
Suara pintu ruang ganti terbuka ,
Tak .. tak .. tak .. langkah kaki seseorang terdengar keluar dari ruang ganti baju itu .
Daniel dan daya pun bersamaan menoleh sosok seseorang itu . pandangan mata mereka bertemu dan perlahan senyum di sudut bibir daya menghilang melihat siapa seseorang yang baru saja keluar dari ruang ganti itu .
" Oo itu kau . Calon adik ipar ! " Ucap Daniel menyapa langit ,
Langit tersenyum , " senang bertemu dengan anda kembali " seru langit membalas sapaan Daniel
" Kau datang untuk mencoba setelan ? . Wahh pilihan yang bagus , kau terlihat seperti seorang pangeran " Ujar Daniel melihat setelan yang melekat di badan langit .
Langit hanya membalasnya dengan tawa yang sedikit garing , " kau akan mencoba itu ? " Ujar langit melihat jas yang di pegang Daniel
" Ya . Aku akan mencoba ini . Day , aku akan mencoba nya dulu ya " seru Daniel pada daya .
" Yaa .. " sahut daya tersenyum ,
Kini meninggalkan langit dan daya berdua di ruang itu , daya diam dengan pandangan lurus kedepan menyibukkan diri menatap ruangan itu sementara langit melihat tentengan paper bag yang di pegang daya yang terlihat dengan jelas jika itu gaun dan sebuah sepatu . Mengetahui itu Langit memilih cuek tak menghiraukan daya yang berada tak jauh di sampingnya itu .
Daya melirik melihat langit . ia hendak ingin paling tidak menyapa langit dan bersikap biasa saja tapi saat daya hendak membuka mulut nya ,
" Ahhh Ngit . Lihat ini ! Sempit sekali sampai aku tidak bisa bernafass .. " ujar ilen menuruni tangga lantai dua dengan gaun yang ia gunakan lalu mendadak diam saat mendapati daya di sana bersama langit , ilen melihat langit yang menolehnya datar .
" Dayaa . Sedang apa kamu di sini ? " Gumam ilen
Daya memberikan ulasan senyum singkatnya , " hmm itu ka Daniel meminta ku membantunya memilih jas .. " sahut daya
" Astaga aduhh , gaun itu terlihat cocok untuk mu nona . Saya ingin tahu apa pendapat anda tuan sebagai mempelai pria ? " Puji sang pelayan yang melihat ilen dan Daniel dengan setelan senada
Ilen menatap langit , sedang daya menundukkan pandangannya .
" Kelihatannya bagus . Terlihat seakan gaun sendiri " ucap langit berdiri di samping ilen
" udah ku bilang akan terlihat bagus " seru langit tersenyum pada ilen tanpa peduli sedikitpun dengan daya ,
Ilen dapat melihat daya tak cukup nyaman dengan situasi ini begitu pun dengan nya yang merasa melukai hati daya .
Lalu tak lama keluarlah Daniel dengan setelan jas nya , " ilenn ! Astaga Kakak tidak pernah sekalipun membayangkan melihat mu mengenai gaun seperti ini . Wahh kalian berdua tampak luar biasa , mempelai pria dan wanita yang sempurna " ucap Daniel bahagia dan terkesima melihat mereka .
" Benar , kalian berdua juga tinggi . Kalian begitu cocok dan serasi . Bukankah begitu ? " Puji sang pelayan dan melihat daya menanyakan nya ,
Daya yang tersadar dari kecanggungan dan kegetiran nya pun langsung tersenyum ,
" ah yaa benar . " Sahut daya sambil melihat ilen dan langit .
" Ngit , kau seperti nya cocok menjadi seorang aktor " ucap Daniel
" Eay gak mungkin , anda juga tampak keren . " Puji langit
" Oh ini , daya yang memilihkan nya untuk ku . " Ucap Daniel tersenyum .
Ilen menatap daya , ia juga tahu kalau situasi ini benar-benar sangat begitu canggung bagi mereka bertiga .
Daya pun menoleh melihat ilen , dan memberikan senyumannya seakan ia baik-baik saja .
