
Kini malam pun tiba, saat ini damiella dan juga daynila tengah terduduk di sebuah mobil pick up.
" Apa kau kesal karena kakakmu? " Seru damiella pada putri bungsunya itu,
" Terserah nya saja. " Ujar daynila cemberut.
Damiella tersenyum melihat putri bungsunya itu,
" Ibu. Kurasa aku mengerti sekarang, sesuatu yang besar dan kacau ini. " Seru daynila yang menatap betapa kacaunya rumah sakit bahkan para pasien yang tergeletak di luar halaman depan luka-lukanya mereka dan perawat yang berhamburan membantu mereka lalu juga membuka donasi donor darah.
" Apa katamu? " Tanya sang ibu,
" Ah tidak. Bukan apa-apa " jawab daynila.
" Apa kalian sungguh akan pergi? " Tanya Fira
" Ya. Tolong antarkan kami sampai di perbatasan saja ya fir. " Ujar damiella
" Apa Tante sudah bicara dengan daya? "
" Tidak perlu, Tante sudah meminta langit untuk menjaganya. Jadi Tante dan nilla akan pergi kembali ke rumah. "
" Tapi paling tidak, apa gak mau bertemu dengan daya dulu untuk pamit Tante."
" Sudahlah, daya juga pasti tahu. Yuk Kita berangkat fir " seru damiella,
Akhirnya Fira pun mengemudikan mobil pickup itu, beberapa lama perjalanan. Mobil pickup itu pun berhenti di perbatasan jalan.
Fira pun turun, " Tante. Tante sungguh bisa berjalan? Ini cukup jauh " khawatir Fira
" Kau tahu kan, kami selalu berjalan sebelum ada bus. Anak muda sekarang mana tahu. Tante titip daya pada mu juga ya" seru damiella sedikit tersenyum,
Fira masih melihat Tante damiella dan nilla masih dengan kekhawatiran Nya, " ini. Aku sudah menandai titik pemeriksaan yang di jaga oleh para tentara. Jadi, tolong berhati-hati lah ya. " Ujar Fira memberikan sebuah kertas berisi seperti peta.
" Terimakasih. perjalanan kami aman berkat mu. " Ucap damiella
" Terimakasih ya kaa. " Seru daynila memeluk Fira
" Hati-hatilah, oke. Jaga ibumu dengan baik dan tentang kakak mu ia pasti akan menemui kalian juga nantinya" ucap Fira
" Kalau begitu, Kami jalan dulu. Jaga diri mu. " Seru damiella yang berjalan pergi,
" Hati-hati, Tante! " Ujar Fira.
Fira pun kembali ke rumah sakit membawa mobil pickup, sesampainya di sana ia menemui daya dan langit yang baru saja keluar dari dalam rumah sakit.
Daya menghampiri Fira,
" Kalian akan pergi? " Tanya Fira melihat tentengan tas daya dan langit.
" He'um, kami akan meninggalkan kota ini fir. Tapi sebelum itu aku ingin berkunjung ke yayasan, ingin bertemu bapak dan ibu panti." Seru daya,
Fira melirik langit. " Aku bahagia kalau kamu bahagia. Jika pergi bersama langit bahagiamu, akupun bahagia. " Ujar Fira
" Bagaimana dengan ibu dan daynila?" Tanya daya
" Yaa, aku hanya bisa mengantarkan mereka sampai perbatasan jalan, kau tahu sendiri bagaimana keadaannya. "
" Terimakasih firr... " Ucap daya memeluk sahabatnya itu
" Kau harus janji dengan ku untuk tetap baik-baik saja. Karena Tante damiella nitip kamu dengan ku dan juga pada kekasih mu itu " seru Fira
" Kau juga, jaga diri mu. Tidak bisakah kau berhenti sejenak kegiatan aktivis mu? Aku tidak ingin kau berakhir seperti Doni. " Lirih daya
" Kalau bukan aku siapa yang akan membantu orang-orang di jalan. Aku akan menjaga diri ku dengan baik. Hati-hatilah " Ujar Fira pada daya
" aku setuju dengan daya,
berhentilah gegabah melawan para tentara itu, hal itu juga yang di inginkan ka bumi. Ia meminta ku menyampaikannya padamu " seru langit,
Fira terdiam sesaat...
" Ah ya Ngit, tolong jaga daya dengan baik dan kalian hati-hatilah " Ucap Fira.
" Baiklah. " Sahut langit,
__ADS_1
" Kalau begitu Kami pergi. " ujar daya tersenyum lalu berjalan beriringan dengan langit hingga hilang dari pandangan Fira.
***
Yayasan panti asuhan cemerlang.
