
Malam ini juga keadaan di luar benar-benar sangat parah bahkan pihak RS sudah tak menyanggupi untuk menampung para pasien yang terus berdatangan apalagi saat ini luka nya bukan hanya luka pukul tapi juga tusukan. Dan malam ini, malam yang buruk untuk Daniel karena saat ini ia lah yang bergiliran kena baku hantam para tentara karena hendak menyelamatkan gadis anak sekolah yang saat itu hendak di lecehkan tapi berujung Mala petaka untuk Daniel.
***
Saat ini langit tengah terduduk di depan halaman RS dengan gitarnya di samping. Sedang menunduk diam tepat nya saat ini,
" ini, makanlah meski kamu tidak lapar. " Seru daya yang datang dengan tas tentengan milik nya. memberikan sebotol susu dan juga roti susu mentega
" Kamu belum makan seharian kan." Ujar daya duduk di samping langit,
Langit pun menerimanya, lalu menatap susu dan roti itu...
" Intuisi mu.. intuisi mu memang bagus Ngit. " Ucap daya yang di toleh langit,
" Aku melihat Dilla tadi, dan kami bahkan
Berbicara sebentar. Tapi aku bahkan tidak menyadari dia terluka, apalagi melihat tanda peringatan. Dia tampak sama seperti biasanya bagiku" seru daya kembali
" Benar, kan ? Aku adalah seorang peramal. " Ujar langit
" Maafkan aku. "
" Untuk apa ? "
" Seharusnya aku tidak keras kepala. Aku membuat mu melalui banyak hal. Uhf andai aku mempercayai firasat mu dan pergi bersama mu kemarin atau hari ini, kamu pasti tidak akan mengalami ini. " Seru daya merasa bersalah
" Tapi berkat sifat keras kepala mu, Dilla selamat. " Ujar langit yang kali ini membuat daya menatapnya.
" Pada dasarnya, aku menghindari risiko sebelum itu terjadi. Dan sedangkan kamu orang yang tetap di tempat bahkan saat Petir menyambar. Tapi ngomong-ngomong day, berkat kamu. Ini untuk pertama kali dalam hidup ku, aku tidak melarikan diri. Dan bisa berada di sana saat Dilla pingsan. Itu artinya, sifat keras kepala mu menyelamatkan Dilla . " Ucap langit membuat daya Tersenyum,
" Uhf sudah waktunya. Mau ke stasiun sekarang ? " Ujar daya
Langit pun menoleh pada jam tangan nya,
Daya Tersenyum dan mengulurkan tangannya...
" Biar aku beritahu sesuatu sebagai seorang peramal. Banyaknya pasien luka tusuk yang di bawa kemari sama sekali bukan pertanda baik. "
Daya terdiam menunduk,
" kita tunggu sampai hal terburuk berakhir. Sampai Dilla siuman saja. ehm " Ucap langit menggenggam tangan daya
" Apa itu tidak apa-apa? " Tanya daya
" Ahh entahlah ... Mungkin tersambar petir membuat ku gegabah " ucap langit Tersenyum sambil mempererat genggaman nya menatap daya,
" Kita yakin bisa menangani apapun bersama. Dan keyakinan yang tidak bisa
Di jelaskan itu mengalahkan semua tanda peringatan. Tapi kita tidak tahu ...
Petir hanyalah tanda peringatan, yang sebenarnya menuju kearah kita adalah badai besar. Dan di tengah badai besar
Yang bisa kita lakukan hanyalah saling berpegangan tangan agar tidak kehilangan satu sama lain. " Ujar langit pada daya.
...π§οΈπ§οΈπ§οΈ...
Malam ini di sebrang perbatasan jalan Ari dan seniornya tengah berjaga, mereka berdua berdiri tegak dengan tembakan di tangan mereka.
" Aishh nih makanlah. Kau bahkan belum makan malam " ujar senior yang hanya dirinya lah memperlakukan Ari dengan sedikit baik. memberitakan biskuit coklat karena dari tadi mendengar suara perut Ari,
" Oo terimakasih senior.. " seru Ari diam-diam mulai memasukkan biskuit itu kedalam mulutnya.
