Langit Devandra Dengan Daya

Langit Devandra Dengan Daya
bab 42


__ADS_3

Pagi hari ini pun suara tangisan pecah memenuhi rumah pak yoga,


" Aku tidak menyangka ka langit pergi seperti ini huhu.. ahhhhh ka langit ! " Teriak Dilla dengan tangisannya dan mata yang sudah sembab semalaman menangis itu.


" Dia harus kembali ke Jakarta karena tinggal di sana. Kamu pikir dia akan menetap di Semarang selamanya hah ? Yaaampun Dilla kamu konyol sekali " Ujar sang ayah yang sudah pusing mendengar tangisan putrinya itu .


Dilla tak peduli ia tetap terus menangis begitu sedih sambil memegangi buku catatan khusus yang di buat langit untuknya.


" Kamu yakin tidak akan ikut pergi dengan ayah ? " Seru pak yoga


" Huhu sudah aku bilang aku sedang tidak ingin pergi kemanapun ! " Teriak Dilla sambil menangis


" Apa maksudmu ? Kalau begitu bersiaplah kesekolah ! Kamu bahkan belum memakai seragam hah ! " Ucap sang ayah


" Gak mauuu!! Huhuhu "ujar Dilla masih menangis sesenggukan begitu sedih


" Cepat ! " Seru sang ayah bangkit hendak memukul nya yang mulai tak tahan mendengar tangisan putrinya


Dilla yang takut pun segera bangkit tapi masih dengan tangisannya yang semakin histeris seperti anak kecil kehilangan mainan kesukaan nya .


" uhf astaga ! kamu mungkin tidak akan menangis seperti ini saat ayah mu matii !! " Ucap sang ayah yang menambah keras volume tangis Dilla yang masuk kamar dan menutup pintu kamar nya itu.


Pak yoga geleng-geleng keluar rumah,


" astaga dia menangis seolah-olah kita kehilangan negara. " Gerutu pak yoga yang hendak memanggil daya tapi daya sudah lebih dulu ada di samping halaman sedang mencuci seprei dengan kaki


" daya, apa yang kau lakukan ? Kenapa mencuci seprei di pagi hari ? " ucap pak yoga cukup terkejut


" Ada apa ? " Tanya daya


" Saya akan mengunjungi ibu ku kembali di kampung halamanku dan untuk mengurus sesuatu "


" Ah baiklah. Kalau begitu, keluarkan seprei nya Dilla aku akan mencucinya sekalian "


" Oh benarkah ? Baiklah kalau begitu terimakasih . Eh iya bisakah kau jaga Dilla selagi aku pergi ... "


" Ya tentu. Hati-hati di jalan " ujar daya


" Terimakasih yaa " sahut pak yoga pergi


Setelah itu daya rapih-rapih hendak berangkat kerja meskipun lebih awal dari jam kerja nya,


" dill, aku akan berangkat kerja." Seru daya mengetuk pintu kamar Dilla yang hanya ada balasan segukkan tangis


" Sarapanlah, kau boleh bersedih tapi juga harus tetap isi perut mu " ujar daya seolah dirinya tak terganggu dengan kepergian langit. Saat daya hendak berbalik pergi Dilla membuka pintu kamar nya memeluk daya sambil menangis,


" Ahhhhh kak dayaaa. Ka Langit kenapa ? Kenapa harus pergi mendadak seperti ini ? Hanya dia yang mendukung fashion aku, cuma ia yang mengerti jiwa musik aku. Kalau aku tau ka langit akan pergi, aku pasti akan mempersiapkan diri. Dia itu sudah aku anggap seperti kakak ku tapi kenapa aku harus kehilangan kakaku secepat ini ... " Ujar Dilla menangis di dalam dekapan tubuh kecil ringgih daya.


" Sudahlah, bukankah setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Aku tahu namanya perpisahan tak ada yang indah tapi berpikir bahwa perpisahan ini akan membawa nya pada bahagia. " Lirih daya mengelus bahu Dilla yang berusia sama dengan adiknya itu.


" Lihat ini, matamu sudah begitu sangat sembab. Jangan sampai sakit, ayahmu menitipkan kamu pada ku jadi sekarang makan sarapannya. Bilang pada Fira jika sudah kembali kalau aku baik-baik saja. Aku pergi, " seru daya yang kembali lengannya di pegang Dilla.


" Kenapa mata ka Daya begitu terlihat sedih dan lesu? Lalu wajah kakak juga pucat. Apa ka daya sakit ? " Gumam Dilla dengan suara serak


" Aku baik-baik saja. Jangan khawatirkan aku. Makanlah sarapan nya " ucap daya pergi. Ia memilih untuk tidak memikirkan apapun dan hidup seperti sebelumnya saat ia tak mengenal cinta dan hanya sibuk bekerja menghasilkan uang saja.


