Langit Devandra Dengan Daya

Langit Devandra Dengan Daya
bab 56


__ADS_3

Kini daya pun sudah keluar tempat parkir ambulans yang akan pergi mendatangi para korban di jalan,


" Kamu sudah gila ? Kamu mau kemana hah ? " Ucap langit menarik tangan daya dan menghentikan langkah dari daya.


" Aku akan menjemput Pasien. Ada orang dengan luka tembak di mana-mana " seru daya masih begitu pucat. tanpa memberitahu tentang adiknya yang tengah berada di jalan dengan situasi kisruh ricuh saat ini,


" Mereka bukan satu-satunya orang di luar sana. Ada tentara di mana-mana! " Ucap langit penuh penekanan


" Maksud mu kita harus diam saja ?. Harus ada yang pergi kesana " ujar daya menutupi kekalutannya


" Tapi kenapa harus kamu hah ? Kau punya dua nyawa day ? " seru langit menaikkan nada bicara nya


" Aku harus pergi. " Ucap daya tak peduli, ia harus pergi turun kejalan karena dengan itu ia bisa mencari adiknya dan juga Sahabat nya Fira.


" Berhentilah bersikap sok benar ! " Teriak langit yang kesal menarik tangan daya


" Jangan memerintah ku ! " Sahut daya yang juga kesal menghempas tangan langit lalu masuk kedalam ambulans.


Daya duduk tanpa melihat langit, langit menghela nafas melihat kekasihnya itu lalu ikut duduk di samping daya.


" Apa yang kamu lakukan? Keluar. " Ucap daya melihat langit


" Aku tidak akan keluar sampai kamu keluar. "


" Keluar Ngit. Kamu tidak perlu melakukan ini "


" Jangan memerintah ku. " Sahut langit menatap daya


(...)


" Wah langit, kau ikut dengan kami ? " Ujar sang dokter Rio melihat langit dan daya,


" Ya . " Sahut langit datar,


" Baiklah. " Ucap dokter Rio menutup pintu ambulans itu lalu pergi.


Di jalan para tentara masih terus mengangkat senapan mereka, sementara korban banyak tergeletak.


Brugh ! Pinta ambulans di buka, Langit dan yang lainnya keluar setibanya mereka di persimpangan jalan.


Langit dan daya tercengang melihat para korban yang dari berbagai kalangan itu,


" Astaga, kacau sekali " ucap dokter Rio


" Dokter, sebelah sini " ucap dokter penyintas jalanan


Dokter Rio, langit dan daya pun mengikuti sang dokter penyintas,


Di pinggir jalan daya menghampiri seorang mahasiswa wanita yang terkena luka tembak.


" Kau baik-baik saja ? Apa bisa mendengar ku ? " Seru langit menghampiri nya juga. Wanita itu tampak lunglai tak sadarkan diri,


" Day. Bantu aku, aku akan menggendongnya " ujar langit memeriksa nadinya


" ehm. " Sahut daya membantu mahasiswa perempuan itu ke punggung langit,

__ADS_1


Saat langit akan membawa nya...


' dor .. door ... ' tentara berhasil menembak dokter penyintas.


Langit dan daya membelalakkan matanya,


" Argh .. " teriak dokter penyintas itu dengan luka tembak di pahanya.


Rio dengan cepat langsung segera menolong rekan seprofesinya itu dengan menunduk terburu-buru panik,


' dor .. dor .. ' peluru itu kembali di tembakan ke sembarang arah.


" Ayo. Masuk keambulans! Cepat! " Teriak dokter rio berhasil memapah sang dokter penyintas,


" Daya. Masuklah, cepat. " Seru langit meminta daya lebih dulu untuk berjalan ke ambulans


" Masuklah. Cepatlah uhf uhf uhf.. " deru dokter Rio


Daya membuka pintu depan mobil ambulans untuk langit meletakkan mahasiswa yang terluka itu.


Begitu Langit telah selesai memasang sabuk pengaman pada korban mahasiswa perempuan itu, daya hendak akan masuk kedalam ambulans tapi tiba-tiba ia mendengar suara anak perempuan menangis


Suara tangisnya itu mengingatkan daya akan adiknya daynila, daya pun menoleh mencari sumber suara tersebut yang terdengar seperti di sebrang ujung gang jalan. Lalu sesaat daya melihat sebelah sepatu tergeletak di tengah-tengah jalan dan tak jauh di sebelahnya lagi satu sepatu yang sangat amat ia kenal. Dengan suara tangisan yang terus menggema di sudut jalan,


Daya berkaca-kaca, Saat itu juga daya pun berlari dengan deruan nafas tak beraturan nya hendak menuju suara tangisan anak perempuan itu.


" Kamu mau kemana ? " Ujar langit mengejar daya dan menahannya sambil memperhatikan keadaan sekitarnya,


" Masuk kedalam mobil. Ayo pergi dari sini. " Ucap langit kembali menatap daya


" Sadarlah day. Tentara menembaki kita." Ucap langit masih memegang lengan daya


" Aku harus pergi. Aku harus memeriksa nya! " Ujar daya kekeh sambil kembali berlari


Langit kembali mengejarnya, " Dayana! " Teriak langit marah menarik lengan daya,


Daya menghempas tangan langit, " ish bagaimana kalau itu daynila dan Fira ? " Seru daya sambil menangis.


