Langit Devandra Dengan Daya

Langit Devandra Dengan Daya
bab 37


__ADS_3

Cukup memakan waktu beberapa jam untuk sampai di stasiun Banyuwangi kini langit berada di daerah menuju kota alamat rumah daya tapi sesaat ia menghentikan langkahnya sambil menatap secarik kertas alamat itu ,


" Tunggu dulu, menemui orang tua nya padahal baru beberapa jam ... Emm itu menakutkan kan?. Begini saja, aku akan memeriksa nya dari kejauhan dan apa daya ada di sana, uhf tapi ini lebih menakutkan sembunyi-sembunyi menguntit rumah seseorang." Seru langit yang bingung akan bicara apa nantinya,


" Ngit ayo dong ! Hanya menemui mereka untuk memastikan apakah daya ada di sana atau tidak. " Ujar langit memantapkan dirinya


" Biar aku mencari sesuatu di toko untuk paling tidak memberi hadiah dan memperkenalkan diri pada mereka ... Benar bukan? Hanya seperti itu saja Ngit, apa susahnya . Ahh tapi. Kenapa ini menakutkan sekali ya! Ahh ini membuat ku gila ! " Ujar langit pasrah, dan tiba-tiba pula seorang nenek lansia berlarian menghampiri nya.


" Anak muda , dengarkan ini. Bisakah kamu ... Dokter.. ya hmm Bisakah kamu panggilkan dokter ? " Seru sang nenek sambil mengatur nafasnya setelah berlarian


" Hah? " gumam langit menatap bingung


" Putra ku sekarat saat ini huhu aku ingin membawa nya ke rumah sakit lokal ... Tapi mereka bilang aku harus bersiap untuk berpamitan ... " Lirih sang nenek setengah menangis


" Ada apa dengan putra nenek ? " Tanya langit


" Astaga . Kamu adalah seorang dokter ?" Ucap sang nenek memegang lengan langit dengan kedua tangannya


" A-ah bukan ... Aku ... " Gumam langit yang terus di pegang dengan sedikit di tarik oleh sang nenek tersebut


" Tung-tunggu emm kalau begitu , bagaimana jika kupanggilkan ambulans ?" Seru langit


" Tidak .. ikutlah denganku nak , tolong bantu putraku. Lihatlah dia yaa, aku mohon . " Lirih sang nenek menarik paksa langit,


Sementara itu di ujung tempat tersebut sebuah keluarga masih belum menyadari sang nenek lansia itu tak ada .


" Ibu , kenapa keluar ? " Seru seorang gadis membawakan obat


" Ibu muak terus-menerus berbaring daynila " ujar sang ibu


" Jika ibu sudah bicara seperti ini itu artinya ibu sudah membaik , minuman ini agar ibu semakin membaik " ucapnya


" Di mana nenek mu ? " Tanya sang ibu yang tak mendapati ibu mertua nya


" Nenek ? Bukankah nenek tadi berada di samping ibu, menemani ibu sambil menggenggam tangan ibu " kata daynila menoleh kedalam bilik kamar bersamaan dengan ibunya


" Nenek tidak ada di kamar ... Tapi tadi ada di sini kok " ujar daynila


" Ibu akan mencarinya dan melihat-lihat di area sekitar . Dan kau nila hubungi ketua RT dan minta ia membuat pengumuman yaa " ucap sang ibu menyambar jaketnya dan hendak pergi dengan kondisi yang tak terlalu sehat banget sebenarnya .


" Baik .. tapi ibu yakin sudah tak apa ? "


" Tidak usah pikirkan ibu .. nenek mu lebih penting sekarang " seru nya hendak pergi


Tapi saat akan melangkahkan kakinya menuju gerbang ,


" Apa ada orang di rumah ? " Ujar langit yang datang bersamaan dengan nenek lansia yang memang sedang akan di cari itu.


