
Saat ini langit tengah duduk di kamar milik daya dan Fira. sedang daya tengah membersihkan dirinya.
Kenapa di kamar daya ? Karena saat ini pak yoga juga sedang tidak ada. Di rumah hanya ada Dilla yang sudah terlelap sementara Fira, ia pun juga mengabari daya jika tak pulang karena tengah bersibuk dengan para rekan aktivis nya apalagi jika bukan tentang demokrasi unjuk rasa.
Kini langit tengah terduduk memperhatikan sekeliling kamar daya tapi tak bisa bohong juga jika ia gugup meskipun hanya sendiri di sana. Itu pertama kali nya ia memasuki kamar seorang wanita, ia bahkan terkadang salah tingkah dengan mengubah atau membenarkan posisi duduknya. Hingga akhirnya ia melihat sebuah radio di nakas dan mengambilnya lalu memutarkan radio tersebut tapi sayangnya radio itu tak memiliki suara hanya mengeluarkan suara desisan khas radio rusak.
Langit mencoba memutar tombol radio itu mencari sinyal tapi tetep sana radio itu hanya mendesis, sambil menunggu daya. Langit pun membenarkan radio itu dengan membongkar nya. Langit tampak begitu serius sampai tak menghiraukan keberadaan daya yang sudah selesai,
" Itu sudah rusak. Tidak ada gunanya mencoba memperbaikinya " seru daya duduk menghampiri langit
" Tunggu saja. Aku hampir selesai " ucap langit Tersenyum Menutup kembali radio itu lalu menyalakan nya. Dan ya radio itu pun menyala bahkan kini sudah kembali bisa di gunakan,
Daya tampak tak percaya melihat langit yang bisa membuat radio itu kembali hidup, sedang langit mengangkat satu alisnya sombong dan pamer.
Daya Tersenyum, " kamu bisa membuka toko elektronik di pegunungan kelak "
" sttt toko elektronik ? Kedengarannya cukup bagus." gumam langit melipat tangannya di dada sambil tersenyum
" impian ku adalah menjadi insinyur sebelum ibu ku jatuh sakit "
" Oo .. kalau begitu kamu harus mendapat gelar doktor dulu sebelum membuka toko elektronik " ujar daya meledek langit dengan tawanya,
Tentunya langit ikut tertawa menatap daya,
" entah aku membuka toko elektronik, bekerja di lokasi kontruksi atau menjadi awak di kapal, aku tidak keberatan dengan apapun selama bisa bersama mu " ucap langit yang di balas senyuman oleh daya.
Langit mengembalikan fokus nya dengan radio di tangannya itu, ia mulai bercerita
" saat aku masih kecil, aku lebih suka memutar tombol seperti ini dari pada mendengarkan radio. Tiapp kali aku memutar tombol perlahan seperti ini, terkadang aku mendengar sinyal lemah yang terdengar asing. Dan sinyal itu mirip dengan ku " lirih langit menoleh melihat daya,
" Sinyal yang tak di dengar oleh siapapun
Dan melayang tanpa tujuan di alam semesta tanpa suara ataupun warna. Sampai akhirnya kamu menemukan ku seperti ini day " ujar langit kembali
Daya menatap nya berkaca karena merasa mereka memiliki kehidupan yang tak mudah,
" aku juga. Sebelum bertemu dengan mu, aku tidak bisa mendengar apapun... "
Langit dengan ragu mengecup kilas daya,
" kamu sungguh tidak perlu takut apapun lagi day " seru langit menatap daya dan meyakinkannya.
Daya pun mengangguk kannya dan mereka berdua berpelukan.
***
Drettt.. dretttt ... Post angkatan darat militer membunyikan bel tanda darurat dan hal itu membuat Ari sahabat dari langit dan rekan-rekannya para tentara lainya di tempat panik akan mendengar bunyi bel darurat,
Lalu muncullah devandra dengan berjalan bergegas, selama ia berjalan selama itu orang yang melihat ia pun minggir dengan hormat.
