
Saat ini mereka sudah tiba di rumah sakit, dan bumi pun sudah masuk ke ruang operasi.
" Ibu, tenang lah. Ka bumi pasti baik-baik saja. " Ucap langit
Nita hanya mampu menangis,
" Saat ini, langit harus segera kembali pergi. Ada sesuatu yang perlu langit selesaikan. Fira akan di sini menemani ibu, Apa ibu tak apa? " Seru langit
" Pergilah. Selesaikan semua yang perlu kau selesaikan, dan langit. Pulang lah kapanpun kau mau ke rumah kita, ibu akan kirimkan alamat nya. " Ucap Nita
" Ehm. " Angguk langit, lalu melihat kearah daya yang tengah menemani Fira.
" Bisa jelaskan siapa dua wanita di sana?" Seru Nita melihat langit
" Yang kanan itu daya, ia istri ku. Kami baru saja melangsungkan pernikahan. tapi ayahnya meninggal dunia karena para tentara itu, kini kami harus segera mengurus nya. Dan yang kiri itu, namanya Fira. Gadis aktivis yang di sukai ka bumi dan Fira yang juga mencintai ka bumi." Ujar langit
" Cantik. Mereka berdua bersahabat bukan?"
" Ehm. Tapi istri ku itu bukanlah seorang aktivis, ia hanya gadis keras kepala yang sebenarnya begitu lembut. " Ucap langit mengulas senyum
" Ah tak apa kan, jika ku tinggal?" Seru langit
" Ya. Hati-hatilah. " Ujar Nita
" Ehm. Ibu juga ya " ucap langit.
Lalu mereka pun berpamitan, dengan Nita yang memeluk hangat daya.
" Tinggallah bersama kami di rumah, setelah semuanya beres. Sekarang kau adalah bagian dari keluarga " seru Nita tersenyum dengan daya,
" Terimakasih. Kami akan datang berkunjung " ujar daya yang juga membalas senyum ibu mertua nya itu.
Daya pun berpamitan dengan Fira. kemudian Langit dan daya pun pergi.
" Tante, apa boleh aku di sini dulu? Paling tidak sampai operasi nya selesai. " Seru Fira
Nita diam melihat fira,
" Aku janji hanya sampai saat itu. Aku hanya ingin memastikan keadaan... "
" tentu saja. Kau perlu memastikan keadaan orang yang kau cintai bukan? Baru bisa tenang. " Seru Nita
Fira membuka lebar pupil matanya,
" Tante mengetahuinya?" Gumam Fira tak percaya
" Kau pasti orang yang di perdebatkan bumi dengan ayahnya. Pasti kau orang yang di telpon pagi itu, bukan?. Ah bahkan bumi tak memberi jawaban bicara dengan siapa, saat aku menanyakannya."
" Maaf untuk kejadian itu... Karena aku, ka bumi ikut terseret dalam persoalan ku "
" Tidak perlu meminta maaf. Karena Pada dasarnya cinta tak pernah salah."
" Maaf karena sudah berani menyukai putra anda. Untuk kedepannya, saya akan menjauhi kontak apapun pada putra anda" lirih Fira
" Kenapa? Bukankah kamu bilang menyukai bumi. "
Fira masih melongo bego, " apa tidak masalah dengan gadis seperti ku? "
" Memang Kenapa? Karena kamu seorang aktivis? yang bergerak berlawanan arah? "
Fira terdiam...
" Siapapun mereka, itu tidak penting. Asalkan saling mencintai. Itu akan mengalahkan segalanya. Senang di temani mu menunggu pria yang sama-sama kita cintai. " Seru Nita menggenggam tangan Fira.
***
Kini daya dan langit sudah kembali ke post bantu yang sekaligus menjadi tempat peti-peti para mayat yang belum di bawa jemput ataupun dapat pergi untuk pemakaman ke tempat asal mereka.
" Bukankah seharusnya kamu di sana saat ka bumi selesai operasi?" Seru daya
" Dokter bilang dia akan selamat. Kita akan menemui nya kembali setelah begitu ibumu..."
" Day. " Ujar ilen menghentikan langkah daya dan langit, mereka berdua menatap ilen.
" Nilla. Daynila menghilang. " Ujar ilen kembali dengan kepanikannya, begitu pula dengan daya dan langit.
" Apa? " Gumam daya yang kembali lemas mendengar kabar itu, sedang langit dengan sudut matanya mengabsen melihat sekeliling untuk mencari nilla.
seperti nya masalah tak ada usai-usainya menerjang mereka, yang satu belum selesai . Udah ada yang lainnya terus-menerus berdatangan.