" Jika aku pulang, ayah ku mungkin akan menyiapkan jamuan untuk ku " ujar sang senior
" Anda dari sekitar sini senior? "
" Ya. Aku lahir dan di besarkan disini dengan sangat baik. Tapi omong-omong yang aku penasaran bagaimana mata-mata menyebrangi perbatasan, dan mengapa mereka harus jauh-jauh merangkak ke Semarang? Argh sial . " Ucap sang senior mempererat senjatanya,
" Ngomong-ngomong kopral Arif.. ini aneh, bagaimana cara membedakan pemberontak dengan mahasiswa biasa? " Ucap Ari yang melihat ragu beberapa peluru di tangannya.
" Apa kau juga mau melewatkan makan malam besok? Ikuti saja perintahnya. "
" Maaf . "
" Ah masalah dari orang pintar adalah mereka terlalu banyak berpikir. " Seru sang senior,
Tetep saja itu membuat Ari benar-benar ragu. Apakah mereka harus sampai sejauh ini hingga akan menggunakan peluru, bagaimana nasib orang-orang dan bagaimana dengan para mahasiswa?. Lalu mendadak Ari kembali mengingat tentang percakapannya dengan langit kala itu di cafe universitas mereka,
Saat itu langit lebam di wajahnya gegara membantu dirinya.
" Ah kenapa kau terus memprovokasi mereka? Mereka pikir kau orang jahat." Ucap Ari
" Aku tidak memedulikan pendapat mereka. Stt makin ku pikirkan, aku makin bingung. Ada banyak senior. Beraninya mereka menyuruh mu berunjuk rasa. Mereka jelas berusaha melimpahkannya pada mu karena jelas tidak mau di seret ke tempat laknat itu " ujar langit meletakkan gelas jus dingin dari wajahnya.
__ADS_1
" Ini pilihanku. Tidak ada yang menyuruh ku "
" Ouh tentu ya terserah. Tuan petarung " Ucap langit kesal tapi itu justru membuat Ari tertawa.
" Semua yang kau lakukan mengganggu ku. Ah dan musik payah apa ini ? " Ujar langit
" kau yang meminta aku memilih lagu yang ingin ku dengarkan ! Kenapa kau selalu rewel karena segala hal hah ? " Ucap Ari
" Auh kita benar-benar tidak sepaham. " Ujar langit
" Kau selalu mengatakan itu, lalu kenapa mau satu tim dengan ku ? " Seru Ari
" Menurut mu kenapa ? "
" Mungkin karena hanya aku yang bisa menulis lirik. "
" Hah maaf , tapi ada banyak orang yang bisa melakukan itu "
" Lantas apa hah ? Karena aku orang baik ya kan " ucap Ari percaya diri menaikan kedua alisnya
" Wah Kau memuji diri sendiri ? Kau sudah gila ? "
Ari kembali tertawa, " itu yang dikatakan semua orang. Mereka bilang aku baik, itu sebabnya mereka semua menyukai ku "
" Haha astaga, berhenti bergurau. Ari jangan berkhayal. Kau bukan orang baik " seru langit tersenyum.
Kalimat itu tiba-tiba terngiang oleh Ari yang sedang amat ragu menggunakan peluru untuk esok hari. Rasanya ia tak bisa melakukan hal ini karena bagaimana mungkin ia juga merupakan seorang aktivis lalu di suruh memberantas para aktivis lainnya atau bahkan kini para warga sipil pun ikut jadi korbannya.
Di post semua tentara dengan cekatan memasuki peluru-peluru mereka sedang Ari ia memilih untuk menggenggam erat kembali peluru itu ke tangan nya.
***
Pagi ini ilen dan yang lainnya sesama mahasiswa ataupun aktivis tengah menata obat-obatan dan juga makanan untuk para korban atas tindakan para tentara,
" Hitung nya yang akurat ? " Seru seorang pria yang saat ini tengah repot juga Lalu ia pun hendak akan meletakkan kota-kota susu yang ia bawa tapi langkah nya terhenti kala melihat ilen yang tengah duduk menyusun perban dan sebagai nya.
