
Sedang saat ini di ruang interograsi antikomunis bumi tengah membuat keributan dengan para anak buah ayahnya itu, saat bumi berhasil masuk.
" Fir .. firaa .. " seru bumi menghampiri, ia menyentuh lembut anak rambut fira yang acak-acakan dengan luka lebam dan wajah pucat penuh keringat, perlahan Fira menggelinjang membuka mata nya dan membelalakkan matanya melihat sosok bumi.
Bumi dengan lembut membuka penutup mulut Fira lalu membuka ikatan tali yang mengikat fira,
" Ayo kita pergi... " Ucap bumi
" Ta.. tapi " seru Fira melihat Doni yang berada tak jauh dari nya, bumi melihat arah pandang Fira.
" Tidak ada waktu. Ayoo " ujar bumi
" Tidak, aku tidak akan pergi jika tidak membawa nya juga " lirih Fira kekeh menangis menggenggam tangan dari Doni yang hampir sekarat
" Pikirkan dirimu dulu. Ayo cepat !" Ujar bumi menyentak tangan fira, yang kemudian di hempas oleh Fira.
" Kondisi seperti ini kau masih bisa memikirkan orang lain ! " Seru bumi
" Ia adalah sepupu ku... Aku tidak akan pergi jika tanpa dia " lirih Fira dengan derai air mata
Bumi menoleh ke arah Doni dengan kondisi yang sudah prihatin, bumi pun menghela nafas lalu membantu Doni.
" Tolong jangan keras kepala lagi. ku mohon " ucap bumi memapah Doni lalu tangan satunya menggenggam tangan Fira. mereka berjalan keluar ruangan,
baru beberapa langkah, langkah mereka terhenti. " Anda mau kemana tuan bumi ?" Ujar kaki tangan ayahnya itu
" Bukan urusan mu " ucap bumi hendak kembali berjalan
" Kau tau apa yang sedang kau lakukan tuan bumi ?! " Ujarnya kembali menghadang
" aku tidak punya urusan dengan mu. Jadi minggir "
" Jelas ini urusan saya. karena anda sudah berani mengganggu pekerjaan saya. Jangan salahkan saya jika saya berlaku tak menyenangkan !"
" Ck omong kosong! " Ucap bumi cuek dan tak peduli, ia menarik Fira kebelakang tubuhnya tapi tiba-tiba.
' brugh!!!' satu pukulan mendarat keras di pipi bumi hingga membuat nya terjatuh, begitu pun dengan Doni yang masih pada tumpuan nya.
Fira membelalakkan matanya,
sedang bumi segera bangun mengusap sudut bibir dengan ibu jarinya lalu tersenyum smirk,
" Bawa mereka kembali ! " Ucap anak buah dari devandra itu pada bawahnya,
Fira yang masih membantu Doni untuk berdiri, kini di seret secara kasar dan keras.
' brugk !! ' kali ini bumi yang melayangkan pukulan keras dengan pria yang menyeret Fira itu
" Jangan sekali-kali kau berani memperlakukan nya seperti itu! " Ucap bumi kembali melayang beberapa pukulan yang menghujam,
Melihat bawahnya nya terkapar kini tangan kanan dari sang ayah pun memberi kode pada para bawahannya kemudian tanpa ba-bi-bu bumi di hajar habis-habisan.
" Argh berhenti! Hentikan. Jangan memukuli nya lagi !" Teriak Fira dengan air matanya melindungi bumi,
" Baiklah. Tapi jika hanya kau dan si brengsek itu kembali dalam! "
" Ya. " Jawab Fira menyetujuinya
Bumi yang sudah memikirkan sebuah pergerakan dengan hanya menggunakan matanya kini pada Doni, dengan cekatan berdiri dan menarik genggaman Fira lalu membawanya lari keluar bersamaan dengan Dino yang mengerahkan sisa-sisa kekuatannya.
