
Selepas mengantarkan pulang Zizi, Sean berkendara pergi menuju kerumah.
Dan tanpa disangka ternyata kedua istrinya ada dirumah sedang duduk menonton acara televisi bersama-sama.
"Kalian sudah pulang?" tanya Sean.
Kedua wanitanya yang mendengar suara dari orang yang paling mereka sayangi dan rindukan barusan langsung berbalik badan dan melihat bahwa orang yang paling mereka cintai ada dihadapan mereka sekarang ini.
"Suami!" teriak kedua wanitanya bersamaan sambil mendekati Sean.
Sean melangkah kedepan dan memeluk kedua wanitanya dengan erat.
"Bahaimana kabar kalian?" tanya Sean.
Mereka melepas pelukan dan menjawab bersamaan "baik"
"Lalu anak-anak ayah gimana didalam sana?" tanya Sean menatap kedua buah hatinya yang masih dalam kandungan kedua wanitanya.
"Kami sehat ayah" jawab Luoxue dan Xu Qin bersamaan.
"Kalau begitu baik-baiklah disana" ucap Sean sambil dibarengi kecupan lembut di perut Luoxue dan Xu Qin secara bergantian.
Kemudian ketiganya berpindah tempat dan duduk bersama diruangan keluarga sambil menonton acara televisi.
Ditengah-tengah kegiatan menonton televisi, Luoxue berkata "suami apakah selama kami tidak ada kamu baik-baik saja?"
"Maksudnya?" tanya Sean heran.
"Entah ini firasat atau apa, tapi aku merasa kau terlibat dalam hal berbahaya selama kami tidak ada disisi dirimu" ucap Luoxue.
Sean tersenyum mendengarkan ucapan Luoxue barusan dan menjawab "wah...sepertinya kalian benar-benar punya feeling yang bagus"
"Jadi kamu benar-benar terlibat dalam hal berbahaya seperti firasat yang kami rasakan?" tanya Xu Qin.
"Begitulah" jawab Sean.
"Komohon jangan lakukan hal berbahaya lagi" ucap Luoxue.
"Aku mengerti" jawab Sean.
Mendengar jawaban memuaskan dari sang suami yang memuaskan membuat kedua wanitanya bahagia dan menyandarkan kepala mereka pada dada bidang sang suami.
Akhirnya hari itu dilalui dengan penuh momen bahagia bersama-sama.
... --------...
Keesokan pagi harinya.
Sean yang tengah duduk diruangan tamu mendapatkan panggilan telpon dari ketua Baozi.
"Halo ketua, apakah kau sudah mengambil keputusan atas persyaratan yang aku berikan waktu itu?" tanya Sean.
"Datanglah ke kantor dan kita bicarakan bersama" ucap ketua Baozi.
"Baiklah, aku akan datang dalam beberapa puluh menit" ucap Sean.
Selepas panggilan telpon dimatikan, Sean menghampiri kedua istrinya dan meminta izin untuk keluar.
Kedua istrinya mengizinkan Sean pergi namun harus kembali sebelum jam makan siang.
Akhirnya Sean pergi menuju kantor dengan menggunakan supercar miliknya.
Dan dalam waktu 25 menit, Sean tiba di kantor Red Shield.
Setelah sampai di kantor, Sean langsung pergi menuju kedalam kantor ketua Baozi.
Sesampainya di kantor ketua Baozi, mereka duduk saling berhadapan.
"Jadi bagaimana keputusan anda ketua?" tanya Sean.
"Ini keputusan yang berat bagiku, tapi aku mempertimbangkan akibat dari penolakan yang kau terima dariku" ucap ketua Baozi.
"Ketua terlalu banyak berpikir, aku tidak akan marah jikapun persyaratan yang aku ajukan ditolak olehmu" ucap Sean.
"Benarkah?" tanya ketua Baozi.
"Benar, namun aku akan memberikan kenang-kenangan untuk kalian semua sebelum pergi" ucap Sean dengan senyuman diwajahnya.
Ketua Baozi paham maksud dari perkataan yang diucapkan oleh Sean barusan dihadapan dirinya.
"Huft....Kau memang orang yang kejam" ucap ketua Baozi.
"Jadi kau terima persyaratanku kemarin?" tanya Sean.
__ADS_1
Ketua Baozi menyerahlan sebuah kartu hitam dengan lambang Red Shield ditengah-tengahnya.
Sean menerima kartu pemberian dari ketua Baozi tersebut dan berkata "apa ini?"