" Kenapa mereka di sini sekarang hah? " Ucap langit keras


" Pak yoga bilang dia melihat daynila dan Fira. Pak yoga melihat nya disini tengah tersungkur di jalan saat para tentara menembak. Itu sepatu Fira dan daynila " Lirih daya menangis menoleh ke sumber suara itu dan juga sepatu yang tergeletak di jalan.


Langit menoleh kearah sepasang sepatu yang sebelah-sebelah berbeda itu,


Daya masih menangis lemas dan lari kencang pergi tak memedulikan langit.


" Daya... Dayanaa ! " Teriak langit


Saat daya berlari terus, ' dor.. doorr.. ' sebuah peluru kembali meluncur untungnya hanya mengenai mobil-mobil di jalan yang sudah rusak karena gempuran peluru,


langit membuka matanya lebar mendengar suara tembakan ...


" Aishh sial. Siapa wanita itu ? " Ujar sang tentara yang tadi baru saja meluncurkan tembakan hendak mengejar sambil menarik pelatuk senapannya.


" Saya bisa. Biar saya saja yang menangkap nya, pak. " Ucap seorang tentara menghentikannya lalu segera pergi menyusul kepergian dari daya,

__ADS_1


(...)


" Nillaa ... Daynila .. fir.. firaaa.. " lirih daya lunglai. Tak mendapati daynila dan Fira yang terluka di sana, Saat itu ia hanya melihat seorang anak perempuan yang terluka tembak dan tak sadarkan diri, daya pun menghampiri nya terdiam melihat kondisi luka anak itu. Jika boleh jujur daya sedikit merasa lega karena anak itu dan perempuan di sebelah nya bukan adiknya dan juga Sahabat nya.


Saat daya masih terpaku menatap anak perempuan itu, di belakang nya sudah ada satu tentara yang tadi mengajukan diri untuk menangkap nya.


Tentara itu tampak begitu amatir memegang senapan bukan karena tak bisa tapi karena ia tak mampu untuk melakukan hal keji. Jadi ia dengan ragu mengangkat tongkat pemukul nya lagi-lagi dengan ragu, ia tampak tak punya pilihan dari pada wanita yang berada di depannya saat ini di tembak oleh atasnya lebih baik ia yang menangkapnya. dengan itu wanita ini masih hidup, dari pada menembak mati.


' jika tidak mau menembak, tangkap mereka secepatnya. Sebelum di tembak yang lain. ' kata-kata itu yang terus terekam dalam otak tentara itu.


Tentara itu perlahan memajukan langkah kakinya dengan tongkat pemukul yang siapa ia layangan,


Saat tentara itu akan melayangkan tongkat pemukul nya dari belakang langit datang mencekik leher tentara itu hingga membuat nya jatuh dan senapannya tergeletak, lalu dengan cepat tentara itu bangkit dan mengambil senapan nya yang tergelatak tak jauh darinya kemudian segera memasang ancang-ancang menembak.


Saat senapan itu terarah pada langit dan mata tentara itu bertemu dengan langit, mereka berdua terdiam kaku.


" Ariii.. " ujar langit pada tentara itu yang tak lain adalah sahabat karibnya yang sudah lama tak berkabar itu. Sebenarnya bukan tak berkabar, semua email dari langit sampai ke Ari tapi untuk membalasnya Ari tak di perbolehkan oleh senior nya yang otoriter sialan itu. Bahkan untuk melakukan panggilan telepon pun itu tak di perbolehkan, sempat sekali Ari di bantu senior atasan nya yang baik dengannya untuk menggunakan telpon angkatan militer itu tapi sayangnya panggilan itu di angkat oleh ilen kala itu.


Ari pun hanya terdiam menatap langit dengan menurunkan senapannya,


" Ngit... " Gumam daya menoleh kearahnya


Langit menoleh daya lalu kembali melihat Ari,


Tin .. Tintin ... Klakson mobil ambulans menghampiri mereka.


" Daya, sedang apa lagi? Masuk ke mobil! Langit devandra! " Teriak dokter Rio membuka pintu belakang ambulans,


Lalu langit pun menghampiri daya, " daya, ayo. Ayolah day " seru langit membantu daya berdiri menuju ambulans


Dengan langkah lunglai daya bagai manusia tanpa raga,


" Masuklah, day. Cepat ! " Ucap dokter rio membantu nya.


Setelah itu langit pun mengendong anak perempuan yang terluka itu, awalnya ia langsung ingin pergi tapi ia berbalik kembali.


" Rii... Ica masih hidup, ia ada di Semarang sekarang. Aku sudah menepati janji ku menjaganya untuk mu."


Mendengar itu Ari berkaca-kaca hingga membuat ia menjatuhkan senapannya,


" Langit ! Cepat! Apa yang kau lakukan. " Teriak dokter Rio.


Yang akhirnya membuat Langit bergegas pergi,


" Ngit. Kuharap kita bisa kembali bertemu. Bukan sebagai orang yang bersebrangan tapi sebagai seorang sahabat " ucap Ari sebelum mobil ambulans mereka pergi.


***


-


-


-


jangan lupa like vote dan komennya yeorobeun β˜ΊοΈπŸ€—πŸŒ»

__ADS_1


# happy reading all πŸƒ


__ADS_2