel tau kalo Nenek gak bakal kemana-mana.


Baru aja Adel berdiri di depan pintu tiba-tiba sebuah mobil sedan mewah berhenti dengan ekstrim. Lupa sama air mata yang ngalir dan sekarang malah tergantikan dengan mata yang membulat kaget. Kaget lah, di depan mata ada atraksi kayak di film-film laga. Aksi polisi yang lagi ngejar penjahat langsung terbesit di benak Adel.


Bukan cuma aksinya doang, tapi yang turun dari tu mobil juga persis banget kayak di film-film. Dengan setelan jas berwarna hitam dari ujung kepala Sampek ujung kaki serba hitam pula, gak lupa kaca mata hitam yang langsung bikin buli kuduk Adel berdiri semua.


Tanpa pikir panjang Adel langsung mundur beberapa langkah sebelum akhir nya lari ke dalam rumah dengan keadaan pikiran yang traveling kemana-mana. Udah mikir aneh-aneh, macam orang yang lagi di kejar rentenir aja. padahal Adel gak ada berurusan sama yang namanya rentenir.


Baru berapa langkah Adel langsung berhenti, menyadari kesalahannya, ngapain harus lari di rumah sendiri dan gak ada hubungan sama tu orang. Cewek manis itu membalikkan badannya untuk memastikan kalo cuma pikirannya aja, gak mungkin kan orang yang tadi masuk ke dalam rumahnya???


ternyata pikiran Adel itu salah, gak mungkin yang adel pikirkan menjadi mungkin. Dengan langkah yang cepat (soalnya kami cowok itu lebih panjang) masuk ke dalam rumah Adel.


Udah lah, apa aja yang ada di dekat dan bisa di ambil akhirnya Adel ambil. yang ada cuma sapu lidi dan itu yang Adel jadikan senjata pertahanan. Dengan penuh percaya diri Adel menodongkan sapu lidi yang biasa di pakek nenek buat bersihin sofa tua di ruang tamu mereka.

__ADS_1


David yang pikirannya udah jelek itu langsung aja masuk ke rumah Adel tanpa permisi, liat sang tuan rumah yang membalikkan badan dan lari itu membuat David merasa ada sesuatu yang gak beres. Tanpa pikir panjang cowok jangkung itu langsung mengambil tindakan masuk tanpa ijin untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya, belum sempat nanya udah di todong pakek sapu lidi. kontan aja David menghentikan langkah kakinya, menghindari ujung sapu yang tajam.


"Berhenti, mau ngapain?!" bentak Adel dengan menodongkan sapu lidi.


David mengernyitkan alisnya, mengamati dari ujung kaki Sampek ujung kepala Adel. Gak ada yang aneh dari penampilan ni cewek kecuali....


Wajah David memerah, untung aja pakek kaca mata jadi tersamarkan.


Adel yang masih dengan siap siaga dan kuda-kuda itu memperhatikan lawannya dengan penuh curiga.


David menggaruk kepalanya canggung, padahal udah biasa liat yang ginian malah udah biasa liat yang lebih parah tapi entahlah... kali ini berasa darahnya sedikit panas dan mengacaukan otaknya.


"Keluar dari rumah kalo gak mau gue laporin ke polisi."


David maju selangkah dan ternyata itu bukan cuma ancaman, hampir aja ujung sapu lidi yang lancip itu mengenai wajahnya. Beruntung tingkat gerak refleks David itu sangat baik, kali gak udah bakal bergores-gores tu muka.


"Del, sapunya bisa gak di singkirkan dulu?" kata David.


Adel terdiam, laki-laki berbaju hitam layaknya mafia di depannya itu tahu dan menyebut namanya dengan baik dan benar. itu artinya tu orang kenal dan tau Adel.

__ADS_1


"Nenek?!" baru inget sama nenek yang terbaring tak sadarkan diri, Adel melepaskan sapu lidi itu sembarangan.


Kali ini, gerak refleks David yang baik dan benar itu berfungsi dengan sangat baik itu sangatlah berfungsi. kalo enggak bakalan mendarat di kepala David tu sapu yang sembarangan main lempar.


Pengen banget marah tapi liat tersangka udah kabur membuat David mengurungkan niatnya.


"Maaf nek... Adel lupa...." ujarnya dengan Isak tangis.


Mendengar teriakan itu membuat David mengikuti Adel dan mendapati pemandangan yang sungguh memilukan. Cowok itu melepaskan kaca mata hitamnya yang sejak tadi ia pakai dan berjongkok di samping Adel. Tanpa banyak bicara David mengambil alih sosok tua yang tak berdaya itu dari tangan Adel.


Adel terdiam, ternyata orang yang ia pikirkan jahat itu adalah laki-laki yang selama ini ia kenal.


Tanpa banyak bicara dan bertanya David membawa orang yang sangat Adel cintai itu ke dalam mobil, kini semua pertanyaan yang ada di benak David terjawab dengan sendirinya. Siapa pun akan panik berada dalam situasi seperti Adel, apa lagi cewek itu hanya hidup berdua dengan sang nenek tanpa ada orang lain di rumah mereka.


Adel mengambil Hpnya dan mengikuti David yang sudah duluan jalan di depan dengan cepat.


Dengan penuh hati-hati, David meletakkan nenek di bangku belakang. Walau pun bukan siapa-siapa bagi David perihal menghormati orang tua dan wanita adalah pondasi utama sebagai seorang laki-laki walau pun mereka tidak memiliki ikatan dan hubungan darah.


Wajah tua itu terlihat sangat pucat dan lelah, entah bagaimana hidup yang ia jalani tapi David sangat yakin kalau itu bukanlah hal yang mudah. Bagi beberapa orang, perjuangan untuk bertahan hidup itu tidak lah mudah. tidak semua orang di beri anugrah untuk mampu menikmati dan menjalani hidup dengan mudah secara finansial. Mereka harus berjuang dengan keras hanya untuk bisa mengganjal perut mereka, hanya untuk bisa bertahan hidup hingga hari esok. Itu lah kenapa David selalu merasa bersyukur mampu menikmati semua ini meski itu bukan jalan yang mudah pula

__ADS_1


__ADS_2