
Saat ini daya sudah di dalam bersama dengan mayat ibunya yang sudah rapih dan peti pun di tutup. Daya masih tak berhenti menangis, meskipun kini Fira sudah memeluknya untuk menguatkannya.
Langit yang juga berada di samping daya,
" aku akan mencari cara untuk menghubungi Surabaya dan menanyakan prosedur pemakaman. " Seru langit,
Daya menggeleng lemas hendak bangun dengan tubuh yang tak stabil untuk ikut mengurusnya. Tapi dengan cepat langit mencegah nya,
" Tetaplah disini, di samping ibumu. Aku akan mengurus semua yang di perlukan," ucap langit memberi amplop yang Damiella sempat titipan untuk daya, yang berisi rekening tabungan atas nama daya.
" Fir, ku titip daya ya. " Ucap langit pada Fira yang saat ini di samping daya,
" Ehm." Sahut Fira.
Langit pun pergi,
Daya yang melihat isi amplop itu pun menangis, apa lagi saat melihat saldo yang begitu banyak pada buku rekening itu. Lalu ia melihat secarik surat di sana,
" Aku akan mengambil teh, kau bacalah surat nya " Seru Fira memeluk sahabatnya itu sebelum pergi.
Daya pun membuka surat tersebut dengan Isak tangis nya,
' ibu menabung semua uang kiriman mu
Di rekening ini. Rekening ini atas namamu daya. jadi, kamu bisa menariknya kapan saja. Suatu hari, nilla memberitahu ibu ini. Pelari yang berlari jauh di depan hanya bisa menghalangi angin untuk pelari lainnya, nilla bilang kita yang rugi berdiri di depan sejak awal. Mungkin, ibu menjalani hidup selalu di depan, dan menghalangi angin dengan seluruh tubuh ibu. Ibu bagai pelari yang
Ada di depan itu. Ibu takut kamu akan terkena angin seperti ibu, bagaimana jika sayap mu terluka karena kesulitan dunia?
Ibu harap kamu tidak akan berdiri di depan seperti ibu yang selalu berusaha
Menahan mu, tapi sayap mu cukup kuat untuk menahan angin apapun. Jika ibu membiarkan mu, kamu akan mengikuti angin dan terbang tinggi kelangit. Karena semua yang terjadi bukan salahmu, tinggalkan saja beban itu pada ibu. Dan mulai sekarang, biarkan sayapmu membawa mu dengan bebas kemanapun kamu ingin pergi. Berbahagialah selalu putri kecil ibu dan ayah yang manis, hidup bahagia lah bersama dengan nya juga, pria yang kau cintai. Ibu merestui kalian. ' isi surat tersebut kembali membuat daya terisak hebat memeluk peti mendiang sang ibu.
...π§οΈπ§οΈπ§οΈ...
Di sebrang sana tepat nya di kediaman devandra, devandra tengah berdiri dengan tangan yang berada di sakunya.
" Pak, saat ini dia berada di post bantu bersama putramu. " Ujar sang anak buah nya,
" Jangan kirim orang kita sendiri. Gunakan salah satu mata-mata kita di milis untuk menyingkirkan nya. Buat seolah-olah ada konflik internal lalu lakukan itu di dekat gedung, dan pastikan kau membunuh nya di depan putraku. " Ucap devandra
" Baik, pak. Ah dia membawa anak kecil, apa yang harus saya lakukan dengan nya? " Seru sang anak buah
" Singkirkan dia juga jika waktu nya tepat... " Ujar devandra menghentikan perbincangannya karena melihat bumi, putra sulung nya yang tengah menatapnya.
" Apa mau mu? " Ucap devandra
" Pelayanan bertanya, apa ayah ingin makan. " Ucap bumi seakan-akan tak mendengar semua perbincangan itu.
" Ayah sedang kerja. Katakan ayah akan makan nanti. " Ujar devandra,
" Cih. " Gumam bumi mengumpat.
" Pak, apa putra anda akan diam saja? " Tanya sang anak buah,
" Tidak perlu hiraukan dia. Karena ia tidak akan pernah mau melibatkan dirinya. terlebih ia pun tak akan begitu peduli dengan hal semacam ini. " Ucap devandra melirik kearah putra sulung nya dengan ekor matanya.
" Baik pak. " Sahut sang anak buah penerimaan perintah,
" Ah, satu lagi. Singkirkan juga gadis aktivis itu. " Ucap devandra
Sang anak buah menghentikan langkahnya terdiam seakan tak pasti tentang gadis aktivis yang devandra maksud.
" Gadis yang di selamatkan putra ku bumi. Singkirkan ia juga bersamaan" ucap devandra
" Baik. Kalau begitu saya permisi. " Seru sang anak buah pergi,
Seperginya sang anak buah devandra masuk kedalam. Begitu ia berjalan melewati ruang tamu langkanya di hadang Nita sang istri yang memberikan sebuah amplop coklat ke devandra.
