
Saat mobil ambulans itu sampai, paramedis dengan sigap keluar dan mengambil ranjang, daya terpaku syok. Sesaat saat pintu ambulans terbuka dan daya hanya melihat dokter Rio yang terbaring bersimbah darah di bagian kepalannya di ambulans itu.
" Di mana yang satunya? Apa dia dalam perjalanan? " Tanya daya yang tak dapat lagi menyembunyikan kekhawatirannya
" Hanya ada satu pasien. " Seru paramedis yang berada di dalam Ambulans itu.
" Apa maksudmu?! Mereka berdua pergi bersama. Harusnya ada satu orang lagi! " Ucap daya ngotot
" Tapi hanya ada satu orang di sana! Cepat " seru paramedis itu meminta perawat untuk memindahkan dokter Rio yang terkapar tak sadarkan diri.
Daya pun ikut masuk kedalam RS, ia berdiri di samping perawat dan dokter yang tengah memeriksa dokter Rio itu. Daya tampak sangat begitu khawatir,
" Dokter Rio... Dokter... " Ujar seorang dokter yang memeriksanya, perlahan dengan lirih dokter Rio sadar membuka Matanya dan mengeluh halus.
" Dokter Rio, anda baik-baik saja? Anda sudah sadar? " Tanya daya mendekat
" Dayana... " Lirih dokter Rio sekilas melihat daya
" Dokter Rio, langit ... Apa yang terjadi dengan nya? Ia tidak ada di lokasi. " Buru daya
" Bedebah yang menabrak kami membawa nya. "
" Mereka membawa nya? "
" Mereka menabrak mobil kami, lalu membawa langit yang pingsan. Mereka memasukkan nya ke mobil dan pergi. " Beritahu dokter Rio sebelum ia kembali tak sadarkan diri,
Daya lemas, ia lunglai berjalan keluar lorong. Ia bahkan sampai menopang tubuhnya agar tak jatuh dengan perkataan yang dokter Rio bilang tadi. Daya bahwa terdiam dengan pandangan nanar ke bawah.
" Dayaaa ... " Seru ilen tersenyum yang kebetulan baru tiba berada di lobby rumah sakit.
" Kamu disini rupanya, kukira kamu pergi dengan langit... " ujar ilen menghampiri senang melihat sahabatnya itu.
Daya pun menoleh, " ilennn ... " Lirih daya dengan mata berkaca-kaca, daya pun menangis
Senyum ilen pudar seketika melihat daya,
" Langitt ...." Gumam daya dengan tangisnya yang pecah
" Ada apa dengan nya? " Tanya ilen
" Day... Apa yang terjadi? katakan, Dayaa.. " Seru ilen memeluk daya yang masih menangis tersedu-sedu. Melihat situasi daya saat ini ilen hanya dapat menenangkannya dulu.
***
setelah bumi habis perang dingin dengan ayahnya di markas komando pertahanan keamanan interograsi antikomunis.
Di kediaman keluarga devandra...
" bumi, apa yang terjadi dengan mu sayang... " Seru sang ibu menghampiri lalu melihat ke devandra sang suami.
" Urus dia. Menyusahkan saja! " Ucap devandra dingin kemudian pergi keruang kerjanya, sedang bumi menatap tajam pada sang ayah.
" Apa yang terjadi hah? Bumi. Ada apa? Kenapa ayah mu sampai sekesal itu, ada apa? " Ujar sang ibu
" Apa ibu masih mau hidup dengan nya? " Seru bumi
__ADS_1
" Apa yang kamu bicarakan. Ayo, ibu akan mengobati luka-luka mu " ucap sang ibu membantu bumi ke kamarnya.
Devandra amat begitu marah saat ini, apa lagi saat dirinya menerima laporan dari anak buahnya tentang keberadaan dan kegiatan kedua putranya yang bersebrangan dengan dirinya.
" Kau sudah sadar? " Ujar devandra saat melihat langit yang tergeletak di lantai ruang kerjanya mulai membuka mata.
Dengan keadaan penuh darah, tangan dan kaki di ikat. Langit melihat kearah ayahnya, ia tak kaget lagi dengan keberadaan nya, karena ia amat tahu jika ini semua memang perbuatan sang ayah.
