
"om?" Azkha yang langsung mengenali sosok di depannya itu menyapa dengan sangat gembira dengan raut wajah cerah, sosok favorit yang sangat Azkha idolakan selama ini. dari kecil Azkha sangat dekat dengan adik sepupu papanya itu, bahkan hubungan mereka berdua layaknya seorang teman. Bagi Azkha, sosok ini sangat mempengaruhi hidupnya dan menjadi panutan, walau pun terlihat dingin dan berwajah datar namun yang sebenarnya memiliki hati yang sangat dan sangat penyayang. dari sekian banyak anggota keluarga, Azkha sangat dekat dengan adik sepupu papanya tersebut. Apa pun yang Azkha minta pasti akan di kabulkan dan itu pula yang menjadi perdebatan antara papa dan om nya, pola asuh yang sangat bertolak belakang dari mereka berdua atau lebih tepatnya menyayangi dengan cara yang berbeda.
Meski umur mereka berdua terpaut cukup jauh, tapi sosok yang selalu ia panggil dengan sebutan om itu sangat luwes dan keren.
"Tumben main ke sini?" katanya bersemangat, terakhirnya ketemu pas om nya itu baru pulang dari luar negeri dan karena sibuknya aktifitas mereka berdua jadi baru kali ini ketemu lagi.
Om ini adalah salah satu pengusaha yang sukses dan tentu saja memiliki jadwal yang cukup padat, jadi buat ketemu itu sudah. harus bikin janji dulu baru bisa.
"Kamu ngapain narik-narik anak orang sampek sungkem gini?" katanya dengan menatap tajam Azkha, bukannya takut di liatin kayak gitu malah ketawa cengengesan sambil menggaruk kepalanya yang gak gatal sama sekali. Melepaskan pegangan tangannya di pinggang cewek yang sejak tadi cuma bengong dan gak ngomong apa pun itu dan membiarkannya berdiri tepat di samping Azkha masih dengan raut wajah bingung tanpa memberikan penjelasan apa pun. Sampai disini, ia mengerti suasana seperti apa yang sedang ia hadapi dan itu jauh dari perkiraan dan rencananya awal.
"Bukan gitu sih om, niatnya mau romantis pulang sekolah sambil gandengan tangan tapi gak taunya malah jadi tragedi." jawab Azkha dengan raut wajah sedikit malu, untung aja kan Adel gak beneran nyunsep tadi. kalo gak, kasian anak orang bakal lecet-lecet. kalo cuma lecet doang gak apa-apa, yang bahaya itu Adel marah dan gak mau ketemu lagi bakalan kiamat....
Baru aja mau pedekate tapi udah ngelakui hal yang memalukan, gak gentle banget.
"Sorry, gue gak sengaja tadi." kata Azkha dengan wajah menyesal, ini nyeselnya beneran dan gak di bikin main-main.
"Romantis?" mengulang perkataan Azkha dan menggantung di udara, situasi yang benar-benar membuat pusing. nambah-nambahin daftar masalah yang harus di selesaikan.
__ADS_1
"Iya, jangan bilang sama papa dan mama." katanya dengan melihat ke arah Adel dan tersenyum manis. Hanya di depan Adel, Azkha mampu tertawa lepas dan senyum seperti ini.
"Entar kalo sudah waktunya Azkha bakal bawa pulang dan ngenalin ke mereka. gak asik kalo om duluan yang bocorin, bukan surprise lagi dong namanya." melemparkan senyum ke arah Adel, walau umur Azkha masih sangat muda dan mungkin orang bilang hanya cinta monyet tapi bagi Azkha Adel adalah masa depan dan pilihan yang tak akan tergantikan. Azkha bukan tipe laki-laki yang suka mempermainkan wanita, ketika ia menyukai dan mencintai seorang wanita maka Azkha telah menargetkan sebagai calon istri masa depannya dan ia serius tentang hal ini.
Aturan rumah yang cukup ketat membuat Azkha gak kenal yang namanya pacaran, kedua orangtuanya itu gak bakalan mengijinkan buat yang namanya pacaran selama masih duduk di bangku sekolah dan ijin itu bakalan Azkha kantongi setelah ia duduk di universitas. Dalam hitungan bulan izin itu akan ia dapatkan dan tentu saja beserta ijin untuk menikahi pujaan hatinya. bayangin aja udah seneng, apa lagi kalo Sampek kejadian.
"Kalian?"
"Belum sih om, keponakan om yang ganteng ini selalu di tolak. bahkan om liat sendiri kan tadi?" jawabnya jujur. Sejak dulu, apa pun bakal Azkha ceritain ke om nya yang satu ini. Tidak ada rahasia dan hal yang ia tutupi. "Jadi jangan cerita ke papa sama Mama, kalo enggak Azkha bakal di pindahkan sekolah ke luar negeri." Azkha tahu banget kalo omongan orang tua nya itu bukan hanya sekedar ancaman. Takutnya kalo sampek sekolah di luar negeri, Adel bakal di ambil sama yang lain dan Azkha gak bakal rela.
"Om ngapain ke sini? mau ketemu Azkha atau mau jemput Azkha?" ujarnya mengalihkan pembicaraan, melihat raut wajah omnya udah berubah dan gak bersahabat itu.
"Jangan kelamaan main, kalian masih pelajar." katanya dengan berjalan melewati dua orang tersebut dengan tenang, ada beberapa urusan yang harus ia selesaikan di sekolah ini di bandingkan mengurus dua bocah tersebut.
"Kalau enggak mau di kawinkan secara paksa." katanya lagi tanpa menoleh.
Adel yang sejak tadi membeku dan mungkin juga kaku itu masih syok dan gak tau harus mulai dari mana. Entah ini kebetulan yang membingungkan atau kebetulan yang bakal memperumit hidupnya. tiba-tiba aja kepalanya jadi sakit, apa lagi coba ini....
__ADS_1
"Itu om gue, adik dari papa." kata Azkha membuka pembicaraan, sadar kalo sejak tadi ngacangin Adel dan bahkan lupa buat ngenalin Adel secara resmi.
"Kebetulan sekolah ini yayasan punya kakek, jadi selain kakek om yang sering melakukan beberapa urusan saat kakek sibuk." Azkha berjalan pelan dengan menggandeng tangan Adel, kali ini gak ada perlawanan dari sang empu dan nurut gitu aja jalan sambil di gandeng.
"Kakek kak Azkha?"
"Sebenarnya gimana ya? bukan adik papa beneran sih....." bingung juga jelasinnya.
"jadi gini, Kakek gue itu juga kakeknya om yang artinya dia adik sepupu dari papa."
Entah otak Adel yang kusut atau penjelasan Azkha yang ribet.
"Bukannya kalo gitu kalian sepupu kan???"
Azkha terdiam, apa yang Adel katakan memang benar.
"Kalo kalian berdua punya kakek yang sama artinya orang tua kalian berdua saudara. jadi jatuhnya sepupu juga dan bukan keponakan sama om." jelas Adel yang ngerasa salah.
__ADS_1
"Iya juga ya....." bisik Azkha membenarkan apa yang Adel katakan, selama ini ia menganggap kalau hubungan mereka berdua adalah keponakan dan om gak Sampek mikir kalo mereka berdua adik dan kakak sepupu.
"kok gue gak pernah mikir Sampek sana...." akhirnya... setelah sekian tahun hidup dalam keyakinan yang salah, batu hari ini Azkha sadar kalau apa yang ia yakini benar ternyata salah total.