
Di rumah sakit Semarang central, daya tengah bersibuk mencatat obat-obatan yang telah tersisa dengan wajah pucatnya ia masih bertahan.
" Dokter Rio sudah boleh pulang hari ini, keluarga nya datang dan membawanya pulang. " Ujar Maya kepada kepala senior perawat,
" Dia pulang? Ah syukurlah aku khawatir ia terluka parah " sahut sang kepala senior yang turut senang mendengar kabar tersebut.
Daya yang juga mendengar perbincangan itu hanya terdiam sendu, karena ia bahkan belum mengetahui bagaimana keadaan dan kondisi langit setelah sepotong info yang ia dapat dari ka Daniel dan Fira.
Saat kepala senior perawat itu dan Maya tengah merasa syukur akan kondisi dan kepulangan nya dokter Rio, kini pandangan senior perawat itu dan Maya secara tak sengaja melihat daya yang tengah terdiam melamun.
" Emm day. Apakah Langit tidak punya keluarga? " Tanya sang senior yang membuat daya menolehnya,
" Ah maksud ku, diakan menghilang tapi kenapa tidak ada yang bertanya dan mencarinya. Apa dia tidak punya orang lain? " Seru sang senior
(....)
" Milisi memberikan kita persediaan mediss. Jika butuh sesuatu untuk pusat medis darurat, ambillah. " Beritahu paramedis yang tampak senang memasuki ruang perawat itu.
" Wah astaga. Itu bagus sekali... " Ujar kepala senior itu senang
" Benar.." seru Maya ikut senang,
" Biar aku yang akan mengambilnya." Seru daya pergi berlalu.
Sesampainya ia di tempat obat-obatan tersebut, ia mulai memasukkan berbagai macam Kebutuhan RS di box kardus tapi sesaat ia begitu ringkih untuk menopang kardus tersebut terlebih saat wajahnya terpapar sinar matahari dari bilik jendela yang terbuka, pandangannya seketika samar-samar gelap hingga ia pun sesaat memejamkan matanya dan menyenderkan kepalanya di tiang samping tempat ia berdiri. Sekejap ia membuka matanya melamun berkaca-kaca kembali menatap lirih dengan wajah pucatnya ke arah jendela, pikirannya tak berhenti mengkhawatirkan langit.
" Kenapa kamu bekerja sendiri dan membuat diri mu lelah?" Ujar suara yang amat ia kenal, dengan penuh keputusasaan daya pun menoleh ke arah sumber suara tersebut yang menampakkan penampakan langit dengan luka-luka yang hampir mengering dan baju penuh darah.
Daya sontak mengeleng menyadarkan dirinya saat ia dapat melihat langit yang saat ini berdiri tak jauh dari hadapannya, bagaikan berhalusinasi daya pun mencoba kembali menoleh kearah tersebut,
langit pun mengulas senyum padanya.
Daya masih terpaku melihat langit dengan luka di bahunya, sedang langit menoleh lukanya itu. Dengan mata berkaca-kaca daya perlahan mendekat menghampiri, ia bagai masih tak percaya jika ia tak sedang berhalusinasi.
Saat begitu sudah semakin dekat daya dengan tangan gemetar ia menyentuh wajah pucat langit dan langit pun menatapnya, lalu sontak daya menangis dan memeluk langit, ya ternyata ia memang tidak berhalusinasi saat ini.
Tangis daya pecah dalam pelukan langit,
Langit pun mengeratkan pelukannya sambil menepuk lembut punggung daya untuk menenangkan nya.
***
Sementara saat ini di kediaman devandra, begitu mendapat telpon dari anak buahnya yang ia tugasnya untuk menjaga langit. menelpon jika langit tak ada di dalam ruang, sontak membuat Devandra pulang dan mengecek langsung dengan penuh emosi ia membuka pintu ruang kerja nya dan sudah mendapati ruangan itu kosong.
" Begini, pak. Saya pergi meninggalkan tempat saya hanya untuk pergi ke toilet, tapii... " Seru anak buah nya dengan rasa takut, tanpa sahutan devandra dengan marah berbalik pergi. Begitu ia melewati ruang tamu, ia melihat putra sulung nya itu yang tengah terduduk melihatnya.
__ADS_1
Dengan tatapan tajam menyeringit nan emosi devandra mendekat, " pasti kau. kau yang melakukan nya " ucap devandra
" Ya. " Jawab bumi dengan enteng membalas tatapan ayahnya itu,
" Kau! " Teriak devandra dengan emosi dan kemarahannya memicingkan matanya.
' brugh!!' satu pukulan keras mendarat pada wajah bumi hingga membuat nya tersungkur tentunya.
Bumi tersenyum smirk, " ayah pikir dengan melakukan ini bisa membuat ku takut padamu. Sudah aku bilang aku bukan langit..."