" sedang apa kau disini ? Kukira kau pindah ke Jakarta untuk menikah. " Ujar pria itu
" Aku akan mengambil persediaan medis, lalu pergi. Jangan hiraukan aku. " Ucap ilen
" Kenapa ? Apa ayah mertua mu yang mengirim mu kemari untuk memata-matai kami hah ? "
" Apa ? "
(....) Ilen terdiam,
" Itu aku , bukan dia. " Sahut Fira yang meletakkan beberapa box yang baru ia bawa,
Baik pria itu maupun ilen menoleh,
" Doni menemui ku sebelum dia menghilang. Berarti aku juga malaikat maut ? " Ucap Fira seakan membela ilen tanpa tahu jika Doni dan ilen sebelum nya memang bertemu.
" Kenapa kau melampiaskan kemarahan mu padanya ? " Ujar Fira
" Itu karena tunangan nya adalah .... "
" dia tidak tinggal di sini lagi. "
" Apa ? " Ucap pria itu menyeringit
" Dia sudah pindah kemarin. Lihat dia, kamu tidak tahu ? Kami berdua telah membantu korban selama berhari-hari . Tanpa henti. " Seru Fira
Pria itu menatap ilen,
" Uhf jadi, Jangan sia-sia kan energi mu untuk menyerang orang yang bekerja menuju tujuan yang sama dengan mu " ucap Fira, lalu pria itu pun segera pergi.
Kali ini ilen melihat Fira, ia seakan kembali rindu dengan kebersamaan mereka dulu. Ya dulu baik ilen, daya dan Fira bersahabat. Tapi karena kejadian kala itu yang menimpah daya akan ajakan ilen yang diam-diam memprovokasi orang-orang untuk menegakkan keadilan membuat daya di tangkap sendirian. meskipun ilen yang salah tapi hanya daya yang menjadi korban satu-satunya. bahkan masa depan daya pun hancur akan itu, hal itu membuat Fira marah sampai tak ingin sama sekali peduli dengan ilen kembali.
Mata mereka bertemu lalu tanpa sekata patah Fira pergi dengan kecuekan nya.
Sementara langit masih bersibuk dengan para Pasien, ia tampak begitu keren dengan setelan jubah dokter dan juga keterampilan nya yang begitu mahir di bidang nya. Bahkan para perawat pun terkesima memujinya,
Mereka diam-diam berbisik berisik dalam memuji langit di sela-sela aktivitas merawat pasien.
Sementara daya yang tengah mengganti botol infus pun hanya tersenyum mendengar dua senior perawat nya yang memuji pacarnya itu,
" Lihatlah, tapi jangan terang-terangan menatapnya. cukup meliriknya saja " seru mereka yang melihat langit
" Ada yang punya waktu sebentar ? "
Srekkkkkkk... Tiba-tiba saja tirai pembatas ranjang terbuka lebar dan menampakkan sang dokter Rio pria muda yang saat ini berpenampilan sangat kusut sekali karena tak tidur-tidur. Itu tentunya mengagetkan dua perawat yang tengah menatap langit lalu menatap dokter itu,
" Ouh anda mengagetkan saja. " Ujar sang perawat memegang jantung nya
__ADS_1
" Tolong jaga pasien Albert. "
" Albert ? Pasien yang suka meracau itu ?
Dan yang suka memukuli semua orang itu ? "
" Ehm. Kondisi nya tidak membaik. Beri dia obat penenang lagi dan ambil kantong urine ini . " Ujar sang dokter memberikan Kantong urine
" Uwahh ! " Seru mereka secara otomatis menghindari
" Tempelkan kantong urine ini juga ... " Ucap sang dokter yang sudah amat lelah
" Astaga .. " gumam perawat masih belum menampaninya.