__ADS_1
Kemudian setelah selesai dari sana mereka keluar bersamaan , " ngomong-ngomong setelah dari sini kalian mau kemana ? Biar sekalian ku antar " Tanya Daniel pada Langit
" Ah tidak perlu , kita bisa naik taksi . Kami juga harus mampir ke beberapa tempat lagi "
(...)
Sementara daya menghampiri ilen saat Daniel dan langit tengah berbincang di depan mereka , " ilenn , kamu punya waktu nanti ? " Seru daya
" Hari ini ? " Sahut ilen
" Ya , ada yang ingin aku berikan pada mu"
Ilen melirik langit di depannya , " emm aku agak sedikit sibuk hari ini . tapi daya , Bisakah kita bicara setelah acara pertunangan ku selesai ? " Ucap ilen
(...)
" Ilenn , ayoo kita pergi " seru langit memandang ilen tanpa melihat daya
Ilen melihat daya ..
" Baiklah kalau begitu " sahut daya pada ilen
" Kalau begitu kami permisi .. " pamit langit pada Daniel seorang dan membukakan pintu taxi untuk ilen
" Hati-hati di jalan ya . Sampai nanti " seru Daniel
Mereka pun pergi tanpa langit yang sedikitpun melihat daya , ia bertindak sebagaimana tak mengenal daya . Acuh , cuek bahkan untuk menoleh sedikitpun tidak . Dan akan hal itu membuat getir di rasa oleh daya ini mengganggu nya .
Sedang ilen , ia bahkan berlalu tanpa mengucapkan kata pamit dengan daya , ia hanya menatap daya dengan tatapan yang tak dapat di artikan hingga taxi itu tak terlihat lagi melesat pergi . Meninggalkan daya yang menatap nanar kepergian mereka dengan hati nya yang tak tertata baik-baik saja itu .
Malam harinya , hujan tiba-tiba turun dengan begitu derasnya dan itu tepat setelah Fira sudah sampai beberapa menit .
" Argh kenapa tiba-tiba hujan deras ? Astaga ! " Ujar pak yoga buru-buru mengangkat jemurannya dan bergegas kembali kedalam
Tok .. tok ..
" Ada orang di dalam ? " Suara seseorang mengetok gerbang kayu kediaman pak yoga yang sekaligus menjadi rumah indekos itu .
" Siapa itu ? " Sahut pak yoga berteriak membukanya dan mendapati seseorang perempuan kira-kira tak jauh seusia nya
" Apa dayana atharik ada di sini ? " Ujar nya
" Boleh saya tahu anda siapa nya daya ? " Seru pak yoga menanyakannya .
" wah hujan cukup deras ya , untung saja aku sudah di sini . " Gumam Fira setelah selesai membersihkan diri nya dan melihat pak yoga yang masih di luar ,
" Pak yoga siapa yang datang ? " Seru Fira menongolkan kepalanya membuat pak yoga menoleh nya .
" Oh Tantee .. " ucap Fira menghampiri . membuat pak yoga bingung ,
" Silakan masuk Tante .. dayanya belum pulang mungkin sebentar lagi " ujar Fira
" Pak yoga , ini ibunya daya . " Seru Fira
" Aah , anda ibunya daya . Maaf saya tidak tahu . Mari silahkan dan saya tinggal , permisi " ucap pak yoga meninggalkan nya dengan Fira
__ADS_1
" ya . Terimakasih " sahut wanita itu yang adalah ibundanya daya
" Duduklah dulu Tante , " seru Fira
" Terimakasih ya fir , apa dia selalu pulang malam ? "
" Gak biasanya ko tante , mungkin lagi ada banyak pasien di RS . Kalau gitu Fira tinggal sebentar dulu ya Tante " ujar Fira ingin membuatkan teh hangat untuk nya , yang di anggukkan oleh Nia ibu dari daya itu .
