Langit Devandra Dengan Daya

Langit Devandra Dengan Daya
bab 62


__ADS_3

Di sebrang sana ilen tengah sibuk mencatat daftar-daftar orang yang hilang, meninggal maupun yang terluka di post bantu.


" Ilenia.. " seru Daniel yang membuat ilen melihat nya,


" Kakak" ujar ilen melihat luka di wajah kakaknya itu.


" Kenapa kau bisa sampai seperti ini hah kak? " Ucap ilen


" Tidak usah pedulikan aku. Sekarang ayo kita pulang " ucap Daniel


" Aku sempat curiga, setelah langit di bawa pergi. Selanjutnya adalah giliran aku, Tapi devandra adalah ancaman bagi semua orang disini. Aku tidak bisa pulang hanya untuk menyelamatkan diri ku " ujar ilen


" Bagaimana dengan ayah? Aku tidak meminta mu pulang untuk selamanya, tapi bukankah setidaknya kamu harus


Menemui ayah sekali saja hah? " Seru Daniel


" Jika menemui ya sekarang, aku tidak akan bisa meninggalkan rumah lagi. "


" Ilen, sekarang Kakak memahami alasan mu untuk melakukan ini. Tapi haruskah kamu perpaling dari keluarga mu? Dalam situasi seperti ini .... "


" lihat ini, Semua poster ini di tempel oleh orang-orang yang anggota keluarganya hilang. Tanpa tahu anggota keluarganya hidup atau mati, mereka bahkan memotong foto keluarga mereka dan membuat poster ini...." Lirih ilen


Daniel menyeringitkan dahi dengan sikap adiknya itu sambil melirik foto-foto poster yang tertempel, sontak ia begitu terkejut melihat salah satu foto siswa SMA yang terpampang di dinding itu. Karena pasalnya bocah SMA itu yang berada di samping nya saat dia di bawa oleh para tentara dan di sana pun orang-orang di siksa. Tiba-tiba Daniel memikirkan bagaimana nasib bocah itu di sana dan lainnya saat hanya ia satu-satunya yang bisa keluar itupun karena devandra.


" Setidaknya semua orang di keluarga kita masih hidup, dan kita tahu akan hal itu. Aku tidak akan pulang, maaf ka. Tolong jangan meminta ku untuk pulang lagi saat ini " Ucap ilen yang pergi meninggalkan Daniel sang kakak.


...πŸƒπŸƒπŸƒ...


Masih di rumah sakit Semarang central, damiella ibu dari daya tengah terduduk dalam getirnya akan keras kepala putrinya itu yang bersikeras tak ingin kembali pulang.


" Bu, jadi kapan kita akan kembali pulang ke rumah? " Tanya nilla Yang tak ada jawaban dari sang ibu karena ia pun bingung harus bagaimana,


" Haruskah kita menculik kakak? Ibu pegang lengannya, aku akan pegang kakinya. Dengan begitu kita bisa membawanya pulang ke rumah. " Ujar nilla


" Tidak ada gunanya hanya membawa raganya, sedang jiwanya akan tetap di sini"


" Ada apa dengan nya? Aku mengerti kakak mencintai ka langit, tapi bukankah keluarga lebih penting baginya daripada apapun? " Seru nilla, kemudian damiella pun mengelus rambut putri bungsu nya itu.


" Ini, kau tahu siapa yang memberikan cincin ini? " Tanya damiella


" Bukankah itu sesuatu yang di wariskan


Kakek pada ibu? "


" Sebelum ini di wariskan kepada saudara ibu. Tapi saat ia meninggalkan rumah ia memberikan ini pada ibu, saat ibu seusia mu "


" Kenapa ia meninggalkan rumah? "


" Karena ia pun juga memiliki sesuatu yang lebih penting dari pada keluarganya sama seperti kakakmu. Kamu tidak pernah tahu apa yang akan terjadi Saat kamu dewasa, kamu juga mungkin Akan menemukan sesuatu yang lebih penting. "


" Kurasa tidak. Bagiku, keluarga ku akan selalu lebih penting daripada apapun"


" Auh astaga putri kecil ku sudah dewasa rupanya. " Senyum Damiella memeluk nilla,


" Hmm keluargamu, tentu penting bagimu. Tapi terkadang kamu menemukan hal-hal dalam hidup yang jauh lebih penting. "


Kini daynila melihat sang ibu,


" Kakakmu bukannya tidak peduli pada keluarganya. Tapi dia belum bisa pulang


Karena hal yang lebih penting. " Ujar damiella memberi pengertian pada putri bungsunya itu.