"Dengan kartu tersebut kau memiliki kedudukan yang sama denganku didalam organisasi Red Shield ini" jelas Baozi.
"Hahahah! Terimakasih ketua" jawab Sean dengan senang dan menyimpan kartu tersebut dengan baik-baik didalam kantung celananya.
Lalu setelah Sean menyimpan kartu tersebut dengan baik, Sean berkata "aku ingin Yui menjadi milik diriku"
"Tidak!" teriak Baozi.
Sean tersenyum dan menaikan sebelas alisnya karena merasa ada sesuatu diantara Baozi dan Yui yang tidak biasa.
"Apakah kau yakin?" tanya Sean.
"Kumohon jangan Yui" ucap ketua Baozi.
"Apa sebenarnya hubunganmu dengan Yui ketua?" tanya Sean.
"Dia anaku" jawab ketua Baozi.
"Oyaaa, ini sungguh-sungguh menarik sekali" ucap Sean sambil tersenyum.
"Kumohon jangan ambil anaku" mohon ketua Baozi.
"Hahahah! Aku hanya bercanda ketua" ucap Sean dengan puas.
"Baiklah aku serius sekarang, aku tidak ingin mendapatkan perintah dari siapapun. Mengerti?" tegas Sean.
"Baiklah" jawab ketua Baozi.
"Bolehkah aku menantang beberapa orang disini?" tanya Sean.
"Siapa yang kau ingin tantang?" tanya ketua Baozi.
"Semua pringkat atas dalam daftar peringkat platinum dan Hero" ucap Sean.
!
Ketua Baozi sangatlah terkejut dengan ucapan yang didengarnya dari mulut Sean.
"Apakah kau tahu apa yang kau ucapkan itu barusan?" tanya ketua Baozi.
"Ini urusanku, kau cukup panggilkan mereka semua" ucap Sean.
"Aku tunggu didalam ring pertempuran" jawab Sean sambil berdiri dari posisi duduknya dan berjalan pergi keluar dari dalam ruangan ketua Baozi.
Dengan berat hati ketia Baozi memanggil semua peringkat platinum dan Hero yang ada di Red Shield.
Bukannya mengkhawatirkan kondisi Sean nantinya, namun dirimya mengkhawatirkan kondisi para pasukan platinum dan hero miliknya nanti.
Namun jika keinginannya tidak dituruti maka bisa-bisa yang akan jadi sasaran adalah semuanya.
Selepas selesai memanggil semua peringkat platinum dan hero untuk berkumpul di arena pertarungan, dirinya memutuskan keluar dari dalam ruangannya dan hendak menuju arena pertarungan.
Dan siapa sangka bahwa ketika dirinya membuka pintu, ada sang anak Yui disana.
"Ayah" panggil Yui.
"Ada apa Yui?" tanya ketua Baozi.
"Kudengar Sean datang kemari, jadi dimana dia?" tanya Yui.
Sesaat ketua Baozi mengingat kembali apa yang dibicarakan antara diriya dan Sean sebelum ini.
"Ayah!" panggil Yui.
Ketua Baozi kembali sadar, dan kemudian berkata "Sean berada di arena pertarungan dan berniat menantang para pasukan peringkat platinum dan Hero"
!
Yui seketika dibuat terkejut dengan perkataan sang ayah barusan, dan tanpa basa-basi langsung pergi menuju arena pertempuran tempat biasanya dipakai bertarung para pasukan untuk memperebutkan peringkat.
Sampai dilokasi.
Yui dan ketua Baozi dapat melihat Sean sedang berada didalam arena pertarungan.
Kembali pada Sean.
Sean saat ini sudah berada didalam arena pertarungan dan sedang berhadapan dengan salah satu peringkat platinum.
"Apakah kau ingin bertaruh?" tanya pria dihadapan Sean.
__ADS_1
"Ooh....Apa yang kau inginkan sebagai taruhan?" tanya Sean menantang.
"Mobil supercar milikmu yang diluar itu" jawab pria tersebut.
"Jika kau kalah?" tanya Sean.
"Mclaren 720S Spider milikku akan menjadi milikmu" ucap pria tersebut.
"Sepakat!" jawab Sean.
"Sepakat!" jawab pria tersebut.
Setelah tanda dimulainya pertandingan diberikan, Sean langsung bergerak maju dengan cepat dan memberikan pukulan pertama pada pria tersebut.
Bugk!
Serangan pertama dapat berhasil ditahan, namun sayang serangan kedua dan seterusnya tidak dapat pria itu hindari.