Membuat wanita yang sudah setengah paruh itu pun yang memiliki nama Damiela sedikit merasa lega mendapati sang ibu mertua nya ,


" Damiela .. " ujar sang nenek


" Astaga ! Ibuu ! Ahh " Ucap Damiela yang khawatir


" Astaga nenek ... Dari mana saja ?, Nenek membuat kita sangat ketakutan " Seru daynila berlari menghampiri nenek dan sang ibu


" Permisi , maaf di mana putra nenek ini ?" Ujar langit

__ADS_1


" a-ada apa ? Menanyakan suami saya ? " Seru Damiela


" Nenek ini bilang jika putra nya seusai ku dan ia sedang sakit ? Di mana sekarang beliau ? " Tanya langit


" Apa ?! " Ujar Damiela melihat sang ibu mertua dan juga putrinya daynila


" Ah maaf , nenek ku pasti bilang jika putranya hampir mati ya dan membawa anda kesini ? " Gumam daynila


" Maaf sebelumnya, ibu mertua ku memang sering kehilangan ingatannya . Ia sering kali mengira jika putranya itu masih ada sementara suamiku sudah lama meninggal . Jadi maaf soal ini" ujar Damiela


" A-ah tidak apa-apa ... " Sahut langit , " kalau begitu saya permisii .. " sambung langit setelah ia sekilas melihat sang nenek sebelum pamit


" yaa terimakasih .. " jawab dua orang ibu anak itu yang membawa nenek itu untuk masuk , tapi ..


" Ah maaf ngomong-ngomong ... " Seru langit yang baru beberapa langkah itu kembali dan mengeluarkan kertas alamat , " maaf apa kalian bisa beritahu aku ini kearah mana ? . Karena ini kali pertama ku kedaerah sini " Ujar langit memberikan alamat itu.


Yang tentunya membuat kedua ibu dan anak itu melongo melihat alamat itu, Lalu mereka pun menatap langit yang membuat langit melihat nya.


" Ini adalah alamat yang sedang anda cari .. " ujar daynila . Ya itu adalah kediaman keluarga daya dan mereka adalah keluarga Dayana ,


" Anda ada perlu apa ? " Tanya Damiela


" Ah .. begini, saya kesini untuk bertemu daya. Apa ia di sini ? " Gumam langit tampak canggung karena itu berarti wanita yang berdiri di depannya adalah ibundanya daya dan anak perempuan di sampingnya itu adalah adik dari daya lalu nenek ini yang sudah pasti adalah neneknya daya .


" daya ? Ia tak ada di sini .. ia bekerja di Semarang " ucap Damiela,


Langit pun memperkenalkan dirinya sebagai pacar dari daya.


" nila tolong buatkan hidang untuk nya .. ini juga sudah waktunya makan siang" ujar Damiela pada Putri keduanya itu , yang tentunya di anggukkan iya oleh daynila adik daya itu.


" Silahkan .. maaf kami tidak punya banyak lauk " ujar Damiela


" Te-terimakasih " ucap langit Merasa canggung


" maaf anda jauh-jauh kemari, tapi tidak bisa bertemu dengan kak daya .. " seru daynila yang duduk di samping ibunya sambil tersenyum ,


" Melihat mu di sini pada hari kerja, dan bukannya di kantor . Kurasa kau mahasiswa ? " Ujar Damiela ibu dari daya itu


" Emm ya , jadi ... Sebentar lagi saya akan lulus kuliah " jawab langit


" Usiamu sama dengan daya, tapi belum lulus?. Kamu pasti sudah cuti beberapa tahun " ucap ibu daya


" Aa- sebenarnya, itu. aku tidak cuti. Emm tapi butuh enam tahun untuk lulus dari jurusan ku "


" Enam tahun ? .. " ucap daynila melihat sang ibu , " astaga kalau begitu berarti kakak mahasiswa kedokteran ? " Ujar nya Tersenyum


" Di mana? Universitas mana ka ... " Tanya nya menyebutkan beberapa universitas daerah mereka ,


" ah bukan ... "


" Jangan bilang ... Universitas Jakarta ? "


" Ya . " Sahut langit lagi-lagi membuat daynila tersenyum bahagia sampai-sampai memukul pelan lengan ibunya itu karena ternyata sang kakak benar-benar hebat bisa memiliki pacar yang tampan dan lagi juga hebat kerena seorang dokter pula .


