Langit Devandra Dengan Daya

Langit Devandra Dengan Daya
bab 65


__ADS_3

Sedang pagi ini, daya begitu cantik dengan balutan dress putih sederhana selutut. Ia tampak dengan serius menulis sesuatu di secarik kertas,


" Apa yang kau tulis? Kenapa lama sekali? " Ujar langit mengagetkan daya


" astaga. Mengagetkan saja! Ish jangan lihat tulisanku. " Seru daya menggeser posisi nya dan menutupi kertasnya, seperti seseorang yang takut lembar jawaban ujian nya di contek.


" Astaga, tulisannya kecil sekali sampai aku tidak bisa melihatnya. Tapi lagipula kita kan akan saling membacakan nya day, apa gunanya menulis begitu kecil seperti itu? " Ujar langit


" Ngit, tidak bisakah kita melewatkan bagian doanya? Bukankah janji pernikahan saja sudah cukup?" Seru daya


Langit segera membulatkan pupil nya tampak protes, " kenapa bicara begitu. Di pernikahan kita, Sudah tidak ada penghulu ataupun tamu yang hadir. Dan kita tidak menyiapkan pakaian, hadiah pernikahan, atau semacamnya. Setidaknya kita harus bertukar sesuatu seperti doa satu sama lain untuk memperingati pernikahan kita. " Ucap langit,


" Tapi aku tidak pandai menulis esai. " Gumam daya masih sibuk dengan secarik kertas.


Pagi ini mereka akan mengikat janji suci untuk pernikahan mereka, mereka akan menikah dengan hanya di saksikan oleh bapak dan ibu kepala yayasan panti.


Langit tersenyum, " aku tidak menyuruh mu menulis esai. Tulis saja apapun mau mu. Dan aku yakin semuanya akan terwujud, tuhann akan mengasihani kita karna kita tidak punya uang. " Seru langit sambil Memohon menggenggam kedua tangannya.


Daya melirik langit, " Ngit. lalu kenapa kamu tidak menulis doamu?"


" Aku sudah menghafal doaku. Aku berdoa tiap hari dan itu doa yang sama setiap akhir-akhir ini"


Daya tersenyum, " doa apa? Tentang apa? " Tanya daya penasaran


" Aku ingin bisa menua bersama mu. Tapi jika aku lebih dulu yang mati, maka aku ingin kamu di kubur bersama ku. " Ucap langit


" Apa! Maksudmu aku di kubur hidup-hidup bersama mu? Tidak mau. Berdoalah yang lain! "


Langit hanya tersenyum lucu,


" ish ganti yang lain doanya. Kamu bilang


Doa itu akan terwujud! "


" Ya udah kalau gitu, berdoalah agar kamu tidak akan di kubur hidup-hidup. Lalu mari kita lihat doa siapa yang lebih efesien. " Ujar langit,


" Ouh kau itu benar-benar " gerutu daya menutupi kembali kertas yang berada di tangannya itu.


...πŸƒπŸƒπŸƒ...


Lalu pagi ini juga devandra dengan agak sedikit berantakan bergegas ke markas pertahanan keamanan interograsi antikomunis dan langsung segera keruangan nya yang sudah terdapat beberapa orang-orang yang tampak merapihkan barang-barangnya.


" Sedang apa anda di ruangan ku? " Ucap devandra pada petinggi angkatan militer yang langsung memberi kode pada orang-orang yang tengah mengemasi barang-barang devandra,


" Kami mendapat informasi, bahwa kedua putramu sangat terkait dengan tersangka utama insiden ini. "


" Kurasa anda keliru. Tersangka hanya mengatakan... "


" Cukup. Kau bisa membela diri selama


Penyelidikan. Seorang inspektur harus selalu objektif. Sampai penyelidikan selesai, saya akan memegang kendali." Ucap dingin petinggi angkatan militer itu lalu pergi.


Devandra benar-benar emosi karena semuanya yang sudah ia bangun akan berakhir, semua yang telah ia lakukan hancur.

__ADS_1


" Anak-anak tidak tahu diri itu! " Umpat devandra pada putra-putranya. lalu kemudian pergi meninggalkan tempat singgasana kedudukannya.


***


Sedang di sebuah gereja yayasan panti langit dan daya baru saja menggelar pernikahan mereka, pernikahan yang sangat amat sederhana dan seadanya dengan langit yang juga hanya mengenakan kemeja putih.


Setelah bapak dan ibu kepala yayasan memberikan ucapan selamat. mereka pun meninggalkan nya karena perlu mengurus sesuatu, lalu saat ini langit menatap daya begitu lekat.


" Kenapa?" Tanya daya yang salting


" Sekarang, kita bisa mendengar doamu?" Seru langit tersenyum


" Eum pengantin pria nya boleh lebih dahulu karena kau kan sudah menghafal doanya. " Ujar daya melihat langit yang menyeringitkan dahinya membalas tatapan daya.


" Baiklah. " Sahut langit memberikan tangannya pada daya yang kemudian daya pun menggenggamnya,


Mereka berdua saling memejamkan matanya.


" Tuhan. Kesulitan apapun yang akan menimpah kami nantinya, jangan biarkan kami melepaskan genggaman tangan kami satu sama lain. Karena aku tidak akan melepaskan genggaman tangan ku,


Aku berdoa agar kami bisa mengatasi kesulitan itu. Dan yang amat sangat paling utama kumohon limpahkan lah rasa sakit yang lebih berat pada ku, alih-alih pada daya. Aku berdoa dengan tulus pada mu Tuhan. Amin. " Ucap langit


" Amin. " Sahut daya, mereka pun membuka kedua matanya mereka,


Langit menatap daya sambil mengangguk meminta daya gantian untuk membaca doa miliknya.