Devandra menatap nya dingin dan membuka surat itu,
" Cerai? Kau sudah gila? " Ucap devandra begitu dingin menatap sang istri
" Aku sangat waras. " Seru Nita
Srekk... Srekkk
Devandra merobek-robek surat cerai tersebut dengan acuh. " Aku tidak mau mendengar omong kosong ini" ucapnya melempar kepingan-kepingan surat tersebut
" Aku akan mengirimkan berkasnya lagi. Jika ingin bicara dengan ku, hubungi pengacara ku mulai sekarang. " Ucap Nita yang akhirnya memutuskan untuk cerai dari devandra karena ia sudah amat tak tahan dengan sikap sang suami.
__ADS_1
" Aku akan pergi dengan bumi. " Seru Nita melirik lantai atas kamar bumi,
" Cih jika mau pergi, pergilah sendiri. Bumi akan tetap di sini. " Ucap devandra
" Kau yakin bumi akan ingin tinggal bersama mu? Aku pergi justru karena putra ku yang menyadarkan ku akan dirimu selama ini. Ah tidak hanya itu, bahkan putra sambung ku sendiri pun juga menyuruh ku untuk itu. Ku pikir terus mengeratkan genggaman tangan ku, mampu mempertahankan keluarga yang bahagia dan utuh. tapi ternyata aku salah, kini setelah aku melepaskan genggaman tangan ku, anehnya aku merasa tenang dan nyaman. Seharusnya Kulepas sejak dahulu." Ucap nita
Devandra memincingkan matanya tajam.
" Sebaiknya kau berhenti melewati batas! " Seru devandra penuh penekanan
" Bumi, ayo kita pergi. Bumi, bumi devandra. " teriak Nita memanggil putra satu-satunya itu.
" Ibu, tuan bumi tadi tiba-tiba pergi. " Ujar sang pelayan rumah,
" Pergi? Kemana?" Tanya Nita.
" Saya tidak tahu Bu. " Jawab sang pembantu sambil menundukkan kepalanya. Sedang devandra terdiam tetapi sudut matanya menerka-nerka.
***
" Day, ini minumlah. " Seru Fira memberikan teh hangat setelah ia melihat daya yang tak lagi menangis.
" Aku tidak haus fir. " Gumam daya
" Meskipun tidak haus, kau harus tetap minum paling tidak tubuh mu ada cairan." Ujar Fira duduk memberikan nya.
" Permisi, apakah kamu Dayana atharik?" Seru seorang pria yang tentunya aktivis dengan senapan di bahunya.
" Ya. " Jawab daya
" Aku punya pesan penting untuk mu. " Ucap nya memberi daya sebut kertas pesan tersebut,
Fira menyeringitkan dahinya, sementara daya membuka kertas itu yang berisi menyuruhnya untuk datang ke pusat layanan.
" Langit devandra, meminta mu segera keluar."
" Langit memanggil nya? Apa kau tahu kenapa? " Seru Fira, membuat daya juga melihatnya.
" Seperti yang kau tahu, aku hanya menyampaikan pesan.Tapi karena itu pusat layanan, kurasa itu soal pemakaman. " Ucap pria itu pergi,
" Aku akan pergi menemui nya dulu fir. " Lirih daya
Tak berapa lama dari daya dan Fira pergi, langit kembali dengan berkas-berkas. Tapi saat ia hendak ke peti ibu mertua nya itu. ia tak mendapati daya di sana. yang ada hanya nilla yang sedang tertidur lelah. bahkan langit pun menoleh kiri-kanan untuk mencari keberadaan Fira untuk menanyakan tentang keberadaan daya tapi juga tak mendapati nya.
" Ah permisi. " Ucap langit yang menghentikan langkah dari pria seumur nya itu,
" Apa kau melihat seorang wanita yang duduk di situ?" Tanya langit menunjuk peti
Pria itu pun menoleh ke arah peti yang di tunjuk langit, " kalian berselisih jalan? Dia pergi setelah pesan itu. Bersama Fira "
" Pesan? Pesan apa? "
" Bukankah kau memberinya pesan untuk datang ke pusat layanan. "
Mendengar itu langit seketika ngeblank menjatuhkan semua berkas-berkas yang ia bawa dan lari begitu saja. Kemana lagi? Kalau bukan menyusul daya, karena pesan itu bukan dari langit.
Sedang di lorong sebuah gang sudah terdapat seorang pemuda tentunya dengan senapan sedang menghisap sebatang rokok.
Daya dan Fira pun berjalan memasuki lorong tersebut dan melihat pria itu,
" Nona Dayana atharik? Kau datang untuk menemui langit devandra? " Ujar pria itu tersenyum
" Ya. Apa yang terjadi? " Tanya daya melihat pria itu yang juga tak luput dari pandangan Fira,
" Ah milis, berhasil melakukan panggilan jarak jauh lagi. Biar ku tunjukan jalan nya.