Hal itu di dengar oleh Fira yang akhirnya memilih pergi, ia pun nampak menghubungi seseorang.


" Ini, ada telpon untuk anda tuan. " Seru pria berbadan besar memberikan telpon rumah itu,


Bumi menyeringitkan dahinya, " halo? " Seru bumi menyahut


" Halo, apa ini benar kediaman bumi devandra? " Ujar Fira di sebrang sana


" Ya, dengan saya sendiri. " Ucap bumi


" Ka bumi, ini kakak? Ini aku, Fira. "


Seketika bumi lega mendengar suara Fira di sambungan telepon, " firaa. Kamu baik-baik saja? " Tanya bumi


" Seharusnya aku yang menanyakannya, apa kakak baik-baik saja? Aku tidak bisa menghubungi ponsel kakak... "

__ADS_1


" Aku baik-baik saja. Bagaimana dengan mu hah? "


" Ah syukurlah, aku lega mendengarnya. Aku juga baik-baik saja."


" Syukurlah. Ah ya sekarang kau dimana?"


" Saat ini aku tengah di RS setelah memastikan Doni mendapat perawatan. Aku juga bersama daya, "


" Rumah sakit? Ada apa lagi? Kau bilang kau baik-baik saja."


" Semua baik, tapi kecuali daya... " Lirih Fira


" Daya? Ada apa dengan nya? "


" ouhf dia menunggu langit. Daya tidak mau keluar dari rumah sakit. Jadi, apa boleh aku bertanya. Apa Langit sudah pulang? Apa kakak tidak mendengar apapun tentang nya? "


Bumi melirik penjaga yang juga merupakan anak buah ayahnya itu berdiri di depan pintu ruang kerja sang ayah,


" Langit... Dia... Dia bisa saja mati... "


Tut ..Tutt.. tutt.. tuttt


Nita menutup panggilan telepon itu,


" Siapa? " Tanya sang ibu


Bumi menatap sang ibu yang tengah melihat nya dengan pupil matanya yang membesar, yang kemudian melirik sang anak buah suaminya itu yang sedari


tadi tengah memperhatikan bumi,


Dengan datar bumi pun pergi keatas kamarnya.


" kamu sungguh tidak akan memberitahu


Ibu siapa dia? " Ujar sang ibu sudah berada di belakang bumi,


Tak ada sahutan dari bumi,


" Bumi devandra. " Ucap Nita yang memegang pundak putranya itu.


" Apa? " gumam Nita pura-pura tak tahu,


" Tidak ada lagi suara yang terdengar berasal dari ruang kerja itu. Bagaimana jika langit sudah mati? Cih jika dia saja bisa melakukan ini kepada putra kesayangannya, maka iapun akan bisa membuat ku seperti itu. "


" Itu tidak akan pernah terjadi, bumi. Bagaimana mungkin ayah mu melakukan itu. Ayah dan langit hanya sedikit berselisih paham, itu saja. " Ucap Nita


" Tidak bisakah ibu membantu membebaskannya? "


" ibu tidak bisa. Ayahmu akan membebaskannya begitu ia tenang, jadi jangan khawatir ya? "


"Jika ibu tidak bisa membantu. Maka biar aku saja yang akan membantu nya, lagi pula ayah sedang tidak di rumah. Dan Ah ya aku juga akan pergi, karena di sini. rumah adalah tempat yang tidak aman bagi ku." Ucap bumi hendak berjalan ke ruangan kerja sang ayah.


" Berhenti bersikap seperti ini bumi. Ibu mohon berhentilah, jangan menambah situasi ini. " Seru sang ibu meminta,


" Ibu akan melihat langit. "


" Biarkan aku ikut "


" Kau lihat kan anak buah ayahmu itu yang berjaga di depan ruang, ia pasti akan curiga jika kau juga masuk bersama dengan ibu. Biar ibu saja, ya? "


" Ibu akan melepaskan nya kan?"


" Ibu akan melihat nya. " Ucap sang ibu pergi,


Sedang bumi sedikit kecewa mendengar nya.


Kini Nita sudah berada di dalam ruang kerja suaminya itu dan melihat langit tergeletak dengan luka dan wajah yang pucat lalu tentunya tangan dan kaki pun diikat.


Nita berjongkok perlahan ia mengangkat kepala langit sekaligus membangun kannya, Nita membantu memberikan air minum pada langit anak sambungan itu.


Langit meminumnya bagai orang yang tengah berada di gurun gersang. Sedang Nita melihat nya begitu prihatin,


" Uhf.. uhff .. " deru nafas langit setelah menenggak nya.


