
...' pusat medis darurat, ruang perawat. '...
" Kirim mereka ke ruang operasi dengan urutan ini. Untuk ini, jahit saja lukanya. " Ucap sang dokter pria satu-satunya itu.
" Baiklah. " Sahut sang perawat
" Permisi, dokter. Saya ingin bertanya kapan riko akan di operasi ? " Seru seorang ayah yang khawatir
" Rikoo ... Ah kami baru saja menjadwalkan operasi nya. " Ucap dokter itu melihatnya
" Benarkah? Terimakasih banyak. " Ujar pria berumur itu senang mendengar kabar itu.
Tak .. tak .. tak .. langit menghentikan larinya,
" Dokter, kita harus menjadwalkan operasi darurat. Uhf uhf uhf, luka tusuk di arteri femoralis. " Ujar langit masih dengan nafas tersengal-sengal.
" Apa! Apa maksudnya ? Apa hak mu mengubah urutannya ? " Ucap lelaki pria berumur itu
" Maaf pak, tapi kami harus mengutamakan Operasi darurat... "
Sretttt...
" Astaga! " Ujar langit yang kaget karena kerah dan jubah nya di tarik oleh sang pria berumur itu,
" Putraku butuh perawatan darurat. Dia harus segera di operasi ! " Ucap pria itu naik pitam
" Pasien ini akan mati jika tidak di operasi
Sekarang. " Seru langit
" Pak, tolong lepaskan ini dan ... " Seru senior perawat yang mencoba menderai dan menenangkannya.
" Kamu pikir kamu siapa? Yang mahakuasa? Apa hak mu memutuskan siapa yang pertama! Jika putra ku mati karena tidak bisa di operasi sekarang. Apa kau ... Apa kau mau bertanggungjawab jika dia mati ? " Ujar pria itu
" Kamu mau bertanggungjawab nya hahh !!! " Ucapnya emosi terus mencengkram kerah langit
Membuat dokter pria satu-satunya di RS Semarang saat ini menghela nafas dan menghentikan nya,
" Ahh astaga tenanglah ! Ini hanya akan menunda Operasi putra anda saja ! " Ucap sang dokter Meminta seseorang untuk mengamankan nya sebentar.
Lalu dokter itu pun melihat langit, " Ngit. Kita sudah selesai memeriksa semua pasien. Jadi, kembalilah ke perawatan rawat jalan " serunya membawa pria itu.
Langit hanya terpaku diam, ia seakan mendapat pukulan yang keras. Lalu segera menyadarkan dirinya kembali.
Daya yang menyaksikan itu semua dari arah belakang langit benar-benar merasa bersalah.
Lalu langit pun berjalan pergi melewati daya.
Daya menoleh langit yang terus berjalan kembali ke ruangan rawat jalan,
Di sana ia kembali membawa papan data pasien.
" Nona destina ? ... " Ujar langit menghampirinya sambil fokus pada papan data pasien tersebut,
" Aku akan membersihkan lukamu dan menjahitnya untuk mu " ucap langit Menutup papan itu
" Hah ka langittt ! " Seru dilla yang terkejut melihat langit
" Dilla ! " Ucap langit menatap nya,
Lalu langit pun tengah menjahit luka destina yang merupakan teman sekolah nya Dilla.
" uwahh siapa sangka aku bisa melihat mu memakai jubah putih dokter kakak. Aku melihat cahaya cemerlang yang terpancar dari mu. Inikah yang mereka sebut aura ? " Ujar Dilla begitu terkesima akan langit
" Bisa diam dill ! " Seru sang teman
" Sudah selesai. Tapi kamu harus menunggu hasil pindah CT. " Ucap langit
" Wahh astaga lihat, lihat jahitannya ! Des kamu hampir terlihat seperti memakai mesin jahit. " Seru dilla lalu melihat langit Tersenyum
Langit pun membalas tersenyum mantan anak didik lesnya itu, " Dilla, kamu baik-baik saja ? Tidak ada yang terluka ? " Tanya langit
" aku baik-baik saja. Aku sangat gesit, tidak seperti kura-kura lamban ini. " Ucap Dilla
" Apa kamu bilang! Mereka juga memukul kepala mu. Aku mendengar suaranya " ucap destina
" Mereka memukul kepala mu ? " Seru langit khawatir
" tapi itu bukan masalah serius. Itu seperti jentikan jari guru saat tertidur di kelas. " Ujar Dilla
Langit pun langsung duduk di hadapannya, " coba ku lihat. " Ucap langit menoleh-nolehkan kepala Dila kiri kanan, keatas lalu kebawah.