Saat itu nilla baru saja terbangun di samping peti sang ibu, awalnya ia menoleh mencari keberadaan kakaknya ataupun ka langit. Tapi ia tak mendapati nya begitu pula keberadaan ka Fira. Waktu menatap peti sang ibu, tiba-tiba saja ia mendengar seorang ibu dan bapak tengah berdiri bicara tentang kondisi saat ini yang mana akses ke semua arah di tutup dan mereka tak akan bisa membawa jenazah untuk di bawa ke kampung halaman mereka atau pun rumah mereka. Sementara jenazah-jenazah lain terus berdatangan. Itu membuat nilla amat begitu sedih, ia ingin pulang membawa peti sang ibu dan memakamkannya di rumah mereka. Nilla mulai menoleh ke tempat duduk yang mana ilen tengah amat sibuk melayani orang-orang yang juga masih melaporkan kehilangan keluarga mereka.
Nilla mendatangi dan meminta peta pada ilen, ia meminta peta yang sama seperti peta yang kala itu ka Fira berikan. Tanpa pikir panjang ilen pun memberikan nya karena ia juga yang amat begitu sedang riwuhhh. Ia tak berpikir jika anak seperti nilla akan pergi dengan sebuah peta itu.
Saat ini juga pun langit, daya dan ilen sudah berdiri di sebuah hutan dengan jalan dan rute setapak. Ya mereka hendak mencari nilla dengan hanya berbekal senter.
" Kurasa ia pergi kearah sana. Tapi aku juga akan memeriksanya, untuk berjaga-jaga " Tunjuk ilen
Daya melirik sebuah jalan pertigaan,
" Menjauhlah dari area ini. Ada tentara di mana-mana. " Ucap ilen dengan sebuah peta,
Daya pun mengangguk,
" Aku akan memeriksa nya ke arah sebelah sana." Seru ilen
" Terimakasih ya Len. " Ujar daya yang di anggukkan oleh ilen kemudian ia pun pergi.
Lalu daya dan langit berjalan beberapa langkah bersama sebelum ia menemukan dua arah jalan yang berbeda setelah meneriaki nama daynila beberapa kali.
" Day. Jalannya terbagi di sini. " Seru langit yang melihat peta, daya pun menoleh nya
" aku akan memeriksa ke arah sini, kamu ke sana. " Ujar langit yang hendak pergi
__ADS_1
" Tunggu, kamu tidak boleh ke sana. Itu area yang ilen bilang harus kita hindari. " Ucap daya memegang lengan langit.
" Tapi itu tidak di tandai di petanya nilla. Kita tidak tahu ia pergi kearah mana. " Seru langit
" Kalau begitu, biar aku yang akan ke arah sana saja dan kamu ke sini. " Ucap daya
Langit menggenggam tangan daya,
" Apa kamu sudah lupa doa pernikahan ku?. Biarkan aku yang kearah sana, Aku tidak akan pernah meninggalkanmu dan membahayakan diriku, oke. Aku akan melihat sebentar dan mencari nilla apakah ia kearah sana. " Ucap langit melihat jam tangannya,
Daya tampak menyeringit ragu dan ia pun khawatir dengan langit yang akan pergi kearah sana.
" Lima menit. Kita akan bertemu di sini lagi dalam lima menit " ucap langit memberikan jam tangan saku dan juga memakaikan cincin yang ibu daya berikan waktu di rumah sakit.
Daya menatap cincin dan juga jam saku itu.
" Lima menit, ya? Kita bertemu di sini Lima menit lagi. Mengerti?" Seru langit tersenyum menatap daya yang justru di balas pelukan oleh daya.
" Maafkan aku. " Lirih daya meminta maaf karena ia terus membuat langit kesusahan,
" Nilla juga keluarga ku. " Seru langit mencium kening daya.
" Sampai nanti. " Ucap langit tersenyum menatap daya yang kini sudah berstatus istri nya itu. Lalu ia pergi.
Kemudian daya pun berlari pergi ke arah sebelah sambil memanggil-manggil nama adiknya,
Sedang kini daynila tengah berlari dengan bulir keringatnya sesaat langkah kakinya terhenti karena tali sepatu yang ia kenakan terlepas.
" Argh. " Umpat nya yang hendak mengikat tali sepatu nya itu,
Secara tiba-tiba " cck dorr.." bunyi senapan terdengar dan samar-samar sorot lampu-lampu senter menyoroti kegelapan hutan.
