
(....)
" Firaa, kamu ini bicara apa?! " Seru damiella ibu dari daya yang kali ini pun sudah dengan daynila.
" Oh Tante... " Gumam Fira melihat raut wajah nya yang serius dan melirik daynila adik dari daya,
" Day, kalau begitu aku mau membeli minum dulu ya " seru Fira memegang bahu daya dan pergi dengan sengaja meninggalkan mereka.
" Nilla, kamu duduklah. " Ujar sang ibu lalu menghampiri putri sulungnya itu,
" Kamu... Kamu tahu orang seperti apa
Devandra hah? " Ucap sang ibu
" Aku tahu. "
" Kamu tahu? Dan kamu masih memacari putranya?! "
" Langit tidak melakukan apapun, lagi pun ia berbeda dari nya dan satu-satunya kesalahannya adalah dia putra ayahnya "
" Itulah masalahnya!. Menurut mu ia akan berbeda dengan ayahnya yang kejam hah? Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya day. "
" Setelah di cap seumur hidup Atas kejadian lampau, bisa-bisa ibu mengatakan hal yang sama seperti devandra? " Ujar daya
Damiella menahan emosi nya dan menarik tangan daya, " ikut ibu, ayo ikut ibu pulang sekarang juga. "
" Lepaskan aku. Lepaskan! " Teriak daya menarik tangan nya. Hingga membuat nilla sang adik berdiri menyaksikan pertengkaran kakak dan ibunya,
" Hentikan semua ini! Karena pada akhirnya, dia akan menghancurkan hidup mu! " Ucap sang ibu kembali menarik tangan daya,
" Bukan dia yang menghancurkan hidupku, tapi ibu. " Sahut daya kembali menghentakan tangannya.
Damiella tidak lagi dapat menahan emosinya,
" bisa-bisanya kamu... " Ujar damiella hendak melayangkan tamparan tapi dengan cepat nilla menghentikannya,
" Hentikan, kalian berdua! Berhentilah bertengkar " Teriak nilla sang adik yang kini berdiri di tengah-tengah sambil menangis.
" Tolong hentikan... " Seru nilla menangis memeluk daya.
...π§οΈπ§οΈπ§οΈ...
Pagi ini di kediaman keluarga devandra,
Nita menyalakan alunan melodi agar membuat nuansa sedikit hangat karena kerancuan keadaan di luar. Ia pun berjalan menaiki tangga,
" bumii !... Kamu sudah bangun? " Seru sang ibu
Langit yang tengah di kurung dengan ikatan dan mulut tertutup di ruang kerja devandra pun mendengar samar suara ibu sambungnya itu...
" Bumiii turunlah untuk makan. Ayahmu akan segera pulang" ujar sang ibu lalu kembali turun,
Langit berteriak dalam mulut yang tertutup itu, ia bahkan mencoba menggoyang-goyangkan kursinya membuat suara agar dapat di dengar oleh sang ibu.
__ADS_1
Sesaat Nita menoleh merasa mendengar sesuatu tapi dengan kemudian kembali berjalan karena yang ia tahu di rumah saat ini hanya ada ia dan juga putranya bumi.
Langit masih berusaha menggerak-gerakkan kakinya yang di ikat hingga membuat nya jatuh tersungkur bersama bangku bahkan langit pun memukul mukul kepalanya pada bawah meja dan membuat benda di atas meja itu jatuh.
'brug! '
Lagi-lagi suara itu samar terdengar, Nita yang tengah menyiapkan makanan pun kembali menoleh tetapi justru mendapati bumi yang menuruni tangga.
" Bukankah sudah sering ibu bilang, jangan terlalu menghentak di tangga? Rapih-rapih. Kau pasti belum mandikan"
" Aku tidak lapar. "
" Meskipun kau tidak lapar, temui lah ayahmu yang baru pulang. Kau harus makan dengan nya, ibu ingin kamu lebih dekat dan akrab dengan ayahmu. Rapih-rapih lah, ya? " seru Nita sang ibu meminta
Bumi menyudutkan matanya dengan malas dan menghela nafas kasar tapi ia pun kembali keatas,
Saat akan dirinya berjalan kembali ke kamar, ia mendengar suara erangan dan juga suara pukulan-pukulan. Mendengar itu bumi pun mendekat pada arah suara tersebut yang mengarah pada ruangan kerja sang ayah. Bumi menyeringitkan dahinya semakin mendekat, ia pun membuka kenop pintu lalu sesaat membulatkan matanya saat melihat langit tengah tergeletak dengan darah yang mulai mengering.
Bumi hendak melangkah masuk,
" Jangan pernah membuka pintu ini lagi. " Seru devandra menatap sinis dan dingin yang baru saja tiba dan melihat putra sulung nya itu.
" kenapa? Apa aku akan bernasib yang sama seperti dengan nya. " Sahut bumi membalas tatapan sang ayah tak kalah dingin,
" Kau pikir, kau bisa mengalahkan ayah? "
Ucap devandra
" Apa yang sedang kalian lakukan? " Ujar Nita yang akhirnya angkat bicara setelah ia diam-diam mendengar pembicaraan suami dan anaknya itu.
" Kau masih belum rapih, sebaiknya sekarang kau rapih-rapihlah. Ibu bersama ayah akan menunggu di meja makan. " Seru sang ibu lembut, bumi pun pergi tanpa sekata patah pun.