__ADS_1
" Coba lihat ini, tetap perhatikan jariku Dilla " seru langit meletakkan telunjuk jarinya dan mengerjakannya ke kiri dan kanan,
Hal itu langsung menyebabkan Dilla mimisan begitu saja membuat nya kaget,
" Oh astaga, apa ini ? " Gumam Dilla mengelapnya
" Auhh dasar, temanmu sekarat di sini. Tapi kamu masih bersemangat sampai mimisan seperti ini ? " Ujar destina kesal
Dilla langsung memberikan tatapan tajam peringatan pada temannya, " kamu mau mati dess! " Seru dilla
" ka langit, ini bukan karena aku terlalu bersemangat. Tapi ... "
" Kamu juga harus di periksa dokter. Daya ada di sana, mintalah ia mendaftarkan mu. Mengerti ? "
Dilla pun langsung mengangguk,
" Dokter langit, anda juga harus menjahit
Pasien ini. " Ujar salah satu perawat senior memberikan papan data
" Ya baiklah. " Sahut langit menerimanya tapi masih fokus dengan Dilla.
" Periksakan dirimu hah. " Ucap langit sebelum pergi
" Baiklah.. " jawab Dilla. Ia pun pergi menghampiri daya,
" Ka Dayaa .. " serunya di tengah-tengah sibuknya daya dengan para pasien
" Oh Dilla ! Ada apa ? Kau sendiri di sini ? Kau terluka ? Apa ada yang terluka hah ? " Ujar daya khawatir sejenak menghampiri Dilla
" Tidak, aku baik-baik saja ko. Wah kakak amat sangat sibuk ck ck " ucap Dilla yang justru tak ingin menambah repot daya,
" Dil, apa kau yakin baik-baik saja hah ? "
" Ehm. Aku tidak terluka, oh ya ka daya jika tidak keberatan boleh aku meminjam ponsel mu? Aku ingin menghubungi keluarganya destina. Soalnya ponsel ku entah dimana saat aku berlarian " seru Dilla
" Ya. Ini pakailah " ucap daya memberikan ponselnya lalu kembali bersibuk dengan para pasien,
Sementara langit sudah kembali menghampiri teman dari Dilla,
" destina ? Saatnya pindah CT. " Ucap langit yang di anggukkan oleh destina,
Lalu langit melihat sudah tak Dilla,
" Dia bilang pergi sebentar menelpon keluarga ku. " Seru destina
" Dia sudah mendaftar ke loket untuk di periksa dokter ? " Tanya langit
Yang hanya di jawab gelengan ambigu dari destina,
Kemudian langit pun pergi untuk mencari Dilla. Ia pun melihat telpon seluler milik RS tapi penuh dengan orang-orang yang mengantri akan memakainya, lalu langit pun melihat kearah loket tapi juga tak mendapati dilla di sana. Hingga langit pun memberhentikan Maya sang perawat,
" Oh Mayaa, maaf tapi apa ada telepon umum lain selain itu ? " Seru langit
" Ada satu lagi di dekat annex. Lewati koridor itu " ucap Maya
" Oke terimakasih. " Ujar langit lalu pergi.
Langit perjalanan menuruni koridor sambil membaca papan data di tangannya, " ouh aku sudah menyuruhnya untuk menemui dokter, tapi dia keras kepala. Astaga! Dasar gadis keras kepala ... " seru langit
Brugh !!
Di ujung koridor itu Dilla sudah terjatuh tak sadarkan diri, tentunya hal itu langsung membuat Langit lari menghampirinya.
" Dillaaa ! " Teriak langit menelentangkan Dilla
" Dill ! Dillaa ! " Seru langit panik lalu perlahan mendekatkan telinganya ke hidung dan mulut Dilla, ia membelalakkan matanya. Lalu mengecek nadi leher Dilla dengan tangannya, Adegan itu langsung saja membuat Langit tiba-tiba kembali mengingat kejadian masa lalu saat ia berlumuran darah mengecek Ica seperti tadi.
Perlahan itu membuat Langit berkeringat, ia takut jika akan gagal menolong Dilla sama seperti ia yang gagal menolong dengan cepat Ica. Perlahan langit segera bangkit dan memundurkan langkahnya dengan deru nafas yang panik,
" Tolong ! Apa ada orang di sana ?? " Teriak langit menoleh mencari seseorang tapi tak mendapati siapa pun.
Langit kembali melihat Dilla di hadapannya yang sudah pucat dengan nafas yang hampir tak terindentifikasi.
Langit dengan seribu ketakutan nya akan kejadian yang menghantuinya beberapa silam lalu akan kegagalan nya menyelamatkan seseorang itu . Lalu kemudian ia mulai mengingat semua perbincangan dengan Dilla dari mulai cita-cita Dilla dan impian-impian nya Dilla , hal itu langsung segera membuat langit menghampir nya kembali lalu melakukan CPR untuk Dilla dan tidak melarikan diri.
Langit terus memompa tangan nya melakukan CPR , ia terus melakukan bermenit-menit. Sambil memohon untuk agar Dilla selamat.
Sedang daya baru saja selesai memperban pasien, ia tak kunjung mendapati dilla yang kembali lalu ia juga tak melihat keberadaan langit.
Maya baru saja kembali dari mengambil box etanol,
__ADS_1
" May, apa kamu melihat langit ? " Tanya daya
" Oh tadi dia pergi ke annex untuk menelpon. " Ujar Maya kembali sibuk dengan pekerjaan nya
" Kenapa dia tidak memakai telpon di ruang perawat ? " Gumam daya lalu pergi untuk menghampiri nya.