Usai sesampainya di rs daya pun berkerja dengan begitu sangat giat meskipun saat ini belum jam kerjanya ia bahkan membersihkan ruangan dan juga mengepel,


" Oh bukankah hari ini kau sif malam ? Kenapa kau sudah di sini ? " Ucap sang senior yang kemarin memakinya


" Aku tidak punya kegiatan lain, lagi pula aku merasa bersalah karena bolos kerja waktu itu " seru daya menyapanya


Senior perawat itu pun melihat sekeliling ruangan, " kau membersihkan seisi ruangan ini sendirian ? "


" Ehm . Oh iya anda belum membersihkan ruangan persediaan bukan ? "


" Benar, karena itu terlalu besar untuk di bersihkan sendiri aku sedang menunggu Maya untuk ... "


" Biar saya saja yang melakukan nya " ucap daya pergi

__ADS_1


" Apa ? ada apa dengan nya ? " Seru sang senior merasa bingung .


...🌧️...


Ibukota Jakarta ...


Jalanan di padati para mahasiswa dan warga-warga sipil yang berunjuk rasa mengenai hak cipta kerja. Langit dengan membawa tentengan tas nya di buat memutar mata jengah melihat pemandangan itu, sedang ilen ia begitu takjub dengan demo yang kompak serempak. Tanpa basa-basi dan melihat ilen, Langit berjalan pergi. Ilen yang melihat mendapati langit pergi pun akhirnya mengikuti langit yang berjalan santai dengan cepat melewati para pendemo.


Tiba-tiba saja langkah ilen setibanya dia berada di pertengahan barisan para pendemo, lagi dan lagi ilen begitu merasa jika ia sedang ikut menyuarakan suaranya bergabung bersama para pendemo lainnya meskipun pada saat ini ia hanya berdiri saja. Setelah tersadar ia tak lagi melihat langit di sekelilingnya bahwa ia mencoba melihat kesebrang jalan dan juga sekitar tapi tak ada langit mendadak ilen panik ...


Tiba-tiba dari arah belakang lengan ilen di sentak oleh langit yang menyadari ilen tak berada di belakangnya " apa yang kau lakukan ? "


" Hah? Bukan apa-apa " jawab ilen yang mendadak lega mendapati langit di hadapannya saat ini


Langit sedikit mendekat di telinga ilen ,


" kita harus berjalan sedikit lagi untuk memanggil taksi . Tetap dekat dengan ku" ucap langit mengambil alih tas tentengan milik ilen yang akan ia bawa bersama miliknya.


Ilen pun menatap nya sebelum akhirnya mengikuti langit dan tetep berada dekat dengan nya,


Lalu tak perlu waktu lama menunggu taksi mereka, mereka pun sudah sampai di sebuah rumah yang cukup begitu sederhana semacam apartemen kelas menengah yang hanya ada satu kamar saja tapi ukurannya masihh begitu layak untuk di huni sepasang suami-istri yang memang baru menikah.


Langit pun masuk di ikuti ilen yang sambil menutup pintu, dengan ilen yang masih berdiri diam melihat sisi rumah nya.


" Masuklah" ucap langit mempersilahkan


" Ya.. " sahut ilen melepas sepatunya,


Langit langsung kearah dapur yang berada tepat di hadapannya dan membuka semua kain yang membungkus barang-barang agar tak debu.


" Kenapa tidak ada barang-barang lain di sini ? Ini seperti rumah kosong. " Seru ilen yang masih begitu canggung


" Aku menjual semuanya " sahut langit


Ilen menatapnya ,


" Kamar mandinya di sana, itu gudang.lalu itu kamarmu " ucap langit


" Aku akan tidur di sofa. " Kata langit dingin,


Ilen pun masuk kedalam kamar membawa barang-barang nya, setelah ia selesai mengganti pakaiannya ilenn kembali keluar kamar tapi saat itu ia di kagetkan dengan langit yang sedang memakan pakai gantinya,


" Heii ! " Teriak ilen berbalik saat melihat tubuh atas Langi, membuat langit cuek menolehnya,


" Maaf " gumam ilen melihatnya


" kau akan pergi ? " tanyanya


" aku harus pergi sebentar . Kenapa? " jawab langit mengancing kemejanya


" Bukan apa-apa "


Langit menarik nafas meraih jaketnya setelah selesai mengacingkan semua kemejanya dan hendak berlalu tapi tiba-tiba saja perut ilen bunyi dan di dengar oleh ilen,


Ilenn dengan malu memegang perutnya dan memaksa menyengir.