Daya hanya melirik mereka,
" Taruh di sini " seru sang senior perawat memberikan wadahnya lalu melihat perawat yang sedang bersamanya tapi perawat itu pura-pura melakukan hal lain agar tidak di minta untuk melakukannya.
" biar aku saja . " Seru daya yang baru saja akan selesai memasang sebuah botol infus
" Ah baiklah .. " ujar senior perawat itu tersenyum senang
Mendengar itu langit melirik tak suka kearah daya dan langsung menghampirinya, " day. Kamu sedang apa ? "
" Hah ? "
" Ikutlah denganku, kita harus merawat pasien baru. Ambulans akan tiba sekarang, ada pasien darurat. " Seru langit memeriksa botol infus yang sudah terpasang rapih.
" Kami akan segera kembali " ucap langit pada dua perawat itu lalu menarik tangan dan membawanya pergi,
" Tapi tungg.. uhf jelas, ia sudah nyaman di sini . " Gumam sang perawat yang melihat mereka berlalu pergi itu.
" Tidak ada yang pergi ? " Ucap dokter Rio menongolkan kepalanya
" Aku pergi. " Seru sang perawat itu akhirnya yang membawa urine.
Di luar ruangan saat langit dan daya menunggu ambulans, " berapa kali harus kukatakan? Jangan mau kalau tidak di suruh. Mengapa kamu bersedia melakukan tugas yang sulit? " Omel langit
" Kenapa itu penting ? Aku hanya ingin melakukan hal yang bisa kulakukan."
" Ck, apa itu berarti orang lain menghindari nya karena mereka tidak tahu cara bekerja? Lihatlah. Mereka terus memaksakan semuanya padamu karena mereka tahu kamu tidak keberatan. " Ujar langit kembali mengomel
" Kamu juga kan bekerja sangat keras. Kamu menutup jendela dengan kasur kemarin ... "
" Kamu pikir aku melakukan itu karena kemauan ku? Saat peluru akan berterbangan Melalui jendela? Aku melakukannya karena kamu yang hendak melakukannya. Jika tidak, kamu pasti yang akan ... "
" Ouh aku paham. Berhentilah mengomel " seru daya dengan gerakan mengibas-ibaskan telinga nya.
" Hah apa kau bilang? mengomel? Aku mengatakan ini demi kebaikanmu ... "
" Ohh oo itu dia! .. itu ambulans nya tiba ... " Sahut daya memutus perkataan langit
Lalu mereka pun menghampiri nya, saat ambulans di buka seorang dokter yang memang bertugas menjemput para korban di jalan masih dengan keadaan menekan perut Pasien itu.
" Usia pasien 18 th dan dia tertembak di tangan dan bawah perut. " Ujar dokter itu
" Di tembak? " Seru langit cukup menyeringitkan dahinya lalu membawa pasien itu masuk dengan daya yang menekan perut Pasien itu agar pendarahan nya tidak terus mengalir.
Setibanya di dalam langit menatap Lirih saat beberapa dokter melihat kondisi pasien itu,
" Mari segera siapkan operasi. Siapakah banyak darah juga " ujar salah seorang dokter yang mengambil alih menekan perut Pasien itu lalu sedikit membuka nya untuk melihat seberapa parah luka itu tapi saat akan saputangan itu di buka darah berhasil menyembur ke baju perawat daya.
" Sial ! " Umpat Rio sang dokter muda yang berdiri di samping daya
Kemudian pasien itu pun di bawa pergi oleh beberapa dokter ke ruang operasi,
" Para berandal sialan itu. Kini mereka menembaki para warga sipil dengan senapan untuk membela diri ? Ini gilaa ! " Umpat sang Rio dokter pria muda itu kesal
" Uhf.. apa yang di lakukan anak itu sampai pantas menerima ini ? " Ujar perawat lain.
Langit menatap daya yang saat ini pun melihat lirih kearah langit,
Ya di luar keadaan sudah amat benar-benar sangat kacau, para tentara mengila.
***
-
-
-
jangan lupa like vote dan komennya yeorobeun βΊοΈπ€π»
__ADS_1
# happy reading all π