Di sana langit masih terus berusaha melakukan CPR dengan mata yang mulai berkaca-kaca karena Dilla tak kunjung merespon,
" Kumohon. Dilla, kumohon. Kamu bilang ingin pergi ke studio penyiaran musik. Maka dari itu kumohon kembalilah UHF uhf uhf .. " gumam langit masih terus memompa tangan nya CPR.
Ceklek brakk ! Pinta annex terbuka,
" seseorang disana ? Ada yang bisa membantu ku uhf uhff uhff ! " Teriak langit dengan deru nafas takut dan khawatir.
" Langitt, ngittt ! " Seru daya berlari mendekat
" Day. Tolong cari bantuan. " Pinta langit yang masih berusaha memompa.
Mendengar itu daya langsung segera lari mencari bantuan,
" Dill, ayo dong aku mohon bangun ! Aku mohon ! Tolong kembalilah ! " Gumam langit tak henti berharap
Dug .. dug .. dugg .. duggg.. langit terus memompanya, lalu tiba-tiba Dilla membuka mulutnya dan kembali bernafas. Hal itu membuat Langit lega dan menghentikan CPR nya,
" Dilla. Kamu bisa mendengar ku ? Dillaa .. " seru langit yang mendapati dilla kembali menutup matanya.
Lalu langit kembali memeriksa nadi Dilla, sebelum akhirnya daya datang dengan bantuan dan juga ranjang dorong RS. Kemudian Dilla pun di bawa.
***
Malam hari sudah. tepatnya saat ini, di jalan yang sudah mulai sepi. Ilen dan Fira tengah terjun langsung membantu orang-orang yang terluka di jalan. Mereka mengevaluasi dan mencari nya dengan membawa obat-obatan, bagai pencuri yang sedang mengendap-endap mencuri. mereka bergerak dengan sangat hati-hati.
" Fir, kamu pergilah lebih dulu membawa yang lain. Aku akan menyusul setelah memeriksa di gang sana" seru ilen
" Ehm. " Jawab Fira mulai mendorong sebuah gerobak yang saat ini berisi satu orang luka parah
Ilen berlari dengan segera dan benar saja ia melihat seorang pria yang sudah babak belur dengan darah dimana-mana.
" Tuan !.. tuann ... Apa kau bisa mendengar ku ? " Seru ilen mendudukkan nya
" Tuan.. hei tuann .. " ujar ilen kembali dengan sedikit panik mencoba menyadarkan pria itu, yang saat ini tengah menatap ilen dengan lirih tak berdaya,
" Nama.... " Lirih pria itu dengan payah
" Hah apa ? " Ujar ilen tak jelas
" Namamu... " Gumam nya begitu lirih
" Na-namaku ? Oh ilen.. ileniaa.. tuan, tunggu di sini aku akan memanggil teman ku.. " ujar ilen hendak segera pergi tapi tangan nya di hentikan oleh pria itu.
Ilen pun menoleh nya,
Pria itu menatapnya dan mengulas senyum nya kala mengetahui ilen memberitahu namanya, " A-aku tidak sempat... " Lirihnya lalu tangannya terhempas begitu saja dan kemudian menutup mata nya.
" Tuan.. hei tuann ! Tuan bangunlah " Seru ilen tiba-tiba teringat dengan pak polisi yang menolong nya saat itu dan juga saat polisi itu meminta nomor telepon nya, dengan tangan gemetar ilen mencoba melihat tangan pria itu.
Dan saat membalikkan telapak tangannya ia langsung menangis mengetahui apa yang tertera di telapak tangan pria itu. Ya itu adalah nomor telepon ilen yang tak sempat sampai selesai ia tulis.
" Tidak ... Tidakkk .. bangunlah pak polisi .. pak polisii.. " lirih ilen menangiss.
Ya mungkin takdir dan cinta tak memihak mereka. Tapi setidaknya pak polisi muda itu di akhir hayat hidupnya dapat menyinggungkan senyum terakhirnya karena paling tidak ia akhirnya dapat mengetahui nama dari wanita yang ia sukai itu.
***
Di RS langit tak bisa tenang berdiri diam di ruang tunggu di tengah lalu lalang para pasien, ia begitu khawatir dengan menunggu keadaan Dilla.
" Ngitt. Operasi nya berjalan lancar, dan organ vitalnya stabil. Dilla baru saja di pindahkan keruang pemulihan " beritahu daya akan kondisi Dilla
" Ahh syukurlah.. " seru langit benar-benar lega dan tenang mendengarnya.
" Jika CPR terlambat sedikit saja, Dilla tidak akan selamat. Langit, Kamu menyelamatkan Dilla. " Ujar daya
Membuat langit menatapnya dengan mata yang begitu kaca-kaca karena tak lari meninggalkan Dilla kala itu di koridor annex.
***
-
-
-
__ADS_1
# happy reading all π
jangan lupa like vote dan komennya yeorobeun βΊοΈπ€π»