
***
Saat ini jalanan masih sangat ricuh, suara tembakan di mana-mana, suara teriakan dan rintihan menjadi satu.
Bahkan rumah sakit semarang pusat center kini pun cukup ramai kalut dengan para korban luka tembak yang melonjak itu,
" Ngit, Aku akhirnya sudah bisa mengabari pak yoga tentang kondisi Dilla dan ia akan kesini " seru daya pada langit yang sedang mengistirahatkan diri.
" Ah syukurlah. Begitu ia tiba disini, mari segera pergi " sahut langit yang tak hilang-hilang nya merasakan perasaan gelisah,
" Langsung begitu saja ? " Gumam daya
" Rencana kita adalah tetap di sini sampai pak yoga menjemput Dilla. " Ucap langit melihat daya menekuk wajahnya
" Kenapa wajah mu seperti itu ? " Ujar langit kembali sambil sedikit menghela nafas menatap daya,
" Tidak. Apanya yang seperti itu ? " Sahut daya
" Lalu kenapa ? Jika ada yang menggangu pikiran mu, katakan saja. " Ucap langit
" Bukan apa-apa. Hanya saja, Jika kita pergi... Yang lain harus bekerja lebih keras. Itulah yang ku khawatir kan " lirih daya melihat langit yang sedang menatapnya diam tanpa kata.
" Kenapa? Kamu pasti mikir aku tuh mudah di peralat kan ? " Ujar daya yang tak suka dengan tatapan langit pada nya saat ini
Langit tersenyum berdiri dari duduknya, " enggaaa. Aku berpikir kamu orang yang baik. " Seru langit mengelus kepala daya,
Daya terdiam ...
" Tapi tolong dengar ini day, jika kamu ingin hebat. Kamu harus mengutamakan dirimu. Jika kamu mendahulukan orang lain, menurut ku itu sifat munafik. "
" Bukankah itu yang disebut pengorbanan ? " Ucap daya melirik langit
" Shtt biasanya begitu. Tapi bagi orang yang mencintaimu, itu sikap munafik. Jadi, untuk saat ini. Mari utamakan kita berdua. Ehm ? " Pinta langit, yang di balas anggukkan oleh daya. Lalu mereka pun kembali melakukan tugas mereka,
" Oh astaga. Saya mencari Dilla Prayoga. Dillaaa .. " seru pak yoga yang datang dengan nafas tersengal-sengal dan wajahnya ter dapat debu kotor hitam akibat menerobos menyelamatkan diri dari tragedi di luar yang ricuh. Sementara tentang hal itu, tentang keadaan di luar para dokter tak terlalu mengetahui jika sudah amat begitu ricuh, yang mereka tahu hanya keadaan nya di luar memburuk dengan suara tembakan dan para tentara yang mengenakan senapan mereka. Hanya sebatas itu.
" Dayaaa .. di-dilaa.. " lirih pak yoga menangis saat melihat daya, ia pun memeluk nya. Sementara daya mengelus-elus punggung nya lalu membawa pak yoga ke ruangan Dilla bersama langit.
Pak yoga kembali menangis melihat putri semata wayangnya itu berbaring tak sadar dengan kepala terbungkus perban,
" Oh astaga putri ku .. Dilla ini ayah datang, Dilla tolong buka matamu .. " lirih pak yoga menggenggam tangan Dilla.
" Ia sudah siuman tadi pagi. Dia hanya tertidur karena pengaruh obat. Jadi, jangan khawatir. Syukurlah, operasi nya berjalan lancar " seru langit
" Ya, daya sudah memberitahu semua nya. Terimakasih banyak langit " lirih pak yoga amat sangat berterimakasih
" Aku tidak melakukan apapun " seru langit
" Akan sangat berbahaya jika seandainya
Tidak ada langit saat itu. Dia menyelamatkan Dilla " seru daya membuat pak yoga memeluk langit sambil tak henti-hentinya berterimakasih,
Lalu mereka berdua pun keluar, meninggalkan pak yoga bersama Dilla.