Dengan ketakutan dan gelisah mendengar suara itu nilla masih begitu sibuk mengikat tali sepatu yang sedari tadi amat begitu sulit ia ikat.
Tanpa nilla sadari lampu senter itu kian mendekat, lalu dengan cepat mulut nilla di bungkam dan di bawa melimpir bersembunyi di balik batu yang agak cukup besar.
Nilla menoleh dan mendapati ternyata itu adalah kakaknya, daya tampak begitu pucat kala melihat sekelompok para tentara yang akan berjalan kearah mereka dari celah-celah semak di dekat baru tempat ia bersembunyi.
" Cari dengan teliti. " Ujar sang ketua kelompok tentara itu sambil berdiri siaga dengan senapannya sambil terus melangkah,
Kini nilla menyeringit ketakutan dengan keringat nya yang mulai bercucuran takut. Daya menatap sang adik saat para tentara itu terus semakin mendekat.
Kemudian daya pun mengikatkan tali sepatu milik adiknya itu dengan sangat kencang, " pergilah dan tunggu kakak di Surabaya. Kakak akan segera kesana, mengerti? "
" Aku tidak mau. " Ucap nilla melepaskan tangan sang kakak, daya langsung menatap nya.
" Aku tidak mau pergi sendirian. " Seru nilla
" Daynilla. " ujar daya yang menghentikan kekerasan kepala adiknya itu.
" Ibu berjanji akan kembali, tapi dia tidak kembali. Ikut aku. Ikutlah denganku, kakak" ucap nilla
" Lebih berbahaya jika kamu bersamaku. Aku seorang perawat. Jadi, tidak ada yang akan menyerang ku. Aku akan menjelaskan kepada para tentara dan menyusul mu " Seru daya meyakinkan adiknya. melakukan omong kosong,
" Jadi pada hitungan ketiga, lari secepat mungkin keluar menuju Surabaya. Kamu mengerti? "
" Nggak. Aku gak mau. " Ujar nilla yang tak ingin pergi tanpa kakaknya
" Nilla. Dengar kan kakak, Kakak akan segera menyusul. " Ucap daya yang mengaitkan jari kelingking nya pada sang adik.
" Janji. Kakak berjanji " seru daya meyakinkan sang adik,
" Kakak yakin? Kakak yakin benaran bisa mengejar ku? " Gumam nilla
Daya menggenggam tangan adiknya dan tersenyum, " saat berjanji, kakak tidak pernah mengingkarinya. Kamu kan tahu itu bukan?" Ujar daya yang di anggukkan oleh nilla.
Daya pun merogoh saku nya dan memberikan jam saku yang langit berikan pada nilla lalu memeluknya,
Daya terus membuang nafas kasar karena ia tahu keadaan seperti ini amatlah serius bahkan hidup dan mati di pertaruhan.
" Pada hitungan ke tiga, larilah secepat mungkin. oke " Seru daya
" Satu. Dua. Tiga. Mulai. " ucap daya berdiri dan mendorong nilla yang langsung berlari begitu kencang.
Daya dengan segera mengangkat kedua tangan nya begitu berbalik melihat para tentara yang lengkap dengan senapan mereka. Mendapati daya yang menyerahkan dirinya, salah satu tentara pun dengan kasar menarik lengan daya mendekat.
Sesaat salah satu manik mata tentara membulat kala melihat daya. tentara itu adalah Ari. Sahabat dari langit, terakhir kali Ari ingat betul kalau gadis ini adalah gadis yang di lindungi oleh langit mati-matian.
Kemudian ketua tentara itu melihat siluet bayangan orang yang tengah berlari tak jauh dari tempat itu,
" Apa yang kau lakukan hah?. Tangkap anak itu. " Teriak nya
" Aku saja. Biar aku saja yang menangkapnya. " Ujar Ari bergegas lari mengejar daynilla.
" Cih si bodoh itu, dia mulai lagi. " Ucap ketua dari kelompok tentara itu yang tak pernah akur dengan Ari, karena Ari yang selalu tak pernah mengikuti aturan. Karena Ari yang notabene pun seorang aktivis dan tak terlalu antusias dengan ketentaraan, acap sering kali membuat geram sang ketua meskipun sang ketua tak mengetahui jika Ari adalah sang aktivis.
Sang ketua kelompok tentara itu pun memasang aba-aba membidik sasaran nya yang merupakan daynilla yang masih tengah berlari, ia menarik pelatuknya hendak menebak.