Kini tinggal hanya devandra dan Nita...
" Kau bisa jelaskan apa yang terjadi sebenarnya? Hingga ia berada di dalam sana?" Ucap Nita melihat sang suami.
Devandra pun berjalan menuju halaman yang di ikuti Nita sang istri,
" kamu sudah gila? " Seru Nita yang kali ini membuat devandra pun menoleh.
" Apa yang tengah terjadi di rumah kita? " Seru nya kembali,
" Seperti kataku, aku melakukan ini demi keluarga ku. " Ucap devandra
" Demi keluarga mu? Tapi yang terkurung di sana adalah anakmu sendiri! " Ujar Nita
" Bukan, yang berada di dalam sana adalah bom waktu. Cih sama seperti ayahmu. Berkat ayahmu yang gigih itu, kita terjebak di pedesaan ini selama sepuluh tahun. Dan ini kesempatan pertama ku dalam sepuluh tahun. Kau mengerti? Aku tidak mungkin memeluk bom hanya karena kita keluarga. Dan aku tidak akan membuat kesalahan bodoh itu " Ucap devandra pergi.
Ia kembali ke ruang kerjanya, dan melihat langit yang sedang memukul-mukul kepalanya pada lantai dengan melemah. Devandra berjongkok di hadapannya, langit menatap nya. Lalu devandra pun membuka penutup mulut langit,
" Arghhhhhhhh, arghhhhhhhh..... " Teriak langit meluapkan emosi nya begitu penutup mulut nya di buka.
" Jangan sia-siakan energi mu. Lagi pula,
__ADS_1
tidak ada orang di luar yang bisa mendengarmu."
" Setidaknya orang-orang di rumah ini akan mendengarku. Bukankah itu alasan ayah datang? "
" kau tidak ingin tahu apa yang terjadi di luar? Pasukan militer mundur. Jadi, semua orang merayakannya. Mereka tidak tahu kalau itu isolasi, bukan pembebasan. Semarang kini adalah tikus yang terjebak dalam kandang. Mereka akan mati perlahan kecuali mereka menyerah sama sepertimu. "
Langit tertawa melihat sang ayah, " akhirnya aku mengerti. Ibuku bilang lebih baik mati dari pada menerima perawatan
dengan uangmu. Kurasa aku memahami nya sekarang. "
" Ayah tidak mengerti kenapa kau dan orang-orang bodoh di luar, sangat amat bodoh. Selama kau tetap diam dan menjaga sikap, cepat atau lambat kau boleh pergi. "
" Apa gunanya di biarkan pergi? Ayah akan mengurung ku lagi jika merasakan gelisah. Eyy itu sama sekali bukan di biarkan pergi, karena aku hanya di ikat dengan rantai yang lebih panjang saja. Aku bukan anjing peliharaan ayah. Jadi, berhentilah mencampuri hidup ku. " Ucap langit
" Ayah tidak bisa mengabaikan mu. Sudah sejauh ini bahkan aku sudah menerima konsekuensinya. "
" Ahh sayang sekali, kurasa aku tidak bisa terus lagi berperan menjadi anak baik. Kurasa aku harus mulai berujuk rasa, aku sudah pernah di tangkap. Putra Ketua antikomunis yang bertobat? Wah itu akan memberi gambaran yang indah. Ahh atau haruskah aku pun mulai menjadi aktivis... " Ujar langit sengaja membuat sang ayah kesal. Yang Kemudian rambutnya pun di tarik kencang oleh sang ayah hingga membuat beberapa rambutnya lepas saking kencangnya.
" Kau harus tahu, kapan harus berhenti melawan. " Ujar devandra masih mencengkal rambut langit,
" Bukan hanya ayah yang bisa menghancurkan hidupku. Jadi, berhentilah mengganggu hidup ku. " Seru langit
" Ck kau itu yatim piatu dan ayah menerima mu. Tapi, kau lupa diri dan bertingkah? "
Langit tersenyum melihat sang ayah,
" kenapa aku yatim piatu? Ayahku masih
Hidup dan sehat di sini. "
Devandra menghempas kepala langit hingga terbentur lantai, " Jangan salah paham. Itu karena ayah memilih mu menjadi putra ayah, jika bukan karena pilihan ayah. Kau itu cuma yatim piatu. Anak yatim-piatu yang mengemis biaya pemakaman " ucap devandra, lagi-lagi langit tersenyum.
" Mayat-mayat di jalanan setidaknya harus di jemput keluarganya. Sedang kau, tidak ada yang akan mencari mu saat kau mati kehabisan darah di sini. Kemudian, tidak akan terjadi apa-apa seolah-olah kau tidak pernah ada sejak awal. " Seru devandra
" Yang yatim piatu bukan aku, tapi ayah. Tidak ada yang akan memilih ayah untuk di jadikan keluarga. " Ujar langit
(...)
Tok tok ...
" Pak, ada telpon darurat. Anda harus kembali. " Ujar anak buah devandra yang ia tugaskan untuk berjaga di depan ruang kerjanya.
Lalu devandra pun pergi dan kembali mengkunci ruang kerjanya itu,
***
-
-
-
jangan lupa like vote dan komennya yeorobeun βΊοΈπ€π»
__ADS_1
# happy reading all π