" Ah, tidak ada makanan di sini. " Seru langit melihat dapur nya lalu mengeluarkan uang dari dompetnya , " ada restoran di ujung jalan, jika tidak ingin makan sendiri kau bisa memesannya. Pesan dua porsi jika perlu" ucap langit memberikan uang pada ilen. Ya meskipun langit marah, kesal dan di paska terima dengan keadaan ini dan tak menyukainya, tapi ia tetap Masih menghargai ilen dan berprilaku baik meskipun dengan wajah cuek datar dan dinginnya.


Ilen melihat uang itu , " sttt aku juga punya uang untuk membeli makanan " seru ilen tak menerima nya yang sedikit merasa harga dirinya terluka


" Ah begitukah , kalau gitu ku tinggalkan uangnya di sini saja" ucap langit pergi


" Tunggu Ngit ... Gumam ilen kembali membuat Langit menoleh nya dan melihat kearahnya


" Emm tidak jadi lupakan saja. Sampai nanti " seru ilen


" Ehm " sahut langit dingin yang kini benar-benar pergi dari pandangan ilen .


Meninggalkan ilen yang masih terpaku menatap nya dan juga uang di nakas,

__ADS_1


Langit pergi ke universitas nya, ia bahkan juga mampir ke markas aktivis tempat di mana ia sering menemui Ari sahabatnya yang masih tak kunjung ada kabarnya itu bagai tertelan bumi. Langit memandang diam loker milik Ari sahabatnya itu,


" Heii apa semuanya sudah selesai !! " Ujar seseorang datang, membuyarkan lamunan langit .


" loh langit devandra ? " Ucapnya


" Sudah lama tidak bertemu . " Seru langit pada temannya yang terakhir kalinya menghantam nya itu


" Kenapa kau kemari hah ? Kau tidak punya urusan di sini ! "


" Aku ingin bertanya apakah ada yang mendengar kabar dari Ari. Apa mungkin kau bisa menghubungi nya ? "


" Ck beraninya kau menanyakan kabar Ari


Hah. " Ujarnya tolak pinggang mendekat selangkah.


" Itu berarti kau juga tak bisa menghubunginya. Stthh kalau begitu semoga sukses dalam demonya" ucap langit pergi


" Ah ngomong-ngomong, aku belum memberitahu siapapun tentang indentitas ayahmu seperti apa. Kau tahu aku seorang reporter bukan, kau berfikir aku tidak akan tahu? "


" beritahukanlah mereka. "


" Apa ? "


" Katakan bahwa mereka akan menjadi seperti Ari jika terlibat dengan ku. Suruh mereka menjauh dariku jika tidak ingin hidupp mereka hancur, sebarkan saja beritanya. " Seru langit tak perduli dan pergi.


Menjelang malam ilen masih duduk di ruang tamu yang tak terlalu besar itu dengan menatap pintu berharap langit pulang. Ia menunggu langit pulang bahkan sampai belum mengisi perutnya yang sudah benar-benar laper itu. Ia hanya ingin paling tidak di temani pergi makan karena tak terlalu tahu lingkungan rumah ini,


Saat tengah bosan menunggu tiba-tiba saja telpon khusus rumah berdering. Ilen sejenak mantapnya diam, telpon itu terus berdering hingga dengan ragu ilen pun mengangkat nya,


" Halo ?" jawab ilen


" Halo. Bukankah ini benar nomor telepon rumah langit devandra ? " Ujar seorang pria dengan pakaian tentara


" ya, benar. "


Pria tentara itu menoleh temannya yang sedang memantau luar alih-alih jika ada ketua mereka yang datang. Ya mereka memang sedang sembunyi-sembunyi memakai telpon,


" Syukurlah .. " seru pria itu yang merasa lega melihat temannya itu , ya pria berbaju tentara itu adalah Ari sahabat langit.


" Dia tidak pernah menjawab. Jadi, saya ingin tahu apa dia sudah pindah . Boleh saya bicara dengan langit ? " Ujarnya


" emm sekarang dia sedang tidak ada di rumah. " Gumam ilen


" oh benarkah? Anda tahu di mana dia ? "


" Aku tidak tahu di mana dia. " seru ilen yang memang juga sedang menunggu nya


" Kalau begitu, kamu tahu kapan dia akan


Kembali? "


" Aku juga tidak yakin soal itu " gumam ilen


" Boleh ku tanya siapa anda ? Atau apa hubungan mu dengan langit ? " Tanya Ari yang sudah sangat begitu sulit menelpon langit sedang sekalinya di angkat pun ia tak mendapat kabar sekalipun mengenai sahabat nya itu.


" Entahlah .. " gumam ilen lirih


Tiba-tiba saja Ari mendapat kode dari temannya jika ada seseorang yang mendekat kearah mereka, lalu dengan Ari mengakhiri panggilan telepon itu.


***


-


-


-


jangan lupa like vote dan komennya yeorobeun β˜ΊοΈπŸ€—πŸŒ»

__ADS_1


# happy reading all πŸƒ


__ADS_2