" Aih. Bagaimana ini, doa ku berantakan. Bersyukur nya kamu tidak berdoa agar aku di kubur hidup-hidup. " Gumam daya merogoh kantong dress nya untuk mengambil secarik kertas tulisan doanya.


Daya tersenyum, " aku, Dayana atharik... "


" Dayaaa! " Teriak bapak kepala yayasan yang berlari menghampiri daya dengan nafas yang cukup terengah,


Daya pun segera menolehnya bersamaan dengan langit yang juga langsung menoleh melihatnya.


" Baru saja, ibumu... Ibumuu.. Fira menelpon.. " Seru bapak kepala yayasan dengan ketidak sanggupannya,


Flashback,


" Ouh, jumlah yang meninggal terus saja berdatangan. " Ujar Fira yang tengah sibuk mencatat identitas para korban yang meninggal dan juga daftar orang-orang yang hilang.


" Fir, mayat di peti ini. Kami berhasil menghubungi keluarganya dan mereka akan mengambilnya. " Ucap rekan sang aktivis


" Ahh syukurlah. " Seru Fira yang sedikit menggeser agar rekan-rekannya itu bisa meletakkan peti itu kedalam.


" Firaa.. kami menemukan seorang anak pelajar di tepi jalan kolong jembatan. " Ucap seseorang,


Fira menoleh kaget, " Oouhh nilla... " Ujarnya


" Ka firaaa... " Gumam daynila sendu


" Kau mengenal nya?" Tanya rekannya itu


" Ehm. " Angguk Fira,

__ADS_1


" Kalau begitu kita akan kembali memeriksa sekitar. " Ujar mereka pergi.


" Apa yang terjadi hah? Ibumu mana? Kau baik-baik saja?" Sederet pertanyaan yang Fira ajukan.


" Ibu.. ibu belum kembali setelah menyuruh ku untuk tetep sembunyi, ia bilang akan berbicara dengan para tentara itu, semalam tiba-tiba saja para tentara menyebar. Bagaimana dengan ibuku kaa? Ia berjanji akan kembali tapi kenapa sampai saat ini belum kembali. " Lirih daynila dengan mata berkaca-kaca.


Mendengar itu Fira mendadak merasakan firasat yang tak baik,


" Fir.. firaaa. Kami menemukan satu mayat lagi!! " Teriak mereka membawa mayat tersebut tanpa peti.


" Ahhh benar-benar para anjing negara biadap. Bagaimana mungkin mereka..." Ujar Fira terdiam kala melihat wajah mayat tersebut.


melihat itu, nilla pun menolehnya dan seketika menangis sejadi-jadinya,


" Tidak, ibuu... Tidak... Ibu bangun...ibuu " Teriak nilla memeluk sang ibu sambil beruraian air mata.


Fira ikut terenyuh sedih, ia pun memilih menemani nilla yang masih menangis sejadi-jadinya. Setelah di rasa nilla yang sudah cukup tenang di samping jenazah ibunya, Fira pun melimpir sejenak meninggalkan nilla untuk menghubungi daya. Karena ponsel mereka berdua hilang, Fira hanya punya opsi menghubungi yayasan panti karena sebelumnya daya sempat bilang ingin mampir kesana.


End flashback.


Daya yang mendengar itu pun langsung bergegas cepat pergi kesana di temani langit.


Sesampainya di sana, Fira segera memeluk daya dan mengantar daya ke daynila. daya melihat adiknya nilla sedang duduk dengan wajah sembab di samping tubuh mayat yang tergeletak di lantai menggunakan menutup bersamaan dengan para mayat lainnya,


Daya menghampiri nya dengan langkah yang lunglai.


" Kakak... " Lirih daynila sambil menangis melihat sang kakak.


Dengan wajah pucat Daya mengeleng mencoba menyangkal, " ngga. Itu bukan ibuku. Fir, Ngit, lihat itu. Coba lihat. Ibuku tidak sependek itu. " Ujar daya


Langit dan Fira hanya terdiam, sedang daya pelan-pelan dengan tangan gemetar membuka kain penutup pada mayat tersebut yang merupakan sang ibu.


Saat kain penutup itu terbuka, terpanggang jelas wajah sang ibu Damiella yang terdapat luka memar di bagia leher. Daya berkaca-kaca, nilla menangis. begitu pula dengan langit dan juga Fira.


" Ibu. Ibu, buka mata ibu. Berhenti menggoda ku dan buka mata ibu. Kenapa berbaring di tanah dinginn? " Seru daya dengan suara gemetar,


" Ibu. Ibu, bangunlah. Buka mata ibu sekarang! Jangan begini... Ibu tidak boleh melakukan ini, kenapa sampai saat terakhir... Kenapa harus seperti ini ibuuu?" Ujar daya yang kini tak dapat lagi membendung air matanya, ia menangis sambil menggoyang-goyangkan tangan ibunya berharap semua ini tidak nyata, berharap sang ibu kembali.


" Tidak boleh, tidak. Ibu, aku tidak bisa merelakan ibu begitu saja. Ibu, ibu. Ayo pulang. Ayo kita pulang ibuu.... ibuu " Lirih daya menangis tersedu-sedu menggenggam tangan ibunya.


***


-


-


-


jangan lupa like vote dan komennya yeorobeun β˜ΊοΈπŸ€—πŸŒ»


dukungan kalian sangat amat berarti untuk MiminπŸ€—


# happy reading all πŸƒ

__ADS_1


__ADS_2