Melihat langit yang masih bernafas, nita dengan menutup hatinya pun beranjak pergi keluar dengan gelas yang ia bawa di tangannya.


" Tunggu.. " lirih langit yang tentunya menghentikan langkah Nita, sang ibu sambung.

__ADS_1


" Bisakah aku meminta bantuan ibu? " Seru langit, yang kali ini membuat Nita menolehnya.


" Tolong hubungi rumah sakit Semarang central. Jika daya masih di sana, tolong beritahu dia aku selamat, dan ia harus


Kembali pulang. Tak aman berada di sini " pinta langit pada sang ibu sambung,


" Maaf, tapi ibu tidak bisa melakukan itu untuk mu. " Ujar sang ibu.


Kini langit menatapnya lirih,


" Tidak ada gunanya berwajah begitu. Kamu sudah tahu, tidak ada yang bisa ibu lakukan di rumah ini. Satu-satunya yang ibu bisa berikan hanyalah segelas air, kamu pasti kesal kepada ibu karena itu... "


" Ibu. Aku tidak kesal kepada ibu, aku juga tidak pernah membenci ibu dan kak bumi. Aku bahkan memahami perasaan ibu, kalau begitu aku akan meminta hal lain saja. Ibu dan kak bumi tinggalkan rumah ini, tidak ada kebahagiaan di rumah ini. " Seru langit,


Tanpa menjawab apapun nitapun pergi meninggalkan langit.


Begitu di ruang keluarga bumi menatap sang ibu mencari jawaban, yang sontak di gelengkan pelan oleh sang ibu. Tanpa sekata patahpun bumi berlalu yang kemudian kembali di cegah oleh sang ibu.


" Ayahmu bisa marah besar. " Gumam sang ibu,


" Apa ibu tega melihatnya seperti itu. Bagaimana jika bumi yang berada di sana? Apa ibu pun juga tidak akan menolong bumi?" Ujar bumi yang kembali melajukan langkahnya keruang kerja sang ayah.


" Ada apa? " Ujar sang anak buah ayahnya itu dengan tubuh yang dua kali lipat lebih besar dari pada bumi.


" Aku ingin melihatnya." Ucap bumi yang ditatap tajam oleh bodyguard itu.


" Apa aku tidak boleh menemui adikku sendiri hah! " Ujar bumi memicingkan matanya tajam, tak ada jawaban dari sang bodyguard.


" Minggir! " Ucap bumi yang melenggang masuk tak peduli dengan bodyguard itu.


Begitu ia sudah di dalam, ia pun melihat keadaan langit.


" Jangan menatap ku seperti itu. Kau membuat ku tersinggung" seru langit melihatnya


" Cih. Kau memang tampak menyedihkan" Ucap bumi


Langit tertawa, " kau ke sini hanya untuk mengejek ku kak? "


" Fira menelpon, ia bilang daya menunggu mu di rumah sakit. Ia bahkan menunggu mu sambil dengan bekerja tanpa henti"


" Ck wanita keras kepala. " Gumam langit,


" Aku boleh minta tolong dengan mu kak." Sambung langit yang hanya membuat bumi meliriknya,


" Tolong beritahukan daya, jika aku baik-baik saja dan minta ia untuk kembali pulang... " Pinta langit melihat sang kakak sambung nya.


" Kenapa harus aku. " Sahut bumi, membuat pandangan langit mendadak suram tanpa harapan.


" Temui sendiri. Kaulah yang harus menemui nya sendiri. " Ucap bumi melepaskan ikatan tangan langit dan juga kakinya,


" Pergilah. Selagi ia tak ada di rumah" seru bumi.


" Bagaimana dengan mu? " Tanya langit, yang kali ini tak dapat jawaban dari bumi.


" Kau juga harus pergi. Bawalah ibu bersama mu. " Seru langit,


" Aku akan pergi jika ibu pun menginginkannya juga. Pergilah" ucap bumi


Langit tersenyum melihat bumi,


" Ah ya, jika kau bertemu dengan Fira. tolong sampaikan padanya jika ia pun jangan bersikap nekat melawan para tentara itu" ujar bumi


" Ehm. Pasti kusampaikan." Sahut langit yang hendak melarikan diri melompati jendela ruang kerja itu. Saat bumi hendak kembali keluar,


" Terimakasih, kak. " Ucap langit memeluk nya, ya itulah untuk pertama kalinya mereka akrab layaknya terlihat seperti keluarga selama bertahun-tahun lamanya.


***


-


-


-


jangan lupa like vote dan komennya yeorobeun β˜ΊοΈπŸ€—πŸŒ»


# happy reading all πŸƒ

__ADS_1


__ADS_2