__ADS_1
" Oh ya day, pergilah ke UGD dan berpamitan lah dengan semuanya. Aku akan melihat Ica sebentar lalu menemui mu nanti "
" Baiklah. Santai saja tidak perlu terburu-buru" sahut daya tersenyum, lalu langit pun beranjak pergi.
Saat kali ini daya juga akan pergi,
" Daya, day... " Seru pak yoga mengejar daya
" Ya ada apa pak ? " Sahut daya melihat pak yoga
" Bapak lupa mengatakan ini karena tadi sangat kalut. Dalam perjalanan kesini, bapak melihat unjuk rasa yang begitu ricuh bukan hanya para tentara yang memukuli para demonstran dan menembak tapi ini sudah amat sangat kisruh. " Ujar pak yoga
" Bapak tidak mengetahui apa yang terjadi, jadi pasti terkejut ya. "
" Ya aku memang terkejut. Tapi itu tidak penting sekarang, adikk... Euh adikmu, apa dia masih di Semarang ? " Tanya pak yoga dengan raut wajah khawatir
" Adikku ? Kenapa menanyakan dia ? "
" Bapak tidak bisa berhenti kepikiran, apakah melihat adikmu dalam kekacauan itu tadi. bapak juga melihat seseorang yang mirip Fira di samping anak itu, mereka sedang mengerang kesakitan, anak itu mirip dengan adikmu. Ia memakai baju olahraga seperti yang selalu adikmu pakai. Tapi astaga, bapak tidak bisa menghampirinya. Karena peluru terus menerus di luncurkan dalam kekacauan itu dan bapak akhirnya pergi karena menghindari tembakan yang kesembarang arah. " Beritahu pak yoga, tentu nya tanpa sekata patah pun daya segera berlari panik untuk menelpon.
Ketika ia sudah berada di tempat yang rada agak sepi, daya pun menelpon kamp pelatihan daynila. Panggilan pertama tak di angkat begitu pun panggil kedua, hal itu tambah membuat daya semakin panik dan khawatir. Ia pun beralih menelpon Fira, tapi hal yang pun terjadi nomor Fira gak bisa di hubungi. Daya benar-benar frustasi, bahkan ia benar-benar tak bisa berpikir jernih lagi. Daya terus kembali menelpon Kamp pelatihan daynila,
" Kumohon ... Tidak ... " Gumam daya dengan wajah pucat dan tangan gemetar karena saking paniknya.
" Halo ini kamp pelatihan. Kami terus berlatih keras di dalam kamp pelatihan, " sahut sang pelatih yang cukup lumayan lelah dengan telpon yang terus berdatangan menanyakan para anak-anak mereka yang ikut kamp pelatihan untuk lomba lari yang akan di adakan di Semarang pekan depan.
" Apa daynila ada di sana ? " Tanya daya dengan suara bergetar
(....)
' hei daynila .. kakak mu ingin bicara ' ujar sang pelatih berteriak melihat anak-anak bimbingan, tapi gak ada sahutan bahkan ia pun menanyakan nya pada teman-teman satu kamp tapi mereka hanya diam saya. Pelatih itu cukup bersikap tegas pada anak-anak bimbingan nya meskipun ia pun setengah khawatir karena tak mendapati dua anak didiknya yang tak ada di kamp pelatihan. Hingga akhirnya ada satu orang yang memberitahu kannya jika daynila dan Naya pergi keluar tadi. Tentunya itu pun membuat sang pelatih benar-benar lemas, dan dengan berat hati menyampaikan hal itu pada daya.
Daya yang mendengar hal itupun seakan awang-awang nya pergi, lose begitu saja. Apalagi saat dirinya melihat para korban di UGD yang semakin bertambah dengan luka tembak di mana-mana. Daya blank seakan membayangkan bagaimana jika adiknya dan juga Sahabat nya yang terluka.