Meskipun sudah setengah babak belur bumi mengerahkan tenaganya dengan berlari sekuat tenang meskipun tentunya mereka di kejar,
Begitu sudah berada di luar ruangan interograsi antikomunis, " pergilah cepat! Aku akan mengurus mereka " ucap bumi melepaskan genggaman tangannya,
" Bagaimana dengan mu? " Seru Fira
" Tenang saja, Ayah ku tidak akan membunuh ku. Jadi pergilah " ujar bumi yang tahu pasti ini perintah sang ayah.
Fira terdiam menatap nya, " tapi ... Tapi kenapa kakak ... "
__ADS_1
" Cepatlah! Aku akan menghadapi nya" Ucap bumi melihat Doni yang berada di samping Fira dan memberi kode pada Doni untuk pergi,
Fira masih menatap bumi dengan cemas dan khawatir,
" Ayolah fir.. " seru Doni yang hendak membawa Fira berlari di tengah-tengah rasa sekaratnya. Saat akan beberapa langkah kaki Doni membawa Fira, bumi menghentikannya dan mencium intim bibir Fira.
" Hati-hatilah! Sampai ketemu nanti " ucap bumi pergi, begitu pula Doni yang langsung lari membawa Fira yang saat ini tengah linglu dengan ciuman tadi,
Di tengah-tengah jalan yang cukup lumayan sepi dengan jalanan yang pastinya kacau balau karena orang-orang yang tergeletak tak bernyawa dengan macam-macam luka.
Doni tertatih-tatih hampir tersungkur hal itu menyadarkan Fira dan langsung memapah Doni dan pergi mencari tempat aman.
***
Malam ini pula langit dan daya berpamitan dengan seluruh paramedis dan setelah mengunjungi Ica di ruangan intensif RS, mereka pun akhirnya benar-benar akan pergi dari RS.
" Dokter Rio, anda tidak perlu mengantar ku " seru daya pada dokter Rio
" Aku mengantar mu karena searah untuk mengambil darah lagi. Setidaknya itu yang bisa kulakukan untuk rekanku yang
Berbagi pengalaman hampir mati bersama ku " Ujar dokter Rio mengangkat kedua alisnya melihat langit dan juga daya,
Langit pun tertawa, begitu pula dengan daya...
" Mau kuantar ke stasiun? " Ucap dokter Rio yang di anggukan ramah daya,
" Ah, bagaimana kalau kita menemui adikmu daynila sebelum pergi ke stasiun? " Seru langit
" Emm bolehkah ? "
" He'um. Kamu akan merasa tenang begitu sudah melihat dia baik-baik saja.
Dan kau juga harus mengembalikan sepatunya " ucap langit begitu mengertikan daya,
" Auh astaga, semua romansa ini membuat ku merinding. " Seru dokter Rio bergidik ngeri,
" Jadi, bagaimana? Mau ku antar ke mana? " Ucap dokter Rio melihat langit.
" dayanaa ... " panggil seorang wanita yang langsung membuat senyum di wajah daya langsung hilang seketika,
Wanita itu menghampiri daya...
" Sedang apa ibu di sini? " Ucap daya dingin
" ikut saja dengan ibu. Daynila juga sudah menunggu " ujar sang ibu
" Oh kami baru mau ke kampnya... " Sahut langit
" Ayo kita kembali ke rumah dan meninggalkan Semarang. Kita harus segera pergi dari sini. " Ucap sang ibu menatap sang putri
" Bawa saja daynila. Aku bisa mengurus diriku sendiri. " Ucap daya begitu dingin
" Dayanaa! " Teriak damiella sang ibu membuat situasi cukup menegang sekaligus canggung
" hmm kalau begitu aku akan membantu dokter Rio... " Seru langit melirik dokter Rio memberi kode,
" Tidak perlu. " Ucap daya
" Oh astaga terimakasih sekali. Ngit kau pengertian sekali, aku memang sedang
Kekurangan orang di sini " sahut dokter Rio begitu mendapat kode dari langit,
" Aku akan menyalakan ambulans " ujar dokter Rio masuk kedalam ambulans
" Silahkan lah bicara " seru langit begitu sopan dengan ibu dari daya lalu pergi menyusul dokter Rio,
Daya melihat kepergian langit dan menyusulnya, tapi di hentikan oleh sang ibu yang memegang tangan dari daya, dengan datar daya melepaskan nya.