" Eehey nila " gumam sang ibu pada putri keduanya yang tampak bahagia itu , tanpa sadar ternyata sang nenek pun ikut tersenyum melihat cucuknya yang tertawa


" Kenapa ibu mertua tersenyum ? " Tanya sang menantu Damiela kalu kemudian melihat langit ,

__ADS_1


" Apa orang tua mu juga tahu kamu berpacaran dengan Dayana ? " Seru Damiela pada langit


" kenapa ibu menanyakan itu ? Ibu aneh sekali . Anak-anak zaman sekarang tidak seperti zaman ibu dulu " sahut daynila


" Jangan hiraukan ibu ku ka dan lanjutkan lah makannya ka " seru nila tersenyum menggeser lauk,


***


Di sudut kota lain, Daniel tengah bergerutu melihat para pendemo memadati jalan.


" Uhf, kenapa mereka berunjuk rasa di siang bolong begini ? " Ujar Daniel berjalan memasuki kantor nya setelah berhasil memarkirkan mobilnya yang lama terhalang para pendemo. Saat Daniel hendak masuk, ia di kagetkan dengan daya yang sedang menyender jongkok dengan wajah yang begitu pucat dan menunduk dengan tatapan kosong,


" dayaa" seru Daniel yang tentunya menyadarkan nya


Daya pun menolehnya dan segera bangkit dengan keadaan tubuh yang terlihat lemas tak stabil itu , dengan sigap Daniel hendak akan membantunya tapi daya sudah lebih dulu berdiri.


" Ka Daniel .. maaf aku gak bermaksud tidak sopan, tapi aku ingin menanyakan sesuatu . Ini... Ini tentang paspor ku " lirih daya, lalu Daniel mengajak daya ke keruangan nya.


Sesampainya di ruangan, daya terduduk diam melihat ka Daniel. sementara Daniel sibuk menelpon pihak sana dan juga temannya yang ia minta membantu pembuatan paspor milik daya itu, setelah berbicara lewat telepon lalu Daniel menutup telepon nya dengan pandangan sedikit gamblang.


Daya pun melihat nya , " aku tidak akan dapat paspor nya, ya ka ? " Lirih daya


Daniel pun mengangguk, " tampaknya, prosesnya di tunda. Padahal ini hampir selesai. Mereka bilang membutuhkan persetujuan institusi lain " seru Daniel yang heran kenapa bisa seperti itu.


" Komandan pertahanan keamanan" seru daya


" Apa ? " Ucap langit menyeringit


" Ayahnya Langit." Gumam daya yang berkaca-kaca, Daniel yang mendengar itu sontak mengeraskan rahangnya lalu menghampiri daya


" Baiklah. Aku yakin mereka hanya mencoba menakutimu, keamanan pertahanan pun tidak bisa asal menghentikan seseorang yang akan menuntut ilmu di luar day. Lagi pula kamu tidak melanggar hukum juga, daya. Jangan khawatir dan tunggu saja aku akan mencari cara " ucap Daniel


Secepat kilat daya mengeleng, " tidak perlu ka. kakak hanya akan membuang-buang waktu ka Daniel saja. Daya pergi ya, terimakasih banyak ka " seru daya lalu pergi.


Daniel benar-benar geram melihat semua ini ...


Selepas kepergian nya dari kantor Daniel. Daya melangkahkan kakinya ke stasiun, ia memutuskan untuk ke Banyuwangi .


Sedang saat ini langit tengah berpamitan setelah ia selesai makan ,


" terimakasih banyak untuk hari ini. Aku datang tiba-tiba . Tapi kalian bahkan memasak untukku " seru langit


" Eayy. Hanya ala kadarnya saja ka, seandainya Kakak mengabari akan aku buat makanan yang lebih enak. Lain kali datanglah bersama dengan kakak Dayanaku ya ? " Ujar daynila


" Ya . Semoga kita berjumpa lagi dalam waktu dekat, nek. Sampai jumpa lain kali" ujar langit tersenyum lalu ia pun melihat ibu dari daya yang agak cuek dengan nya , entah karena tidak suka atau apa. Lalu langit pun menundukkan kepalanya sopan pamit juga dengan Damiela ibunda dari daya .


***


-


-


-


jangan lupa like vote dan komennya yeorobeun β˜ΊοΈπŸ€—πŸŒ»


# happy reading all πŸƒ

__ADS_1


__ADS_2