" Apa yang terjadi ? Kenapa ada banyak pasien dengan luka tembak ? " Ujar Rio dokter pria muda di RS Semarang,
" Tentara menembaki warga sipil. " Beritahu penyintas
" Apa ? Para tentara menembaki mereka ? Apa ini semua korban nya ? "
" Tidak hanya ini, jumlah korban di jalanan sepadan dengan seisi truk. Kita sudah kekurangan SDM. Mereka bahkan menembaki ambulans. Jadi, tidak ada yang mau kesana aishh sial " beritahu penyintas kesal dan marah
" Yang benar saja. Ambulans juga di tembak ? " Sahut rio dokter pria muda
" Mereka bahkan menembaki anak kecil. Mereka jelas tidak peduli. " Ujar sang penyintas
" Ayo keluar dan membantu. Kita tidak bisa membiarkan orang mati di jalanan, ayo kesana dengan kendaraan RS dan menjemput yang terluka. " Teriak dokter Rio yang hanya di lihat para anggota medis tanpa satupun merespon hendak ingin pergi. Ya karena pasalnya siapa yang mau menghampiri bahaya.
***
Sementara di sebrang sana seperginya bumi, Fira yang awalnya hanya ingin duduk di sofa kantor bumi. kini ia malah ketiduran, maklum beberapa hari ini ia memang tak tertidur karena membantu para korban di jalan.
' brakk ! ' pintu kantor tersebut di buka dengan keras hingga membuat Fira terperanjat kaget,
__ADS_1
" Apa yang mau kalian lakukan ? " Seru Fira pada 3 tentara yang ada di hadapannya
" Tidak usah banyak bacot ! " Ujar tentara menarik Fira dengan kasar
" Kalian mau apa hah ! Lepas. Lepasin ! Kalian tahu apa yang kalian lakukan saat ini ? Jangan melakukan kekerasan dengan wanita ! " Ucap Fira berontak
" Berisik brengsek ! " Teriak tentara itu menampar Fira dengan keras dan juga menyeretnya
" Lepas ! Aku bilang lepas. Kalian tidak bisa membawa ku ! Aku tidak melakukan apa-apa. Lepas ih " seru Fira masih berontak melepaskan diri,
Ketika para tentara itu hendak akan melayangkan pukulan lagi.
" Cukup. " Seru seorang pria berjas masuk memandang Fira,
Fira melihat nya, " cih. Kau kah itu devandra. Anjing diktator komunis itu ! " Ucap Fira menatap tajam kearah nya
Devandra tersenyum smirk, " ck. Aku tidak suka mulut para aktivis " ujar devandra
" Kenapa? Tersinggung. Karena kau malu dengan mulut kebenaran kami bangsat ! Ah atau malu karena kau merupakan anjing diktator komunis yang haus akan jabatan ! " Ucap Fira sinis mengejek nya
Lagi-lagi devandra tersenyum sinis,
" Kau pikir siapa diri mu. bawa dia " ujar devandra hendak pergi
" Cih. Biadab, syukurlah putra anda tidak memalukan seperti anda! " Seru Fira
" Apa yang bisa kau harapkan. Kau kira ia akan menolong mu ? Tidak akan. Bawa ! " Ujar devandra pergi
" Lepas ! Lepasin !! Ih lepas ! " Teriak Fira yang di seret paksa
Brukk.. brukk... Tentara itu memukul Fira
" Argh .. sialan ! " Seru Fira masih meronta Lirih
" Aish berandal kecil !! Kau tidak ada apa-apa ! Merepotkan saja ! " Ujar sang tentara menyeret Fira dengan kasar
" Lepasinn !! " Ucap Fira dengan kekuatannya
Takk ! Satu pukulan keras menghujam nya lagi, ia meringis tak sadarkan diri.
Tentara itu pun membawa nya dengan menyeret nya hingga membuat sebelah sepatu Fira terlepas.
***
-
-
-
jangan lupa like vote dan komennya yeorobeun βΊοΈπ€π»
# happy reading all π
__ADS_1