Saat langit akan duduk di kursi depan, daya memegang lengan baju langit sambil menggeleng minta untuk tidak di tinggal berdua dengan sang ibu.
__ADS_1
" Ngit, kamu tidak perlu sengaja meninggalkan kami. "
" Aku hanya menemani dokter Rio, Bicaralah dengan ibumu."
" Tidak ada yang bisa kukatakan dengan ibuku, bisakah kau tidak pergi dan tetap disini? " Pinta daya yang resah
Langit Tersenyum, " aku akan segera kembali. Jadi, tunggulah aku. Tidak apa-apa bicaralah dengan santai dengan ibumu ehm " seru langit menggenggam tangan daya lalu pergi.
πππ
Saat di perjalanan, " uhf bisa-bisanya ibu dan anak saling bersikap dingin. Pasti tidak akan mudah bagimu setelah menikah... " Seru dokter Rio yang di balas senyuman oleh langit,
" Kini aku tahu kenapa dia sekeras batu " ucap dokter Rio
" Ck eyy sekeras batu apanya, justru ia selembut tofu. Itulah mengapa yang membuat ku khawatir. " Seru langit
" ck ck kau pasti sudah di buatkan oleh cinta. Jadi selamat menikmatinya " ujar dokter Rio. Yang kini membuat mereka tertawa bersamaan,
" Oh ya, bagaimana rumah sakit lain bisa mendapat begitu banyak darah? " Tanya langit menoleh.
" Melalui sumbangan " jawab dokter Rio dengan tak lepas memperhatikan jalan,
" Mereka dapat sebanyak itu dari sumbangan darah pegawai RS ? "
" Bukan, tapi dari para warga sipil. Mereka membuat pengumuman tentang kekurangan darah dan orang-orang masih mengantre untuk mendonorkan darah. " Jawab dokter Rio
Langit menaikkan tombol volume di radio ambulans,
" Kau menyukai lagunya? "
" Bukan aku.Tapi sahabat ku yang menyukainya " Ujar Langit tersenyum,
Cricttttt .... Bunyi decitan ban ambulans yang mengerem mendadak karena tiba-tiba saja ada sebuah mobil yang menghalangi mereka,
" Apa-apaan ini... " Umpat dokter Rio
Sedang dari arah samping langit menoleh saat lampu mobil tiba-tiba menyorot nya dan semakin memajukan lajunya dengan kecepat sengaja menghantam mobil ambulans mereka dan bommm !! mobil ambulans itu terguling terlempar.
***
" Aku tidak mau ikut, Aku tidak mau pergi. Aku tidak akan pergi dengan ibu " Ujar daya
" Kenapa? Apa dia meminta mu untuk tetap bersamanya? Apa dia ingin menikahi mu benar begitu? " Ucap sang ibu
" Jangan mencampuri hidup ku " ucap daya dingin yang memang tak akur dengan sang ibu,
" Bagaimana dengan orang tua nya hah?
Apa mereka tahu kalian berpacaran?
Jika belum menemui orang tuanya, bagaimana kamu bisa mempercayai nya hah? Kamu akan menyesali ini, jadi ikut dengan ibu sekarang. "
" Jangan pernah bilang begitu. Ibu mana mengerti ... "
" Senior! Senior daya ! " Teriak Maya berlari menuju daya yang sedang perang dingin dengan ibunya
Daya menoleh nya yang sedang memburu ngambil nafas akibat berlari,
" Dokter Rio dan dokter langit.... Mereka mengalami tabrak lari. " Ujar Maya
lalu sirine ambulans pun berbunyi, daya membelalakkan matanya.
-
-
-
jangan lupa like vote dan komennya yeorobeun βΊοΈπ€π»
__ADS_1
# happy reading all π