Lurus saja, lalu belok kanan ya. Ah apa kau mungkin Fira ? " Ucap pria itu
" Ehm. Kenapa? " Seru Fira
" Aku banyak mendengar mu. Senang dapat bertemu dengan mu. " Ujar pria itu
Tanpa banyak tanya daya hanya mengikuti arahan pria itu, yang tampak mengulas senyum.
" Sttt Aneh, aku baru tahu jika ada yang berjaga di sini. aku tidak pernah melihat pria itu. " Gumam Fira yang sesekali menoleh pria itu,
" Tandanya kau terkenal" seru daya yang terus berjalan bersama dengan Fira.
" Stttt..." Gumam Fira menyeringit
__ADS_1
Saat tengah asik berjalan tiba-tiba saja tarikan pelatu senapan terdengar di telinga daya dan juga Fira. Sesaat mereka berbalik dan betapa terkejutnya mereka saat mendapati bumi yang tengah tarik menarik senapan dengan pria tadi.
" Apa-apaan kau... lepaskan! Lepaskan, bedebah! " Umpat pria itu masih tarik menarik senapan dengan bumi
" Aish brengsek! " Ucap bumi yang terus berusaha merebut senapan itu,
" Ka bumii. " Teriak Fira dan juga daya bersamaan
" Lepas, lepaskan. " Ujar pria itu mengerahkan kekuatan nya.
" Day, firaa. Lariii! " Ucap bumi yang juga mengerahkan seluruh tenaga nya untuk mengambil senapan itu.
" Awas. Kau menghalangi ku! Mereka berdua akan mati di tangan ku" Seru pria itu menarik senapannya dan hendak membidik kearah daya,
" Jangan berani melakukan itu sialan! Lepas. Ku bilang lepaskan brengsek! " Ucap bumi Kembali merebut senapan itu yang pelatuknya sudah di tarik oleh sang pria.
" Ka bumiii! " Teriak firaa
Cricttttt... Decitan ban mobil berhenti dengan cepat, tak lama keluar lah devandra dan juga Nita dengan wajah tegang melihat sekeliling.
Cckkt..dorrr..
Suara tembakan bergema mengisi sudut gang, Nita membelalakkan matanya mendengar suara tembakan itu. Sedang devandra bergegas cepat segera berlari kearah suara tembakan itu dan di susul Nita sang istri. Sesampainya mereka di sana, bumi sudah jatuh tertembak di bagian perutnya.
Daya dengan sigap menekan luka tembak itu dengan kedua tangannya, sedang Fira menangis menggenggam tangan bumi,
" Bumii.. " gumam devandra menghentikan langkah kakinya saat melihat bumi tergeletak di tanah,
" Bumiii. Bumiii! " Seru Nita berlari menghampiri sang putra
" Perbuatan siapa ini? Siapa bilang kalian boleh menembak anak ku? " Ujar devandra melihat sekeliling yang sepi,
" Kenapa putra ku yang kalian tembak ? " Teriak devandra hendak menghampiri bumi,
" Apa ini perbuatan mu lagi? Inikah yang kau lakukan untuk keluarga mu hah?! Apa yang kau lakukan sekarang? " Teriak Nita yang marah menghentikan langkah devandra.
Sementara daya dan Fira menoleh kearah devandra dengan tatapan dingin mereka.
" Bumii.." ujar devandra tetap ingin menghampiri,
" Jangan mendekat! Jangan sentuh putra ku. " Ucap Nita penuh penekanan.
Tak lama datanglah langit yang berlari menghampiri, ia bahkan berlari melewati devandra sang ayah dengan tak perduli.
" Langit... " Gumam daya,
Langit melihat luka tembak itu, " ibu membawa mobil kan?" Ujar langit melihat sang ibu sambung
" Ya. " Jawab Nita yang panik dan khawatir,
" Ayo bawa ka bumi ke rumah sakit dahulu. " Ucap langit bangkit yang hendak menggendong kakaknya itu.
" Ka bumi ! Kakak, bisa mendengar ku? Ayo kita bangun " Seru langit menggendong kakaknya itu Lalu mereka semua beranjak untuk pergi,
Saat langit menggendong sang kakak,
" Bumii! Bumi. Bumii " lirih devandra menghentikan dan melihat sang putra bahkan memegang tangan bumi.
Langit menatap sang ayah,
Dalam setengah kesadaran bumi menghentakkan tangan nya yang di pegang oleh devandra sang ayah, " Jalan. " Gumam bumi sebelum akhirnya ia tak sadarkan diri.
Langit pun berlari pergi meninggalkan sang ayah sendirian.
Devandra lunglai bagai disambar petir di siang hari, ia di tinggalkan. perkataan langit yang bicara jika ia lah yang yatim piatu dan tak ada yang ingin tinggal bersama dengan nya. Kini terbukti, karena saat ini bahkan ia di tinggalkan oleh keluarganya sendiri, tak ada yang tersisa. yang tersisa hanyalah dirinya sendiri.
...πππ...
-
-
-
jangan lupa like vote dan komennya yeorobeun βΊοΈπ€π»
dukungan kalian sangat amat berarti untuk Mimin π€
# happy reading all π
__ADS_1