Sekepergiannya Fira , Nia duduk lesehan dengan pakaian yang lusuh demek terkena air hujan . Ia duduk dengan memperhatikan setiap inci kamar putrinya itu dan ia tertarik dengan selembar amplop coklat di nakas lalu membukanya dan membaca apa isi map coklat itu , matanya bagai tersambar petir membelalak hebat nyaris membuat percikan api barangkali . saat ini wajah itu begitu marah .
saat turun dari halte busway . saat orang-orang memilih mencari tempat berteduh daya justru memilih menerobos puluhan deras tetesan air hujan . Daya yang sudah basah kuyup menembus hujan yang turun cukup deras itu membuat wajahnya pucat dan melihat lampu kamarnya menyala tanpa ba-bi-bu daya pun masuk membuka pintu kamar mereka , ya maksudnya kamar daya dan juga Fira .
Daya di kagetnya dengan sosok wanita yang begitu ia kenal , yang tak pernah ia lihat lagi semenjak pergi meninggalkan rumah ,
" sedang apa ibu di sini ? " Ucap daya membuat Nia dengan cepat berbalik badan dan menoleh nya dengar suara itu
" Aku bertanya sedang apa ibu di sini ! " seru daya penuh penekanan
" Kau masih melakukan hal semacam ini day ?! " Ucap sang ibu menunjukkan kertas di dalam amplop yang ia baca tadi , ya amplop itu ada deklarasi demokrasi yang Doni titip Kemarin untuk di berikan ke ilen .
Daya langsung melepaskan asal paper bag yang ia bawa dari pemberian Daniel pagi tadi , " berikan pada ku . Ini tidak seperti yang ibu pikirkan .. " ujar daya hendak mengambil kertas itu
Tapi , srekk .. srekkk .. srekkkk
Kertas itu di robek-robek habis dengan kesal oleh Nia ,
" Berikan pada ku ! " Teriak daya masih hendak menjamak kertas itu di tangan ibunya . Nia membuang kertas itu dengan kasar ke lantai setelah habis di robek-robeknya dengan sempurna .
Daya menatap potongan-potongan kertas itu di lantai " Apa yang ibu ... "
" Kau masih belum sadar ! Bahkan setelah apa yang terjadi ! " Bentak nia dengan keras
Daya menghela nafas kasar , " apa peduli ibu ? . Kenapa ibu peduli jika aku berunjuk rasa atau membakar diri ku hah ? " Ucap daya
" Dayanaaa !! " Teriak Nia , berhasil membuat Fira tertegun diam membeku mengencangkan nampak cangkir tehnya setelah mendengar percakapan sahabat dan juga ibunya
" aku sudah hidup seperti yang ibu dan ayah inginkan . Seperti yang kalian inginkan , aku hidup dengan tenang dan mengatakan ya untuk segalanya . Aku menyerahkan segalanya dalam hidup ku . Lalu ibu mau aku melakukan apa lagi ? " Seru daya dengan suara gemetar menangis
" Uhf apa lagi yang ibuuu inginkan dari kuuu !! " Teriak daya melepaskan kemarahannya sambil menangis , dengan tangisan yang begitu pilu melengkung menyelimuti kesedihan .
Mendengar itu Nia pun sedih berkaca-kaca dan perlahan pergi tak tahan melihat putrinya . Ia meninggalkan daya yang menangis tersungkur di lantai sambil memunguti robekan-robekan kertas yang berhamburan di lantai ,
Fira pun mencegah ibunya daya , " Tante , daya tidak Sepertinya yang Tante pikirkan ! Apa Tante tidak bisa melihat penderita yang ada pada daya . Amplop itu , amplop itu bukan punya daya . Fira pikiran Tante ingin memperbaiki hubungan kalian tapi ternyata Fira telah salah " ucap Fira meletakkan cangkir teh dengan kasar lalu pergi dan meringsuk memeluk daya
" Menangis lah day , gapapa menangis lah . Menangis bukan karena kita lemah ko jadi menangis lah , It's okay " peluk Fira sambil menepuk-nepuk bahu daya
***
-
-
-
jangan lupa like vote dan komennya yeorobeun βΊοΈπ»
__ADS_1
# happy reading π