Saat ini daya dan langit sudah tiba di sana dengan keadaan yang sudah sangat sepi, karena semua anak-anak panti mereka pindahkan ketempat yang kiranya lebih aman. begitu daya dan langit sampai, daya langsung di sambut hangat oleh bapak yayasan yang sudah seperti keluarga nya sendiri.
" Aku senang kamu datang. Mereka sudah pernah menggeledah tempat ini. Jadi, aman untuk sementara. " Ujar pria paruh baya itu memegang tangan daya layaknya seperti seorang ayah.
" Kami akan menetap di sini untuk sementara sampai karantina wilayah selesai. Oh ya, perkenalkan ini... " Seru daya menoleh langit
" Ah saya langit devandra. " Ucap langit dengan sopan memperkenalkan dirinya
" Aaa Jadi, ini... " Ujar bapak kepala yayasan itu
" Ya, yang di spanduk itu. " Sahut langit menyengir canggung,
" Apa dia alasan yang kamu sebutkan sebelumnya. Benarkan? " Seru sang bapak kepala yayasan tersebut pada daya.
" Alasan? " Gumam langit bingung,
" Haha bapak, sebaiknya ayo kita masuk." Ucap daya tak ingin melanjutkan topik itu.
Lalu mereka pun sudah tidak di sebuah ruangan untuk mereka istirahat malam ini, saat ini daya mengambil pelaratan p3k nya dan langsung memperban luka yang terdapat di bahu langit.
Saat Daya tengah fokus membalut perbanan,
" Kamu sungguh tidak akan melihat? Kamu tidak ingin tahu apa isi amplop itu?" Seru Langit menoleh kedaya yang tengah fokus membalut bahunya dengan perban.
" Aku tidak mau tahu. Berhenti bicara dan
Menghadaplah kedepan. " Ujar daya saat langit bercerita tentang memberian ibunya kala ia di rumah sakit.
" ish astaga, kamu sungguh di berkati. Kamu di berkati kasih sayang. Ouh andai aku punya orang tua seperti itu, aku akan jadi orang paling bahagia. " Gerutu Langit
Daya menatapnya dari belakang tapi masih sambil menyelesaikan perbanan nya,
" Kamu sebenarnya manja sekali, tahu? Anak-anak yang di besarkan di keluarga bahagia selalu di manjakan. " Ujar langit
Daya masih memilih diam bahkan setelah ia selesai dengan perbanan di bahu langit,
" kenapa kamu diam saja? " Seru langit menyeringitkan dahinya melihat wajah daya sambil mengenakan baju kemejanya kembali.
" kau bahkan tidak bereaksi terhadap lelucon ku sekarang. Aku tidak punya siapapun lagi di dunia ini. " Sambung langit,
" Hentikan, Jangan... Jangan pernah mengatakan itu lagi. " Ucap daya dengan begitu serius.
Langit menatap daya,
" Jangan pernah bilang kamu tidak punya siapapun lagi. Jangan katakan itu lagi. " Ucap daya
" Tapi maksudku... Emm hanya saja tadi kamu tidak mengatakan apapun. Jadi, aku hanya bercanda. Kamu marah? " Tanya langit melihat daya yang tampak begitu serius.
" Ya. Aku marah! Karena kamu mengatakan itu. Selama aku menunggu mu Ngit, aku terus memikirkan hal-hal yang kamu katakan padaku. Kamu bilang aku punya keluarga ku dan Fira, tapi kamu tidak punya siapapun di sisimu selain aku. "
" Hmm itu... "
" Makin aku memikirkannya, itu membuat ku makin marah. Kamu bilang aku akan baik-baik saja meski aku tidak memiliki mu..."
" Dayyy " gumam langit
" Aku tidak baik-baik saja Ngit. Jika aku kehilanganmu, aku juga tidak punya apa-apa lagi. " Ucap daya dengan mata berkaca-kaca,
Langit yang masih menatapnya pun kini memeluk nya.
" Day, mau mendengar cerita ku? Ucap langit yang di anggukkan oleh daya,
" Setelah ibuku meninggal, tahu apa yang paling kutakutkan? " Seru langit yang di balas gelengan oleh daya.
Langit menoleh ke baju kemejanya yang di penuhi darah, " darah dan merasa sakit. Karena tidak ada lagi yang mengurus ku, aku khawatir akan mati sendirian dan menderita. Ya aku khawatir kalau tidak akan ada yang tahu kalaupun aku mati, itu sebabnya aku tinggal bersama keluarga ayahku. Meski mereka bukan keluarga kandungan ku, kupikir itu akan lebih baik daripada sendirian. Ah tapi sekarang, aku tidak membutuhkan itu lagi. Karena aku memilikimu day. " Ucap langit tersenyum yang justru membuat daya sendu melow.