Devandra membuka pintu, " sudah waktunya. Kumpulkan mereka semua " ucap devandra pada kepala tentara di tempat itu
__ADS_1
' mulai pukul 24.00, tanggal 16 April 1966, keadaan darurat di berlakukan di seluruh negeri ini. Mengingat pergerakan
Para sekutu yang hendak ingin merebut kekuasaan sepenuhnya atas kebijakan negara. Dan gangguan yang berlangsung
Di seluruh penjuru negeri ini.'
Mendengar itu lalu pasukan para tentara pun segera Sigra bergegas membawa senjata mereka. Termasuk Ari yang tampak sedikit takut dengan keadaan ini.
Dengan dingin dan cuek devandra masuk keruang nya yang sudah terdapat begitu banyak anak buahnya,
" Tangkap semua orang yang ada di daftar ini sebelum malam berakhir, kita harus mencari tahu dalang para pelaku aktivis busuk ini. Jadi tangkap mereka semua! " Ucap devandra memberi perintah pada para anak buahnya.
...βοΈ...
Pagi hari yang masih begitu dini hari tapi sudah berhasil membangun kan langit yang tampak begitu gelisah di samping daya yang tengah tertidur. Samar-samar ia menoleh dari balik jendela yang tertidur angin,
POV langit,
Tiap bencana di tandai oleh tanda bencana. Seperti mencium bau gas sebelum gempa bumi, dan bagaikan hewan yang mendaki gunung sebelum tsunami. Perasaan tidak menyenangkan yang hanya bisa di rasakan oleh orang yang sensitif. karena tumbuh dengan kegelisahan, aku selalu sensitif dan waspada. Karena kini ada seseorang yang harus kulindungi, aku harus lebih waspada untuk merasakan peringatan semacam itu.
Ia terduduk diam memejamkan matanya sambil menggenggam tangan nya terus berdoa.
" Kenapa berdoa pagi-pagi sekali? " Tanya daya yang terbangun samar-samar dari tidur lelapnya
Menyadarkan langit yang langsung menolehnya, " aku berdoa. Agar kamu tidur tidak meracau berisik " seru langit Tersenyum menutup kegelisahannya entah kenapa pagi ini ia amat merasa sangat gelisah, was-was dan tak merasa tenang.
" Ishh apanya yang meracau, Mana ada. Aku tidak tidur seperti itu" gumam daya yang melihat sorot mata langit yang memandangnya,
Langit Tersenyum, " tidurlah kembali. Matahari bahkan belum terbit "
" Mengapa tidak menjawab pertanyaan ku. Apa aku benar meracau ? "
" tidak, aku hanya bercanda. Tidurlah " seru langit Tersenyum merapihkan selimut daya dan ikut baring di sampingnya.
Benar saja di Semarang kota, keadaan sudah agak terlihat kacau di beberapa jalan banyak para mahasiswa maupun mahasiswi yang tiba-tiba terkena pukul brutal di bagian kepala dengan para tentara yang berkeliaran patroli di jalan tanpa sebab. Awalnya para tentara masih ragu-ragu untuk menyerang siapapun dengan brutal,
Pusat kepolisian Semarang pun tengah ramai ikut begitu resah dengan tindakan para tentara yang membabi buta terhadap orang-orang. Dengan tergesa-gesa tanpa tahu apa-apa ilen berlari kesalah satu satu meja Anggota kepolisian dengan tampak sedikit panik karena larut malam kemarin saat dirinya kembali diam-diam ke semarang dan langsung kekediaman studio Doni, ia mendapati tempat itu sudah kacau balau berantakan dan berserakan lalu ia pun juga tak mendapati doni berada di sana.