" Aku tahu aku tidak pantas bicara, tapi ayah... Ayah lumayan hebat. " Gumam langit
Devandra pun menghampiri dan menarik kerah langit dengan keras tanpa peduli luka yang terdapat pada langit hingga posisi langit terduduk,
" Pergilah ke Jakarta dalam 10 menit. Tidak ada bus atau kereta, kau akan pergi dengan naik mobil. Dan kau bisa menerima perawatan setibanya di Jakarta. " Ucap devandra melirik luka langit
" Ah di mana ilenia? " Ujar devandra
" Entahlah." Sahut langit
" Kalau begitu, anggap saja ia menghilang di Jakarta. Dan keberadaannya tidak di ketahui"
" Sebenarnya apa rencana ayah? " Ucap langit menatap sang ayah
" Kau tidak pernah ke Semarang." Ujar devandra
Kini langit tertawa smirk, " mungkin ayah bisa mencuci otakku, tapi itu tidak akan mengubah fakta bahwa aku pernah berada di Semarang. "
" kau lupa, Ayah bisa menghancurkan semua bukti bahwa kau pernah disini. Contoh nya... Berandal yang ada di rumah sakit itu." devandra Berdiri
Langit terdiam lalu sesaat ia kembali tersenyum smirk, " dokter, perawat, dan Pasien di sana... Shttt banyak yang sudah melihatku. Ayah akan meledakkan rumah sakit? " seru langit dengan senyum nya
" Itu bukan ide yang buruk. Ayah bisa menghancurkan gedung dan mengkambinghitamkan mata-mata. "
" Kenapa? Kau tidak suka itu? Hmm Bagaimana kalau kita membunuh mata-mata yang menyusup ke rumah sakit? " Ucap devandra duduk di bangku kerja nya
" Aku pasti menjadi kelemahan ayah. Saat ini ayah pasti sangat sibuk, dan berusaha keras untuk menghapus keberadaan ku. Shttt keberadaan ku di Semarang tampaknya ancaman besar bagi ayah. Benar begitu? " Ucap langit mendongak melihat sang ayah
Kini devandra yang tersenyum begitu tenang dalam duduknya,
" Biarkan aku pergi. Jika ayah melepaskanku, aku tidak hanya akan meninggalkan Semarang, tapi aku akan menghilang dari kehidupan ayah selamanya. "
" Ck sesuai dugaan ayah. Kamu sangat pintar... " Ujar devandra membuka laci meja kerja nya dan mengambil lakba solasi kemudian berjalan kembali menghampiri langit,
" Tapi sayang kau tidak pandai membaca
Pikiran seseorang. Begitu kau pikir, kau tahu pergerakan lawanmu dan menjadi sombong, itu sama saja dengan mengekspos langkah mu selanjutnya. " Ucap devandra berjongkok dan menutup mulut langit dengan lakban solasi itu hingga dua kali rangkap,
Langit menggeleng berontak...
" Kau sudah kalah. Jadi, tetaplah di sini
Sampai situasi ini berakhir! " Ujar devandra menendang langit hingga kembali tersungkur rebah, kemudian devandra pun menginjak bahu langit yang terluka dengan keras terus menekannya
" Arggh...hhhhh... " Langit mengerang sakit dengan mulut rapat nya..
Devandra dengan Santai terus mengilas bahu langit sambil menarik lakban agar suara erangan dari langit samar tak terdengar dengan suara lakban.
__ADS_1
...π§οΈπ§οΈπ§οΈ...
Sedang saat ini daya tengah terduduk menekuk kedua lututnya tak berdaya di lantai loby koridor,
" Day. Aku sudah meminta tim SAR untuk mencari nya dengan sangat hati-hati. " Seru ilen kembali duduk . Ia yang tak tega melihat daya.
" Bukankah tim SAR, hanya mencari orang mati? " Lirih daya dengan pandangan nanar nya
" Apa maksudmu? Jangan bicara begitu. Mereka bahkan menemukan buronan yang melarikan diri " ujar ilen
" Aku yakin langit di seret pergi setelah di tabrak mobil, ayahnya mungkin dalangnya" gumam daya menopang kepalanya tak berdaya
" Jika sungguh devandra dalangnya, langit mungkin tidak di bawa ke komando keamanan interogasi pertahanan. Jadi, kamu harus tenang dulu... "
" Tidak ada yang bisa aku lakukan, langit mungkin mengeluarkan banyak darah. Ia mungkin sekarat di suatu tempat saat ini. Tapi aku... Tidak ada yang bisa kulakukan. " Lirih daya kembali menangis
" Dayana. Kendalikan diri mu hah. Kenapa tidak ada yang bisa kamu lakukan? Kamu harus menunggu langit. Kamu bisa menunggunya" ucap ilen
" Apakah kamu... Kamu meminta ku menunggu seperti ini? " Gumam daya begitu frustasi dalam ketidak berdayakan nya
" aku yakin langit akan kembali. Jadi sampai dia kembali, kamu harus tetap kuat day. Ya ? " Ucap ilen khawatir dengan keadaan daya
Sesaat daya kembali mengingat kata-kata langit yang akan kembali dan meminta daya untuk menunggunya.
Daya pun dengan kerapuhan nya ia berdiri, " aku harus kembali ke RS. Aku akan menunggu nya disana" lirih daya dengan pandangan kosongnya
" Aku akan mengantarmu day .. " seru ilen
" Aku bisa sendiri. Maaf telah merepotkan mu dan mengganggu keperluan mu Len. Terimakasih ya " lirih daya setelah samar melepaskan genggaman tangan ilen dan pergi memapah langkah yang hampir terseok-seok berjalan dengan pandangan kosong,
Lalu saat itu pula di luar UGD,
" daya, Dayana... " Seru sang ibu yang menunggunya khawatir, daya menoleh nya dengan kekosongan dirinya.
" Ayo ikut ibu pulang. Kita harus pergi sebelum terlambat, nilla dan nenekmu sudah menunggu. " Ujar damiella sang ibu
" aku akan kembali ke rumah sakit. " Ucap daya
" Apa maksudmu? Kenapa rumah sakit? "
Kenapa kamu kembali kesana hah? "
" Dia bilang akan kembali ke rumah sakit. Aku akan menunggu nya di sana. Ibu pergilah saja bersama daynila " ujar daya masih dengan pandangan kosongnya pergi lalu dengan segera di cegah sang ibu,
" Apa maksudmu? Ibu macam apa yang meninggalkan putrinya di tempat berbahaya seperti ini hah? " Seru sang ibu mengguncang tangan daya
Daya menarik tangan nya, " aku juga tidak bisa meninggalkan dia. " Ucap daya yang pergi.
...πππ...
-
-
-
__ADS_1
jangan lupa like vote dan komennya yeorobeun βΊοΈπ€π»
# happy reading all π