Daya menoleh kearah berlari nya sang adik dengan mata berkaca dan wajah pucat lalu melihat kearah tentara yang tengah menarik pelatuknya,
" Tidak hah.. jangan! " Teriak daya berlari menghadang tentara itu
'dorrr' suara tembakan bergema di gelapnya hutan. Itu juga pun berhasil menghentikan lari dari nilla,
Saat nilla berbalik, ia sudah mendapati seorang tentara di belakang nya. Yang tak lain itu adalah Ari.
Nilla gemetar hebat menatap sang tentara itu,
" Lari. Cepat lari. Sekarang! " Ucap Ari yang menembakkan peluru ke langit. Seakan ia sudah menebak anak itu. Ya itulah Ari, ia selalu dengan dirinya.
Nilla masih terdiam dengan ketakutannya,
" Tunggu apalagi? Lari! Sekarang! " Teriak Ari pada nilla.
__ADS_1
Dengan ketakutannya nilla pun terburu-buru melanjutkan larinya hingga menjatuhkan jam saku yang daya berikan padanya tadi. saking benar-benar ketakutan nya.
Di sela-sela nafasnya yang memburu dan melihat gadis kecil itu semakin menghilang dari penglihatannya, Ari melihat sebuah jam saku terjatuh dari tangga gadis kecil itu. Yang mana ia pun amat mengenal jam tangan siapa itu. Jam tangan itu, jam tangan Milik langit yang juga sangat berarti bagi langit yang mana langit pernah bilang padanya jam itu adalah barang peninggalan
Dari ibunya.
***
Di sebrang sudut hutan yang sama, langit hendak kembali dari tempat ia berdiri sembunyi-sembunyi di tepi jalan yang terdapat tentara tengah berjaga dan tak jauh dari sana langit pun bisa melihat markas ternyata yang mereka dirikan itu. setelah memastikan nilla yang tak mengambil arah jalan ini, langit perlahan-lahan memundurkan langkahnya hendak pergi. tapi saat itu,
" Angkat tangan mu. " sudah terdapat dua tentara di belakang nya yang mendorong senapan. Dengan dua bola mata yang membulat Langit pun mengangkat kedua tangannya.
Kini langit di bawa paksa, ke jalan beraspal tempat mereka berjaga. Lalu langit di tendang hingga tersungkur.
" Ada apa dengan berandal ini? Dia mahasiswa kedokteran di universitas Jakarta. Kenapa mahasiswa dari Jakarta
Ada di sini? " Ujar seorang tentara yang melihat identitas pelajar langit dari sakunya.
" Saya dari Semarang. Saya hendak mengunjungi keluarga saya... " Seru langit menoleh salah satu tentara itu yang kemudian di tendang begitu keras sekeras-kerasnya hingga membuat nya kembali tersungkur, ia mengerang kesakitan.
" jangan coba-coba menipu kami. Kau kemari untuk memimpin pemberontak, bukan? " Seru tentara itu
" Arh itu tidak benar. Saya sungguh dari Semarang, periksalah KTP ku " Sahut langit yang berusaha bangun bedeku,
" Hei tembak saja dia. " Ucap tentara dengan rekanya itu.
Mendengar itu langit mengapa sang tentara, sementara rekan tentara itu pun menyodorkan senapan kearah kepada langit siap-siap menarik pelatuk senapannya.
Detik itu langit hanya bisa pasrah, ia bahkan memejamkan matanya dalam-dalam bersiap.
" Langit devandra? " Ucap seorang tentara yang bernama Arief yang menghampiri melihat kartu identitas yang berada pada rekan sesama tentaranya, hal itu pula yang berhasil membatalkan rekannya menembak langit dan langit kembali membuka matanya.
" Ehm ya, itu kamu. Yang masuk universitas Jakarta dengan nilai tertinggi Langit. " Ujar tentara Arief yang tak lain adalah kopral Arief yang dekat dengan Ari.
Langit menoleh nya,
" Kau kenal dia rief? " Seru rekannya.
" Dia dari lingkungan ku. Aku dari Semarang. " Ucap Arief yang mendengar langit bicara dari Semarang.
" Bangun. " Ujar Arief menggandeng lengan langit dan hendak membawa nya pergi,
Sesaat langkah tentara Arief di hadang rekannya, " Kau mau kemana? perintahnya adalah langsung menembak pemberontak sampai mati " Ucap dingin rekannya itu
" Ah kenapa kita tidak menanyakan nya dahulu agar yakin? Aku akan membawa nya dan mengintrogasi nya. " Ucap Arief dengan penekanan, hingga mau tak mau membuat rekannya itu minggir.