" Permisi pak.. aku ingin melaporkan orang hilang " seru ilen sedikit tersengal-sengal dengan deru nafasnya
" Astaga, apa anak mu hilang? Berapa usianya? " Sahut anggota polisi muda itu sendiri sembari memijat pelipisnya yang tampak pusing dengan info yang ia terima jika di jalan sudah mulai kacau.
" Bukan, ia orang dewasa. Usianya 26 tahun. " Ucap ilen
Membuat anggota polisi muda itu pun langsung menoleh nya tampak sedikit tak percaya dengan apa yang barusan ia dengar dan hendak ingin berargumen tapi saat ia melihat wajah milik ilen ia terkesima, ia tampak mengenalinya. Ya jelas saja ia mengenal nya karena ilen ada wanita yang terpergok dan tertangkap basah olehnya saat melakukan pemberontak saat peredaran surat tentang unjuk rasa besar-besaran kala itu.
" Aku pernah memergoki mu ... " Gumam sang anggota polisi muda itu tak memalingkan pandangannya tampak tak percaya jika bisa dapat melihat ilen kembali,
" Apa? " Ucap ilen bingung
" Bukan apa-apa. Ah baik jadi, orang hilang dewasa itu berusia 26 tahun. Apa dia wanita? " Seru sang anggota polisi muda itu begitu welcome terhadap ilen,
__ADS_1
" Bukan, ia adalah pria " jelas ilen
" Hah?pria ?, Baiklah. Lalu apa hubungan mu dengan nya ? Emm apa dia pacar mu? " Sahutnya seketika tampak lemas
" Hah? " Ujar ilen bingung dengan gelagat polisi itu
Sang polisi muda itupun melirik ilen,
" Bukan, dia temanku. " Ucap ilen
" Ohh teman. Begitu rupanya hanya teman. Astaga oh jadi teman mu yang menghilang .. kau pasti khawatir " ujar sang polisi itu tampak sumringah tersenyum
" Apakah anda menerima laporan kecelakaan semalam? " Tanya ilen
" Tidak ada laporan korban kecelakaan semalam. Kalau begitu bisa berikan nomor telepon mu ? "
" Tapi untuk apa anda butuh nomor telepon saya ? " Ucap ilen menyeringitkan dahinya
" Ah itu, kita harus tahu nomor orang yang membuat laporan. Aku akan segera menghubungi mu jika kami menerima kabar kecelakaan. Jadi... Bisa tuliskan nomor telepon mu yang bisa ku hubungi ? " Ujar sang polisi itu seperti sedang mempraktekkan kata pepatah menyelam sambil minum air.
Ilen masih memandang anggota polisi itu dengan sedikit curiga,
" Eyy ini prosedur standar .. " ucap nya memberikan pulpen dan telapak tangannya pada ilen.
" Ehm baiklah. " Ilen pun yang awalnya ragu akhirnya menerima pulpen itu dan hendak menuliskan nomor telepon nya,
Ia pun mulai menulis angka depan nomor telepon,
' pemerintah mengadakan rapat darurat.pada pukul 22:00 semalam dan memutuskan untuk memberlakukan darurat militer Nasional. ' sebuah siaran informasi,
" Apa maksudnya? Memberlakukan darurat militer ? " Tanya ilen tak mengerti , membuat nya menghentikan kegiatan menulis nomor telepon nya.
" Kamu belum membaca koran? Mereka mengumumkan akan menegakkan darurat militer secara nasional semalam " Seru sang polisi muda itu memberikan sebuah koran paginya
Saat ilen menerima dan melihat info di koran itu dia langsung segera berlari pergi begitu saja.
" Oohhh tunggu sebentarr, nonaa..." Teriak polisi itu karena melihat jika ilen hanya baru memberikan nomor telepon bagian depannya,
" Auhh astaga .. " gerutu nya masih memandang kepergian punggung ilen yang sudah tak terlihat lagi itu.
***
-
-
-
# happy reading all π
jangan lupa like vote dan komennya yeorobeun βΊοΈπ€π»
__ADS_1