" Aku akan... Aku akan menjadi keluarga mu Ngit. Mari kita menikah " seru daya
Hal itu membuat langit tertegun,
__ADS_1
" harusnya aku yang mengatakan itu. " ujar langit menggenggam tangan daya lalu mereka pun saling melontar senyum kecil.
***
Sedang saat ini damiella dan nilla masih sibuk berjalan sambil melihat peta pemberian Fira dengan senter yang membantu penerangan mereka.
" Ini dimana? Apa kita di jalan yang benar? " Gumam damiella melihat sekitar jalan dan kembali melihat isi peta tersebut.
" Ibu yakin kita di jalan yang benar? Kurasa jalan ini tidak ada di peta. " Seru daynila melihat peta ini
" Menurut mu begitu? Tapi tidak mungkin, ini pasti jalan yang benar " Ujar sang ibu masih melihat sekeliling
" Coba ku periksa lagi. " Ucap daynila
" Kamu bisa membaca peta hah? "
" Aaa ayolah. Setidaknya aku lebih baik dari pada ibu. " Ucap daynila mengambil peta tersebut dari sang ibu dan melihat,
Sedang damiella tersenyum melihat putri bungsunya itu bersikap sok ahli.
Saat daynila masih tampak begitu bingung,
" Doorr!!" Tiba-tiba suara tembakan berdentum mengagetkan damiella dan Fira yang sedang refleks membungkuk setengah badannya.
" Kesana cepat! Cepat!!" Terdengar suara para tentara yang berhamburan lari,
" Pergi kesana! " Suara mereka begitu lantang,
Hal itu membuat damiella panik dan segera mematikan senter yang daynila tengah pegang. Lalu damiella pun bergegas membawa daynila untuk bersembunyi,
Pergerakan para tentara itu semakin mendekat.
" Ibuu.. " lirih daynila yang takut
" Stttt diamlah. " Gumam damiella menekap mulut putri bungsunya itu,
Para tentara masih dengan gigih berpatroli dengan jumlah mereka yang amat begitu banyak.
" Nilla, tunggulah disini. Ibu akan bicara dengan mereka, tetap disini. Dan tetaplah tutup matamu. "
" Tidak, jangan ibu... " Lirih daynila yang sudah menangis
" Pelankan suara mu. Nilla dengarkan ibu, sampai ibu kembali, apapun yang kamu dengar jangan pernah sekalipun kamu keluar. Kamu mengerti? " Ucap sang ibu hendak pergi untuk mengalihkan para tentara itu sekaligus untuk melindungi nilla putrinya. Karena ia tahu para tentara itu akan segera dengan cepat menuju tempat persembunyiannya yang hanya bersembunyi di kolong jembatan yang akan sangat dengan mudah di temukan.
Nilla menangis menggeleng sambil memegang kencang baju ibunya itu agar tidak pergi, tapi Damiella melepaskan cengkraman genggaman tangan putrinya itu karena sudah tak memiliki banyak waktu lagi sebelum para tentara mendatangi tempat persembunyian mereka.
Meninggalkan daynila yang menutup mulutnya dengan kedua tangannya agar tidak mengeluarkan suara apapun.
Hingga dini hari datang menerjang, daynila masih bersembunyi di bawah kolong jembatan sesuai apa yang di pinta sang ibu yang sampai saat ini pun belum kembali.
Sesaat tiba-tiba suara langkah kaki banyak terdengar di sekeliling jalan, tentu nya membuat daynila mengeratkan tas dan meringsut panik dan takut. Lalu datanglah seorang yang menghampirinya sambil menodongkan senapan kearah daynila,
Daynila terkejut melepaskan tasnya,
" tolong jangan bunuh aku. Jangan bunuh aku, biarkan aku hidup... " ujar daynila dengan tangan terus memohon dengan takut pada pria itu,
" Di sini! Ada anak kecil di sini! " Teriak pria itu kepada teman-teman rekannya itu. Lalu semua pria itu pun berlari menghampiri, yang ternyata mereka adalah para mahasiswa aktivis yang tengah mencari ataupun membantu orang-orang di jalan.
" Tenanglah, ikutlah bersama kami. Kami akan membantu mu ke post bantuan " seru pria itu,
Daynila tampak ragu..
" Tempat ini tak aman. Para tentara bisa saja menangkap mu. Setidaknya di post bantuan aman, banyak orang di sana. " Ujar nya kembali meyakinkan daynila.
Hingga akhirnya daynila pun ikut dengan mereka.
***
-
-
-
jangan lupa like vote dan komennya yeorobeun βΊοΈπ€π»
__ADS_1
dukungan kalian sangat berarti buat Mimin.
# happy reading all π