Bugk! Bugk! Bugk! Bugk! Bugk!
Bugk! Bugk! Bugk! Bugk! Bugk!
Serangan-serangan bertubi-tubi yang diberikan oleh Sean pada pria tersebut tidak mampu ditahan ataupun ditangkis sehingga membuat pria tersebut menderita banyak luka dalam.
Setelah menerima serangan bertubi-tubi dari Sean, pria tersebut tumbang dengan keadaan mengenaskan dan tidak sadarkan diri.
Sean pada akhirnya dinyatakan sebagai pemenang atas pertandingan tersebut.
Semua orang nampak terperangah dengan pertarungan yang baru saja terjadi barusan, karena seorang peringkat platinum tidak mampu bertahan dan memberikan satu pukulanpun kepada seorang pringkat Gold.
Sean yang sudah berhasil mengalahkan orang tersebut kembali menantang peringkat platinum lainnya.
Dan hasilnya sangat-sangat hebat sekali dan juga begitu mengejutkan.
Satu demi satu peringkat platinum dikalahkan, sampai-sampai 30 orang peringkat platinum dapat dikalahkan semuanya oleh Sean dalam pertarungan saat itu.
Membuat semua orang disana benar-benar merasa terkejut dan terdiam.
Selepas 30 orang peringkat platinum tersebut berhasil dikalahkan dan tidak ada yang tersisa, Sean beralih menantang kesepuluh peringkat Hero yang ada disana sedari tadi menyaksikan jalannya pertempuran.
Bahkan tidak tanggung-tanggung, Sean langsung menantang kesepuluh orang peringkat Hero yang ada dan dimulailah pertarungan yang begitu memukau dimata semua orang yang menonton.
Setiap satu pukulan yang didaratkan oleh Sean pada tubuh lawan-lawannya dapat langsung membuat mereka tumbang dan terpental keluar arena pertarungan dalam keadaan luka dalam yang parah dan juga tidak sadarkan diri.
Membuat pertandingan yang terlihat tidak seimbang karena 10 lawan 1 berubah situasinya menjadi terlihat seperti penindasan.
Kesepuluh peringkat Hero dikalahkan dalam waktu kurang dari 5 menit, dan kesepuluh hero itu dikalahkan dalam kondisi yang sama-sama parah dan luka dalam.
Ketua Baozi memohon dihadapan semua orang pada Sean agar menghentikan pertempuran, agar tidak ada lagi korban jiwa.
Sean menerima itu dan berkata sebagai penegasan "Siapa yang tidak terima akan keputusan hari ini yang aku lakukan, maka boleh datang mencari diriku kedepanya jikalah ingin mencoba bertarung denganku sebagai jalan penyelesaian masalahnya" ucap Sean sebelum pergi.
Setelah urusan disana selesai, Sean pulang kerumah dalam keadaan baik-baik saja dan sehat tanpa ada luka sedikitpun.
Kedua istrinya sangat senang melihat kedatangan sang suami yang berada dalam keadaan baik-baik saja seperti sekarang ini.
Sean tersenyum melihat sikap khawatir mereka dan perhatian yang diberikan mereka pada dirinya.
Selepas itu Sean menyuruh kedua istrinya duduk menunggu di meja makan, sedangkan dirinya akan pergi mandi sebentar barulah akan kembali kesana untuk ikut makan bersama-sama dengan keduanya.
... ---------...
Malam datang, Sean menerima panggilan telpon dari Mao Chengtian.
"Harimau putih ada apa kau menelpon diriku?" tanya Sean.
"Tuan apakah anda masih ingat dengan sosok orang yang kami ceritakan soal penguasa paling kuat diantara kami?" tanya Mao Chengtian.
Seketika Sean ingat cerita soal penguasa kelima yang dikatakan lebih kuat dari keempat penguasa wilayah di daratan.
"Aku ingat, apakah dia menantang diriku juga?" tanya Sean.
"Begitulah tuan" jawab Mao Chengtian.
"Baiklah, katakan padanya bahwa tantangan diterima" jawab Sean.
"Baik, akan saya sampaikan padanya" jawab Mao Chengtian.
Sambungan telpon ditutup, Sean langsung pergi tidur dengan tenang dan nyenyak sambil memeluk kedua wanitanya yang sudah lebih duku pergi ke alam mimpi mereka.
Bersambung......
Jangan lupa kasih dukungan kalian.
__ADS_1
Like,Komen,Favorit,Vote&Rate 5 Bintang.
Terimakasih.