" Kesana. " Seru Arief membawa langit,
Saat beberapa langkah mereka, langit hendak menoleh. Pikiran nya saat ini hanya ada daya yang takut sedang menunggu nya.
Dengan kasar Arief menghentak lengan langit hingga membuat langit terkejut melirik sang tentara,
" Jika kau ingin hidup, teruslah berjalan. Jangan menoleh kebelakang. " Ucap Arief penuh penekanan dengan terus menyeret langkah Langit.
Langit menatap kosong, tatapan nya nanar. Ingin sekali ia berontak lari pergi. tapi sadar apa yang akan terjadi selanjutnya, karena senapan sudah pasti menunggunya. Jika ia berontak melakukannya, Ia takut justru itu akan membuat nya tak akan pernah bisa lagi melihat daya seterusnya. Paling tidak dengan ia yang di tangkap saat ini, setidaknya kelak ia bisa menemui daya.
Langkah Langit amat begitu berat bimbang gelisah pada daya yang mungkin menunggunya. Padahal ia janji tak akan meninggalkan daya dan akan kembali lima menit, tapi ia justru malah berakhir seperti ini.
...πππ...
' dorrr ' suara senapan kembali terdengar,
Yang kini menyajikan daya tergeletak bersimbah darah. Tentara itu menembak daya untuk kedua kalinya setelah tadi peluru senapannya mengenai pqha daya saat ia menghalangi arah sang adiknya yang di bidik akan di tembak.
Daya tergeletak sekarat menatap bulan yang menyembul di langit dengan wajah yang amat pucat dan keringat dingin menahan rasa sakit.
Dua tentara yang menembaknya melirik daya, " kau sudah memeriksa sakunya? " Ujar tentara itu melihat rekannya
" Akan ku periksa. " Seru sang rekan,
" Oke. Pastikan tidak ada jejak apapun " ucap ketua kelompok tentara itu pergi.
Sementara tentara yang satu itu pun hendak berjalan mendekat kearah daya hendak memeriksa,
" Biar saya saja yang memeriksanya. " Ucap tentara Ari sahabat Langit yang usai kembali dari pengejaran nilla.
" Ah baiklah. Ku serahkan padamu, cari apapun yang mengungkap indentitas nya " ujar tentara itu tersenyum senang menepuk pundak Ari lalu pergi menyusul sang ketua.
Ari dengan lemas menghampiri daya, dan tak kuasa menahan sedihnya saat melihat daya yang tengah sekarat sementara tak ada yang bisa ia lakukan ataupun bantu. Ari menaruh senapannya lalu memeriksa saku dress putih dari daya yang kini sudah berwarna merah bersimbah darah.
Dan Ari menemukan secarik kertas di saku itu, kertas tersebut adalah secarik kertas yang berisikan doa pernikahan nya yang daya tulis untuk langit. Ari membacanya dengan mata nanar. kala itu Ari juga memikirkan langit, bagaimana perasaan langit yang melihat wanita yang ia cintai, lebih tepatnya istrinya sekarang dalam keadaan seperti ini.
" Pak. Pak. Adikku... Adikku nilla... Dia masih hidup? " Lirih daya di tengah sekaratnya
Ari mengangguk melihat daya,
Setelah mendengar itu. Perlahan nafas daya semakin lemah, matanya pun lama-lama mulai tertutup. Dan kini daya sudah menghembus nafas terakhirnya.
Ari menangis menyaksikan itu, ia merasa menjadi orang yang begitu jahat karena tak bisa berbuat apa-apa terhadap wanita yang amat di cintai sahabatnya itu. Lalu Ari pun mengambil jam saku yang ia ambil tadi lalu menggenggam kan nya di tangan daya bersamaan dengan secarik kertas doa itu, alih-alih mengambil jejak indentitas itu seperti perintah senior nya. Ari memilih membiarkan jam saku dan surat itu sebagai jejak ataupun indentitas untuk memudahkan pencarian nantinya. Hanya itu yang dapat Ari lakukan. Lalu Ari pun pergi.
...π§οΈπ§οΈπ§οΈ...
-
-
-
jangan lupa like vote dan komennya yeorobeun βΊοΈπ€π»
dukungan kalian sangat amat berarti untuk Mimin π€
# happy reading all π
__ADS_1