" Bagaimana dengan gadis pengganggu itu, yang saat ini tengah di rumah sakit. " Ucap devandra menyinggung Fira
Itu sontak membuat bumi bereaksi,
" kau yakin? Tapi sayangnya baru saja kau seperti langit. Yang lemah karena wanita!. Kau tahu, ayah bisa saja melakukan apapun. Apa lagi dengan gadis berandal itu! "
" Apa mengancam adalah keahlian ayah, ouh aku benar-benar sial karena di lahirlah sebagai seorang putra mu. Kesialan seumur hidup ku! "
Kini devandra benar-benar naik pitam, mengambil tongkat bilyard yang tak jauh dari tempat ia berdiri lalu membaku hantam bumi beberapa pukulan,
" Stopp!! Hentikan. Apa yang kau lakukan pada anak ku hah! " Teriak Nita berdiri di hadapan devandra sang suami dan menatapnya.
" Kau! Minggir!!" Ucap devandra penuh penekanan,
" Tidak akan."
" Tidakkk!!"
Tingkat kesabaran devandra yang setipis tisu itu pun membuat nya hendak melayangkan baku hantam pada Nita, tapi dengan cepat bumi menepisnya.
" Jangan pernah berani melukai ibuku. Karena aku tidak akan pernah membiarkan hal itu! " Ucap bumi melindungi ibunya,
Devandra pun melempar semua barang pajangan kaca berhamburan hingga pecah semua lalu pergi.
" Ibu baik-baik saja? Apa ada yang terluka? " Tanya bumi
" Ibu ga apa-apa, sudah ibu bilang bukan. Ayah mu akan naik pitam. "
" Ayo, kita meninggalkan rumah ini Bu " ucap bumi,
" Maksud kamu apa bumi? "
" Kita juga harus pergi dari rumah ini. Tidak ada kebahagiaan di dalam rumah ini ya kan Bu?. Jadi ayo "
" Ibu tidak bisa meninggalkan rumah ini bumi, kau lahir dan besar di sini. Lagi pula ayahmu... "
__ADS_1
Bumi hanya bisa memandang sang ibu karena ia pun sudah mengetahui jawaban dari ajakannya itu dan lagi, ya ia memilih tetap stay karena tak ingin meninggalkan sang ibu.
***
Tepatnya di rumah sakit Semarang central, langit baru saja terbangun dengan masih memakai selang infus berisi darah yang menempel di tangan nya. Perlahan ia melihat seseorang yang menghampirinya, dengan tubuh yang lemas ia hendak merubah posisinya untuk duduk..
" Jangan, tak perlu bangun duduk. " Seru wanita itu melihat kondisi langit yang cukup memperihatinkan, yang hanya diam canggung.
" Ini. Ambillah, itu uang yang ibu tabung untuk menguliahkan daya. Dan ibu juga
menabungkan uang yang dia kirimkan selama ini. " Seru damiella memberikan rekening tabungan reguler atas nama daya pada langit.
Sedang langit menatap rekening tabungan itu,
" Ibu tahu itu tidak banyak, tapi itu akan cukup untuk menghidupkan kalian. " Ujar damiella kembali.
" tapi anda sebaiknya memberikan ini sendiri kepada Daya... "
" Tidak perlu, simpan saja dengan mu. Kau tahu kan daya pasti akan mengamuk
Dan tidak mau menerimanya. Lagi pula, kini uang ini milik kalian berdua. " Ujar damiella seakan sudah memberikan restu dan dapat menerima hubungan mereka yang tak salah, karena yang salah dan memiliki problem adalah keluarga mereka.
" Ibu, tapi ini... "
" dan selain itu, bisa berikan ini kepada nya juga? " Seru damiella yang sekarang memberikan sebuah cincin cantik, peninggalan kakeknya.Yang di berikan oleh kakak nya untuk dirinya. Tapi sekarang ia memberikan cincin itu untuk daya seperti turun temurun.
" Meskipun Daya, ia mungkin bertemu ibu yang payah sepertiku dan menderita seumur hidupnya. Tapi dia benar-benar
Anak yang berharga untuk ku dan suamiku. " Ujar damiella membuat langit melihat nya
" Kuharap kalian berdua melupakan masa lalu yang tragis dan saling menghargai serta hidup bahagia. " Ucap damiella merestui mereka
" Baiklah. " Jawab langit yang ikut dalam suasana sendu,
Damien memegang tangan langit yang tengah memegang rekening tabungan dan juga sebuah cincin, " ibu titip daya. Jaga dan lindungi nya selalu ya. " Ucap damiella yang langsung segera pergi.
...πππ...
-
-
-
jangan lupa like vote dan komennya yeorobeun βΊοΈπ€π»
__ADS_1
# happy reading all π